
Setelah berminggu-minggu ia bereperang dengan dirinya sendiri hanya untuk menghindari kenyataan menyakitkan, kini ia bisa menjalani hari-harinya lebih tenang. Banyak hal baru yang ia pelajari setelah menerima penjelasan mengenai masa lalu suaminya. Beban itu perlahan menghilang seiring bergulirnya waktu.
"Sayang, sepertinya nanti aku akan pulang agak malam lagi," ujar Almeer yang baru menuruni anak tangga rumahnya pada istrinya yang sedang menata nasi dan lauk dalam kotak makan untuk bekal makan siangnya.
"Karena ulah papa nih, beberapa bulan ini kamu sibuk banget ...," keluh Sora.
Almeer menghampiri istrinya di dapur, "alhamdulillah loh, Sayang. Berkat papa dan kamu juga kantor aku lebih banyak di kenal orang,"
"Tapi waktu kita berdua dikit banget loh, Bie ...,"
Almeer memeluk Sora dari belakang, melingkarkan lengannya diperut Sora dan menyandarkan dagunya di bahu istrinya. "Maafin aku ya, Sayang."
Sora mengangguk, ia menarik tangannya ke belakang dan mengusap rambut suaminya, "iya, Bie. Maaf juga aku terlalu banyak maunya ...,"
"Nanti kalau pendapatan kantor udah nambah, aku bisa beli peralatan tambahan dan nambah pegawai baru, Sayang. InsyaAllah kedepannya aku akan punya banyak waktu buat kamu,"
Sora membalikkan badannya, menatap suaminya. Tangan Almeer masih setia melingkar di pinggangnya yang ramping.
"Kamu butuh berapa sih, Bie? Pakai uangku aja gimana?" tanya Sora.
Almeer menggeleng, "terimakasih tawarannya, Sayang. Simpan baik-baik saja uang kamu ...," ujar Almeer.
"Tapi, Bie ..., aku kan pengen bantu kamu juga. Kenapa gak di bolehin, sih?" tanya Sora.
"Terimakasih kamu sudah berniat membantuku, Sayang. Aku masih sehat dan akku masih bisa mencari nafkah. Selama aku masih sanggup, biarkan aku memenuhi kewajibanku sendiri ya, Sayang," pinta Almeer dengan senyum lembut dan mata teduhnya.
Sora menghela napas pendek, "iya deh, iya ...," rajuknya, "ini mau gini aja nih?" tanya Sora, matanya melirik pada pelukan Almeer.
"He'em, maunya gini terus," jawab Almeer.
"Ih, telat loh nanti. Atasan harus jadi panutan yang baik,"
Almeer tersenyum gemas dan memberikan kecupan singkat di bibir istrinya.
"Bie!" Sora terkejut dan memukul suaminya, "kalau dilihat bu Siti, gimana?" Ia melihat keluar jendela ruang tengah, Siti yang sedang menyapu di halaman samping.
"Kamu gemesin, sih!" Almeer mengeratkan giginya karena gemas kemudian melepas pelukannya, "kamu udah siap?" tanya Almeer.
"Udah, Bie." Sora menutup kotak makan Almeer yang sempat tertunda kemudian memberikannya pada Almeer.
"Makasih ya, Sayang," ucap Almeer, ia memasukkan bekalnya ke dalam tas.
"Sama-sama, Bie," balas Sora. Ia membereskan beberapa piring diatas meja makan dan membawanya ke tempat cuci piring.
"Aku panasin mesin motor sama mobil kamu dulu ya, Bie." Almeer meninggalkan Sora dan pergi ke carport.
"Iya, Bie. Aku selesaiin ini dulu," Sora melanjutkan mencuci piring.
Hidup hampir dua bulan secara mandiri bersama Almeer membuat Sora memiliki skill tambahan yang sebelumnya tidak ia miliki dan tidak berniat untuk dimilikinya.
Sekarang ia sudah bisa melakukan beberapa pekerjaan rumah tangga. Seperti mencuci piring, menyapu dengan rapi, mengepel walaupun kurang ahli, memasak walau sebatas kupas mengupas bahan masakan dan menyalakan kompor saja. Keahliannya yang paling menonjol adalah membuatkan teh suaminya menggunakan tangannya sendiri.
Sedikit demi sedikit Sora mempelajari banyak hal baru ketika berumah tangga. Sebenarnya Almeer tidak menuntutnya untuk melakukan itu semua, ia justru merasa tidak enak jika melihat Sora melakukan hal-hal yang sebelumnya tidak pernah ia lakukan.
"Bu Siti! Kami berangkat dulu ya?" teriak Sora dari ruang tengah rumahnya.
"Iya, Mbak!" Siti setengah berlari menuju ke halaman depan untuk menutup kembali pagar setelah pasangan muda itu meninggalkan rumah.
"Ayo, Bie ...," ajak sora, ia mencium tangan suaminya sebelum masuk ke dalam mobil.
"Sayang, nanti hati-hati ya kalau mau nemuin client di Batu," tutur Almeer.
"Iya, Bie. Siap!"
"Ya udah, masuk mobil gih."
"Assalamu'alaikum ...," Ucap Sora kemudian masuk ke dalam mobilnya yang sudah dikelaurkan Almeer ke jalan.
"Wa'alaikumsalam ...," sahut Almeer.
Seperti biasa, Sora pergi mengendarai mobilnya sedang Almeer mengendarai motornya. Keduanya selalu berjalan beriringan dan terpisah di sebuah perempatan besar. Sora menuju toko mamanya yang letaknya memang berbeda kalur dengan kantor Almeer.
***
Siang ini Sora dan Priska pergi menemui seseorang yang ingin bekerja sama dengan toko milik Senja. Sora sengaja mengajak Priska, salah satu marketing toko yang tempat tinggalnya di kota Batu. Jadi Sora tak perlu khawatir hilang arah di kota yang baru ia jejaki itu.
Sora dan Priska duduk di cafe sebuah hotel di daerah perbukitan kota Batu. Sebelumnya mereka memang sudah mendapat kabar jika kedatangan client mereka memang akan terlambat karena terjebak kemacetan panjang dari kota Kediri menuju ke kota Batu.
"Belum datang-datang sih ni orang?" keluh Sora, ia meletakkan ponselnya yang sudah mulai panas karena ia pakai untuk menonton MV musisi kesayangannya.
"Aku sampai bingung nih mau ngapain lagi? mana baterai mau abis." Sora memainkan sendok dalam gelas minumannya yang sudah habis beberapa menit yang lalu.
"Macet banget apa ya dari arah Kediri?" Priska mencermati aplikasi maps yang ada di ponselnya. "Iya nih, Mbak. Tanda merahnya lebih merah dari merahnya darah!" Priska menunjukkan layar ponselnya pada Sora.
"Kita nungguin atau gimana, nih?" tanya Sora.
"Kalau kita tinggal kasian juga, Mbak. Jauh-jauh dari Kediri, kena macet, sampai sini gak ketemu kita."
"Coba hubungin deh, Pris. Mereka posisinya dimana? Udah hampir ashar nih."
Priska mengangguk, "Iya, Mbak."
Sora meninggalkan tempat duduknya, mencoba melepas penat dengan keluar cafe.
Matahari mulai condong ke arah barat dan kabut mulai turun di sekitar hotel, udara dingin mulai tajam menyelinap dibalik serat kain gamis yang dikenakan Sora.
Wanita bergamis hijau tua itu mengusap kedua lengan atas untuk mengusir hawa dingin yang mengusik kulitnya. Ia melangkah menyusuri halaman cafe, mengamati ikan koi yang berkerumun menghampirinya ketika ia mendekati kolam mereka.
Sora lebih mendekatkan diri ke tepi kolam ikan dan mengayunkan tangannya diatas kerumunan ikan-ikan itu seolah akan memberinya makan.
"Sora!"
Sora menoleh ketika ada seseorang memanggil namanya, ia mendongakkan wajahnya dan terkejut ketika melihat siapa orang yang memanggilnya.
Seorang wanita paruh baya dengan tongkat ditangan sedang berdiri tak jauh didepannya. Sora berdiri malas dan ingin segera menghindarinya.
"Sora! Tolong ijinkan aku bicara denganmu!"
Sora menepis kasar tangan wanita yang menarik lengannya itu hingga terjatuh.
"Oma!" teriakan anak kecil menarik perhatian Sora.
Seorang anak kecil dan wanita yang ia kenali berlari menghampiri wanita yang sedang jatuh tersungkur itu. Mereka Moza dan Cloe, anak tiri dan cucu tiri Clara.
"Kenapa tante Sora jahat ke Omaku?" sentak Cloe.
Beberapa orang di sekitar cafe dan hotel memperhatikan Sora, ikut menghakimi tindakan tak terpuji Sora pada wanita tua yang terlihat lemah itu.
"Cloe, tidak boleh seperti itu, Sayang." Moza meperingatkan putrinya dengan lembut. Ia lekas membantu ibu tirinya itu berdiri.
"Tante harus minta maaf ke Omaku?" pinta Cloe.
Sora mendengus kesal dan menatap kesal pada Clara.
"Cloe!" Moza sedikit membentak putrinya, "jangan bersikap tidak sopan pada orang dewasa!"
"Tante Sora sudah jahat ke Oma, Ma ...." Cloe masih keukeh menyalahkan Sora.
Sora beranjak meninggalkan tempatnya berdiri, tapi lagi-lagi Clara menarik lengannya.
"Biarkan aku bicara denganmu sebentar, Sora. Lima menit saja,"
Sora menepis kembali tangan Clara, kali ini ia tak menggunakan seluruh kekuatannya.
"Aku ingin minta maaf padamu, Sora," ucap Clara, "Maafkan aku, aku sangat menyesali perbuatanku padamu dan pada mamamu," lanjutnya.
Sora mengabaikan permintamaafan Clara.
__ADS_1
"Aku sudah lama bertemu mamamu dan saudara kembarmu," ucap Clara, ia berhasil menghentikan niat Sora untuk pergi. "Mereka menyuruhku untuk tidak pernah menemuimu, tapi mungkin takdir menuntunku padamu. Dua kali kita bertemu tanpa sengaja dan mungkin aku memang harus meminta maaf padamu langsung."
Sora terdiam, menatap kedua bola mata Clara. Tidak ada sebuah kebohongan disana.
"Aku tulus meminta maaf padamu, Sora. Maafkan perbuatanku."
Sora beralih menatap Moza yang memegangi lengan Clara, wanita itu hanya menatap datar seakan tak mau terlibat dalam percakapan itu. Tanpa menjawab apapun, Sora bergegas kembali masuk ke dalam cafe menghampiri Priska.
"Gimana, Pris?" tanya Sora.
"Merek udah lepas dari kemacetan, Mbak. Mungkin setengah jam lagi mereka sampai," jawab Priska.
"Alhamdullillah kalau gitu," Sora kembali duduk di kursinya merapikan barang-barangnya ke dalam tas, "Aku ke mushola dulu ya, Pris."
"Iya, Mbak."
Sora pergi ke mushola yang ada di sekitar hotel. Karena belum memasuki waktu sholat ashar, jadi hanya ada beberapa orang di mushola itu.
Sora duduk di teras mushola, ia mengeluarkan ponselnya dan mencoba menghubungi Sky.
"Assalamu'alaikum, Sky," sapa Sora ketika sambungan telepon terhubung.
"Wa'alaikumsalam, kenapa?" tanya Sky.
"Sky, aku bertemu tante Clara ...," sahut Sora tanpa basa basi.
Hening, tak ada jawaban dari Sky.
"Dia bilang kalau kamu dan mama pernah bertemu dengannya?" tanya Sora.
"Ya ...," jawab Sky singkat.
"Dia minta maaf ke kalian?"
"Iya,"
"Mama maafin dia?"
"Iya,"
"Sky!" Sora mulai merasa kesal mendengar jawaban saudaranya.
"Cukup kamu tahu dia, jangan terlibat apapun dengannya!" sergah Sky.
"Kenapa kalian tidak memberitahuku?" protes Sora.
"Turuti saja apa kata Mama, jangan membantah. Mama sudah memaafkannya, bukan berarti mama bisa melupakan perbuatannya," papar Sky.
"Mama menyuruh kita untuk menjauhinya?"
"Apa telingamu sudah susah menerima suara dari orang lain?" tanya Sky kesal.
"Pasti sakit sekali ya Sky?"
"Apanya?"
"Gak bisa bersanding dengan orang yang kita cintai karena hal buruk dari masalalunya."
Tak ada tanggapan dari Sky.
"Ya udah—"
"Ingat pesanku, Ra! Hindari dia sebisa mungkin!"
Sora menghela napas panjang, "iya ..., aku tutup teleponnya, Assalamu'alaikum," Sora mengakhiri pamggilan teleponnya.
Untuk sesaat ia merasa kasihan pada Sky. Ia teringat cerita yang di alami Almeer, Moza dan saudara kembarnya.
Tak lama kemudian adzan ashar berkumandang, Sora pun segera melaksanakan kewajibannya.
***
"Maafkan kami loh, Mbak ... karena terjebak kemacetan, meeting kita jadi molor sampai malam gini,"
Sora melihat jam yang melingkar ditangannya yang menunjukkan pertengahan pukul enam dan tujuh. , "Masih Sore. Pak," ujarnya.
"Kalau gitu saya pamit dulu, semoga kerjasama kita bisa lancar ya, Mbak Sora."
"InsyaAllah, Pak Ikhram."
"Assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikumsalam, Pak."
Ikhram dan beberapa dua orang karyawannya beranjak pergi. Sedangkan Sora mengajak Priska pergi ke mushola untuk melaksanakan sholat maghrib yang telat ia laksanakan.
Usai sholat maghrib Sora dan Priska pergi meninggalkan hotel. Sora mengantar Priska lebih dulu kembali pulang ke rumahnya yang berada tak jauh dari pusat kota Batu.
"Mampir dulu yuk, Mbak." ajak Priska sebelum turun dari mobil.
"Makasih, Pris. Aku langsung aja. Gak enak kalau suamiku datang lebih dulu di rumah ketimbang aku." Sora menolak secara halus.
Priska mengangguk, "Oke, Mbak. Masih hapal jalannya, kan?" tanya Priska.
"Iya, tinggal lurus aja, kan?"
"Priska mengangguk dan turun dari mobil, "hati-hati ya, Mbak ...," ucap Priska setelah berada diluar mobil, kemudian menutup pintu Sora.
Sora pun segera melajukan kendaraannya meninggalkan rumah Priska. Sesaat kemudian ponselnya yang ada di balik kemudi bergetar. Foto dan nama Almeer muncul disana.
"Assalamu'alaikum, Bie."
"Wa'alaikumsalam, Sayang. Mau titip camilan apa kalau aku pulang nanti?" tanya Almeer.
"Bolu kukus yang di tempat biasanya it, Bie. Pakai selai srikaya, ya ...," pinta Sora.
"Oke, siap!"
"Eh, Bie. Minta tolong yang bikinin pesananku bapak-bapak yang biasanya ya, jangan anaknya."
"Kenapa? Tumben? Beda ya rasanya?" tanya Almeer.
"Gak tahu, Bie. Pengen aja yang bikinin bapaknya itu."
"Hahaha, oke deh, Sayang,"
"Makasih ya, Bie ...,"
"Kamu masih perjalanan pulang?"
"Iya nih, Bie. Baru nganter—"
Getaran singkat terdengar dari ponselnya dan sesaat kemudian layar ponsel itu berubah gelap.
"Yah, baterainya habis," keluh Sora kemudian fokus kembali ke jalanan.
Sora terus melajukan kendaraannya, tapi ia merasa aneh karena tidak kunjung menemukan jalan utama kota Batu menuju ke kota Malang.
"Tadi udah bener deh aku ambil jalurnya, tapi kok seakarang beda ya?"
Keadaan jalanan tak terlalu lebar. Rumah warga juga tak terlalu rapat karena ada beberapa perkebunan didaerah situ.
"Masa' iya aku tersesat?" keluhnya.
Sora mencoba mencari tempat untuk berputar balik untuk kembali ke posisi awal dia keluar dari gang rumah Priska. Tapi, tiba-tiba saja ia merasakan laju mobilnya tidak senyaman tadi dan terasa goncangan-goncangan kecil. Ia segera menepikan kendaraannya dan keluar untuk memeriksa keadaan mobilnya.
"Astaghfirullahaladzim! Kok bisa tiba-tiba kempes sih?" Keluh Sora ketika melihat ban bagian kanan depan dan belakang mobilnya kempes.
__ADS_1
Ia melihat ke sekitar. Tidak ada orang, sepi. Di sekitarnya hanya ada perkebunan sayur dan sebuah rumah sederhana. kendaraan juga ada yang melintas. Sora memberanikan diri pergi mengahampiri satu-satunya rumah warga itu.
"Permisi, assalamu'alaikum ...," sapa Sora usai mengetuk pintu rumah itu.
"Wa'alaikumsalam ...," terdengar sahutan suara orang dari dalam rumah, tak lama kemudian pintu rumah itu terbuka. Wanita tua yang masih memakai mukenah terlihat keheranan mendapati tamu yang tidak ia kenal.
"Siapa, ya?" tanya wanita itu.
"Saya Sora, Nek," jawab Sora.
"Sora siapa? Anaknya siapa?" tanya wanita itu lagi.
"Anaknya Langit Haidar Subagio, istrinya Sagara Almeer."
Nenek tua itu menggeleng, "saya gak kenal," ujarnya.
"Itu nama papa dan suami saya, Nek."
"Aku nggak tanya kok kamu bilangin," gumam nenek itu.
"Kan tadi nenek tanya, makanya saya jawab."
Nenek itu menggeleng lagi, "gak tuh!"
"Lah ...." Sora segera menyadarkan diri dari perdebatan tidak berguna ini,
"Emmb, gini gini, Nek. Saya Sora, itu ...." Sora menunjuk mobilnya, "ban mobil saya kempes. Saya mau minta bantuan—"
"Aku gak punya pompa, kalau mau ke rumahnya mbah Karto sana. Mbah Karto biasanya mompa sepedah pancalnya sendiri."
Yaelah, isi angin ban mobil pake pompa sepedah bisa kurus aku, Nek. Batin Sora.
"Jauh Tapi rumahnya, lewat belakang sini ...," sambung Nenek itu.
"Emm, enggak Nek. Saya mau pinjem charger hape saja boleh? numpang isi baterai hape disini, hape saya mati. Saya mau telepon teman saya yang rumahnya di daerah sini."
"Oooh, ayo masuk masuk."
Sora tersenyum lega, ia masuk ke dalam rumah. Duduk disebuah kursi berbahan rotan yang ikatannya sudah tak rapi.
"Ini, Nduk!" Nenek itu memberikan charger hape berwarna hitam pada Sora.
Tapi Sora kecewa seketika melihat ujung charger berbentuk bulat, "Apa gak ada yang lain, Nek?" tanya Sora.
"Rusak, ini yang paling baru."
Sora menipiskan bibirnya kecewa. Bagaimana dia bisa menghubungi Priska dan minta bantuan kalau begini?
"Udah, telepon saja. Aku punya pulsa banyak, sama anakku di isi pulsa kemarin." Nenek itu mengambil ponsel keluaran lama dan memberikannya pada Sora.
"Tapi saya gak hapal nomor telepon teman saya."
"Ya telepon yang kamu hapal nomornya, Nduk." Nenek itu menyodorkan kembali ponselnya.
Sora terpaksa menerimanya, ia berpikir nomor siapa yang dia ingat. Bahkan nomor Almeer dia tidak pernah mengingatnya.
"Aga!" Pekiknya, kemudian dengan lancar Sora menekan tombol-tombol keypad ponsel yang sudah hampir tak terbaca tulisannya.
Tuuut ...
Tuuut ...
"Assalamu'alaikum, Ga! Ini Sora. Kamu di Malang apa di Surabaya? Aku lagi tersesat nih Batu ...."
***
Sora meneguk teh hangat hangat yang dibikinkan Aning, nenek yang dimintai bantuan olehnya. Suasana kota batu semakin malam semakin dingin. Sudah hampir satu jam sejak ia memberitahukan keberadaannya pada Aga, pria itu belum muncul juga. Mungkin weekend membuat jalanan ke arah kota Batu cukup padat.
Jalan didepan rumah Aning gelap dan sepi, tak ada lampu jalan. Penerangan hanya dari teras rumah warga yang jaraknya saja tak terhitung jauhnya. Memang rumah Aning adalah rumah terakhir warga yang ada di perkampungam itu. Setelahnya hanya perkebunan saja.
Sebuah cahaya remang terlihat dari arah perkampungan, Sora yang melihat itu langsung berdiri dan melihat ke depan rumah. Ada cahaya dari lampu mobil yang semakin lama semakin mendekat dan berhenti di depan rumah Aning.
"Lama banget sih, Ga!" protes Sora ketika pria itu keluar dari dalam mobil.
"Nyari tempat ini susah," jawab Aga.
Sora hanya mencibir.
"Itu suamimu, toh?" tanya Aning.
Sora menggeleng cepat, "bukan, Nek! Bukan!" bantah Sora.
"Ooh ..., kok ganteng banget, ya? Nenek suka ...," goda Aning.
Sora cekikikan dan Aga hanya diam tak berekspresi seperti biasa.
Sora menghampiri Aning, "Nek, saya titip mobil dulu ya. Besok akan ada orang yang kesini bawa mobil itu.
"Iya, Nduk."
"Terimakasih sudah bantu saya, Nek. Saya pamit dulu, Assalamu'alaikum ...,"
"Wa'alaikumsalam ...,"
Sora dan Aga pun masuk ke dalam mobil kemudian meninggalkan rumah Aning.
"Kenapa gak kasih tahu Almeer aja sih? Biar dia yang jemput?" protes Sora.
"Siapa yang mau turun ke Malang macet-macetan cuma mau ngabarin dia," sahut Aga.
"Loh, kamu di Batu?"
Aga mengangguk.
"Kenapa lama banget kalo di Batu?"
Aga hanya menghela napas dan diam melihat jalanan.
Sepanjang perjalanan pun Sora dan Aga hanya diam, tak ada pembicaraan. Sora berharap tiba di rumah sebelum Almeer.
Tapi dugaannya salah. Ketika tiba di rumah, Almeer tengah menunggunya didepan pagar rumahnya.
"Assalamu'alaikum, Bie." Sora berlari menghampiri Almeer.
"Wa'alaikumsalam, Sayang. Kamu kemana aja sih? Kamu gak apa-apa?" tanya Almer panik.
"Aku tadi tersesat, Bie. Trus—"
"Kenapa kamu bisa sama dia?" Almeer menatap pria yang baru keluar dari mobil yang mengantar Sora. Wajahnya terlihat kesal, tak suka dengan kebersamaan Sora dan Aga.
-Bersambung-
.
.
.
.
.
INFO LAGI NIH!
Yang penasaran kenapa panggilan Sora jadi BUBUI, itu karena di tempatku Bubui panggilan ibu muda yang pekerja keras, tangguh dan penyanyang. Kalau di tempat kalian panggilannya beda ya maap yah.
Makasih ya yang sudah promoin novel ini di sosmed kaliaaan. Dan maaf kalau ada typo, novel ini up tanpa revisi dulu. hahahaha, authornya pemalas, jangan di tiru.
__ADS_1
Jangan lupa BAYAR AKU dengan tekan LIKE, ketik KOMENTAR, kembali ke halaman sampul buat KASIH BINTANG LIMA dan kalo ada yang punya lebihan poin kasih VOTE novel ini ya.
Terimakasih sangat laf laf ku