ALINEA CINTA

ALINEA CINTA
86


__ADS_3

Pagi ini Sora bersama Almeer mendatangi pesantren Al Mukmin. Sesuai permintaan Almeer semalam, ia menginginkan istrinya untuk meminta maaf pada kedua orangtuanya, terutama papanya.


"Assalamu'alaikum," sapa Almeer dan Sora ketika membuka pintu rumah.


"Wa'alaikumsalam ...," terdengar sahutan suara Ruby dari dalam. Tak berselang lama, Ruby muncul di ruang tamu. "MasyaAllah," ia menghampiri anak dan menantunya dengan bahagia.


"Kalian sudah saling memaafkan?" tanya Ruby.


Sora dan Almeer mengangguk kompak. "Iya, Ma."


"Maas! Mas Hiko!" Ruby setengah berteriak memanggil suaminya, tak sabar ingin membagi kebahagiaannya.


"Iya, Ruby ... aku denger loh," Hiko muncul dari ruang tengah dengan senyuman.


"Mas, alhamdullillah ... mereka sudah baikan,"


Hiko masih terus mengulas senyum diwajahnya, menatap bergantian wajah Almeer dan Sora. "Kalian itu pantas seperti ini. Gak cocok kalau harus berjauh-jauhan," ujar Hiko.


Almeer menatap Sora dengan lembut, istrinya itu membalasnya dengan manis.


"Ada yang ingin Sora sampaikan ke Papa Hiko dan Mama Ruby," ujar Sora.


"Ada apa, Nak?" tanya Ruby, "ayo, duduk dulu." Ruby menuntun menantunya untuk duduk di kursi ruang tamunya.


Hiko dan Almeer mengikuti langkah mereka dan duduk di kursi yang terpisah.


"Ada apa, Sora?" tanya Hiko.


Sora menipiskan bibirnya, menatap Ruby dan Hiko bergantian. "Sora ingin minta maaf ke Papa dan Mama ... terutama pada Papa. Sora sudah lancang sudah mengungkit masalalu Papa Hiko waktu itu," Sora tertunduk, tak berani menatap Hiko.


"Papa tidak mempermasalahkannya, Sora. Papa memahami bagaimana kondisimu saat itu, insyaAllah Papa sudah memaafkanmu lahir dan batin," ujar Hiko.


Sora mengangkat kepalanya, setetes air matanya jatuh. Ia tak menyangka keluarga ini begitu lapang dalam memberikan maaf atas kesalahannya yang cukup besar itu.


Ruby memeluk menantunya yang sedang menangis itu, "semua orang pernah melakukan kesalahan, Nak. Terimakasih karena sudah mau mengakui kesalahanmu," ujar Ruby.


Sora hanya menganggukkan kepalanya.


"Papa harap kamu tidak merasa canggung pada kami, Sora. Semoga ujian ini lebih mempererat hubungan kita, Nak. Jangan memberi jarak diantara kita," pinta Hiko.


"Benar kata Papa Hiko, Nak. Jangan sampai kamu merasa tidak enak hati pada kami," imbuh Ruby.


Sora menarik diri dari pelukan Ruby, "iya, Ma. InsyaAllah, Ma."


Ruby mengembangkan senyum manisnya dan mengecup kening menantunya.


"Maafkan Sora karena punya banyak kekurangan, Ma. Sora tidak punya tata krama, Sora wanita yang tak berilmu, Sora hanya bisa membuat malu,"


"Tidak, Nak ... jangan merendahkan dirimu. Kamu punya banyak kelebihan, Sora. Kamu mau belajar dan kamu mau berusaha ... kamu istimewa, Nak." Ruby mengusap air mata dipipi Sora.


"Terimakasih, Ma ... terimakasih, Pa." Sora mencium tangan Ruby dan Hiko bergantian, "insyaAllah, Sora akan belajar menjadi yang lebih baik lagi,"


"Aamiin," sahut Hiko, Ruby dan Almeer.


"Jadi, kamu bakal kembali ke rumah kalian lagi, kan?" tanya Ruby.


Sora mengangguk. "Iya, Ma ... bagaimana Sora tidak mau pulang sedang suami Sora merelakan diri untuk datang menjemput Sora." Ia menatap Almeer dengan senyum simpulnya.


"Jika kedepan ada masalah, tenangkan diri kalian tanpa harus meninggalkan rumah, Nak ...," ujar Ruby.


"Suami istri tidak baik jika berjauhan saat bertengkar, godaan diluar lebih mengerikan. Bicarakan jika kalian sudah bisa mengendalikan emosi. Dan yang terpenting, jangan malu untuk minta maaf terlebih dahulu jika kalian sudah menyadari kesalahan kalian," imbuh Hiko.


"Baik, Pa ...," jawab Almeer dan Sora bergantian.


"Gimana rasanya jauh dari pasangan?" tanya Hiko.


"Gak enaaak banget, Pa." Sora menatap Almeer dengan manyun, "biasanya tiap hari aku nyiapin teh buat kamu, nyiapin keperluan kamu, makan sambil aku curhatin apa yang ku lalui saat beberapa jam aku melakukan kegiatan tanpa kamu, Bie. Tapi, beberapa hari tanpa kamu, aku benar-benar merasa asing ... bahkan dengan diriku sendiri."


"Aku juga merasakan hal yang sama, Bie. Karena itu aku memilih mendatangimu, aku gak mau tersiksa lebih lama dengan keadaan seperti kemarin." Almeer mengusap kepala istrinya.


"Alhamdullillah, sekarang kalian bisa mengerti bagaimana tidak nyamannya berjauhan dengan pasangan kita?" tanya Hiko.


Almeer dan Sora saling menatap kemudian mengangguk, "iya, Pa."


"Terkadang saat bersama, kita lupa kebaikan masing-masing dari pasangan kita. Sebab itulah mungkin Allah sedikit memberi jarak diantara kita, Sayang ...," ujar Almeer pada Sora.


Sora tersenyum lebar menatap suaminya.


"Kamu tidak kerja, Al?" tanya Ruby.


"Al mau ajak Sora ke makam sebentar, Ma. Sora belum tahu dimana anak kami dikuburkan," jawab Almeer.


"Kalian sarapan dulu, ya? Mama siapin sarapan," ajak Ruby.


Almeer dan Sora saling menatap, kemudian Sora menganggukkan kepala untuk menerima tawaran Ruby walaupun sebenarnya mereka sudah sarapan.


***


Usai sarapan, Almeer dan Sora menuju ke sebuah makan keluarga yang tak jauh dari pesantren. Dimana Almeer menguburkan janin, calon buah hati pertama mereka.


Sora tak bisa menahan air matanya ketika melihat gundukan kecil milik buah hati mereka. Mereka berdua duduk dan mengirim do'a.


"Sayang ...," panggil Almeer setelah mereka menyelesaikan do'a.


"Ya, Bie?"


Almeer mengusap air mata istrinya, "selesai masa nifas kamu, aku ingin kita pergi umroh, Sayang. Kamu mau?" tanya Almeer.


"Umroh, Bie?" ulang Sora.

__ADS_1


Almeer mengangguk, "iya. Bagaimana menurut kamu?" tanya Almeer.


"Aku mau, Bie. Aku mau! Aku belum pernah kesana bersamamu, Bie." Sora mencengkram tangan suaminya erat-erat, sangat antusias dengan tawaran suaminya.


"Alhamdulillah kalau kamu setuju, Sayang."


"Tentu, Bie. Aku ingin berdo'a semoga Allah bisa segera memberikan kita keturunan ya, Bie."


"InsyaAllah ya, Sayang. Tapi kita juga harus ikuti petunjuk dokter, ya."


"Nunggu setahun, Bie. Lama ...," keluh Sora.


"Kita serahkan saja semua pada Allah, Sayang."


Meskipun mayun, Sora tetap menganggukkan kepalanya.


"Kita pulang ya, Sayang? Mendung gini, takut hujan. Kita kan jalan kaki," ajak Almeer, ia berdiri dan mengulurkan tangan untuk membantu Sora berdiri.


"Makasih, Bie," ucap Sora, kemudian mereka berjalan keluar makam.


Almeer sengaja tidak membawa kendaraan karena memang jarak makam ke rumah Sora tak terlalu jauh. Dan mereka kembali ke rumah dengan berjalan kaki.


"Bie ...." Sora melingkaran tangannya di lengan suaminya.


"Ya?"


"Apa cintamu padaku tidak memudar setelah banyak kesalahan yang ku lakukan padamu, Bie?" tanya Sora


"Kenapa masih bahas itu sih, Sayang?"


"Aku belum mempertanyakan yang ini, Bie."


Almeer menatap istrinya dengan senyum manisnya, "bukan memudar, Sayang. Hanya sedang tertutup sisa kekecewaan."


Wajah Sora berubah murung.


"Ini akan membaik seiring berjalannya waktu, Sayang. Aku tidak akan membiarkan cintaku memudar hanya karena kesalahan yang kamu perbuat, Sayang. Aku tidak akan berhenti mencintai istri yang sudah dikaruniakan Allah padaku." Almeer meraih tangan Sora, mengisi sela jemari istrinya itu dengan jemarinya, "dimana setiap sentuhan darimu, bisa meluruhkan dosa-dosa kita," lanjutnya dan di akhiri kecupan manis di punggung tangan Sora


"Bie ... malu di lihat orang," ujar Sora.


Almeer melihat keadaan sekitar perumahan, "mana ada orang? Si jomblo itu?" Almeer menunjuk Sky yang terhenti di pintu mobil dan memperhatikan ke arahnya dengan wajah ketusnya.


"Mau kemana tuh orang?" tanya Sora.


"Kalian mau nunjukin ke semua orang kalo udah baikan?" tanya Sky ketika jarak Almeer dan Sora semakin dekat.


"Gak usah iri, cari jodoh sana biar bisa ngerasain indahnya punya pasangan. Apalagi yang halal," balas Almeer.


Sky hanya melirik malas pria itu dan membuka pintu mobilnya.


"Kemana Sky?" tanya Sora.


"Percuma punya banyak uang tapi gak punya pasangan," sahut Sora, ia lekas bersembunyi di belakang Almeer ketika Sky melayangkan berkas yang dibawa untuk memukul Sora.


"Jangan macem-macem," ancam Almeer membela istrinya.


"Beraninya main kroyokan," cetus Sky.


"Sky!" Senja berlari menghampiri putranya dengan membawa sebuah payung.


"Kenapa, Ma?" tanya Sky.


"Bawa payung, Sayang." Senja memberikan payung yang dibawanya pada putranya, "dari tempat parkir ke tempat kerja putrinya Pak Zain jauh loh,"


Sky mengambil payung dari tangan mamanya, "gak bisa berhenti di depan lokasi, Ma?" tanya Sky.


"Enggak bisa, disana semua harus jalan kaki. Nanti kamu lihat sendiri batas akhir kendaraannya."


"Sky mau kemana sih, Ma?" tanya Sora penasaran.


"Ke kebun teh, Sayang."


"Aku mau ikut dong," pinta Sora.


"Enggak!" jawab tiga orang itu kompak menolak permintaan Sora.


"Jahatnya ...,"


"Bawa orang sakit bikin repot aja!" ujar Sky, ia meraih tangan mamanya dan menciumnya. "Sky berangkat ya, Ma. Do'akan berhasil,"


"Iya, Sayang. Hati-hati."


"Assalamu'alaikum,"


"Wa'alaikumsalam ...," jawab Senja, Sora dan Almeer.


***


Setelah melewati jalan tanjakan yang cukup panjang, mobil milik Sky mulai melambat ketika melewati gapura selamat datang. Sebuah perkebunan teh yang juga dijadikan tempat wisata terkenal di kabupaten Malang menjadi tujuannya. Letaknya yang berada hampir di perbatasan kota membuat Sky harus menempuh jarak cukup panjang untuk sampai di lokasi ini.


Pelan ia mengikuti petunjuk menuju ke pintu masuk. Sepanjang ia berkendara hanya hamparan tanaman teh yang tingginya sama rata. Ia mulai mengumpat dan menyesal karena Haris tidak ikut bersamanya. Sebab banyak jalan bercabang membuatnya tak hanya sekali terjebak di jalan buntu.


Setelah lebih hati-hati dan memperhatikan petunjuk dengan baik, Sky tiba di loket pembelian tiket. Seorang pria menghampiri Sky, ia pun membuka kaca mobilnya.


"Satu orang, Mas?" tanya petugas.


"Saya ada janji dengan putri dari pak Zainudin. Ada urusan bisnis, bukan untuk berwisata," jelas Sky.


"Ooh, Mbak Salju?" tanya petugas itu.

__ADS_1


"Iya,"


"Mas ikut jalan ini, terus belok kanan, jalan paling ujung belok kiri, naik ke atas ada lapangan besar, itu tempat parkir mobil. Sampai disana nanti mas tanya saja orang yang ada di tempat parkir,"


"Oke, Mas. Terimakasih,"


"Sama-sama,"


Sky mulai melajukan kembali kendaraannya. Rintik air hujan mulai menetes di kaca depan mobilnya. Ia mengaktifkan wipper mobil agar tetesan air hujan itu tidak mengganggu pandangannya dan kemudian terus mengikuti petunjuk dari penjaga loket tadi.


Tak sampai lima menit Sky menemukan tempat parkir itu. Tak banyak kendaraan disana. Hanya beberapa mobil yang masih bisa terhitung dengan jari sedang terparkir disana.


Baru ia menghentikan mobilnya, ia melihat seorang wanita berambut panjang dengan kemeja putih dan celana jeans berlari didepan mobilnya menuju ke sebuah halte yang berada tak jauh dari mobilnya.


Sky lekas mengambil payung dan berkasnya kemudian keluar mobil, berlari kecil menuju halte tempat wanita tadi berdiri.


Wanita cantik berambut panjang itu menatap Sky tak ramah, membuat Sky mangangkat sudut bibir atasnya, meremehkan wanita di depannya itu.


"Bisa saya tanya sesuatu?" tanya Sky, ia terpaksa membuka pertanyaan lebih dulu.


Wanita itu hanya melirik sinis.


"Tahu letaknya Harvest Cake and Bakery?" tanya Sky.


Wanita itu menatap ke jalan poros, "ikuti jalan itu, naik ke atas, sampaing taman bermain," jelasnya.


"Oke, thanks." Sky membuka payungnya dan mulai melangkah meninggalkan halte.


Baru dua langkah ia berjalan, tiba-tiba saja seseorang mendesak lengannya. Wanita yang berdiri di halte tadi sudah berada disampingnya. Ia diam menatap wanita disampingnya itu dengan tajam dan tak menyenangkan.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Sky.


"Aku ingin pergi ke toko roti itu, beri aku tumpangan," suara itu terlihat angkuh, membuat Sky mendengus kesal.


"Aku tidak terlalu suka berbagi!" ujar Sky seraya pergi meninggalkan wanita itu.


"Hei!"


Teriakan marah wanita berparas cantik itu tak menghentikan langkah Sky. Pria berkemeja putih terus melangkah tak mempedulikan wanita dibelakang sana sedang marah dan menghujatnya. Ia lebih peduli pada sneakers putihnya yang kotor terkena percikan air hujan.


"Ribet amat, sih!" keluhnya.


Sky berjalan melewati sebuah bangunan besar dengan suara mesin yg cukup berisik terdengar dari dalam bangunan yang sebagian besar dindingnya terbuat dari galvalum. Ia bisa menebak jika itu adalah pabrik teh.


Langkahnya terhenti di depan bangunan sebuah toko roti bergaya eropa yang tak terlalu besar. Sebagian besar bagian toko itu terbuat dari kaca, membuat ia bisa dengan jelas menelisik bagian dalam toko. Terdapat taman kecil juga berisi beberapa pasang meja kursi yang mungkin di siapkan untuk beberapa pengunjung yang ingin menikmati roti disana.


Tring!


Suara lonceng terdengar ketika Sky membuka pintu toko roti itu, aroma harum dan manis dari roti membuatnya perasaannya sangat tenang.


Ia mengedarkan pandangan, tiga buah etalase bakery tertata rapi di tengah ruangan bernuansa putih itu. Sky menuju ke meja kasir, dimana ada satu-satunya pegawai yang bisa ia tanyai tentang pemilik toko itu.


Pegawai itu tersenyum ramah ketika Sky berdiri didepannya, "ada yang bisa saya bantu?"


"Saya mau bertemu putri pak Zainudin, yang katanya pemilik toko roti ini," jawab Sky.


"Mbak Salju?"


Sky mengangguk.


Tring!


Suara lonceng pintu kembali terdengar, mengalihkan perhatian orang yang ada di dalam ruangan. Seorang wanita dengan rambut dan baju yang setengah basah berjalan menghampiri Sky.


"Ini, Mbak Salju." Pegawai itu memperkenalkan wanita cantik berwajah jutek itu pada Sky.


"Anda dari Actmedia?" tanya Salju.


Sky mengulurkan tangannya, "Saya, Sky," ia memperkenalkan diri.


Salju hanya menatap Sky dengan sinis, "Anda bisa pulang saja, saya sudah tidak berminat bekerjasama dengan perusahaan tempat anda bekerja."


Sky mendengus kesal, "oke!" jawabnya kemudian pergi begitu saja.


"Dasar laki-laki gak punya hati!" gumam Salju, "siap-siap saja kena marah bosmu!"


-Bersambung-


.


.


.


.


.


INFO!


Itu udah ku kasih sepenggal prolog dari novel ke empat, Gais. Sisa 4 Bab buat kisahnya Pemuda Bersarung dan si Biji Sawi, ya.


Oya, untuk novel keempat "Sanskara Sky" aku ambil genre Romance biasa ya, bukan Romance Religi.


Trus yang pada penasaran roti bolu kukus harganya berapa? Ya Allah esmeralda, cobalah kau tengok insta storyku, biar tau seberapa roti itu. Tengokla tengok.


Jangan lupa BAYAR AKU dengan tekan LIKE, ketik KOMENTAR, kembali ke halaman sampul buat KASIH BINTANG LIMA dan kalo ada yang punya lebihan poin kasih VOTE novel ini ya. SHARE novel ini di sosmed kalian juga sangat diperbolehkan.


Terimakasih laflafkuh!

__ADS_1


__ADS_2