ALINEA CINTA

ALINEA CINTA
51


__ADS_3

Cafe milik keluarga Almeer sengaja tidak menerima pelanggan malam ini, sebab Hiko sedang menggelar Walimatul Ursy untuk Almeer dan Sora yang baru saja menikah usai adzan Maghrib tadi.


Dua pengantin baru itu sedang berkeliling menghampiri para tetangga sekitar yang sedang menikmati hidangan dimeja-meja untuk sekedar menyapa dan mengucapkan terimakasih. Pancaran kebahagiaan terlihat jelas di wajah mereka hingga membuat semua orang tak segan untuk menggoda mereka.


Acara bersama para warga tak berlangsung lama, hanya keluarga besar Hiko dan Langit yang kebetulan ada di Jogja saja yang berbincang hingga larut malam.


"Sudah yuk, Mas. Besok pagi kan kita harus ke wisuda Mina." ajak Senja.


"Iya, betul." sahut Langit, "percakapan kita harus kita sudahi disini dulu, Pak Hiko."


"Iya Pak Langit, apalagi anda besok ada acara penting juga." sahut Hiko.


Keluarga Langit dan Marko berdiri dari tempat duduk mereka, Keluarga Hiko pun turut mengantar kepergian mereka sampai di pintu gerbang.


"Tunggu tunggu! Ada yang salah deh sepertinya...," ucap Genta, membuat langkah keluarga Langit dan Marko terhenti.


"Kenapa, Ta?" tanya Hiko.


"Itu, Sora." Genta menunjuk wanita bergamis putih itu, membuat semua mata tertuju padanya.


"Kenapa dengan aku, Oom?" tanya Sora kebingungan.


"Heh, biji sawi. Kamu kan udah jadi istri dia, ngapain kamu mau ikut pulang?" jelas Sky.


"Iya, Ra. Kamu kan udah jadi istri orang, ngapain mau ikut pulang sama kami? udah sana ke suamimu." Marko mendorong Sora mendekati Almeer, tapi wanita itu malah kembali lagi ke tempatnya semula.


"Loh, gimana sih ini? kalian gak mau malam per—"


Sora langsung membekap mulut Sky yang akan mengucapkan sebuah kalimat yang sebenarnya ingin ia hindari. "Diem!" Ancamnya.


Sky menepis tangan Sora dari mulutnya. "Sana-sana...," usir Sky.


"Kalau kamu gak nyaman dirumah kami, kamu bisa tinggal dirumah kamu, Nak." Kata Ruby.


"Bukan gitu, Mama Ruby. Tapi...," Sora terlihat gelisah.


"Sebaiknya Almeer saja yang ikut Sora, Ma." kata Almeer.


"Boleh boleh kalau seperti itu." Kata Langit setuju.


"Gak apa, kan?" tanya Almeer pada Sora.


Sora masih ragu menjawab, namun ia memutuskan untuk mengangguk saja.


"Ya udah... Ayok pulang, Al." ajak Langit.


"Iya, Pak."


"Papa dooooong sekarang panggilnya...," ralat Langit.


"Iya, Pa." sahut Almeer.


"Mari, kami pamit dulu. Assalamu'alaikum...," pamit Langit dan keluarganya.


"Wa'alaikumsalam...,"


"Ra..."


Sora yang baru usai mencium tangan Hiko dan Ruby langsung menatap Almeer yang memanggilnya. "Ya, Al?" tanya Sora.


"Tunggu sebentar, aku harus ambil sarung dan baju gantiku lebih dulu." ucap Almeer. Ia lantas berlari masuk ke dalam rumahnya.


Sora tetap menunggu Almeer didepan pintu Gerbang sambil mengantar Marko dan keluarganya yang akan langsung pulang.


"Kami masuk ke dalam dulu, Bu Ruby, Pak Hiko." Senja menganggukkan kepalanya.


"Iya, Bu Senja," sahut Ruby.


Suasana jalan menjadi sepi dalam sekejap setelah Langit dan keluarganya masuk ke dalam rumah.


"Maafkan Sora ya, Mama Ruby." Sora membuka percakapan, "bukan Sora tidak mau menginap dirumah Mama Ruby, tapi Sora—"


Ruby mengusap satu sisi pipi Sora. "Gak usah dipikirkan, Nak. Mama tahu kamu masih belum siap," ujar Ruby.


"Awalnya aja canggung. Mbak. Ntar lama-lama enggak, hihihihi." Ameera menggoda Sora yang terlihat gugup.


"Meera, ih." Sora menepuk pelan tangan Ameera.


"Ayo, Ra!" Ajak Almeer yang baru datang membawa tas ranselnya. Ia menatap keluarganya satu per satu, "Aku pergj dulu ya, Assalamu'alaikum...," ucap Almeer.


"Wa'alaikumsalam...,"


Sora melambaikan tangan pada Ameera kemudian pergi menyebrang jalan bersama Almeer dan masuk ke dalam rumahnya.


"Ayo, Al." Sora mendahului langkahnya untuk masuk ke dalam rumah, "Assalamu'alaikum...,"


"Wa'alaikumsalam...," Sahut Langit dan Senja yang masih ada di ruang keluarga.


"Ajak suamimu langsung istirahat aja, Sayang. Kalian pasti capek sedari tadi berdiri nyapa para tamu." Senja mengusap punggung putrinya.


Sora mengangguk, senyumnya mengembang namun keningnya sedikit mengernyit. Ada ada sebuah kegelisahan di sorot mata wanita cantik itu.


"Ayo, Al!" ajak Sora, ia melangkah meninggalkan Papa dan Mamanya.


"Saya permisi masuk ke dalam kamar," pamit Almeer.


"Tunggu!" Langit menepuk bahu Almeer, ia mendekatkan mulutnya ke telinga Almeer. "Jangan lakukan malam ini! Sora harus banyak berjalan besok. Jangan buat dia tidak bisa menghadiri wisuda adiknya," ancam Langit.


Almeer terkekeh kecil dan menganggukkan kepalanya. "Baik, Pa."


Langit menepuk bahu Almeer beberapa kali dan menyuruhnya pergi menyusul Sora.


"Permisi, Pa, Ma," ucap Almeer sebelum pergi.


"Iya, Al, " sahut Senja.


Langit yang masih menatapi kepergian Almeer membuat Senja penasaran dengan apa yang dibisikkan suaminya pada menantunya.


"Kamu bilang apa ke Almeer, Mas?" tanya Senja.


"Ku larang buat malam pertama," jawab Langit.


"Hush!" Senja memukul dada suaminya. "Kok bisa kamu bilang seperti itu, Mas? mereka kan sudah Sah."


"Nah, kalau sampai besok Sora gak bisa datang ke wisuda Mina gimana? mau kamu lihat anakmu jalan kaya' robot?" Langit menirukan jalan layaknya robot dan berjalan ke kamarnya.


"Astaghfirullah, Mas. Udah tua bukan makin bener, malaaah ...." Senja menepuk keningnya melihat tingkah suaminya.


***


"Masuk, Al," ucap Sora ketika ia membuka pintu kamarnya.


"Hei kalian!"


Sora dan Almeer menoleh ke arah kamar Sky, pria itu sedang berdiri di bibir pintu kamarnya.


"Apa?" tanya Sora.


"Inget! Disini ada bujang! Kalau mau ngapa-ngapain tau diri!"

__ADS_1


"Kau pikir aku mau ngapain, Hah!?" teriak Sora.


Ia mengambil satu sandalnya dan melemparkannya pada Sky, namun pria itu bisa menghindarinya dan segera menutup pintu kamarnya ketika melihat Sora berjalan menghampirinya.


Brak Brak Brak!


Sora menggedor kasar pintu kamar Sky. "Keluar kamu, Sky!"


"Berisik! Masuk kamarmu sana! Tapi inget, jangan keras-keras! Hahahahaha ...," teriak Sky dari dalam kamarnya.


"Sial nih bocah!" Sora menendang pintu kamar Sky dengan kesal kemduaian memakai sandalnya yang tergeletak didepan pintu.


Ia kembali menghampiri Almeer yang melihat tingkahnya dengan senyuman khasnya. "Dia selalu menyebalkan!" keluh Sora, kemudian masuk ke dalam kamarnya.


Almeer membuntutinya, ia menutup pintu kamar Sora.


Deg!


Sora yang terkejut menoleh kebelakang. "Kenapa pintunya ditutup?" tanyanya panik.


"Apa kamu terbiasa tidur dengan pintu terbuka?" Tangan Almeer hendak membuka kembali pintu kamar.


"Bukan bukan, Al. Bukan." Sora bingung sendiri dengan apa yang ia pikirkan, Ayo, Ra. Fokus fokus fokus! ungkapnya dalam hati.


Almeer melepaskan tas ransel di punggungnya dan meletakkannya di tepi tempat tidur kemudian mendekati Sora yang sangat terlihat jelas jika istrinya tersebut sedang resah dan gelisah. Ia menarik lembut kedua tangan Sora yang saling meremas satu sama lain.


"Al ...." Sora mendongakkan kepalanya menatap pria didepannya itu.


"Aku akan menunggumu sampai kamu siap, Ra," ucap Almeer lirih, "aku tahu kamu gugup memikirkan malam pertama kita."


Sora tertunduk malu, "Apa sejelas itu?" gumam Sora.


Almeer menarik lembut dagu Sora hingga membuat wajah istrinya itu kembali menatapnya. "Jelas sekali, sangat jelas!" bisiknya dengan mengulas senyum jahil di bibirnya.


Pipi Sora tiba-tiba terasa panas dan bersemu merah. "Kamu membuatku malu, Al." Sora menekan bagian perut Almeer dengan jari telunjuknya.


"Haaaah!!" Sora mundur selangkah dengan menutup mulutnya, matanya bergantian menatap wajah dan perut Almeer.


"Kenapa, ra?" tanya Almeer, ia ikut panik.


"Aku menyentuhmu, Al," ujar Sora.


Almeer memejamkan matanya, menahan tawa dan menghela napas pendek. "Aku kira kamu kenapa, Sora ...."


"Aku—"


Almeer menarik tangan Sora hingga masuk ke dalam pelukannya. "Mulai sekarang kamu bisa menyentuhku kapanpun kamu mau, Sora."


Sora memejamkan erat matanya. Sekarang ia bisa mencium aroma parfum Almeer yang selama ini hanya samar-samar tercium. Jantungnya berdegub tak karuan ketika mendapatkan kiriman sensor kebahagiaan dari otaknya. Ia segera menarik napas untuk menenangkan diri.


"Al ...,"


"Hm?" tanya Almeer.


"Aku mendengar degub jantungmu yang berdebar-debar," kata Sora.


"Hahahaha ...." Almeer melepas pelukannya pada Sora, ia menatap wanita itu. "Bagaimana aku tidak berdebar-debar, aku tidak pernah memeluk wanita selain Mama dan Ameera."


"Benarkah?"


Almeer mengangguk. "Ya! Dan ini pelukan kedua kita, tapi aku masih tak bisa mengendalikan kerja jantungku." Ia mencakup kedua pipi Sora dan mengusapnya lembut.


"Ah, iya! Aku ingat!" cetus Sora.


"Dan malam itu aku kesulitan untuk tidur karena degub jantungku sangat berisik."


"Oya?"


"Aku merasa berdosa padamu, Al," ucap Sora tiba-tiba, wajahnya muram seketika.


"Kenapa?" tanya Almeer.


"Aku menjadi wanita yang pertama untukmu, tapi aku sudah banyak menyentuh pria sebelumu," keluh Sora. Ia tertunduk merasa bersalah.


Almeer kembali mendongakkan wajah Sora.


"Maafkan aku harus mengakui ini padamu, aku pernah berciuman dengan pria lain." Mata Sora mulai berkaca-kaca menunjukkan penyesalannya, "tapi aku berani bersumpah, aku tidak pernah melakukan hal lainnya."


Almeer tersenyum lembut dan mencakup kedua pipi Sora lagi. "Terimakasih sudah mau mengatakannya, Sora."


"Kamu tidak marah, Al?" tanya Sora


"Untuk apa? bukankah aku sudah mendapatkanmu seutuhnya?" Almeer mengulas senyum.


"Makasih, Al. Kamu—"


Cup!


Kalimat Sora terhenti ketika Almeer sekilas memberikan kecupan di bibir Sora. Membuat Sora tercengang, ujung jemarinya menyentuh bibirnya dan menatap Almeer yang sedang menatapnya serius.


Almeer menarik kedua tangan Sora dan meletakkan di pinggangnya. Kemudian ia kembali mendongakkan wajah Sora. Pelan ia mendekatkan wajahnya pada Sora. Kini wanita itu bisa merasakan hembusan napas Almeer hingga ia merasa waktu terhenti berjalan ketika bibir Almeer sudah mendarat lembut diatas bibirnya.


Sora mengedipkan beberapa kali matanya, ia mencoba mengendalikan diri dengan menghembuskan napasnya yang tertahan. Jemarinya mencengkram erat bagian pinggang kemeja Almeer.


Almeer membuka bibirnya dan ******* lembut bibir bawah sora. Kelembutan Almeer membuat Sora terbuai dan memejamkan matanya. Ia menikmati ciuman yang lembut yang diberikan Almeer.


Ciuman itu tak berlangsung lama, Almeer menyudahinya dan tersenyum pada Sora yang terlihat tidak ikhlas ciuman itu berakhir.


"Lagi?" tanya Almeer.


"Ih! Kenapa tanya gitu? kan malu aku!" Sora menepuk dada Almeer.


"Hahahaha ..., wajahmu terlihat jelas ingin mengulangnya," goda Almeer.


"Udah, Ah. Mau ganti baju aja!" Sora dengan kesal meninggalkan Almeer yang tertawa usil.


***


Subuh pagi ini berbeda bagi Sora. Ia bisa mengerjakan sholat malam berjama'ah dengan Almeer, sedangkan sholat subuhnya ia lakukan sendiri di rumah karena Almeer pergi berjama'ah ke masjid. Dan kedamaian langsung menyelimuti benak Sora ketika Almeer membaca Qur'an sambil menunggu matahari terbit.


Sora didepannya, memangku Qur'an sambil membaca pelan surah yang juga sedang dibaca suaminya. Almeer tak terlalu cepat membacanya, ia mengikuti bacaan istrinya dan sesekali mengoreksi bacaan istrinya yang kurang tepat.


"Maaf ya, aku masih banyak kurangnya, Al," ucap Sora pada Almeer ketika mereka berdua sudah selesai membaca Qur'an.


Almeer mengambil Al-Qur'an milik Sora dan meletakkannya diatas meja yang tak jauh darinya. "Pelan-pelan. nanti pasti bisa lancar. Kita sama-sama belajar. Aku juga banyak salahnya, kamu juga berhak mengingatkan aku, Sora."


"Aku beruntung banget dapat pria penyabar sepertimu, Al," ucap Sora.


"Kita sama-sama beruntung, Sora," sahut Almeer.


Sora menghamburkan dirinya ke dada Almeer dan memeluk erat pria itu.


"Waaah, semalam kamu sangat malu-malu dan pagi ini kamu sudah berani ya, Ra?" Almeer memeluk tubuh istrinya yang masih terbalut mukenah itu.


"Hanya memeluk," bisiknya lirih.


"Mau yang lebih?" goda Almeer.


"Jangan!" Sora menarik diri dari pelukan Almeer, "jangan jangan jangan, matahari sudah terbit, banyak yang sudah bangun." Wajah Sora berubah panik.

__ADS_1


"Hahahahaha ...." Almeer menyentil pelan kening istrinya, "Kenapa pikiranmu sudah kemana-mana, Ra?"


"Iiihhhh!" Sora memukul Almeer beberapa kali karena malu, "kamu kenapa jadi usil, sih?" keluh Sora yang menahan malu.


"Kamu tuh ngegemesin, Soraaaa ...." Ia mencubit gemas pipi istrinya.


"Ku gigit nih tangan kamu!" Ancam Sora.


"Jangan doooong." Almeer menarik tangannya dari pipi Sora dan tersenyum lebar.


Sora memanyunkan bibirnya dan melepas mukenahnya. "Awas kalau usil lagi!" Ancamnya.


"Enggak, kok ...," jawab Almeer, "enggak akan berhenti maksudnya. Hahahaha ...."


"Iiiih ..., masih ngeselin ya kamu, Al." Sora mencubit paha Almeer yang terbalut sarung.


"Aduuh aduuuh, sakit, Ra," keluh Almeer.


Sora terkejut dan melepaskan cubitannya, kemudian mengusap paha Almeer, "Maaf maaf—"


Belum selesai bicara, Almeer sudah menarik tangan Sora hingga masuk ke dalam pelukannya.


"Bohong, ya?" tebak Sora.


"Beneran kok sakitnya, tapi udah sembuh kalau dapat pelukan dari kamu."


"Ih, pagi-pagi udah gombal." Sora menarik diri dan melepaskan pelukan Almeer.


"Kan gombalin istri sendiri, Ra. Tapi kalau gak mau ya sudah, aku gombalin tetangga aja."


"Kamu mau kehilangan ginjal kamu, Al?" ancam Sora, "aku punya kenalan yang suka cari ginjal, dia pasti kasih harga mahal ke aku. Lumayan lah, paling laku dua puluhan juta."


"Weeiitz, macem-macem kamu, Ra. Ginjal manusia blasteran bumi sama surga gini kok mau dihargai puluhan juta," protes Almeer.


"Sstt!!" Sora meletakkan satu jari telunjuknya di bibir Almeer, "jangan dilanjutin, aku mau muntah nih...."


"Loh, emang bener, Ra—"


"Udah udah, aku mau siap-siap rias diri dulu." Sora berdiri dan melipat mukenahnya.


"Ah, iya. Mina wisuda, ya." Almeer teringat sesuatu, "untung semalam inget bawa baju batik."


"Kalau ketinggalan bajunya juga kan bisa pulang, Al. Rumahmu gak ada sepuluh meter dari sini."


"Lebih, Ra. Coba hitung dari sini ke depan, belum lagi dari gerbang depan ke dal rumahku."


Sora menatap kesal suaminya itu, "mancing kemarahanku, nih?" tanya Sora.


"Enggak, Sora," sahut Almeer, ia berdiri dan melepas sarungnya. "Aku pergi ke bawah dulu ya, Ra. Aku mau menemani papamu."


"Sepertinya kamu paham banget kalau cewek dandan lama banget."


Almeer hanya mengulas senyum kemudian keluar kamar.


Sora mulai merias diri, tak terlalu tebal memakai make up. Ia lebih terbiasa natural semenjak memakai kerudung, tapi di moment penting seperti ini ia memoleskan make up lebih dari biasanya.


Hampir setengah jam ada di depan cermin, akhirnya ia berdiri dan mengganti bajunya. Ia memakai gamis bernuansa gold kecoklatan, agar seragam dengan warna baju batik yang akan dikenakan Almeer.


Ceklek!


Pintu kamar Sora terbuka, Almeer muncul dari balik pintu. Sora sedang membetulkan kerudungnya didepan cermin.


"Udah ngobrolnya?" tanya Sora, tangannya masih sibuk menyelikan sebuah hiasan kecil di kerudungnya. "Ngobrolin apa sama papa?"


"Banyak kok ...," jawab Almeer.


Sora menoleh pada suaminya ketika sudah selesai menyibukkan diri dengan kerudungnya. "Gak diajak tengkar sama papa, kan?" tanya Sora.


Almeer terdiam dan hanya menatapi istrinya.


"Al ...." Sora mendekati Almeer.


"Hm?"


"Kok bengong. sih?"


Almeer mengulas senyum kecil, "aku masih gak percaya Allah mengirimkan wanita secantik kamu untuk jadi istriku, Ra."


"Nah, ngegombal lagi ...."


Sora menepuk pelan dada Almeer, namun Almeer segera menarik wanita itu ke dalam pelukannya.


"Al..." Sora mendongkkan kepalanya menatap Almeer yang sedang serius menatapnya.


"Saat pembicaraanku dengan papa tadi, tiba-tiba aku teringat di hari pertemuan kita aku memiliki harapan mempunyai istri sepertimu, dan kini Allah mengabulkannya."


"Benarkah?" tanya Sora.


Almeer mengangguk, "Iya! Dan kini Allah benar-benar mengabulkan do'aku, Ra."


Sora tersenyum, ternyata pria itu benar-benar menginginkannya sejak kecil. "I love you, Al." bisiknya pelan.


Almeer terkekeh kecil mendengar pernyataan Sora. "Aku juga mencintaimu, Sora," balas Almeer.


Senyum dikeduanya menghilang ketika sorot mata mereka beradu, Almeer mulai mendekatkan wajahnya pada Sora hingga wanita itu memejamkan matanya. Sebuah sentuhan lembut dan basah dari bibir Almeer membuat tangan Sora mencengkram kaos bagian dada Almeer.


******* Almeer di bibir Sora berubah lebih dalam dan Sora mulai membalas ciuman dari Almeer. Melihat Sora yang sudah menikmati ciuman itu, Almeer menarik pinggang Sora untuk lebih mendekat padanya.


Ceklek!


"Ra! Pinjem ...."


Deg!


Sora melepaskan ciuman Almeer dan menjauh ketika Sky membuka pintu kamarnya.


"Sial! Kenapa kalian melakukan ini pagi-pagi sih!!" sentak Sky.


BRAK!


Sky menutup pintu keras-keras. Sora yang kesal langsung membuka pintu kamarnya kembali.


"Kalau masuk kamar orang tuh ketok pintu!!!" teriak Sora kesal, "ganggu orang aja!!"


-Bersambung nih bersambung-


Kalean ngarep apa??? ngarep apa hah?? ngareep apaaah??


.


.


.


.


.


Jangan lupa BAYAR AKU dengan tekan LIKE, ketik KOMENTAR, kembali ke halaman sampul buat KASIH BINTANG LIMA dan kalo ada yang punya lebihan poin kasih VOTE novel ini ya.

__ADS_1


Terimakasih sangat laf laf ku


__ADS_2