ALINEA CINTA

ALINEA CINTA
66


__ADS_3

Kata orang pertengkaran dalam rumah tangga itu wajar. Apalagi dimasa-masa awal pernikahan, pasti lebih banyak pertengkaran di dalamnya. Menyatukan dua manusia yang memiliki latar belakang serta cara pandang yang berbeda itu memang tidak mudah.


Sifat egois dalam diri manusia itu pasti ada. Merasa diri sendiri paling benar itu pun manusiawi. Jika sifat itu tidak bisa dikendalikan, perdebatan akan semakin panjang dan tak berujung.


Beruntungnya Sora memiliki suami penyabar seperti Sagara Almeer. Bukan pria itu terlalu baik ataupun naif, Almeer hanya selalu mencoba menempatkan dirinya jika berada di posisi orang yang menurutnya salah sebelum ia benar-benar menghakiminya. Sehingga Ia tak akan terlalu larut berada dalam pertengkaran panjang, terutama dengan istrinya.


"Assalamu'alaikum ...," ucap Sora ketika membuka pintu kaca kantor Almeer.


"Wa'alaikumsalam," sahut beberapa karyawan Almeer yang sedang bersiap pulang.


"Udah mau pulang, ya?" tanya Sora.


"Iya, Bu ...,"


"Pak Almeer ada di dalam?" tanya Sora.


"Ada, Bu. Masih mau lembur lagi sama tim produksi," jawab Siska, sekretaris Almeer.


"Oke, Sis. Aku masuk ke dalam dulu ya ...,"


"Iya, Bu ...."


Sora pergi menuju ke ruang Almeer, tas kecil milik brand ternama menggantung cantik di lengan Sora, sedangkan tangan kanannya menenteng kantong plastik berisi kotak kue yang masih mengepulkan uap hangat.


Tok tok tok


"Assalamu'alaikum, Bie ...," ucap Sora ketika membuka pintu ruang kerja suaminya.


"Wa'alaikumsalam," sahut Almeer, "Sayang, udah datang?" Almeer meninggalkan tempat duduknya dan menghampiri istrinya.


Sora lekas mencium tangan suaminya dan dibalas kecupan singkat dari Almeer di kening Sora.


"Gimana hari ini?" tanya Almeer, tangannya mengusap lembut perut istrinya. "Debay bikin Bubund capek, gak?"


"Enggak kok, Bie ...," jawab Sora, ia duduk di sofa dan meletakkan plastik yang ia bawa diatas meja.


"Lagi?" Almeer terbelalak ketika melihat Sora yang sedang membuka kotak bolu kukus favorit wanita yang sedang memasuki trimester kedua kehamilannya.


"Gak tau, Bie. Aku tuh suka banget sama bolu kukus ini ...," jawabnya sambil mengunyah makanannya. "Makan, Bie." Sora menawarkan bolunya.


Almeer tertawa gemas melihat istrinya, Ia mengusap pipi istrinya yang mengembung penuh roti. "Kamu makan aja, Sayang. Aku lanjutin kerjaan aku ya ...,"


"Iya. Bie." Sora mengangguk cepat.


Almeer pun kembali ke meja kerjanya dan kembali pada pekerjaannya.


Dalam tiga bulan terakhir memang Sora lebih sering mendatangi kantor Almeer jika suaminya itu berencana untuk lembur. Mungkin bawaan lahir atau memang kemauan dia sendiri untuk ingin selalu berada didekat suaminya.


Sebenarnya Sora sangat gemas ingin sekali membelikan perlengkapan dan peralatan yang dibutuhkan tim produksi agar segera bisa menambah karyawan lebih banyak lagi. Jadi ia bisa mendapat banyak waktu bersama suaminya di rumah. Tapi, bagaimanapun juga Sora tak bisa melakukannya tanpa ijin suaminya.


Usai sholat isya' di kantor, Almeer melanjutkan sedikit pekerjaannya. Mau tak mau ia harus segera mengajak istrinya pulang.


"Udah capek, Sayang?" tanya Almeer.


Sora yang sedang merebahkan diri di sofa menganggukkan kepalanya, "Iya, Bie. Punggung sekarang capek banget," ujar Sora.


"Aku udah selesai kok." Almeer membereskan meja kerjanya.


"Serius, Bie?" tanya Sora.


"Iya ..., lagian lanjutannya bisa dikerjain temen-temen produksi, kok."


Sora mengangguk, ia pun bangun dari tidurnya dan berdiri menunggu Almeer.


"Bie, pulang naik motor aja ya ..., aku pengen naik motor nih," pinta Sora.


"Enggak, deh. Naik mobil aja. Udah malem, Bui," tolak Almeer.


"Bie ...," rengek Sora dengan manjanya.


Almeer menatap Sora dengan tegas, "enggak, kita naik mobil aja."


Sora memayunkan bibirnya.


Almeer yang sudah selesai membereskan meja kerjanya segera menghampirinya dan mengajak istrinya keluar ruangannya.


"Guys, aku pamit pulang duluan, ya! Lemburnya jangan lebih dari jam 9 malam," pesan Almeer ketika ia mengintip ruang tim produksi.


"Beres, Bos!"


"Hati-hati, Pak!" sahut para karyawan Almeer.


"Assalamu'alaikum," pamit Almeer dan Sora.


"Wa'alaikumsalam ...,"


Almeer dan Sora bergegas pergi keluar kantor. Baru saja Almeer membuka pintu kantor mereka dikejutkan dengan kehadiran Cloe, Clara dan seorang wanita muda yang terlihat seperti baby sitter Cloe.

__ADS_1


"Oom Almeer!" Cloe menghamburkan diri dan ***** paha Almeer.


Almeer duduk jongkok didepan Cloe, "kenapa Cloe tiba-tiba kesini?" tanya Almeer, ia menyempatkan tersenyum pada Clara untuk menyapa wanita paruh baya itu.


"Cloe kangen sama Oom Almeer .... Kata mama, Oom Almeer akan sering-sering lihat Cloe, tapi sampai sekarang Oom Almeer belom pernah nemuin Cloe," adu gadis kecil itu.


Almeer menatap Sora, tapi Sora memilih untuk pergi.


"Apa kabar, Sora?" sapa Clara ketika Sora melewatinya.


Tak ada jawaban dari wanita yang sedang hamil muda tersebut, ia hanya berjalan lurus dan masuk ke dalam mobilnya.


"Tadi kami lewat sini, dan Cloe melihat motor kamu masih ada disini. Jadi kami putuskan untuk mampir," jelas Clara pada Almeer, "Cloe sepertinya kangen sekali ke kamu, Almeer."


Almeer menatap Cloe. Gadis kecil itu mengangguk, membenarkan ucapan neneknya.


"Maaf ya, Cloe. Oom Almeer masih sangat sibuk akhir-akhir ini, banyak kerjaan yang harus Oom selesaikan. Apalagi sekarang tante Sora sedang hamil, jadi Oom tidak bisa meninggalkannya sering-sering." Almeer mencoba memberi penjelasan pada Cloe.


"Sora hamil, Almeer?" tanya Clara, "sudah berapa bulan?"


Almeer ganti menatap Clara. "Sudah tiga bulan, Tante," jawab Almeer.


"Alhamdullillah, Tante ikut senang mendengarnya."


"Setelah ini Oom Almeer akan punya bayi?" tanya Cloe.


Almeer mengangguk, "iya, Sayang."


Tak ada rona kebahagiaan di wajah Cloe. "Aku gak suka sama Tante Sora!"


"Cloe! Gak boleh bilang seperti itu, " pekik Clara, Ia menghampiri cucu sambungnya itu, "kita pulang saja, Sayang."


Cloe melirik mobil Sora kemudian beranjak pergi ke mobilnya sendiri bersama babysitter.


"Maafkan tingkah Cloe ya, Almeer, " ucap Clara.


"Iya, Bu Clara. Sebenarnya saya paham kenapa Cloe bersikap seperti itu."


"Dia memang senang bersamamu, Almeer. Mungkin Cloe berharap kamu bisa menjadi ayahnya," Clara tertawa kecil memaklumi tingkah cucunya.


Almeer hanya tersenyum kecil menanggapi Clara.


Clara menatap ke mobil Sora sejenak, "aku pamit dulu, ya. Sora tidak akan suka jika aku berlama-lama bersamamu,"


Almeer mengangguk melihat Clara beranjak dari hadapannya, langkahnya pelan memakai tongkat elbow siku menyusul cucunya yang sudah masuk terlebih dahulu.


"Bukannya urusan pekerjaan kamu dengan keluarga mereka sudah lama selesai, Bie?" tanya Sora.


Almeer menyalakan mesin dan melajukan kendaraannya meninggalkan halaman parkir rukonya.


"Tadi mereka tak sengaja lewat didepan sini dan Cloe meminta untuk mampir," jawab Almeer.


Sora tak memberikan tanggapan lagi dan hanya diam menatap jalanan dan Almeer fokus mengendarai mobilnya.


Tak sampai setengah jam mobil mulai menapaki jalanan berpaving perumahan tempat tinggal mereka. Almeer melambatkan laju mobilnya dan berhenti di seberang jalan rumahnya.


Ada dua mobil sedan hitam milik brand mobil eropa disana, dan terlihat Tiga orang pria memakai setelan hitam berdiri didepan pintu masuk rumah Almeer. Ada Tommy asisten pribadi Langit disana.


"Sepertinya papa sama mama deh, Bie." Sora dan Almeer yang sedang kebingungan pun turun dari mobil dan segera masuk ke dalam rumah.


Benar saja, di ruang tamu sudah ada Langit, Senja, Sky dan Mina yang menyambut kedatangan mereka.


"Assalamu'alaikum," sapa Almeer dan Sora.


"Wa'alaikumsalam ...," Sahut keluarga Sora.


Sora berlari kecil memeluk Mamanya dan Mina secara bergantian. Sementara Almeer menyusul mencium tangan Langit dan senja bergantian.


"Sora! hati-hati, Sayang. Kamu sedang hamil," ujar Senja.


Sora hanya meringis, menunjukkan gigi-giginya. "Kalian kok gak bilang kalau mau ke Malang?" tanya Sora.


"Mau kasih surprise buat, Kak Sora," jawab Mina.


"Kamu beneran hamil gak sih, Ra?" tanya Sky, ia menatap perut Sora dibalik gamis longgarnya yang belum terlihat membuncit.


Sora menarik gamis bagian perutnya kebelakang hingga membentuk lekuk perutnya. "Tuh, udah kelihatan dikit." Ia menunjukkan perut bagian bawahnya sedikit nembuncit.


"Yakin itu isinya manusia? Bukan lemak?"


Sora melayangkan tasnya ingin memukul saudara kembarnya, namun pria itu langsung bersembunyi dibalik adik perempuannya.


"Sky ..., jangan mulai! Sora itu sedang hamil, jangan dibikin kesel." Langit memperingatkan putranya.


Sora menjulurkan lidah, mengejek Sky yang kena marah Papanya. Pria itu hanya menyebikkan bibir dan memutar bola matanya bersikap tak peduli dengan ejekan Sora.


"Kenapa kalian pulang semalam ini?" tanya Langit, ia kembali duduk di sofa disusul yang lainnya.

__ADS_1


"Saya banyak kerjaan, Pa. Jadi saya sering lembur," jawab Almeer.


"Kamu ikut lembur, Ra?" tanya Langit pada putrinya.


"Iya dong, Pa. Aku tuh sekarang gak bisa jauh-jauh dari suamiku." Sora menggelayut manja di bahu Almeer.


"Kamu itu lagi hamil muda, kenapa harus capek-capek nemenin suamimu lembur?" protes Langit.


"Iya, Sayang. Harusnya kamu banyak-banyak istirahat. Kamu kan seharian udah aktivitas di toko, kasihan anak dalam kandungan kamu," imbuh Senja.


"Tapi Sora lebih suka deket sama suami Sora, Ma. Daripada Sora harus dirumah nunggu sendrian," jawab Sora.


"Kamu juga, Al. Sudah tahu isti lagi hamil malam lembar-lembur aja. Harusnya kan kamu jaga istrimu baik-baik," sergah Langit pada menantunya.


"Kebetulan saya juga memang banyak pekerjaan, Pa. Karyawan dan perlengkapan di kantor juga kurang. Mau tidak mau saya juga harus membantu karyawan saya," sanggah Almeer.


"Lagian ini juga karena Papa kasih syarat itu kan? Suamiku jadi keteteran gini," keluh Sora.


"Tapi sebaiknya kamu juga harus jaga kesehatan loh, Sayang. Ini kehamilan pertama kamu. Jaga baik-baik," tutur Senja.


"Kata dokter kandungan Sora sehat dan baik-baik saja kok, Ma. Tenang aja, Bubundnya dedek bayi kan kuat,"


"Bubund?" ulang Sky dan Langit.


Sora menepuk dadanya dengan bangga, "Bubund ..., nanti dedek bayi panggil aku Bubund."


"Aneh," cetus Sky.


"Biarin napa sih!? Anak-anakku juga, bukan anakmu!" sergah Sora.


Sky mengagguk remeh, "aku lupa. Bukan Kianga Sora memang kalau gak aneh,"


"Menurutku lucu kok," sahut Mina, "cocok sama kak Sora yang periang,"


"Uuuuuchhh," Sora langsung memeluk Mina, "kamu emang yang paling pengertian sama kakak, Dek."


"Aku juga pengertian ke Kak Sky kok, Kak,"


Sora melepas pelukannya dan menatap datar adiknya, "jadi sebenarnya kamu di pihak siapa?"


"Di pihak yang menguntungkan lah, Kak," sahut Mina langsung mendapat gelak tawa keluarganya.


"Papa sama Mama sudah makan malam?" tanya Almeer.


"Belum," jawab Langit.


"Kami sampai di Bandara langsung kemari," tambah Senja.


"Mau saya pesankan makan malam atau kita makan malam diluar?" tanya Almeer.


"Makan di luar aja!" sahut Sky, "ada rumah makan enak, viewnya bagus, tapi aku lupa jalannya."


"Trus ngapain kamu ngomong, Sky?" protes Sora.


"Aku inget namanya, tinggal cari di gugel maps kan bisa!" Sky mengeluarkan ponsel dan mengetik sesuatu disana. "Nih, Al. Kau tau gak?" Sky Menunjukkan ponselnya pada Almeer.


"Ooh, ya udah. Ayo kesana." Almeer mengangguk setuju.


"Kamu gak apa-apa makan diluar, Sayang?" tanya Senja pada Sora.


"Enggak, Ma. Aku suka banget kalau diajak makan," ujar Sora semangat, Ia berdiri dari duduknya.


"Aga di Malang gak, Sky? Ajak dia—"


"Gak usah aneh-aneh deh, Pa. Kita-kita aja, sudah!" pangkas Sora.


"Iya, Mas ... Gak enak sama menantumu," imbuh Senja.


Langit menatap Almeer, memperhatikan pria itu sejenak. "Ya udah, ayo berangkat." Lanjut Langit.


Mereka pun keluar rumah, masuk ke dalam mobil masing-masing. Almeer memimpin jalan untuk menuju ke rumah makan pilihan kakak iparnya.


-Bersambung-


.


.


.


.


.


MAAP YA CUMA BISA NGETIK SEDIKIT DAN GAK ADA ISINYA. Ini sebenernya belum selesai, tapi ku up aja buat obatin rasa kangen ke mas Al ato ke mbak Sora ato malah ke authornya. Aku masih sibuk semedi gais, nyari pesugihan biar cepet kaya. Soalnya mo bikin pabrik micin buat camilan sehari-hari.


Jangan lupa BAYAR AKU dengan tekan LIKE, ketik KOMENTAR, kembali ke halaman sampul buat KASIH BINTANG LIMA dan kalo ada yang punya lebihan poin kasih VOTE novel ini ya.

__ADS_1


__ADS_2