ALINEA CINTA

ALINEA CINTA
41


__ADS_3

Sayup Sora mendengar diorongan brankar pasien di koridor sekitar ruangan tempatnya di rawat. Ia memicingkan matanya ketika cahaya lampu ruangannya memaksa menembus kornea matanya. Ia memiringkan pandangannya dan menatap Aga yang sedang tertidur diatas sofa yang terletak tak jauh dari brankarnya.


Pandangannya berganti keluar jendela, dari balik gorden Sora melihat sang mentari sedang perlahan mengusir bintang-bintang, memberi warna kuning keemasan di langit kota Surabaya.


Sora menarik diri dan duduk terlebih dahulu, membetulkan jilbab instan yang tak terlalu lebar itu agar simetris dan rapi. Ia kembali melirik Aga, Tak tega karena sudah terlalu banyak merepotkan pria itu, Sora memilih untuk turun sendiri membawa botol infusnya dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Tangannya meraba apapun disekitarnya untuk dijadikan pegangan. Entah karena efek benturan atau memang karena terlalu lama tertidur membuat kepala Sora keliyengan.


"Ehh...,"


Sora merasa sekitarnya berputar-putar hingga tak bisa mengendalikan diri. Ia merasa badannya akan jatuh, nemun ia merasakan seseorang menahannya.


"Kenapa gak minta tolong, sih?"


Ya, siapa lagi jika bukan Aga yang menolongnya.


"Kamu mau kemana?" tanya Aga.


"Aku mau mandi, badanku lengket banget." Jawab Sora.


"Tapi keadaanmu seperti ini, nanti ajalah. Aku suruh asisten di rumah kesini buat bantuin kamu mandi." Aga memapah Sora kembali ke brankarnya.


"Kalau aku udah dibolehin pulang, aku pulang ke rumah kamu dulu ya, Ga. Aku gak mau tante khawatir lihat keadaanku, bisa-bisa tante cerita ke mama." Ujar Sora setelah duduk diatas brankarnya.


Aga yang sedang menggantungkan botol infusnya di tempatnya semula hanya mengangguk.


Sora mengambil ponselnya diatas nakas karena lampu indikator notifikasi ponselnya terus berkerdip. Banyak panggilan tak terjawab disana. Ia melihat daftar riwayat telepon.


"Sky, Sky, Sky, Sky, Sky, Sky, Sky, Sky..." Sora membaca pelan, "Tumben nih anak telepon sampai sebanyak ini?" Gumamnya.


"Sky telepon kamu, Ga?" tanya Sora pada Aga.


"Enggak..., dia memang menelponmu semalam, tapi aku mengabaikannya."


"Tumben, sih...," Sora melakukan panggilan balik ke Sky. "Kamu gak bilang ke dia tentang kondisiku, kan?" Tanya Sora sambil menunggu teleponnya terhubung.


"Enggak...," Jawab Aga.


"Hallo, Ra! Kemana aja sih di telponin berapa kali gak diangkat!" Belom Sora menyapa, Sky sudah meneriakinya.


"Sibuk!" Jawabnya asal, "Apa-an, sih? tumbenan nelpon aku sampai sebanyak itu?"


"Almeer dan Meera telepon aku, katanya dia hubungin kamu gak bisa. Dia ngundang kita ke nikahannya."


"Huahahahahahahaa...," Seketika Sora tertawa lebar mengabaikan sakitnya.


"Sialan! Berhenti ketawa!"


"Adududuuuuh, kakak aku tersayang. Tragis banget kisah cintanya."


"Kau di undang dia, kan?" tanya Sky.


"Gak tau, aku baru lihat Hape trus telepon kamu. Emang kapan dia nikah?" tanya Sora.


"Lusa...,"


"Hah, cepet bener?"


"Makanya aku telepon kamu, aku bingung mau ngasih kado apa?" tanya Sky, "Rumah? mobil? saham? berlian? ayooo, Ra. Kasih ide jangan diem aja!"


"Bawel banget sih!?" Sentak Sora. "Lagian ngapain kamu mau kasih rumah, mobil atau barang mewah segala? mau pamer kalau kamu lebih kaya dari suaminya Meera?"


"Aku berdiri pake baju compang camping aja semua orang bisa nebak kalau aku sebenarnya orang kaya, pamer pamer seperti itu hanya membuang-buang kebangsawananku saja."


Sora menyebikkan bibirnya, geli mendengar kepedean Sky. "Bawain aja teko air buat dia masak. Ntar kalo mau bikinin kopi buat suaminya keinget itu hadiah dari kamu."


"Murahan banget, Ra... Gak ada ide lain?" Suara Sky terdengar memelas.


"Apa kamu kasih seperangkat alat sholat?" sentak Sora.


"Niatnya, dikasih pake ijab qobul...,"


Sora kembali menyebikkan bibirnya dan memutar kedua bola matanya. "Udah gak usah macem-macem..., nyesel aku telepon balik kamu cuma buat ginian..."


"Loh, Ra! Aku—"

__ADS_1


"Assalamu'alaikum!" Sora segera memutus sambungan Teleponnya.


Ia kembali melihat riwayat teleponnya, ya memang ada dua kali panggilan tak terjawab dari Ameera dan beberapa panggilan dari Almeer. Ia mengernyit ketika melihat salah satu panggilan Almeer tersambung dan memakan waktu percakapan lebih dari satu menit.


Ia menatap Aga yang sudah duduk di sofa yang dibuatnya tidur semalam, pria itu juga sedang memandangnya dengan ekspresi dinginnya.


"Kamu bilang apa ke Almeer?" tanya Sora, tak ada senyum diwajahnya.


"Dia cuma tanya apa kamu baik-baik saja? ku jawab iya...," Jawab Aga malas.


"Kamu gak bilang aku sedang terluka, kan?" tanya Sora.


"Seharusnya aku bilang saja padanya, biar dia sadar diri!"


Bug!


Sora melempar bantal disampingnya pada Aga.


"Jangan macem-macem! Aku gak mau dia sampai khawatir dan ganggu pekerjaannya!"


Aga menarik menghela nafas. Ia berdiri dan mengembalikan bantal itu diatas brankar Sora. Bukannya kembali, ia justru mendekati Sora yang masih duduk di tepi brankar. Pria itu berdiri tepat didepan Sora, ia perlahan membungkukan badannya, membuat wajahnya sejajar dengan Sora. Kedua tangannya diletakkan pada tepian brankar, tepat disisi kanan dan kiri tubuh Sora untuk menopang badannya.


Sora berusaha menarik tubuhnya ke belakang, menjaga jarak dari pria yang sedang manatapnya dingin itu. Namun tangan kirinya yang terselip jarum infus dan tangan lengan kanan serta bahunya yang memar membuatnya terbatas untuk bergerak. Aga terlalu dekat dengannya hingga ia bisa mendengar dan merasakan hembusan nafas yang keluar dari hidung Aga.


"Ga—"


"Mulai sekarang aku tak akan memaafkan siapapun yang membuatmu menangis, siapapun itu! Termasuk Almeer."


Untuk pertama kali Sora merasa terintimidasi dengan sorot mata Aga, mata itu seakan menarik dua bola matanya untuk tetap fokus pada Aga dan membuat tubuhnya diam tak berkutik. Ia tak mengiyakan kemauan Aga, namun ia juga tak bisa menggelengkan kepalanya.


"Aku tak bisa melihatmu terluka, Ra." Suara Aga berubah lebih lemah, "Aku harap kau bisa memahaminya." Pinta Aga.


Sora mengangguk begitu saja tanpa berkata apapun, ia masih tercengang menatap Aga.


Aga tersenyum mendapat jawaban dari Sora, ia mengusap beberapa kali kepala Sora yang terbalut jilbab.


Sora segera menepisnya, "Jangan menyentuhku selain kamu sedang menolongku."


Aga menegakkan kembali badannya, "Kalau saja kamu tahu aku sedang bersusah payah menahan diri untuk tidak memelukmu." Gumamnya sambil berlalu pergi.


"Ssttt! Rumah sakit nih, jangan teriak-teriak!" Ujar Aga.


Sora mengatupkan bibirnya, "Kamu sih...," keluhnya


Aga tersenyum kecil, "Aku keluar sebentar, jangan kemana-mana...," Kata Aga kemudian keluar ruangan.


Seperginya Aga, Sora kembali menatap ponselnya dan melakukan panggilan telepon pada Almeer. Ia tak mau membuat Almeer khawatir.


Tuuut....


"Hallo, Assalamu'alaikum Sora."


Baru satu nada sambung, panggilan Sora sudah terhubung.


"Wa'alaikumsalam, Al. Cepet banget angkat teleponnya?"


"Aku memang mau menghubungimu, Ra. Tapi kamu telepon lebih cepat...,"


"Aku baru lihat hape, kata Aga kamu semalam telepon aku. Maaf ya, aku semalam tidur lebih cepat." Jelas Sora.


"Aku khawatir, lihat kamu kemarin pagi bawa mobil kebut-kebutan. Aku coba hubungin kamu gak bisa..."


Sora tertunduk malu, ternyata Almeer melihatnya kebut-kebutan di jalan. Pasti pria itu berfikir kalau dia sedang cemburu.


"Ah, iya... Aku ada urusan di Surabaya jadi harus cepat-cepat, takut terlambat." Sora berbohong menutupi perasaannya.


"Aku pikir kamu marah karena melihatku dengan Kanaya."


"Hahahaha, Tidak, Al... Jangan berfikir seperti itu, itu tidak benar." Sora mengernyitkan keningnya, mulutnya terlalu banyak berbohong. membicarakan sesuatu yang sangat berbeda dengan hatinya.


"Ra, aku dan Kanaya tidak seperti yang kamu pikirkan. Kami hanya berteman dari kecil dan Kanaya—"


"Al..., Maaf, aku tak mau kamu terus membahasnya...," Pinta Sora, bahkan untuk sebuah penjelasan saja hatinya tak mampu mendengar.


Almeer terdiam sejenak mencoba mengerti kemauan Sora, "Iya, Ra." jawabnya pasrah.

__ADS_1


Sora memutar otak, mencari bahan pembicaraan agar percakapan mereka tak canggung.


"Al, aku mendapat kabar dari Sky jika lusa Meera akan menikah?" tanya Sora.


"Iya, Dia segan mau mengundangmu. Takut papamu tidak mengizinkan. Kemarin aku memaksanya untuk coba menghubungimu, tapi kamu gak Menerim panggilannya. Jadi aku bantu dia menghubungi Sky. Kalian bisa datang?"


"Iya. InsyaaAllah kami datang."


"Kamu kapan pulang ke Malang, Ra?" tanya Almeer.


"Mmm, aku belum bisa pulang ke Malang, Al. Aku masih ada urusan disini...,"


"Bersama Aga?"


"I... yaaa...," Jawab Sora ragu, "Tapi ada asisten rumah tangga. ada sopir juga, ada—"


"Aku harap kamu bisa segera pulang ke Malang, Ra." Suara Almeer terdengar gusar.


Sora tahu, bersama dengan Aga akan membuat perasaan pria itu terluka. Tapi ia juga tidak bisa membuat Almeer melihat keadaannya sekarang.


"Maafkan aku, Al. Aku benar-benar harus disini sekarang." Ucapnya.


Tak ada jawaban dari Almeer.


"Al...," panggil Sora.


"Besok aku harus ke Jogja, Ra."


"Sebaiknya kita bertemu di Jogja, Al." Berat Sora mengatakan hal itu.


"Begitukah, Ra?"


"Iya, Al...,"


"Baiklah, Ra. Jaga dirimu baik-baik. Assalamu'alaikum...,"


"Wa'alaikumsalam...,"


Akhir pembicaraan yang cukup menyesakkan hati Sora, Maafkan aku, Al.


"Kenapa tidak bicara jujur saja padanya?" tanya Aga yang ternyata ia mendengar percakapan Sora dan Almeer di telepon.


Sora hanya tertunduk dan menggelengkan kepalanya.


"Alasanmu tadi malah akan membuatnya salah paham...,"


"Biarkan, daripada dia harus melihat kondisiku seperti ini." Ujar Sora.


-Bersambung-


.


.


.


.


.


BACA INFO DULU!


Tanganku masih sakit ya, ini ku usahain bisa up biarpun cuma sedikit.. Jan di protes yah....


JANGAN LUPAAAA!


- BAYAR AKU PAKE LIKE, JANGAN LUPA PENCET LIKENYA SAMPE MERAH.


- HIBUR AKU DENGAN TULIS KOMENTAR KALIAN MENGENAI EPISODE INI.


- KASIH BINTANG LIMA BIAR ISTIMEWA


-YANG PUNYA POIN LEBIH, BISA VOTE NOVEL INI YA.


MAKASIH BANYAAAAAAK.

__ADS_1


__ADS_2