ALINEA CINTA

ALINEA CINTA
OTW TAMAT


__ADS_3

Mobil yang sedang dikendarai Aga sedang berhenti tepat di garis pembatas zebra cross. Ia mengedarkan pandangannya sambil menunggu warna hijau dari trafic light menyala. Tapi justru ada seseorang mencuri perhatiannya ujung jalan sana. Seorang gadis berhijab yang pernah beberapa kali ia temui terlihat sedang sibuk membetulkan motornya di tepi jalan raya.


Lampu hijau menyala, Aga lekas melepas pedal kopling seirama dengan menginjak pedal gas mobilnya. Kendaraannya mulai melaju, ia menyalakan lampu sein kiri, memberi petunjuk kendaraan dibelakangnya jika ia akan menepi.


Ia lekas keluar dari mobil, menghampiri gadis yang sedang jongkok dan terlihat putus asa menatapi motor maticnya.


"Kanaya," sapanya.


Gadis itu mendongak dan berdiri kaget melihat siapa yang menghampirinya. "Mas Aga?"


"Kenapa?" Aga melihat motor Kanaya, ada sebuah bungkusan kado dibagian depan pijakan kaki motor itu.


"Tiba-tiba mati, Mas. Gak nyala starternya, udah dibantu sama orang-orang gak bisa," jelas Kanaya.


"Mau ke tempat Sora?" tanya Aga.


Kanaya mengangguk, pandangannya masih menatapi motornya.


"Aku juga mau kesana, ikut denganku saja ...," ajak Aga.


"Motornya? Tidak mungkin saya tinggal, Mas."


"Aku akan minta bantuan karyawanku, dia akan mengurusnya ...," jawab Aga.


"Saya tidak mau merepotkan Mas Aga lagi,"


"Aku yang memberimu penawaran." Aga mengeluarkan ponselnya, "Ri, ambil motor temanku yang mogok ya? Shareloc-nya ku kirim di whatsapp."


Ibu jari Aga sibuk diatas layar ponselnya, ia juga memotret sebuah toko buku dibelakangnya kemudian mengirimnya pada seseorang setelah itu memasukkan ponselnya di saku celana jeansnya.


Ia mengambil tas dan bungkusan kado di motor Kanaya kemudian memberikannya pada gadis yang sedang menatapnya kebingungan itu kemudian membawa motor Kanaya ke tempat parkir toko buku.


"Mas, titip motor ini ya? Sebentar lagi ada yang ambil motor ini," ujar Aga pada seorang tukang parkir.


"Oke, Mas."


"Ini kuncinya." Aga memberikan kunci motor sekaligus selembar uang pada pria berompi hijau itu. "Saya titip ya, Mas."


Pria itu tersenyum lebar, "beres, Mas. Terimakasih," ujarnya.


Aga menghampiri Kanaya, "ayo, Nay," ajak Aga.


Kanaya mengangguk, ia diam dan mengikuti langkah Aga menuju ke sebuah mobil sedan hitam. Keduanya pun masuk dan Aga mulai melajukan kendaraannya.


"Apa kamu keberatan jika menemaniku mampir membeli kado untuk anaknya Sora?" tanya Aga.


"Boleh, Mas," jawab Kanaya tak keberatan.


Keadaan mobil kembali hening, Aga fokus mengendarai mobilnya dan berhenti disebuah ruko yang menjual perlengkapan dan peralatan bayi.


Mereka berdua segera masuk ke dalam. Keadaan toko itu memang selalu ramai, selain ini toko perlengkapan dan peralatan bayi terlengkap harganya pun juga lumayan miring dibanding tempat lain.


Aga dan Kanaya menyusuri lorong demi lorong mencari kado yang cocok untuk diberikan pada anak dari wanita yang pernah memenuhi hatinya.


"Menurutmu, apa yang harus ku beli?" tanya Aga.


Kanaya terkejut dengan pertanyaan Aga, "jadi Mas belum kepikiran mau beli apa?"


Aga menggeleng, "aku pikir dia sudah mendapatkan segalanya dari kedua orangtuanya dan kakek neneknya. Jadi, aku hanya berniat datang dan memberi mereka ucapan selamat. Tapi melihatmu membawa kado rasanya tak pantas jika aku datang tanpa membawa kado juga," ujar Aga.


Kanaya masih terperangah, "Mas bisa belikan baju, peralatan mandi, sepatu?" Kanaya menunjuk ke beberapa rak yang ada disekitarnya.


Aga mengangguk, "terimakasih sarannya."


"Permisi permisi permisi, barang beraaat!" Teriakan pria yang membawa kardus besar diatas kepalanya dari ujung lorong membuat semua pengunjung di lorong itu bergegas menepi.


Tanpa sengaja, kardus besar itu menyentuh barang-barang di atas rak pajang. Aga melihat kardus-kardus diatas Kanaya hendak jatuh. "Awas, Nay!" seru Aga, ia mendekat dan melindungi kepala Kanaya dengan lengannya.


Bruk Bruk Bruk Bruk.


"Aduuuh, Mas! Bawanya kenapa gak hati-hati sih, jatuhin barang-barangku!" teriak seorang SPG.


"Sorry, Berraaat nih,"


Keributan kecil itu berlalu begitu saja.


"Maaf," ujar Aga sambil menarik lengan dan tubuhnya mundur selangkah dari Kanaya.


Kanaya terpaku dan gugup, tentu saja berada terlalu dekat dengan pria selain Abinya membuatnya degub jantungnya bekerja lebih cepat dari biasanya.


"Nay?"


Naya mendongakkan kepalanya. Pandangannya bertemu dengan Aga, dengan cepat ia mengalihkan pandangannya kemanapun, asal bukan mata pria yang minim ekspresi itu.


"Iya, Mas."


Melihat tingkah Kanaya membat Aga ikut gugub, ia terlihat kebingungan juga, namun dengan cepat ia bisa mengendalikan diri. "Kita kesana, Nay," ajak Aga.

__ADS_1


Kanaya hanya mengangguk saja dan mengikuti langkah Aga. Kanaya membantu Aga memilih beberapa barang-barang perlengkapan bayi.


Setelah tas belanja mereka sudah cukup berat, Aga dan Kanaya pergi ke meja kasir. Tak lupa Aga mengambil kertas kado dan meminta bantuan petugas kasir untuk membantunya membungkus belanjaannya. Tapi sayangnya permintaannya ditolak karena keadaan toko sangat ramai.


"Nay bungkusin aja, Mas," Kanaya menawarkan diri.


Aga mengangguk.


"Boleh pinjam isolasinya, Mbak? Saya bungkus di mobil, nanti saya kembalikan," pinta Kanaya pada petugas kasir.


"Ini, Mbak."


Kanaya dan Aga kembali ke dalam mobil dengan barang belanjaan Aga.


Di dalam mobil tak ada percakapan apapun, Kanaya sibuk membungkus barang-barang Aga serapi mungkin. Sedangkan Aga hanya diam memperhatikan jari lentik Kanaya.


"Boleh saya tanya sesuatu, Mas?" tanya Kanaya.


"Ya,"


"Alasan Mas Aga mengembalikan undangan pengajian dari Abi waktu itu apa karena Mbak Sora?" tanya Kanaya. Ia masih menunduk, melanjutkan kegiatannya.


"Iya," jawab Aga singkat.


Kanaya diam tapi sesaat kemudian ia mengulas senyum kecil. "Sudah, Mas." Kanaya mengangkat wajahnya, ia terkejut ketika melihat Aga yang sedang memperhatikannya dengan tatapan yang tak bisa ia jelaskan.


"Aku kembalikan selotipnya dulu." Aga mengambil selotip di dashboard mobilnya kemudian keluar.


Kanaya hanya diam memandangi kepergian Aga. Ia memasukkan kado milik Aga ke dalam kantong plastik dan meletakkannya di bangku belakang.


Tak lama kemudian Aga kembali dan menyalakan mesin mobilnya. Aga dan Kanaya lekas memakai seatbelt-nya. Setelah memberikan upah parkir, Aga melajukan kendaraannya menuju ke rumah Almeer.


***


Sebuah tenda besar berhias kain bernuansa biru muda dan putih berdiri di halaman rumah Almeer. Terlihat ibu-ibu dan bapak-bapak pengajian mengisi kursi yang ada didalam tenda. Hari ini, Gaharu Taraka sudah genap 160 jam hadir di dunia ini. Dan kedua orangtuanya sedang menjalankan kewajiban untuk mengaqiqahkan putra mereka.


Acara berlangsung khitmad, diiringi sholawat nabi Sora menggendong putranya mengelilingi satu persatu keluarga untuk memotong sedikit demi sedikit rambut lebat putranya kemudian Almeer sebagai ayah kandung dari putranya mengumumkan dan mengesahkan nama putranya di depan umum.


Usai pengesahan nama Gaharu Taraka, Gus Iqbal memberikan tausiah singkat yang berhubungan dengan aqiqah menurut ajaran islam. Tak sampai satu, acara berlanjut ke sesi ramah tamah, dimana semua undangan bisa mencicipi hidangang telah disediakan tuan rumah.


"Biar Raka aku gendong, Sayang." Almeer mengambil putranya dari tangan istrinya, ia sudah lebih luwes untuk menggendong putranya.


Sora dan Almeer duduk berdampingan, perhatian mereka hanya tertuju pada putra mereka.


"Assalamu'alaikum,"


"Wa'alaikumsalam," Sahut Almeer dan Sora.


"Mas Al, Mbak Sora ... maaf ya, Nay datangnya telat," ujarnya setelah bersalaman dengan Sora.


"Ku kira kamu gak datang, Nay. Kata mama Ruby keluarga kamu lagi di Ngawi," ujar Sora.


"Abi dan Ummi yang ke Ngawi, Mbak. Nay di Malang saja ... seharusnya Abi dan Ummi datang sore ini," jelas Kanaya, ia menatap Raka yang ada digendongan Almeer. "Uuuuh, lucu banget ... Nay boleh gendong, Mas?" pinta Kanaya.


"Iya, Nay."


Almeer memberikan Raka pada Sora terlebih dahulu, kemudian Sora meletakkannya di lengan Kanaya yang sudah mengambil posisi yang nyaman untuk menggendong.


"Lucu ya, Mas ...," ujar Kanaya pada pria yang sedang berdiri di berdiri tak jauh dari Almeer. Tentu saja hal itu menarik perhatian Sora dan Almeer.


"Sejak kapan kamu disitu, Ga?" tanya Sora.


"Barusan," jawab Aga, ia memberikan dua kado pada Sora. "Dariku dan Kanaya,"


"Uhuk uhuk uhuk!" suara batuk dari Sky yang baru saja menghampiri saudaranya. Ia lekas meneguk air digelas yang dibawanya kemudian menarik napas dalam dalam.


"Kalian, datang bersama?" tanya Almeer yang sebenarnya terkejut dengan pernyataan Aga.


"Aku juga mau tanya itu tadi," sahut Sky.


Aga mengangguk, ia meletakkan kado yang dibawanya di atas kursi kosong yang ada di samping Almeer.


Tentu saja anggukan Aga itu membuat Almeer, Sky dan Sora tercengang.


"Tadi gak sengaja ketemu di jalan. Mas Aga bantu motor Nay yang rusak. Karena tujuan kami sama, jadi Nay ikut mobilnya Mas Aga." Kanaya berusa menjelaskan agar tidak terjadi kesalahpahaman.


Almeer dan Sky menatap pria tanpa ekspresi itu, mencoba mencari jawaban yang sedang ada dalam pikiran mereka. Tapi, tentu saja tak semudah itu mereka akan mendapatkan jawabannya.


"Makan dulu gih, Nay ... bareng-bareng tuh sama keluarga," ia mengajak Kanaya pergi ke meja prasmanan.


Sedangkan Sky langsung mendudukkan Aga di samping Almeer, mereka berdua mulai berniat menyidik Aga.


"Kalian tidak akan menemukan jawaban yang kalian inginkan," ucap Aga sebelum Sky maupun Almeer melontarkan pertanyaan. Pria itu berdiri dan pergi untuk menyapa keluarganya dan keluarga keluarga Langit.


***


Keluarga besar Almeer dan Sora berkumpul hingga malam. Kanaya ikut berkumpul disana karena memang ia sudah dekat dengan keluarga Almeer. Ia membantu apapun disana yang bisa dibantu, tak bisa duduk diam.

__ADS_1


Tanpa Kanaya sadari, sepasang mata dingin milik seseorang selalu mengikuti langkahnya. Tak bisa dihindari jika pria pemilik mata dingin itu kagum dengan gadis berparas lembut dan syahdu. Terlebih lagi ketika gadis itu memperlakukan Kyai Nur yang sudah berumur itu dengan lembut dan sopan.


Kanaya merapikan barang-barangnya. ia berpamitan pada satu persatu keluarga Sora dan Almeer. Ia harus pulang karena tak mau terlalu malam sampai di rumah.


"Kenapa buru-buru, masih belum jam delapan loh, Nay."


"Abi dan Ummi sudah datang, jadi saya harus segera pulang, Ning Ruby," jelas Kanaya pada Ruby.


"Naik apa? Bareng sama kita aja, ya?" tanya Ruby.


"Jangan, Ning Ruby. Nay pulang naik ojek online saja,"


"Tapi—"


"Tidak apa-apa. Maaf, Nay pamit dulu. Assalamualaikum ...,"


"Wa'alaikumsalam ...,"


Kanaya tidak mau berdebat dengan siapapun, ia pun beranjak pergi setelah mendapat jawaban salam dari orang-orang.


Ia menyusurk jalanan berpaving perumahan seraya memesan ojek lewat sebuah aplikasi. Tiba-tiba saja, sebuah mobil berhenti disampingnya. Kaca pintu depan sebelah kiri terbuka, Kanaya bisa melihat Aga di dalam sana.


"Naiklah, aku akan mengantarmu," ajak Aga memberi penawaran atau lebih tepatnya sebuah perintah.


"Saya bisa naik ojek, Mas." Kanaya menunjukkan ponselnya pada Aga.


"Naiklah," paksa Aga.


Kanaya berpikir sejenak, tapi Aga yang sudah tak sabar membuka pintu mobil dari dalam, memaksa Kanaya agar tak membuang waktunya.


Kanaya pun masuk ke dalam mobil, menutup pintu mobil dan memakai seatbelt. Dan Aga mulai melajukan kendaraannya.


Sekitar dua puluh menit menikmati perjalanan yang canggung dan tanpa obrolan, mobil Aga terhenti disebuah rumah yang sudah dua kali ia datangi.


"Karyawanku akan mengantarkan motormu besok," ujar Aga sebelum Kanaya keluar dari mobilnya.


"Terimakasih banyak atas bantuan Mas Aga pada saya," jawab Kanaya.


Aga mengangguk.


"Saya keluar dulu, Mas. Terimakasih sudah mengantar saya, Assalamu'alaikum ...,"


"Wa'alaikumsalam,"


Kanaya keluar dari mobil Aga.


Pria itu memperhatikan langkah gadis yang berjalan Anggun menuju pagar rumahnya.


Tiba-tiba saja ia melepas seatbeltnya dan membuka pintu mobilnya dengan cepat. "Kanaya!" panggilnya, membuat gadis berkerudung biru itu mengurungkan tangannya membuka pintu pagar rumahnya.


"Ya, Mas?" tanya Kanaya.


Aga menghampiri Kanaya, "ada yang mau aku tanyakan."


Kanaya mengangguk.


"Apa susah memimpin tahlil?" tanya Aga.


Deg!


Kanaya terkejut dan menatap Aga.


"Apa aku masih bisa menghadiri pengajian yang diadakan Abimu?" tanya Aga lagi.


Kanaya tak bisa menahan senyum di bibirnya, ia menganggukkan kepalanya. "Nanti Nay sampaikan pada Abi, Mas."


Dan untuk pertama kalinya, pria bernama Mikail Tyaga itu mengulas senyum lembut dibibirnya.


-Bersambung-


.


.


.


.


.


INFO!


KISAH MAS AGA TAMAT DISINI.


Jangan lupa BAYAR AKU dengan tekan LIKE, ketik KOMENTAR, kembali ke halaman sampul buat KASIH BINTANG LIMA dan kalo ada yang punya lebihan poin kasih VOTE novel ini ya. SHARE novel ini di sosmed kalian juga sangat diperbolehkan.


Terimakasih laflafkuh!

__ADS_1


__ADS_2