
"Aga bilang, bentuk cinta yang paling dalam adalah merelakan. Aku takut jika suatu saat aku harus merelakanmu bersanding dengan wanita lain." Kalimat Sora ditutup dengan air mata yang menetes di pipinya.
"Ra...," Almeer menghadapkan kursinya pada Sora, "Aku tahu, kamu mungkin tidak yakin aku bisa menyelesaikan tantangan dari papamu. Aku memang manusia biasa, Ra. Tapi aku tidak akan menyerah begitu saja, aku akan berusaha semampuku untuk menyelesaikannya."
Sora menghapus air mata dipipinya kemudian menggeleng, "Aku hanya takut kehilanganmu, Al."
"Ra..., apa kamu sudah lupa dengan cerita tentang semut dan nabi Sulaiman yang ku ceritakan padamu dulu?"
Sora menggeleng, "Aku mengingatnya, Al."
Almeer tersenyum, "kita serahkan semuanya pada Allah, Ra. Kamu maupun aku harus bisa membatasi diri untuk tidak terlalu berharap satu sama lain. Jika memang kita ditakdirkan tidak berjodoh oleh Allah, kita bisa apa?"
"Al ...." Suara Sora tercekat di ujung tenggorokannya.
Kalimat Almeer itu memang benar adanya, tapi mengapa itu terdengar begitu menyakitkan.
"Mbak Sora?"
Sora sedikit kaget mendengar suara lembut seseorang memanggil namanya. Ia menoleh pada seorang wanita yang sedang berdiri disampingnya.
"Kanaya ..," Sora mengernyitkan keningnya, "Ada disini?"
Kanaya mengangguk, "Iya, Mbak. Bantu mas Al cari buku...," Jawabnya.
"Kamu kenal Kanaya, Ra?" tanya Almeer.
Sora mengangguk, ia terpaksa mengulas senyum, "Aku ikut pegajiannya," Jawab Sora.
"Oya? alhamdulillah kalau kamu bisa belajar dengan Kanaya, dia sabar banget menyampaikan tiap-tiap materinya. Kamu pasti nyaman ngikutinnya, Ra."
"Nay juga masih belajar, Mas. Nay belum pantas mendapatkan pujian seperti itu." Ujar Kanaya.
Sora berdiri dari duduknya, "Al, Nay..., aku pulang dulu ya...,"
"Loh, kok buru-buru, Mbak?" Tanya Kanaya.
"Iya, Ra. Kenapa?" tanya Almeer juga.
"Aku tadi cuma mampir aja, Al. Aku harus jemput tanteku." Kata Sora. "Assalamu'alaikum...,"
Tanpa menunggu jawaban Sora mengambil tasnya dan pergi meninggalkan Almeer dan Kanaya. Walau ia belum terlalu puas melepas rindunya pada Almeer setelah hampir sebulan tidak bertemu, tapi berada di antara mereka berdua sangat membuatnya tak nyaman. Apalagi ketika mendengar Almeer memuji Kanaya, Ia merasa sangat kerdil.
Sora menuruni anak tangga sambil memukul-mukul dadanya. Sesak! Ini bukan kali pertama ia merasakan ini, sudah puluhan kali ia merasakan hal seperti ini dan masih tetap menyakitkan. Sakit hati bukan suatu hal yang bisa dibuat latihan, meskipun ia bisa mengabaikan alasannya, tetap saja ia tak bisa mengabaikan rasanya.
Pib pib!
Sora menekan sebuah tombol yang ada di kunci mobilnya setelah sampai di halaman parkir, membuat alarm kunci otomatis mobil terbuka.
"Sora!"
Almeer tiba-tiba saja datang, tangannya menahan pintu mobil yang akan dibuka Sora.
"Al? kenapa kesini?" Sora kebingungan, ia bersyukur masih bisa menahan air matanya sehingga Almeer tak akan berfikir macam-macam.
"Aku tak mau kamu salah paham dengan Kanaya."
"Hahahaha...," Sora terpaksa tertawa, "Kamu ngomong apa sih, Al?" Sora mencoba berbicara selugas mungkin.
"Aku tahu kamu pergi bukan karena tante kamu, kamu hanya sedang mencari alasan, Ra." Almeer menatap tajam tepat di mata Sora.
Sora menarik nafas dan menghembuskannya perlahan, "Al..., aku percaya sama kamu. Aku tidak akan salah paham denganmu dan Kanaya." Ia tersenyum, mencoba meyakinkan Almeer.
Ia memang tak sedang berbohong. Sora tahu betul jika pria itu tak akan mungkin berbuat diluar batas. Aku tidak ragu padamu, Al. Aku hanya merasa kecil dan tak berarti diantara kalian. Batinnya.
"Kamu gak usah mikir aneh-aneh tentang aku. Kamu fokus aja ke tujuanmu, aku akan mendukungmu." Lanjut Sora.
"Aku tidak mau kamu salah paham, Ra. Aku meminta bantuannya karena dia tahu banyak hal tentang ekonomi islam. Aku sedang belajar padanya juga."
"Iya, Al. Iya..." Sora mengangguk paham, "Udah, balik gih. Jangan buang-buang waktu kamu."
"Aku minta maaf jika sikapku mungkin melukaimu, Sora." Ucap Almeer, ekspresinya penuh penyesalan.
"Jangan mengkhawatirkan aku, Al. Udah, buruan balik ke dalam sana..." Sora mingabaskan tangannya.
Almeer mengangguk, "Hati-hati bawa mobilnya, ya. Assalamu'alaikum, Ra."
"Wa'alaikumsalam, Al."
Almeer pun beranjak meninggalkan Sora.
"Al, bentar!"
Panggilan Sora membuat langkah kaki Almeer terhenti, ia melihat Sora sedang mengambil sesuatu barang dari dalam mobil dan berlari ke arahnnya.
"Jaketmu," Sora memberikan papper bag berisi jaket Almeer dan buku yang sebelumnya ia beli. "Aku juga membelikanmu sebuah buku bisnis, recomendasi dari dosenku. Semoga bisa berguna untukmu, Al."
Almeer menerima papper bag pemberian Sora,"Terimakasih, Ra."
"Sekarang aku menyesal kenapa aku harus membuang-buang masa mudaku dengan pria-pria menyebalkan itu. Aku lulusan Harvard University, tapi aku tak bisa mengamalkan ilmu yang ku dapat disana. Maaf ya, Al..." Keluh Sora.
Almeer tersenyum dan menggeleng, "Kamu peduli padaku saja itu sudah cukup, Ra."
"Makasih. Al. Atas semuanya..."
Almeer menganggukkan kepalanya, "Assalamu'alaikum, Ra."
"Wa'alaikumsalam, Al."
Sora menatapi kepergian Almeer hingga pria itu menghilang dibalik pintu masuk gedung perpustakaan umum. Ia menghela nafas panjang, harusnya dia bisa membantu Almeer dalam hal ini, bukan orang lain.
***
Senin pagi Sora sudah ada di toko, mencari nama-nama perusahaan yang bekerjasama dengan toko milik mamanya. Tak peduli perusahaan kecil maupun besar, dalam bidang apapun ia menyalin nomor telepon dan alamatnya. Dia berniat ingin mempromosikan studio animasi dan design grafis milik Almeer.
"Kak, inget brosur yang punya StudiOne, gak? bulan lalu mereka cetak dua kali...," Sora menghampiri salah seorang pegawainya, "Ini, yang ini...," Soro menunjukkan layar ponselnya.
"Ooh, punya mas Almeer, Mbak?"
"Iya, iya betul! Minta tolong cetakin ya. Bisa dijadiin hari ini, gak?" tanya Sora.
"Tapi harus sesuai antrean, Mbak..."
"Iiih, selipin lah... ya? please...." Sora memohon.
Akhirnya pegawai itu kalah juga dengan permintaan bosnya.
Setelah dua tahap awal beres, ia membuka situs website milik StudiOne untuk mempelajari jasa-jasa yang mereka tawarkan. Sora juga tak segan untuk menelepon customer service dan menyamas sebagai seorang customer hanya untuk menanyakan lebih detail mengenai jasa-jasa mereka.
Tentu saja ia harus melakukan hal itu untuk menjadi seorang marketing eksekutive gadungan dari perusahaan Almeer.
Dalam beberapa hari Sora berusaha keras untuk vokus mempelajari materi yang akan dia sampaikan ketika menawarkan jasa-jasa StudiOne. Tak jarang dia meminta bantuan Sky juga untuk ikut mempromosikan perusahaan Almeer.
"Ogah!!"
"Enak aja promosiin usaha orang, mana bidang Usahanya hampir sama."
"Ribet amat sih, suruh usaha sendiri napa!!"
"Aku gak mau ikut campur urusan percintaan kalian"
__ADS_1
Kurang lebih seperti itulah jawaban Sky tiap mendapat telepon dari saudara kembarnya yang ngotot meminta bantuan. Meskipun puluhan kali mendapat penolakan, Sora tetap mengirim file brosur dan kelengkapan promosi pada e-mail Sky. Ia tahu mulut Sky memang pedas, tapi pria itu punya hati yang lembut. Ia tak bisa melihat orang lain kesusahan.
"Tante, Maafin Sora ya... Mungkin beberapa waktu ke depan Sora bakal sibuk ngurusin sesuatu. Jadi Sora juga akan jarang ke toko." Ujar Sora pada Mia.
"Sibuk apa sih, Ra? kalau mama kamh tanya gimana?" tanya Mia.
"Bilang aja Sora kerjanya rajin, hehehe..." Sora terkekeh sambil meninggalkan ruangan Mia.
Sora pergi ke bagian produksi untuk mengambil berkas promosi yang sudah ia buat menjadi sebuah buku agar lebih menarik. Ia membolak-balikkan buku yang hanya berisi belasan lembar kertas itu, namun mempunyai poin-poin yang sangat penting.
"Kak, minta tolong bantuannya ya masukin ke bagasi mobilku." Pinta Sora pada dua orang pria didepannya.
Mereka membawakan dua buah kardus berisi lembaran buku promosi milik StudiOne ke mobil Sora.
Setelah semua siap, Sora dibantu Mita dan Aura bergegas pergi ke kantor-kantor yang sudah masuk dalam list perjalanan mereka.
"Bismillahiirrahmanirrahiim... Ya Allah, bantu hambamu untuk mencari tambahan rezeki."
***
Dalam sehari Sora pergi ke bebarapa kantor di kota Malang, tak sedikit yang langsung menolak dengan alasan sudah bekerja sama dengan perusahaan lain. Awal perjuangan, Sora masih membawa sikap arogannya. Memaksa setiap orang untuk menerima tawarannya. Ia masih lupa diri jika kali ini dia datang bukan sebagai anak seorang pengusaha besar yang setiap bibirnya mengucap kemauannya akan didapati.
Sehari dua hari, Sora membiasakan diri untuk memposisikan diri sebagai seorang marketing. Ia berusaha menahan diri dan menggunakan otaknya untuk membujuk bos-bos pemilik perusahaan yang ia datangi.
"Oke..., saya minat dan kebetulan saya membutuhkan sebuah iklan pendek animasi tiga dimensi untuk produk perusahaan saya."
"Alhamdullillah....,"
Sora sangat gembira setelah beberapa hari ia mendapat penolakan akhirnya kini kesabarannya membuahkan hasil.
"Sesegera mungkin akan ada tim kami yang mendatangi anda untuk follow up rencana kerjasama perusahaan anda dengan perusahaan kami, pak." Ujar Sora.
Satu keberhasilan membuat Sora lebih semangat lagi untuk menjemput keberhasilan yang lain. Ia berjuang lagi mendatangi perusahaan-perusahaan lainnya.
Jalanan Kota Malang yang tak terlalu besar itu kini sudah hampir ia hafalkan sebab seringnya ia berkeliling kota, bahkan sampai ke pinggiran dan ke kota sebelah.
Meskipun ia lelah setiap hari pulang petang, ia tetap tak melupakan pengajiannya. Bukan hanya urusan dunia saja yang ia kejar targetnya, tapi ia juga mengerja ilmu akhiratnya. Lelah tidak akan menghalangi niatnya untuk belajar.
"Kamu udah mau berangkat lagi, Ra?" tanya Lala ketika Sora sudah mandi dan ganti baju.
"Iyalah, Tante...,"
"Kamu baru pulang, loh. Gak capek? istirahat dulu lah, Ra." Bujuk Lala.
"Kan gak tiap hari juga Tante, ngajinya...," Sora meneguh air putih diatas meja kemudian mencium tangan Lala, "Sora berangkat dulu ya, Tante."
"Hati-hati ya, Ra."
"Iya, Tante. Assalamu'alaikum...,"
"Wa'alaikumsalam...,"
Sora bergegas keluar rumah, dan langkahnya terhenti melihat Aga sudah berdiri didepan pagar rumah.
"Mau kemana?" tanya Aga.
"Ada pengajian." Jawab Sora.
"Kamu juga harus jaga kesehatan, Ra. Aku tahu apa yang kamu lakukan akhir-akhir ini."
"Udah deh, Ga... Gak usah ceramah sekarang." Sora menghindari Aga dan melanjutkan langkahnya meninggalkan rumah.
Aga mengikuti langkah Sora. "Aku gak melarangmu buat berhenti bantu Almeer ataupun melarangmu pergi ke pengajian, Ra. Tapi jaga kondisi badan kamu juga."
"Aku bukan anak kecil yang gak tau kapan harus istirahat, Ga. Udah balik sana." Kata Sora.
"Aku akan ikut denganmu...,"
"Nah, itu yang ku mau. Berangkat dari dugaan orang-orang, kali aja bisa jadi beneran." Sahut Aga.
Sora memutar kedua bola matanya, malas menanggapi Aga. Mereka berdua melangkah dalam diam menuju ke pesantren Al Mukmin. Beberapa orang juga terlihat mengarah ke tempat yang sama. Ada yang pergi untuk sholat di masjid ataupun yang akan mengikuti pengajian usai sholat magrib.
Diantara beberapa orang itu ada yang sangat menarik perhatian Sora dan Aga. Dari arah yang berlawanan, mereka melihat Almeer, Kanaya dan pasangan paruh baya. Sora mengenal wanita paruh baya disamping Kanaya itu, beliau ustadzah Mutia, Ummi dari Kanya. Dan pastinya pria paruh baya disamping Almeer itu adalah Abi Kanaya, Ustadz Mahmudi yang akan menjadi pembicara pengajian umum malam ini.
Langkah Sora semakin melambat, pandangan matanya menunjukkan sebuah rasa ketidaknyamannan ketika melihat Almeer tertawa dan tersenyum lembut bersama keluarga Kanaya.
"Kemana hilangnya wajah ketusmu?" tanya Aga pada Sora.
Sora menghentikan langkahnya dan menatap Aga datar.
"Ada aku disampingmu, Ra..." Kata Aga, seakan ia tahu apa yang sedang di pikirkan Sora.
Sora menarik nafas panjang untuk meneguhkan hatinya kemudian ia mulai melangkahkan kakinya kembali.
Jarak antara dirinya dan Almeer semakin terpangkas. Kini perhatian Almeer beralih tertuju pada Aga dan Sora. Senyum yang semula mengembang dibibirnya, tiba-tiba saja hilang seketika. Namun bibirnya kembali tersenyum lembut ketika pandangan matanya bertemu dengan Sora.
"Assalamu'alaikum Ustadzah Mutia, Kanaya..." Sora mencium tangan Ustadzah Mutia dan menyapa ustadz Mahmudi.
"Wa'alaikumsalam...," balas mereka.
"Tumben, Mbak?" tanya Kanaya melirik pria yang ada di samping Sora.
"Calon suaminya Sora, ya?" goda Ustadzah Mutia.
"Bu—"
"Iya, Ustadzah..." Aga memangkas niat Sora untuk menjawab pertanyaan Ustadzah Mutia.
"MasyaAllah, yang satu ganteng dan yang satunya cantik. Semoga dilancarkan niat baik kalian, ya..." Ucap Ustadzah
"Aamiin...," Aga dan Kanaya mengaamiinkan do'a ustadzah Mutia.
Sora menatap segan pada Almeer yang sedang menatap Aga dengan tatapan tak ramah. Begitu pula dengan Aga yang memandang Almeer penuh percaya diri, ia merasa menang kali ini.
"Ustadzah, sebenarnya Sora itu—"
Allahu akbar Allahu akbar
Kalimat Almeer terpangkas suara adzan isya'
"Kenapa, Al?" tanya Ustadz Mahmudi.
"Itu—"
"Assalamu'alaikum Ustadz..."
Seseorang datang menyapa Ustadz Mahmudi hingga membuat Almeer tak bisa meneruskan kalimatnya.
"Ayo masuk yuk...," Ajak Ustadzah Mutia.
Semua melanjutkan langkahnya memasuki pintu gerbang pesantren Al Mukmin, Aga berjalan sejajar dengan Almeer sedangkan Sora bersama Kananya dan Ustadzah Mutia pergi ke lantai dua tempat sholat khusu wanita jika ada pengajian umum.
"Aku tidak suka caramu mengakui Sora sebagai calon istrimu." Ucap Almeer.
"Tidak ada yang salah dengan kalimatku." Balas Aga.
"Aku sudah melamarnya lebih dulu."
"Kau belum mendapat restu dari orangtuanya,"
__ADS_1
Almeer melirik sinis pria yang berjalan disampinya itu.
Aga membalas lirikan Almeer dengan tatapan tajam. "Aku tak akan segan-segan mengambilnya secara paksa jika kau membuatnya sedih dan terluka." Ancam Aga sambil berlalu pergi ke tempat wudhu pria.
Almeer menghentikan langkahnya, mengeratkan giginya menahan amarah setelah mendengar ucapan Aga.
***
Pagi ini Sora disibukkan dengan membagi tugas pekerjaan dengan Mita dan Aura. Banyak tempat yang menunggu kehadiran mereka hari ini.
"Aku ke Surabaya, kalian urus yang di Malang ya." Ujar Sora sambil membagi-bagi berkas.
"Tidak bisa Nona, kita harus ikut dengan anda. Surabaya terlalu jauh untuk anda mengendarai mobil sendiri." Tolak Aura.
Sora menggeleng, "Aku gak mau kehilangan satu kesempatan, Aura... Tolong, aku minta bantuan kaliaaan..." Sora memohon.
Mita dan Aura saling berpandangan, bertanya satu sama lain.
"Ku mohon, bantu aku...," Pinta Sora.
Akhirnya Mita dan Aura luluh juga. "Baik, Nona."
"Makasih yaaaaa, kalian emang ter the best buat aku." Sora memeluk Mita dan Aura.
"Apaan nih masih pagi udah peluk-pelukan." Tanya Lala.
Sora memberi kode untuk tak memberitahu rencana mereka pada Lala.
"Ini loh, Tante. Aku lagi sayang sayangnya sama mereka...," Jawab Sora.
Tin tin!
Suara klakson mobil terhenti didepan rumah Sora.
"Siapa tuh?" Lala berdiri melihat siapa tamu yang datang sepagi ini.
"Temen Sora, Tante." Ujar Sora, ia berdiri dan menghampiri seorang pria yang sudah berdiri di depan pintu pagar.
"Mbak Sora, ya?" tanya pria itu.
"Iya, Pak." Jawab Sora.
Pria itu memberikam kunci mobil dan stnk mobil untuk Sora, "Ini kunci dan surat kendaraannya." Ucap Pria itu.
"Baik, Pak. Terimakasih." Sora menerima pemberian pria itu.
"Tolong hati-hati dalam berkendara dan dikembalikan tepat waktu ya, Mbak." Pesan pria itu sebelum pergi.
"Baik, Pak."
Sora kembali masuk ke dalam rumah dan memberikan kunci serta stnk mobil pada Mita, "Kalian bawa ini."
"Buat apa, Ra?" tanya Lala penasaran.
"Biar efisien aja tante, hari ini kita ke tempat yang berbeda." Jawab Sora. "Tante, Sora berangkat dulu ya...,"
Wanita itu mengambil tas dan beberapa berkas dan buku-buku yang sudah ia siapkan kemudian mencium tangan Lala. "Assalamu'alaikum, tante."
"Wa'alaikumsalam..., Kok pagi banget berangkatnya, Ra?"
"Kejar waktu, tante!" Jawab Sora sambil keluar rumah.
Sora bergegas masuk ke dalam mobil dan segera melajukannya, ia harus tiba lebih awal di Surabaya. Ia tak mau membuang kesempatan emas ini, sebab perusahaan besar ini mau berkerjasama dengan nilai yang cukup besar. Sora harus benar-benar bisa mendapatkannya.
Keluar dari pintu gerbang perumahan, Sora harus mendapat pemandangan kurang mengenakkan didepan pintu gerbang pesantren Al Mukmin. Ia mendapati Almeer yang sedang duduk diantar motornya menerima sebuah kotak makan dari Kanaya.
"Ya Allah..., kenapa harus disaat-saat seperti ini aku melihat mereka." Keluh Sora.
Ia mempercepat laju kendaraannya agar tak terlalu lama melihat pemandangan itu.
Sementara itu, Almeer menyadari kendaraan Sora yang baru saja lewat. Mobil itu melaju lebih cepat hingga membuatnya khawatir.
"Kenapa, Mas?" tanya Kanaya yang heran mendapati ekspresi Almeer berubah tiba-tiba.
"Maaf ya, Nay. Aku harus buru-buru." Almeer memasukkan kotak makan pemberian Kanaya dalam tas ranselnya kemudian menyalakan mesin motornya. "Assalamu'alaikum, Nay."
"Wa'alaikumsalam, Mas. Hati-hati...,"
Almeer segera mengejar mobil Sora, ia khawatir jika akan terjadi apa-apa pada Sora. Dan ia tak mau jika pertemuannya dengan Kanaya menjadi alasan Sora mengendarai mobil secepat itu.
Almeer sudah berusaha mengejar kendaraan Sora, tapi langkah motornya terhenti ketika lampu lalu lintas berubah merah dan membuat jarak antara kendaraan mereka semakin jauh.
Ia memilih menepi dan mengeluarkan ponselnya untuk mengingatkan Sora, tapi panggilan itu terabaikan begitu saja.
"Maafkan aku, Sora." Ucap Almeer penuh dengan penyesalan dan kekhawatiran.
***
Mobil yang dikendarai Sora sudah menjejaki jalan tol yang menghubungkan kota Malang dan Surabaya. Sora berulang kali mencoba mengalihkan perhatiannya dengan menyalakan musik lewat double DIN pada mobilnya, namun lagu-lagu mellow yang keluar dari sana justru membuat hati Sora semakin teriris.
Ia meraih tasnya yang ada di jok sampingnya, merogoh ponselnya disana untuk menyalakan musik lewat ponselnya saja. Sebab lagu-lagu di ponselnya sudah bisa dipastikan akan membangkitkan semangat.
"Astaghfirullah, Almeer telepon sampai sebanyak ini?" Pekiknya kaget melihat ada lebih dari lima panggilan tak terjawab dari Almeer.
Tangan Sora sibuk mengirim pesan pada Almeer hingga Konsentrasinya terpecah antara jalanan dan ponselnya. Ia tak menyadari jika sebuah mobil dari Arah belakang menyalip sangat cepat dan membuatnya kaget hingga membanting kemudi ke sisi lain dan...
BRAK!!
Mobil Sora mendapat hantaman dari mobil yang melaju dari belakang.
-Bersambung-
.
.
.
.
.
INFO, DI BACA DULU!
BAGI YANG BELOM TAHU JADWAL ALINEA CINTA UP, AKU KASIH TAHU NIH.
MAS ALMEER HADIR SETIAP JAM TIGA SORE YA. PUKUL 15.00 WIB GAIS.
OKE.
JANGAN LUPAAAA!
- BAYAR AKU PAKE LIKE, JANGAN LUPA PENCET LIKENYA SAMPE MERAH.
- HIBUR AKU DENGAN TULIS KOMENTAR KALIAN MENGENAI EPISODE INI. (Jangan ngomentari novel tetangga disini, salah alamat nanti.)
- KASIH BINTANG LIMA BIAR ISTIMEWA
-YANG PUNYA POIN LEBIH, BISA VOTE NOVEL INI YA.
__ADS_1
MAKASIH BANYAAAAAAK.
*Maapkan kalo banyak typo di sini, tangan ku sakit karena habis drama dengan pohon kenari. aku susah ngetiknya. Harap di maapkan.