ALINEA CINTA

ALINEA CINTA
59


__ADS_3

"Langkahmu terlalu cepat untuk dia ikuti, kau harus lebih hati-hati," ucap Aga, datar dan dingin pada Almeer. Mereka diam dan saling menatap, saling menunjukkan ketidakramahannya satu sama lain.


"Kamu mau kemana, Ga?" tanya Sora, mengalihkan perhatian Aga pada suaminya.


"Jakarta,"


"Hah!? Ngapain?"


"Ra! waktu check in kita udah mau habis, ayo!" ajak Almeer.


"Oh, iya!" Sora menepuk jidatanya dan menarik tangan Almeer menuju ke tempat check in.


Usai dari tempat check in, mereka lekas menuju ke boarding area. Pesawat yang akan mereka sudah tiba dan mereka pun segera masuk ke dalam pesawat.


Almeer memimpin jalan, masuk ke ruang business class. Seorang pramugari menunjukkan tempat duduk mereka.


"Kamu deket jendela, Al," kata Sora.


Almeer mengangguk, ia masuk dan duduk di dekat jendela. Sora juga menyusul duduk disamping Almeer.


"Alhamdullillah, gak sampai ketinggalan pesawat ya, Ra," ujar Almeer.


"Kamu sih, Al. Udah tahu mau berangkat, bisa-bisanya ngajakin begituan!" Sora memanyunkan bibirnya, "untung aja gak telat," imbuhnya.


"Udah di ubun-ubun, Sora. Maaf, ya ...." Almeer mencubit pipi Sora.


Pemberitahuan untuk persiapan take off sudah terdengar, Almeer dan Sora menghentikan percakapan mereka dan bersiap memakai seatbelt.


Tiba-tiba saja di seberang tempat duduk pria yang ia kenali, Sora terperangah dengan kehadirannya.


"Kok kamu bisa disini sih, Ga?" tanya Sora.


Mendengar istrinya menyebut nama pria lain membuat Almeer ikut menoleh ke seberang bangku istrinya, dan pria yang tak terlalu ia sukai ada disana.


"Kamu ngikutin aku, ya?" hardik Sora.


Aga menatap Sora, kemudian ganti menatap pria di belakang Sora. "berhenti lihat kesini, Ra. Suamimu bisa salah paham,"


"Ah, iya!" Sora kembali mengalihkan pandangannya ke suaminya. Ia mencakup pipi Almeer dan menariknya untuk menatapnya, "lihat aku aja, Al. Jangan lihat dia," ujar Sora.


Almeer mengangguk, ia melepaskan kedua tangan Sora dari pipinya kemudian menggenggam satu tangannya.


Sora menyandarkan kepalanya di bahu Almeer, mengalihkan perhatian Almeer dengan membicarakan hal-hal tidak penting yang ada di otaknya. Yang penting, Almeer tidak sampai memikirkan keberadaan Aga disana.


***


Seorang pria tampan berkemeja putih dan celana kakhi coklat muda sedang bersandar di pilar besar yang tak jauh dari pintu kedatangan terminal kedatangan. Meskipun banyak pasang mata yang memandanginya, tak membuat pria itu kehilangan rasa percaya diri. Ia tetap calm dan stay cool.


"Lama banget sih!?" protesnya ketika melihat saudara kembarnya sudah tiba.


"Berisik! Nunggu gak sampai sepuluh menit aja bawel amat!"


Sky mengulurkan tangannya didepan Almeer.


"Apa-an?" tanya Almeer.


"Salim dulu sama kakak ipar!" jelas Sky, "kau gak punya sopan santun?" tanya Sky.


"Cih!" Almeer tertawa sambil menepis tangan Sky.


"Gak usah berlebihan jadi orang!" Sora mendorong muka Sky dengan satu telapak tangannya.


"Ih!" Sky menarik tangan Sora dari wajahnya, "tangan kotor seperti itu bisa-bisanya megang mukaku!"


"Ayo, Al. Kita ke mobil, abaikan dia." Sora menggandeng tangan Almeer.


"Ayo, Sky!" ajak Almeer.


"Biarin, palingan juga nungguin pasangan homonya." Sora menarik Almeer menuju ke mobil.


Ada Mita yang sudah menunggu Sora di dekat mobil. Ia mempersilahkan Sora dan Almeer masuk ke dalam mobil.


"Kita berangkat dulu, Mita. Sky pasti masih nungguin Aga," ajak Sora.


Mita pun masuk ke dalam mobil dan Sopir pun melajukan mobilnya meninggalkan Bandara.


Perjalanan menuju ke rumah berjalan lancar, ibu kota tak terlalu padat pagi ini. Halaman rumah megah berdinding putih itu berbeda dari biasanya, sangat padat dengan mobil-mobil tamu. Tentu saja di hari bahagia ini keluarga besar Langit berkumpul disana.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum ...," sapa Sora ketika memasuki ruang tamu rumahnya.


Keponakannya yang masih kecil-kecil berlarian. Marko dan Zia sedang membantu seorang asisten desaigner yang mengukur baju bridesmaid keluarga Sora pada Lala dan Bimo ada di ruang keluarga.


"Wa'alaikumsalam ...," jawab semua orang yang ada disana.


"Pengantin baru dah datang nih," goda Marko, "udah beda aja nih jalananya?" Marko memperhatikan langkah Sora.


"Apa-an sih, Oom ...," Sora memukul lengan Marko, ia menghampiri Zia dan Lala untuk memberi salam dan cipika cipiki.


Almeer menghampiri Marko dan Bimo untuk bersalaman. "Apa kabar, Oom?" tanya Almeer.


"Baik," Sahut Marko dan Bimo kompak.


"Kalian gak barengan sama Aga?" tanya Marko.


"Bareng, dia ama Sky. Tadi kita pisah di Bandara, Oom," jawab Sora.


"Sora, mending langsung ke belakang deh. Oom Hengky sama Tante Enna datang," ujar Zia.


"Serius, Tante!?"


"Iya, buruan kesana. Keluarga Almeer juga disana ngepasin baju groomsmen," sahut Marko.


"Ayo, Al!" Sora menarik tangan Almeer dan pergi ke taman belakang.


Suasana taman yang rindang itu terlihat sangat ramai. Beberapa orang asisten designer kenalan Marko sibuk membantu keluarga Sora dan Almeer mengepaskan pakaian.


"Nah, syukurlah pengantinnya udah datang ...," seorang pria bertulang lunak menghampiri Almeer dan menarik tangan Almeer.


"Hei hei, Oom Santiago! Jangan pegang-pegang suamiku!" protes Sora pada perancang baju terkenal langganan keluarga Sora.


"Santi Santi Santi! Namaku Santi, Sora!" ralat pria yang berusia belum genap kepala tiga itu.


"Sini, Al. Dia bahaya ...," Sora menarik tangan Almeer.


"Aku kan mau nyobain baju pengantiinnya ke dia, Sora!" Santiago menarik tangan Almeer kembali.


"Sora ..., udah biarin aja Santi ngurusin Almeer. Nanti makin lama, loh ...," ujar Senja.


Sora melepaskan tangan Almeer dengan manyun, membuat gelak tawa keluarganya.


"Aku ikut mas ini dulu ya, Ra." Pamit Almeer.


Sora mengangguk berat. Ia kemudian menghampiri Hiko dan Ruby yang sedang duduk bersama papanya.


"Assalamu'alaikum," Sapa Sora, bergantian mencium tangan kedua orangtuanya dan mertuanya.


"Wa'alaikumsalam,"


"Kamu udah beda, Ra?" tanya Langit, matanya menelisik putrinya dari ujung rambut hingga kaki.


"Apa sih, Pa." Sora tersipu malu, bersembunyi di balik badan mamanya.


"Tiap hari si Al bau samphoo terus rambutnya, sepertinya mereka rajin beribadah," sahut Hiko.


Langit tertawa masam, ia masih terlihat tidak ikhlas putrinya disentuh pria lain.


"Dor!!"


"Astaghfirullahaladzim!" pekik Sora terkejut, "Tante Ennaaaa!" teriak Sora kemudian memeluk wanita berkacamata dan berambut pendek itu.


"Apa kabar, Sora?" tanya Enna, "Tante hampir pangling loh, kamu jadi secantik ini sekarang."


"Makasih loh, Tante. Alhamdullillah Sora selalu sehat wal'afiat. Oom Hengky mana? Caca, Cia, Cio sama Cui ikut?" Sora mengabsen nama anak-anak Hengky.


"Oom Hengky ke depan sih tadi, gak tau mau ngapain."


"Kenapa nyari-nyari, Oom? kangen sama orang ganteng ini?" Hengky muncul bersama Genta dari belakang Sora.


"Iiih, aku punya yang lebih ganteng. Blasteran bumi ama surga. Noh!" Sora menunjuk Almeer yang berada di kejauhan sedang mencoba baju resepsinya.


"Wuih, iya. Tumben kamu dapat cowok bener?" goda Hengky.


"Iyalah. Buah kesabaran dari tumpukan hati yang selalu tersakiti, dapatnya ya yang premium." Sora membanggakan diri sendiri.


Hengky menyebikkan bibirnya, "sepertinya anda harus sabar punya menantu seperti ini, Pak Hiko, Bu Ruby," kata Hengky pada mertua Sora.

__ADS_1


"Eitz, enak aja! Anakku itu unik tau! Gak ada yang lebih unik dari dia." protes Langit.


"Iya iya, anakmu unik." Sahut Hengky.


"Eeh, kok bisa barengan, sih?" Sora menunjuk Hengky dan Genta, "Oom Hengky kenal sama Oom Genta?" tanya Sora.


"Kenal!" sahut Hengky dan Genta kompak.


"Oya? kenal dimana?" tanya Sora.


"Barusan."


"Hadeeeeh, buang-buang waktu aja aku tanya," sesal Sora.


"Permisi, Nona." Erni menyela pembicaraan keluarga itu.


"Ya, Bi Erni?" tanya Sora.


"Anda harus mencoba gaun pernikahan anda, asisten tuan Santiago sudah menunggu disana," jelas Erni.


"Oke, Bi Erni." Sora menatap semua keluarganya, "Sora tinggal ke kamar ya ...," pamitnya.


Baru selangkah kaki Sora melangkah, ia hampir jatuh karena bawahan gamisnya terinjak kaki Enna. Ia yang hilang keseimbangan tak sengaja mendorong Erni dan tubuhnya hampir terjatuh menimpa Erni.


"Sora!!" pekik semua orang.


Beruntungnya hal buruk tidak sampai menimpa Sora dan Erni. Genta menahan tubuh Erni dan seseorang beraroma oceanic lagi-lagi menahan tubuh Sora hingga tak sampai terjatuh.


"Aga!" Sora lekas menjauhkan tangan Aga dari tubuhnya, ia melihat Almeer dikejauhan yang terlihat dingin menatap Aga. Pria itu mengulas senyum kecil pada Sora ketika pandangan mereka bertemu.


"Gak apa?" Mulut Almeer berucap tanpa suara.


Sora mengangguk.


"Maaf ya, Sora ...," ucap Enna.


"Gak apa, Tante." Sora mengusap lengan Enna.


"Untung Aga muncul tepat waktu," celetuk Marko yang baru datang.


"Kamu gak apa-apa, Mbak?" Suara Genta menarik perhatian yang lain.


"Pepet terus aja, Ta! Kali aja jodoh!" celetukan Hiko langsung mendapat cubitan dari Ruby.


"Mas!"


"Ya kali aja jodoh Genta ada disini, Ruby. Kan gak ada yang tahu." ujar Hiko.


"Lho, Pak Genta ini belum menikah?" tanya Langit.


Genta Membantu Erni berdiri, "iya, Pak Langit. Takdir masih terus-terusan ngajak saya bercanda. Gak tau sampai kapan ini saya melajang."


"Erni juga masih lajang tuh," ujar Langit.


"Cocok tuh, Ta. Sikat, Ta ...," sergah Hiko.


Genta menatap Erni dan tersenyum, namun Erni hanya tertunduk.


"Saya harus antar Nona Sora ke kamar, Tuan," ujar Erni pada Langit.


"Oke oke! Pergilah," jawab Langit.


Erni mengajak Sora meninggalkan kumpulan keluarganya untuk pergi ke kamar.


-Bersambung-


.


.


.


.


.


Jangan lupa BAYAR AKU dengan tekan LIKE, ketik KOMENTAR, kembali ke halaman sampul buat KASIH BINTANG LIMA dan kalo ada yang punya lebihan poin kasih VOTE novel ini ya.

__ADS_1


Terimakasih sangat laf laf ku


__ADS_2