ALINEA CINTA

ALINEA CINTA
31


__ADS_3

"Aku ingin bertemu papa dan mamamu, aku ingin bertanya langsung pada mereka. Bisakah mereka merelakan putrinya untuk menjadi istri dari seorang yang bernama Sagara Almeer?"


Sora terbelalak mendengar kalimat Almeer. Ia hampir menjatuhkan payung ditangannya namun Almeer segera menahannya hingga tak sampai terjatuh.


"Al..."


Almeer mengangguk, "Aku ingin mengkhitbahmu, Sora."


Kalimat itu membuat tulang-tulang di tubuh sora tak berfungsi dengan baik, tubuhnya lemas dan ia hampir terjatuh namun gerak refleknya yang langsung memegang pagar itu masih sangat bagus hingga tak sampai membuatnya terjatuh.


"Ra...," Almeer yang kedua tangannya yang masih memegang payung miliknya dan milik Sora itu menjadi khawatir.


"Sora...," Panggil Almeer lagi.


Sora terbengong menatap Almeer, ia menegakkan badannya dan mengambil payung miliknya dari tangan Almeer. Sora menunduk dan terlihat kebingungan, ia menatap apapun dibawah sana.


"Aku tidak bisa menerima khitbah-mu, Al."


Deg!


Itu bukan jawaban yang diharapkan Almeer.


Suasana menjadi hening dan canggung. Gemericik hujan dan suara dzikir dari pengeras suara masjid hanya menjadi musik pengiring sebuah hati yang tersakiti.


Sora memberanikan diri menatap Almeer. Ekspresi kekecewaan terlihat jelas di wajah pria itu.


"Adekku mencintaimu, Al..." Sora berat mengucapkan itu.


"Maaf, Sora. Tapi kamu tahu aku tidak mencintainya."


"Tapi Mina mencintaimu...," Tegas Sora.


Keduanya saling terdiam lagi. Rasa bersalah dan kecewa sedang merengkuh benak mereka.


"Aku tidak bisa membuat Mina lebih terluka lagi, Al. Aku sudah memutuskan untuk mendukungnya." Ucap Sora, ia kembali tertunduk dan menangis.


"Semulia itu hatimu, Sora. Kenapa disaat-saat seperti ini aku semakin mencintaimu?" Almeer tersenyum meremehkan diri sendiri.


"Aku menghargai keputusanmu, Sora. Karena itu, berhentilah menangis. Kamu sudah terlalu banyak bersedih..." Pinta Almeer, "Berjanjilah padaku jika kamu sudah tiba di Jakarta, pastikan kamu akan hidup dengan baik dan bahagia."


Sora hanya menganggukkan kepalanya.


Sementara itu, dibalik pintu ruang tamu ada seorang yang juga ikut menangis mendengar percakapan Sora dan Almeer. Oriana Kamina, gadis itu sedang membungkam mulutnya sendiri agar tangisnya tak terdengar orang lain. Sang kakak laki-laki yang melihat itu hanya bisa memeluknya, mengusap punggung adiknya untuk membuatnya lebih baik.


***


Matahari mulai naik ke peraduannya, namun sinarnya dihadang paksa barisan awan mendung hingga sulit menyentuh tanah kesultanan itu.


"Sora, dah siap belum?" tanya Sky ketika masuk ke dalam kamar Sora.


Wanita muda yang memakai gamis warna pink coral dengan kerudung warna senada terlihat sedang berdiri di dekat jendela.


"Yuk, Ra. Telat check in kamu ntar...,"


Sora mengangguk, "Aku harus pamit ke keluarga Almeer dulu, Sky." Ia tak mengalihkan pandangannya dari rumah Almeer.


"Ya udah buruan, Aga udah nunggu di bawah tuh."


Sora pun beranjak keluar kamar, seorang ART membawakan koper miliknya dan ikut dibelakang saudara kembar itu.


"Bi, tolong bawa ke mobil langsung, ya." Pinta Sora, kemudian ia melangkah ke pintu kamar Mina.


"Deek, kakak mau berangkat nih." Kata Sora.


Ceklek!


Pintu kamar itu langsung terbuka. Mata Mina masih basah bekas air mata dan ia langsung memeluk kakaknya.


"Udah udaaah..., gak usah nangis lagi, ya?" pinta Sora.


Mina menarik diri dari pelukan Sora, "Maafin aku ya, Kak."


Sora mengangguk dan menghapus airmata Mina. "Kakak do'akan kebahagianmu, Dek."


"Makasih, Kak. Kakak hati-hati, ya..."


"Iya, Dek." Sora memeluk Mina sejenak kemudian melepaskannya. "Gak usah anter kakak..., Assalamu'alaikum...," Pamit Sora.


"Wa'alaikumsalam, Kak...,"


"Aku anter Sora ke bawah dulu ya, Dek." Ujar Sky.


Mina mengangguk, Sora dan Sky pun turun.


"Tunggu aku di mobil, Ga. Aku mau ke rumah Almeer dulu...," Kata Sora pada Aga yang sedang menunggunya di ruang tamu.


"Baik, Nona." Jawab Aga.


Sora pergi keluar rumah dan pergi ke rumah Almeer. Ia sedikit menjinjing bawahan gamis yang dikenakannya, ia tak mau baju pemberian Almeer itu kotor terkena noda dari jalanan yang basah bekas hujan subuh tadi.


"Meera!" Sora berlari kecil menghampiri Ameera yang sedang menyapu bunga-bunga dari pohon trenguli yang jatuh lantaran hujan.


"Mbak Sora!" Ameera meletakkan sapunya dan menghampiri Sora. "Kata mas Al, Mbak Sora mau balik ke Jakarta, ya?"


Sora mengangguk, "Iya, Meera. Ini aku sudah mau berangkat."


"Cepet banget, Mbak?"


Sora tersenyum, "Aku mau pamit sama orangtuamu bisa?" tanya Sora.


"Iya, Mbak. Papa sama Mama ada kok." Ameera menggandeng tangan Sora dan mengajaknya pergi ke rumahnya.


"Maaa, ada mbak Sora nih." Panggil Ameera ketika ia masuk ke dalam rumah.


"Iya, bentar sayang. Mama cuci tangan dulu...," Teriak Ruby dari arah dapur.


"Duduk dulu, Mbak."


"Gak usah, Meera. Aku cuma bentar." Tolak Sora.


Terdengar suara langkah kaki menuruni anak tangga, Hiko muncul dari lantai dua bertepatan dengan Ruby yang muncul dari dapur. Mereka pun menghampiri Sora bersamaan.


"Assalamu'alaikum, Oom, Tante." Sapa Sora.


"Wa'alaikumsalam, Sora." Sahut Hiko dan Ruby.


"Maaf menganggu waktunya, saya cuma mau pamit aja. Di suruh Papa pulang ke Jakarta." Ucap Sora.


Hiko dan Ruby tersenyum, mereka tahu jika itu bukanlah alasan utama Sora pulang ke Jakarta.


"Sora...," Panggil Hiko.


"Ya, Oom?"


"Maafkan saya, ya." Ujar Hiko.

__ADS_1


Sora terdiam sejenak untuk menebak maksud perminta maafan Hiko padanya. Setelah menemukan jawabannya ia tersenyum segan, "Tidak Oom, tidak ada yang perlu saya maafkan. Anda tidak perlu meminta maaf."


"Tetap saja saya harus minta maaf." Kata Hiko keukeh.


Sora tak mau berdebat dengan orang yang lebih tua, meskipun ragu, ia menganggukkan kepalanya. Ia merapatkan kedua telapak tangannya, meletakkannya didepan dada untuk memberi salam pada Hiko. Kemudian ganti mencium tangan Ruby.


Ruby menahan Sora dan kemudian memeluknya sejenak. Entah kenapa hal itu tak membuat Sora canggung dan membalas pelukan Ruby. Setelah merasa puas, Ruby melepaskan pelukannya pada Sora. Ia mencakup pipi Sora dan tersenyum lembut walau kedua bola matanya menunjukkan sebuah kesedihan dan kekecewaan.


"Saya do'akan kebahagianmu, Nak." Ujar Ruby.


Sora mengangguk, "Terimakasih, Tan..." Sora tak bisa melanjutkan ucapannya ketika melihat seorang pria yang sangat ia kenali sedang melangkah ke arahnya.


"Al...," Ucapnya lirih.


"Udah mau berangkat, Ra? tanya Almeer, ia berdiri disamping mamanya.


Sora mengangguk, "Aku pamit ya, Al."


"Hati-hati, Ra." Jawab Almeer.


Sora sejenak menatap Almeer, memperhatikan ekspresi tenang pria itu. Kemudian ia berpindah menatap Ameera dan memeluknya.


"Aku pamit pulang dulu ya, Meera."


Setetes air mata membasahi pipi Ameera, "Iya, Mbak. Meera bakal kangen banget sama, Mbak Sora."


Sora melepaskan pelukannya. "Aku juga Meera."


Ameera meraih tangan Sora dan menciumnya sebagai bentuk rasa hormatnya pada Sora yang sudah ia anggap sebagai kakak sendiri. "Hati-hati ya, Mbak. Sering berkabar denganku." pintanya.


Sora mengangguk kemudian menatap Hiko dan Ruby bergantian. "Saya pamit dulu, Assalamu'alaikum..."


"Wa'alaikumsalam...,"


"Mau ku antar sampai depan, Sora?" tanya Almeer.


"Gak usah, Al. Aku mau pergi sendiri, kamu disini aja." Sora tersenyum kemudian membalikkan badannya dan pergi.


Ikhlas,


Kata yang singkat dan tak butuh waktu dan tenaga untuk melafalkannya. Tetapi, arti kata itu sungguh sulit untuk diterapkan. Karena menerima kenyataan yang tidak sesuai harapan itu sungguh berat.


Sora menatapi bunga-bunga dari pohon trengguli yang berjatuhan diatas rumput, kemudian menatap kagum pohon-pohon kokoh itu. Bagaimana bisa pohon itu tetap berdiri tegak ketika angin dan hujan membuat bunganya yang indah jatuh berguguran? semudah itukah ia merelakan sesuatu yang indah pergi darinya?


Tidak ada yang mudah, ini hanya soal waktu. Mungkin dari pohon itulah semesta mengajarkanmu untuk menjadi lebih kuat. Waktu akan mengobati segalanya selama ia tak memberikan ruang untuk membenci.


Disisi lain,


Seorang pria sedang menyandarkan satu sisi bahunya di pilar rumah, dua tangannya ia masukkan ke masing-masing saku celananya. Wajahnya yang sendu tengah menatapi kepergian wanita yang sudah membuatnya patah hati. Ia mendengkus kecil menetertawakan diri sendiri.


Patah hati? iya, sebab ia harus merelakan kepergian seseorang yang bahkan belum pernah menjadi hak miliknya, namun bisa menjadikan sebuah patah hati terhebat untuknya.


Kianga Sora, nama yang akan selalu mengingatkannya pada sebuah tingkah menggemaskan dan sebuah kisah singkat yang manis meskipun berakhir dalam kalimat perpisahan.


Almeer melebarkan senyumnya ketika wanita yang sangat anggun mengenakan gamis pemberiannya itu menoleh ke arahnya sebelum masuk ke dalam mobil.


Keduanya saling membalas senyum hingga waktu yang memaksa senyum mereka memudar.


***


Terminal kedatangan VIP Bandara Soekarno Hatta.


Sora, Aga, Mita dan aura sigap berjalan menuju pintu keluar. Senja yang mengerti bagaimana perasaan putrinya sengaja ikut datang menjemput ke bandara.


"Kita pulang ya, sayang." Ajak Senja.


Sora mengangguk. Bersama Senja dan Aga, mereka masuk ke dalam mobil. Sedangkan Mita dan Aura naik di mobil lainnya.


Selama di perjalanan Sora menceritakan apa yang terjadi pada mamanya.


"Kamu ikhlas, Sayang?" tanya Senja setelah Sora menceritakan semuanya.


"Sora sedang berusaha, Ma." Ujar Sora.


"Mama tidak bisa memihak salah satu dari kalian, karena kalian berdua anak-anak, Mama."


Sora mengangguk, "Mama bisa memihak Mina, dia butuh dukungan lebih daripada Sora, Ma. Ini kali pertamanya mencintai seseorang. Dia memendamnya cukup lama, itu pasti berat."


Senja mencakup satu sisi pipi Sora, "Bagaimana kamu bisa tumbuh sedewasa ini ketika kamu berada jauh dari Mama, Sayang?"


Sora tersenyum kecil.


"Apa Papa tahu tentang ini, Ma?" tanya Sora.


Senja mengangguk, "Papamu pasti mengetahuinya,"


Sora melirik kursi depan tempat Aga duduk, sudah pasti dia yang melaporkan semuanya.


Selama perjalanan, Sora dan Senja terus bertukar pendapat hingga sampai di rumah.


Langit sudah menunggu kedatangan putrinya di ruang keluarga. Secangkir kopi menemaninya dengan sebuah tablet di tangan.


"Assalamu'alaikum...," Ucap Senja dan Sora ketika memasuki ruang keluarga.


"Wa'alaikumsalam..., Alhamdullillah anak papa udah pulang." Langit berdiri dan memeluk putrinya. "Sehat, sayang?" tanya Langit setelah melepas pelukannya.


"Alhamdullillah, Pa."


"Berapa hari cutimu, Ga?" tanya Langit pada Aga yang berada dibelakang Senja.


"Tiga hari, Tuan." Jawab Aga.


"Aku mau kamu urus sesuatu disini..." Ujar Langit.


"Baik, Tuan."


Langit, Senja, Sora dan Aga duduk di ruang keluarga.


"Gimana urusanmu di sana? udah selesai?" tanya Langit.


Sora mengangguk, "Sudah, Pa." Jawab Sora.


"Setelah ini—"


"Sora mau ke Malang, Pa." Sora memotong pembicaraan papanya, "Sora ingin meneruskan usaha Mama di Malang." Lanjutnya.


"Enggak!" Tolak Langit.


"Pa...,"


"Kamu baru pulang dan sekarang kamu minta akan pergi lagi?" Suara Langit mulai tinggi.


"Sayang..., kamu istirahat dulu aja, ya?" Senja mencoba membujuk putrinya.


Sora setuju, ia memilih untuk kembali ke kamarnya. Ini bukan waktu yang tepat atas permintaannya.

__ADS_1


Ia membuka pintu putih berukuran besar dengan handle pintu yang terlihat mewah. Kamar yang dua kali lipat lebih besar dari kamarnya di Jogja. Tujuannya masih selalu sama, jendela berukuran besar namun view diluarnya sangat berbeda dengan dikamarnya yang lalu.


Ia pergi ke balkon kamarnya, menikmati cahaya mentari yang lebih menyengat dari biasanya. Huuuft, keluhnya. Ia harus menyesuaikan diri lagi.


Tok tok tok,


Ceklek!


Sora melihat Aga berdiri di mulut pintu. "Kenapa?" tanya Sora.


"Jika anda mau jalan-jalan, anda bisa menemui saya di kamar tamu." Jelas Aga.


Sora menganggukkan kepalanya dan Aga hendak menutup pintu kamar.


"Ga!" Panggilan Sora membuat Aga mengurungkan niatnya menutup pintu.


Sora melangkah mendekati Aga. "Temani aku ke Mall besok." Pinta Sora.


"Baik, Nona." Jawab Aga.


"Ga!" Panggil Sora lagi.


"Ya, Nona?"


Sora terdiam, menatap kosong ke arah lain.


"Anda bisa katakan apa yang anda ingin katakan, Nona. Bersikap seperti ini bukan seperti Kianga Sora." Ujar Aga.


Sora tersenyum masam, "Iya, aku juga merasa kehilangan diriku." Keluhnya kemudian.


"Saya akan menemani anda besok."


Sora mengangguk.


"Istirahatlah, Nona."


"Ga!"


Aga menghela nafas untuk meningkatkan kesabarannya. "Ya, Nona!" Ia mengeratkan giginya.


"Aku takut papa akan benar-benar menikahkanku denganmu." Ujar Sora dengan wajah gusarnya.


"Tuan besar tidak mungkin melakukan hal itu, Nona." Jawab Aga.


"Benarkah?" tanya Sora penuh harap.


Aga mengangguk, "Saya bisa menjaminnya. Itu hanya candaan Tuan Besar dan Tuan Marko, Nona."


"Jadi aku masih punya kesempatan untuk pergi ke Malang." Gumamnya.


"Sepertinya itu akan berat."


"Kamu bantu aku bujuk papa ya, Ga."


"Saya tidak berani melakukannya Nona. Saya permisi dulu." Kali ini Aga bergegas pergi, ia tak mau mendapat tambahan tugas dari Sora.


"Dia selalu perhitungan jika aku yang minta tolong." Sora menggertakkan satu kakinya ke lantai.


***


Salah satu Mall terlengkap di ibu kota menjadi tujuan sora untuk me-refresh pikiran dan hatinya. Kantong belanja dari berbagai toko sudah memenuhi tangan kanan dan kiri Mita dan Aura, bahkan Aga ikut kena imbasnya.


"Ini sudah terlalu berlebihan, Nona." Aga mengingatkan.


"Aku belum ke toko itu!" Sora menunjuk salah satu store pakaian muslim.


"Sudah, Nona. Anda sudah dari sana." Ujar Aura mengingatkan.


Mita menunjukkan paperbag belogo toko tersebut yang menggantung ditangannya.


"Kita ke lantai atas lagi, ya." Ajak Sora.


"Nona! Sebaiknya kita pulang saja. sebentar lagi adzan dzuhur." Bujuk Aga.


Sora melihat jam ditangannya. "Iya...," gumamnya. "Ya udah, balik aja."


Aga, Mita dan Aura menghela nafas lega. Mereka pun mengikuti langkah Sora untuk kembali ke mobil.


Sengaja Sora ingin menghabiskan waktu berbelanja barang tak penting itu hanya untuk mengalihkan bayangan Sagara Almeer dari benaknya.


Selama perjalanan kembali ke rumah, perhatian Aga terbagi menjadi dua, antara mengendarai mobil dan mengawasi Sora dari kaca spion diatasnya. Wanita berkerudung hitam yang sedang duduk di bangku belakang itu terus-terusan menatap kosong keluar jendela. Aga bisa menebak apa yang sedang dipikirkan Sora.


Sampai di rumah, beberapa asisten rumah tangga menghampiri mobil Sora dan membantu membawakan belanjaan Sora.


"Ada tamu, Ga?" tanya Sora pada Aga yang juga baru keluar dari mobil.


"Bagaimana saya bisa tahu, Nona. Sejak tadi saya bersama anda, bukan diam disini." Jawab Aga.


"Ah, iya! Lupa-lupa." Sora mengetuk keningnya dan meneruskan langkahnya masuk ke dalam rumah.


"Aku takut niatmu melamar putriku karena terpaksa...."


Ucapan Langit menghentikan langkah Sora di ambang pintu. Ia diam melihat ada Mina dan Sky ada di ruang tamu rumahnya. Ia melihat seorang pria yang sedang duduk di sofa membelakanginya. Ia kenal sekali postur badan itu.


"Sudah pulang, sayang?" Sapa Senja menghampiri Sora.


Sora terdiam, ia sedang memahami kalimat yang di ucapkan papanya barusan. Ia tahu hal ini akan terjadi, tapi kenapa secepat ini. Hatinya belum sembuh, hatinya masih merangkak menyembuhkan luka.


Sora menjatuhkan tas yang sedari tadi di tentengnya ketika pria yang sedari tadi membelakanginya itu menoleh ke belakang.


"Almeer..., "


Degub jantungnya berdebar hebat, suhu badannya menjadi tak menentu, setetes air mata menjadi bukti ketidaksiapannya atas situasi ini.


-Bersambung-


.


.


.


.


.


INFO DULU, DIBACA.


KALO AKU TELAT UP, BACA DI KOMENAN YANG BAWAH-BAWAH YA. KALI AJA ADA KOMENTAR DARI AKU ATAU PEMBACA YANG IKUT GRUB KASIH INFO.


AKU LAGI DI DAERAH SUSAH SINYAL, TAPI KU USAHAIN BISA UP. MAAP YA BUAT KALEAN MENUNGGU...


Jangan lupa BAYAR AKU dengan tekan LIKE, ketik KOMENTAR, kembali ke halaman sampul buat KASIH BINTANG LIMA dan kalo ada yang punya lebihan poin kasih VOTE novel ini ya.


Terimakasih sangat laf laf kuh.

__ADS_1


__ADS_2