ALINEA CINTA

ALINEA CINTA
28


__ADS_3

Melihat saudaranya pergi dengan keadaan seperti itu membuat Sky geram. Ia menghampiri Almeer, menarik kerah kemeja Almeer dan mendorong tubuhnya ke dinding pagar rumahnya.


"Apa yang kau lakukan padanya!?" Sky mencoba menahan amarahnya.


"Lepas! Aku gak mau bikin keributan." Kata Almeer dengan wajah dingin dan sorot matanya yang tajam.


"Kau sudah buat keributan disini!" Bentak Sky, ia mendorong kembali tubuh Almeer ke dinding dan melepas kasar cengkraman tangannya di kerah baju Almeer.


Almeer merapikan bajunya, "Kita bicara disana." Almeer menunjuk taman kecil didekat tempat tinggal mereka.


Berdua mereka pergi ke taman yang tak lebih lebar dari halaman rumah Almeer. Ada beberapa buah bangku panjang dan mainan untuk anak-anak disana. Sky dan Almeer duduk di salah satu bangku itu, tak terlalu dekat, mereka saling memberi jarak.


"Apa yang kau lakukan padanya?" Sky tak mau membuang waktu.


"Kedua saudaramu menyukaiku."


Dengan cepat Sky menatap Almeer. Gila! Cinta sedang mengajak bercandaku, Batin Sky yang tak percaya.


"Mina mengirimkan CV ajakan untuk ta'aruf denganku dan beberapa hari lalu aku sudah memberinya jawaban."


"Aku tahu kau pasti menolaknya dan aku tau siapa yang kau sukai." Tebak Sky, wajah dinginnya menatap Almeer.


Almeer mengangguk. "Dan tadi, Sora melihat CV ta'aruf milik Mina. Pasti dia sangat terluka, air matanya yang jatuh sangat banyak. Hatinya pasti sakit...," Ia menatap kosong kedepan, yang ada dipikirannya hanya wajah Sora yang sedang menangis.


"Lalu apa yang membuatmu menolak Sora?"


"Kau lebih tahu alasannya dibanding siapapun disana." jawab Almeer.


Sky mendengus kesal, "Kau membuang perasaanmu untuk alasanmu itu?"


"Ya," Jawab Almeer sangat yakin.


"Huh! Sok banget!"


"Aku tidak mau merusak hubungan antara kakak dan adik."


Sky terdiam tak bisa menanggapi pernyataan Almeer. Ia baru menyadari, ini bukan hanya tentang rasa tapi juga keluarga.


***


"Ikhlasin aja ya kalau memang Almeer gak mau. In shaa Allah masih banyak pria baik diluaran sana, pasti Allah udah siapin satu buat kamu. Apalagi sekarang kamu semakin dekat dengan Allah, pasti nanti kamu dapat suami yang juga deket sama Allah, Nak. Gak usah khawatir...,"


"Tapi Almeer beda, Ma. Dia beda, pokoknya beda...,"


"Ada nanti yang lebih baik dari dia, Sayang. Pelan-pelan, ya."


"Mama udah gak dukung aku dapetin Almeer lagi?"


"Bukan begitu, Mama cuma gak mau kamu berlama-lama dalam kesedihan lagi, Sayang."


Dalam tangisnya Sora teringat percakapan dengan mamanya di telepon kemarin lusa. Sedikit aneh memang ketika mamanya tak lagi mendukungnya. Dan kini ia tahu kenapa mamanya tiba-tiba saja berubah pikiran.


Sora membawa mobilnya hanya berputar-putar kota Jogja, ia tak tahu harus kemana. Bahkan ia sendiri tak tahu sedang berada dimana.


Langit sudah mulai gelap, suara adzan maghrib menggema di penjuru kota. Sora mulai kebingungan harus kemana untuk menenangkan diri. Ia menghentikan mobilnya di salah satu pelataran masjid yang berada di pinggiran kota Jogja. Bukan untuk beribadah, sebab ia masih belum bersuci. Ia hanya tak mau berjalan tanpa arah lagi dan membuatnya semakin jauh dari rumah.


Sora menyalakan lampu dalam mobil, mencari-cari ponselnya namun tak juga ketemu. Dan ia baru menyadari jika ia pergi hanya membawa diri dan kendaraan. Tak ada ponsel maupun dompet yang ia bawa.


"Ya Allah, padahal mau telepon mama. Kalau gini aku harus bicara dengan siapa? dadaku sakit, sesak...," Ia merangkul kemudi mobil dan menyandarkan kepalanya disana.


Lama Sora berada di dalam mobil hingga adzan isya' sudah berkumandang. Sora masih mencoba memahami keadaan dan situasi yang sedang ia alami. Ia tak tahu mengapa kisah cintanya selalu berakhir buruk. Terakhir ia terhianati oleh sahabatnya sendiri, dan kali ini dia menyukai pria yang sama dengan adiknya.


Sora menegakkan badannya, ia teringat sesuatu. Almeer menolak Mina, itu artinya dia tak mempunyai perasaan pada Mina, batin Sora.


Namun ia segera menampik kesimpulannya sendiri. Tidak mungkin ia bersaing dengan adiknya sendiri, mengingat Almeer cinta pertama adiknya.


"Ya Allah..." Adunya lagi.


Sora menarik nafas dalam dan mengeluarkannya perlahan, ia melakukannya beberapa kali untuk menenangkan diri kemudian pergi keluar mobil.


Udara segar cukup membantu sedikit menenangkan pikirannya yang sedang kacau. Wanita yang memakai gamis dan jilbab instan coklat muda itu duduk di sebuah bangku kayu yang ada di dekat teras masjid.


"Nggak Sholat, Mbak?" tanya seorang ibu-ibu yang baru keluar dari tempat wudhu.


"Lagi haid, Bu." Jawab Sora


"Oooh, iya. Saya permisi dulu...," Ibu itu melanjutkan langkahnya masuk ke dalam masjid.


Langit kota Jogja semakin gelap, Sora sudah mulai meresahkan dirinya sendiri. Ia sendiri tak tahu keberadaannya, dan bagaimana ia bisa pulang.


Beberapa saat kemudian jama'ah masjid mulai keluar satu per satu. Ia mendapati ibu yang menyapanya tadi keluar dari masjid dan ikut duduk disamping Sora.


"Numpang duduk ya, Mbak." Ucapnya.


"Iya, Bu. Silahkan." Sora mengeser sedikit pantatnya untuk membagi tempat duduk.


"Mbak nunggu siapa?" Ibu itu membuka percakapan.


"Gak nunggu siapa-siapa, Bu. Saya sedang istirahat saja." Jawab Sora, "Ibu sendiri menunggu siapa?"


"Nunggu anak saya yang sedang belajar baca Al-Qur'an." Ibu itu menunjuk ke dalam masjid, Sora ikut menatap ke dalam masjid sejenak.


"Ooh, sudah dewasa semua ya, Bu."


"Iya, gak ada kata terlambat untuk belajar, Mbak. Alhamdullillah anak saya dapat hidayah, mau deket sama sang pencipta. Dia punya keinginan bisa masuk ke salah satu universitas Negeri di Jakarta, Mbak. Saya seneng banget mbak dia jadi rajin sholat...,"


Sora mengangguk. "Alhamdullillah, Bu. Saya juga baru hijrah, baru menutup aurat, baru merasa deket sama Allah beberapa minggu ini. Karena cowok yang saya sukai cinta banget sama Penciptanya. hehe." Sora tersipu malu. "Tapi sekarang semuanya sia-sia... "


"Looooh, gak ada yang sia-sia dalam berhijrah, Mbak. Gak ada...,"

__ADS_1


Sora menatap wanita paruh baya yang duduk disampingnya itu.


"Memangnya kalau Mbak gak dapetin laki-laki yang Mbak suka itu, Mbak bakal buka hijab?"


Sora menggeleng cepat, "Enggaklah, Bu."


"Itulah, Mbak. Gak ada yang sia-sia. Allah maha membolak-balikkan hati. Semua orang punya cerita sendiri tentang hijrahnya, dengan bergulirnya waktu, berhasil atau tidaknya niat awal kita berhijrah, Allah akan membawa niat hati kita khusus berhijrah karena-Nya. Mungkin Mbak tidak mendapatkan keinginan, Mbak. Tapi, Mbak sekarang mendapatkan pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Berkah, Mbak."


Sora terdiam, ia membenarkan semua perkataan ibu itu. Ia merasa sedikit lega setelah mendengar nasihat itu.


"Mbak gak pernah kelihatan disini, baru pindah disini ya?"


Sora tersenyum malu, "Sebenarnya saya tersesat, Bu."


"Loh, kok bisa? sudah se-gedhe ini tersesat."


"Sebenarnya saya dari Jakarta, Bu. Belum genap dua bulan saya tinggal di Jogja. Kalau kemana-mana ada yang ngantar, tapi karena saya lagi emosi jadi saya keluar sendiri. Mau hubungin orang rumah tapi gak bawa hape."


"Looh, hati-hati loh kalau sedang emosi malah bawa kendaraan sendiri. Bahaya..." Ibu itu mengeluarkan ponselnya, "Hubungin keluargamu dulu. Pasti khawatir."


Sora menggeleng, "Boleh, Bu?" tanya Sora.


"Iya, Silahkan."


Sora mengambil ponsel itu dan menekan beberapa angka di layar ponsel. Nada sambung mulai terhubung


"Agaaaaa..."


***


Malam semakin larut, keadaan di cafe sudah mulai sepi sebab jam tutup cafe tinggal beberapa saat lagi. Dan Almeer masih setia berdiri di teras rumahnya. Ia melangkah kesana kemari dengan wajah resah dan khawatirnya. Sorot matanya tak berhenti mengintai rumah Sora, berharap wanita yang pergi dengan menangis itu segera kembali.


"Masih disini aja, Al?"


Pertanyaan Hiko yang sudah keberapa kalinya ia lontarkan pada putranya itu. Ia duduk di kursi rotan yang ada di teras rumahnya.


"Nungguin kakaknya apa adeknya?" tanya Hiko.


Almeer tak berniat menjawab pertanyaan papanya.


"Meera udah cerita tentang kejadian tadi sore, Al."


Kini Almeer beralih menatap papanya.


"Jangan dibikin ribet, jadi cowok harus tegas. Kalau emang suka ya bilang suka, kalau gak suka ya bilang gak suka. Perasaanmu maunya gimana, turutin itu. Masalah cinta mikirnya pake hati, bukan pake otak, Al."


"Gak semudah itu, Pa. Al punya banyak pertimbangan—"


"Kenapa? karena mereka kakak adik?"


Almeer mengangguk. "Sora salah paham, dia kira Al nolak dia karena suka sama Mina."


Almeer tak memberikan jawaban, ia duduk di kursi rotan disamping Hiko.


"Papa gak bisa baca hati dan pikiranmu, Al. Tapi, kalau kamu gak mau ada kesalahpahaman. Jelasin ke mereka alasanmu, jujur dengan perasaanmu. Mau nanti kamu paling salah satu atau keduanya atau tidak sama sekali itu urusan kamu. Yang penting kamu jujur dulu...,"


"Iya, Al. Jangan sampai kamu terjebak didalam perasaanmu sendiri." Ujar Ruby yang baru ikut bergabung.


"Aku gak mau bikin mereka saling kecewa apalagi sampai bertengkar, Ma."


"Sholat dulu, Sayang." Ruby mengusap punggung Almeer, "Minta petunjuk, siapa yang paling baik diantara mereka yang pantas menjadi istrimu."


"Sudah, Ma. Dan aku sudah putuskan gak pilih keduanya, Ma." Tegas Almeer.


Hiko dan Ruby saling berpandangan, mencoba menebak kemana arah pikiran putra mereka.


"Kalau kamu gak pilih keduanya, trus ngapain kamu disini bingung, khawatir, wara wiri gak jelas seperti ini?"


Almeer kembali terdiam, namun seketika ia berdiri ketika mendapati sebuah mobil berhenti di depan rumah Sora.


"Pa, Ma. Aku keluar bentar." Ujarnya kemudian berlari pergi ke rumah Sora.


Langkahnya melambat ketika ia mendapati Aga yang keluar dari mobil itu. Ia tak mendapati Sora disana, hanya pria tinggi berwajah dingin.


Keduanya hanya diam dan saling menatap tajam.


"Entah kenapa kali ini aku ingin menghadiahimu tinjuanku." Ujar Aga.


"Apa dia baik-baik saja?" tanya Almeer.


"Basa-basimu sangat kuno." Jawab Aga kemudian berjalan meninggalkan Almeer.


"Beri tahu aku dimana dia."


Aga mengacuhkan pertanyaan Almeer dan terus melangkah masuk ke dalam rumah Sora.


Almeer hanya menghela nafas panjang, mengacak rambutnya menunjukkan betapa frustasinya dia memikirkan keadaan Sora.


***


Langit gelap perlahan memudar ketika sang surya mulai bersiap masuk ke peraduannya. Warna jingga di langit timur sangat kontras dengan warna gelap disisi barat. Kicauan burung-burung mulai terdengar sebagai nyanyian pembuka hari.


"Mas Al? Masih disini aja?"


Meera yang mendapati kakaknya tengah duduk di ruang santai lantai dua rumahnya masih tetap mengawasi rumah Sora.


"Meera kira habis sholat subuh tadi pergi tidur, Mas. Gak taunya masih disini aja."


"Mas belum bisa tidur, Dek." Jawab Almeer.

__ADS_1


"Ya Allah, Mas Al. Sekhawatir itu kah sama mbak Sora?"


Almeer mengangguk, "Bagaimana Mas khawatir, Meera. Mas menyakitinya, dia pergi dengan hati yang terluka."


Ameera hanya bisa melihat kakaknya yang sedang resah itu.


"Mas nemuin Sky dulu ya, Meera."


Almeer langsung berlari ketika melihat Sky keluar dari pagar rumahnya. Ia buru-buru menuruni anak tangga dan pergi menghampiri Sky.


"Sky!" Panggil Almeer, menghentikan pria itu untuk masuk ke dalam mobil.


Almeer mengatur nafasnya ketika tiba didepan Sky, berlari seperti tadi cukup membuat nafasnya tersenggal-senggal.


"Bagaimana keadaan Sora?" tanya Almeer.


Sky melipat tangan di dada dan menyandarkan punggungnya di pintu mobil yang masih tertutup.


"Apa dia sudah pulang?" Almeer meleihat ke sekitar tempat parkir mobil keluarga Sora, tapi tak ada mobil yang dipakai Sora disana.


"Dia gak pulang..., dia tidur di rumah Aga." Jawab Sky.


Almeer sedikit tercengang mendengar kalimat Sky.


"Dibelakang sini ada baju ganti dan kebutuhannya." Sky mengetuk jendela mobil belakangnya, kemudian memberikan memberikan kunci mobilnya pada Almeer. "Kau bisa antar itu padanya."


"Kirimi aku alamatnya, kau masih menyimpan nomorku, kan?"


Sky mengangguk, kemudian ia pergi dan Almeer langsung masuk ke dalam mobil milik Sky. Setelah mendapat kiriman alamat dari Sky, Almeer menjalankan mobilnya menuju rumah Aga.


Sebuah perumahan termewah yang ada di kota Jogjakarta menjadi tujuan Almeer. Bahkan di pintu masuk pengecekan tamu yang masuk sangat ketat, tetapi Almeer melewati itu dengan mudah. Seorang satpam juga menjukkan arah alamat tujuan Almeer.


Pria itu menghentikan kendaraannya di depan rumah yang berdiri mewah dan megah dengn berpagar besi dengan ukiran unik . Ia melihat ulang nomor rumahnya, benar-benar memastikan jika itu rumah Aga.


Almeer keluar dari mobil dan menghampiri bangunan kecil yang menjadi ruangan satpam.


"Ada yang bisa dibantu, Mas?" tanya satpam yang masih tergolong muda itu.


"Saya ada keperluan dengan Sora, mau mengantar pakaiannya." Almeer menunjukkan tas yang dibawanya.


"Oooh, Non Sora... Monggo, silahkan masuk Mas." Satpam membuka pintu gerbang tak terlalu lebar. "Itu, Non Sora lagi mainan kucingnya tuan besar."


Almeer bisa melihat wanita yang sudah sangat dikhawatirkannya itu sedang jongkok membelakanginya, tangannya sibuk menggelitiki perut kucing ras didepannya.


"Non Sora, ada yang nganter pakaiannya, Non."


"Taroh kursi situ aja..." Pinta Sora tanpa mengalihkan padangannya.


"Taroh sini aja, Mas." Pinta Satpam.


Almeer meletakkan tas yang dibawanya diatas kursi. Tapi ia tak segera beranjak pergi.


"Setahuku tuan muda yang memiliki rencana kesini, tapi kenapa malah kau yang ada disini?"


Suara Aga membuat Sora terkejut, ia melihat sekilas ke arah Aga dan kemudian menoleh ke belakang mencari tahu siapa yang sedang Aga ajak bicara.


"Almeer!!" Pekik Sora hingga membuatnya duduk dilantai.


"Sky memintaku mengantar ini ke saudaranya. Dan ada sesuatu yang harus ku jelaskan padanya."


Tiba-tiba saja satu tangan Aga sudah berpindah di leher Almeer, mendorong tubuh pria itu hingga menabrak pilar besar di teras rumahnya.


"Aga!!!" Teriak Sora, ia berdiri dan menarik tangan Aga agar melepaskan Almeer. "Ga! Jangan Gila kamu!" Teriak Sora panik.


"Semalam aku sudah mencoba menahannya, tapi kau masih bersikeras mendatangi dia sekarang." Aga mengacuhkan kepanikan Sora.


"Aku gak ada urusan denganmu, aku hanya ingin bicara dengan Sora!" Almeer berusaha berbicara walau ia merasa susah.


"Aga! Lepasin! Kamu mau bunuh dia!?" Sora berusaha menarik tangan Aga dari leher Almeer.


"Iya! Aku bisa bunuh siapapun yang menyakitimu, Sora!!" Sentak Aga.


BUG!!


Almeer meninju perut Aga dengan lututnya sekuat mungkin hingga pria itu terhoyong ke belakang.


"Jaga mulutmu!! Beraninya kau membentaknya!!" Almeer tak terima Aga sudah membentak Sora.


"Cih!! Bisa-bisanya kau—"


"UDAH, STOP!!" Teriak Sora, ia mengurungkan kepalan tangan Aga yang sudah mengambil ancang-ancang untuk memukul Almeer.


"Tolong, Berhenti. Jangan seperti ini...," Pinta Sora memelas.


-Bersambung-


.


.


.


.


.


Jangan lupa BAYAR AKU dengan tekan LIKE, ketik KOMENTAR, kembali ke halaman sampul buat KASIH BINTANG LIMA dan kalo ada yang punya lebihan poin kasih VOTE novel ini ya.


Terimakasih.

__ADS_1


__ADS_2