ALINEA CINTA

ALINEA CINTA
65


__ADS_3

Setelah memberi kabar bahagia ini pada kedua kedua orangtua mereka, Almeer segera mencari dokter spesialis kandungan untuk memastikan kehamilan istrinya melalui ultrasonografi.


Hari minggu memang jarang ada dokter kandungan yang buka praktek. Sekalipun ada yang praktek, Sora tidak mau karena dokternya pria. Almeer terus mencoba menghubungi beberapa klinik bersalin hingga rumah sakit ibu dan anak. Setelah beberapa kali gagal, akhirnya Almeer menemukan dokter untuk istrinya.


Usai solat ashar, Sora dan Almeer pergi ke salah satu rumah sakit ibu dan anak yang ada di kota Malang. Sora harus mengisi beberapa data diri dulu sebelum ikut antri di depan ruang tunggu pasien.


"Sudah minum air putih banyak-banyak tadi?" tanya seorang petugas administrasi pada Sora.


"Sudah, Mbak," jawab Sora.


"Oke, nanti kalau mau pipis di tahan dulu ya, biar hasil USG nya jelas dan bagus."


"Iya, Mbak."


"Oke, silahkan tunggu. Nanti akan dipanggil jika sudah gilirannya,"


"Terimakasih,"


Sora dan Almeer pergi berpindah tempat duduk di salah satu bangku yang ada di ruang tunggu. Ada sekitar delapan pasien yang sudah datang sebelum Sora. Sora tersenyum melihat perut ibu-ibu hamil itu.


"Bie ...," panggil Sora pada suaminya.


"Ya?"


"Nanti perutku sebesar itu, ya?" tanya Sora ketika melihat salah seorang wanita yang sudah membuncir besar.


"Iya, Sayang ..., kenapa emang?"


"Lucu gak sih, di dalam diriku ada ada makhluk hidup, Bie." Sora tertawa geli.


Almeer merangkul bahu istrinya, "Kuasa Allah, Sayang,"


Sora mengangguk senang, ia tak henti-hentinya memegang perutnya.


Tak berapa lama nama Sora dipanggil. Ia masuk ke dalam ruangan kecil yang ada persis sebelum pintu masuk ruangan dokter. Seorang bidan dan perawat memeriksa tekanan darah, tinggi badan dan berat badan Sora. Mereka juga melakukan tanya jawab seputar hari terakhir mens hingga keluhan-keluhan yang Sora rasakan.


Usai dari pemeriksaan pertama, Sora kembali ke ruang tunggu untuk menghampiri Almeer. Mereka berdua kembali menunggu hingga mendapat panggilan kedua dari perawat.


Setelah beberapa pasien keluar masuk ruangan dokter, akhirnya nama Sora dipanggil kembali. Kali ini Almeer bisa ikut masuk ke dalam ruangan dokter.


Salam, Sapa dan konsultasi ringan dilakukan antara Sora dan dokter spesialis Obgyn tersebut. Kemudian dilanjutkan dengan proses pemeriksaan janin melalui Ultrasonografi.


Sora tidur terlentang di sebelah kanan dokter. Seorang perawat mengoleskan sedikit cairan gel dingin di perut bagian bawah Sora untuk mempermudah gerakan alat USG disana.


Tangan kanan dokter menekan perut Sora menggunakan alat USG, "Alhamdullillah, sudah kelihatan janinnya ..., Selamat ya Pak, Bu," ujar dokter tersebut.


"Alhamdullillah, terimakasih dokter," ujar Almeer, matanya berbinar menatap Sora.


"Yang mana dokter?" tanya Sora ketika melihat layar televisi besar di atasnya yang menampilkan isi rahim dalam bentuk dua dimensi dan hitam putih.


"Ini ...." Dokter menggerakkan kursor di layar tersebut mengitari titik kecil berwarna hitam.


"Kecil sekali ya dokter?" tanya Sora.


Dokter mengeluarkan print out hasil USG, "iya ..., masih sebiji kacang ijo. Usia kandungannya sudah masuk minggu ke lima,"


Sora merapikan gamisnya setelah perawat membersihkan sisa gel diperutnya. Ia mengikuti dokter kembali ke meja kerjanya.


"Bagaimana kondisi kandungan istri saya, Dokter?" tanya Almeer.


"Sehat, Pak," jawab dokter, "saya resepkan vitamin, di minum rutin setiap hari ya?" Dokter menulis beberapa nama obat di kertas resepnya.


"Saya masih boleh kerja, Dokter?" tanya Sora.


"Boleh, aktivitas seperti biasa saja, Bu Sora. Yang penting tidak berat-berat dan tidak sampai kelelahan."


"Kapan kami harus periksa lagi, Dokter?" tanya Almeer.


"Satu bulan lagi, Pak," jawab Dokter, "ini hasil USG, buku periksa sama resepnya." Dokter memberikan sebuah buku pada Sora.


"Terimakasih, Dokter." Sora menerima buku itu dan membuka isinya, "resepnya beli di apotek sini?" tanya Sora


"Boleh dimana saja, kok."


"Baik, Dokter. Kami permisi,"


"Iya, Pak, Bu. Semoga ibu dan dedek bayinya sehat, ya?" ujar Dokter


"Aamiin, terimakasih ...,"


Almeer dan Sora pun keluar dari ruangan dokter. Mereka pergi ke bagian administrasi terlebih dahulu untuk menyelesaikan pembayaran kemudian pergi ke apotek.


"Duduk aja, Sayang. Biar aku yang urus resepnya," ujar Almeer, ia mengajak Sora untuk duduk di kursi ruang tunggu apotek kemudian ia beranjak pergi ke bagian penerima resep.


Almeer melakukan perbincangan singkat kemudian pindah ke arah kasir apotek untuk melakukan pembayaran.


"Almeer ...," sapa seseorang yang sedang antri dibelakang Almeer.


Pria itu menoleh belakang sambil memasukkan uang kembalian dari kasir ke dalam dompetnya.


"Moza? Sedang apa kamu disini?" tanya Almeer.

__ADS_1


"Cloe demam tinggi. Kemarin main seharian di Batu, kecapekan dan gini deh jadinya," jawab wanita cantik berambut panjang itu. Ia memberikan nota pembayaran dan sejumlah uang pada kasir.


"Sekarang gimana keadaannya?" tanya Almeer.


"Masih tinggi sih, do'akan cepat baik ya, Al," pinta Moza.


"Kata pak Bara kamu akan ke Paris? Kapan?" tanya Almeer.


"Harusnya hari ini, tapi harus ku tunda. Gak mungkin aku ninggalin Cloe dalam keadaan seperti ini,"


"Silahkan kembaliannya, Mbak."


Suara petugas kasir memberikan uang kembalian Moza.


"Terimakasih," ucap Moza, ia mengambil uang kembalian itu kemudian menepi dari antrian kasir bersama Almeer.


"Cloe akan tinggal dengan pak Bara?" tanya Almeer.


Moza mengangguk, "iya, Al. Mau bagaimana lagi? Bibiku di Jogja juga sakit-sakitan, tidak bisa jaga Cloe. Iren kerja di Banjarmasin. Jadi aku titipkan papaku," jawabnya, "lagian Tante Clara juga baik, gak seperti dugaanku dulu," lanjutnya.


"Kamu berapa lama di Paris? Kasihan Cloe, dia sering kamu tinggal bersama orang lain, Za."


"Aku juga harus cari uang untuk masa depan Cloe, Al. Kamu tahu sendiri dia tidak mempunyai ayah."


Wajah Almeer berubah muram mengingat nasib Moza dan Cloe.


"Kurang lebih setahun aku disana, Cloe bisa datang kapanpun ia mau ...," lanjut Moza.


"Semoga kamu bisa segera mendapatkan suami yang bisa menerima Cloe apa adanya, Za. Aku tidak tega melihat Cloe jauh dari ibunya,"


"Mungkin itu sesuatu yang sulit, Al. Banyak pria yang bisa menerimaku, tapi aku belum bisa menemukan pria sepertimu yang bisa menerima kehadiran Cloe."


"Kamu akan mendapatkan suami yang lebih baik dariku, Za,"


"Entahlah, aku ragu akan hal itu."


Almer diam tak menanggapi.


"Aku titip Cloe ya, Al. Aku harap kamu bisa sering-sering menengoknya," pinta Moza.


"Aku akan pergi jika istriku mengijinkanku, jika tidak ... maafkan aku ya, Za." Almeer menatap ke tempat dimana Sora sedang duduk menunggunya. Wanita itu menatap sinis ke arahnya.


"Sepertinya istrimu tidak menyukaiku," ujar Moza yang juga melihat Sora.


"Dia tahu kesalahpahaman yang terjadi diantara kita, wajar jika dia cemburu padamu dan aku harus menjaga perasaannya," jelas Almeer.


Moza mengangguk, "pergilah, Al. Jangan buat dia terlalu lama menunggumu,"


Moza mengangguk.


"Assalamu'alaikum ...,"


"Wa'alaikumsalam, Al."


Almeer pergi menghampiri Sora dan Moza menyempatkan diri untuk tersenyum berpamitan pada Sora sebelum ia pergi ke arah yang berlawanan dengan Almeer.


"Kalian ngobrolin apa? Serius banget?" tanya Sora.


Almeer duduk disamping istrinya, "Cloe sakit, lagi dirawat di sini dan Moza mau pergi ke Paris," jawab Almeer.


"Anaknya sakit dia mau ke Paris?" tanya Sora.


"Dia tunda sampai Cloe sembuh mungkin," jawab Almeer.


"Lama dia di sana?"


"Sepertinya gitu,"


Sora diam dengan ekspresi tumpul memandangi seorang wanita yang sedang duduk di sudut lain ruang tunggu apotek, menunggu obat yang masih disiapkan apoteker.


"Sayang,"


Pandangan Sora teralihkan ketika Almeer menyentuh punggung tangannya. "Hm?" tanya Sora.


"Ketika Moza di Paris, dia ingin aku aku sering-sering menengok Cloe. Apa kamu keberatan?" tanya Almeer.


Sora mengangguk tanpa ekspresi, "iya, aku keberatan," jawabnya kemudian.


"Kamu tidak menyukai Cloe?" tanya Almeer.


"Bukan aku tidak menyukainya. Tapi, jika kamu sering menemui Cloe itu artinya kamu juga akan lebih sering bertemu tante Clara. Aku gak suka itu, Bie."


Almeer mengangguk, "iya ..., aku tidak akan menemui mereka,"


"Makasih ya, Bie,"


Percakapan mereka terhenti ketika seorang apoteker memanggil nama Sora. Almeer dan Sora menghampiri tempat pengambilan obat, mendengarkan aturan minumnya. Setelah merasa jelas mereka meninggalkan apotek tersebut.


***


Usai dari rumah sakit, Almeer mengajak Sora lekas pulang ke rumah. Ia tak mau Sora kedinginan di jalan lantaran mereka pergi menggunakan motor. Mobil Sora hari ini belum di urus oleh Almeer karena ia lebih mementingkan calon anaknya.

__ADS_1


Baru Almeer memasukkan motornya ke dalam carport, sebuah sedan hitam dengan plat nomor yang sangat ia kenali berhenti tepat di depan carport.


Aga keluar dari mobil dan menghampiri Sora dan Almeer, "semuanya udah beres," kata Aga sambil memberikan kunci mobilnya pada Sora.


Sora menerima kunci itu masih dalam keadaan bingung.


"Aku pulang dulu,"


"Tunggu!"


Suara Almeer menghentikan langkah Aga, ia menghampiri Aga dengan wajah kesal.


"Bukankah aku sudah bilang kalau aku yang akan mengurus mobil istriku?" tanya Almeer geram,


"Kau terlalu lambat," jawab Aga.


Almeer mengernyitkan keningnya dan mendengus kesal, "Aku punya urusan yang harus ku selesaikan lebih dulu,"


Aga menatap Almeer tanpa ekspresi, "kau hanya perlu mengucapkan terimakasih,"


Almeer tersenyum masam, "Aku tidak suka kau ikut campur dalam rumah tanggaku,"


"Aku tidak berminat ikut campur urusan keluargamu, aku hanya ingin memastikan dia baik-baik saja, dalam keadaan apapun." Aga melirik Sora sejenak.


"Aku suaminya dan aku yang akan menjaganya!"


"Sudah ku bilang kau terlalu lambat!"


Almeer mengepalkan telapak tangannya dan melayangkan tinjunya pada Aga hingga pria itu hampir kehilangan keseimbangan.


"Astaghfirullah, Bie!" pekik Sora terkejut.


Aga yang tak terima, ia langsung membalas tinjuan Almeer namun dapat ditangkis dengan oleh pria berwajah teduh yang kini sedang marah.


"Bie! Udah, Bie!" Sora menghampiri Almeer, mencoba menahan Almeer agar tidak memberikan pukulan pada Aga.


Almeer mendengus kesal melihat istrinya yang membela pria lain. Ia pun pergi masuk ke dalam rumah.


"Ga! Aku tahu pasti papa atau Sky yang memberitahu tentang kehamilanku, mungkin mereka yang menyuruhmu. Tapi please, jangan berbuat seperti ini lagi," pinta Sora.


"Aku melakukan ini bukan karena papamu atau Sky, aku melakukannya karena kamu, Ra. Aku gak—"


"Aku istri orang, Ga!" pangkas Sora setengah berteriak.


Aga terdiam menatap wanita didepannya itu sedang menatapnya marah.


"Terimakasih sudah membantuku, aku harap ini terakhir kalinya aku berurusan denganmu!" ucap Sora kemudian ia pergi masuk ke dalam rumah.


Sora meniti anak tangga dan pergi ke kamarnya untuk menyusul suaminya. Sampai di kamar ia melihat suaminya baru selesai berganti pakaian.


"Bie ...,"


"Kenapa kamu membelanya?" tanya Almeer.


"Aku tidak membela Aga, aku hanya menghentikan kamu agar tidak membuat keributan, Bie ...," jawab Sora. Ia meraih tangan suaminya dan menggenggamnya. "mungkin papa tadi menyuruhnya ... tapi aku sudah bicara padanya untuk tidak berurusan denganku,"


"Kamu dan keluargamu lebih tergantung padanya daripada denganku, Sayang! Kalian lebih mengandalkannya dan kalian tidak mempercayaiku?" Almeer sedikit meninggikan suaranya.


Sora panik dan takut melihat wajah Almeer yang mengeras marah, "Bie, jangan berpikir seperti itu ...," nadanya bergetar


Almeer memejamkan matanya, ia beristighfar beberapa kali dan mengusap kasar wajahnya dan mengehela napas kasar. Ia meraih tangan tubuh istrinya dan memeluknya erat-erat


"Maaf aku membuatmu takut, Sayang ...," ucap Almeer menyesal.


Sora mengangguk cepat, ia melingkarkan tangannya di pinggang suaminya.


"Aku manusia biasa yang bisa cemburu, Sayang," ujar Almeer.


"Maafkan aku ya, Bie ...,"


Almeer melepaskan pelukannya, menatap istrinya lekat-lekat. "Ku mohon padamu, Sayang. Bisakah kamu mengandalkanku?"


Sora mengangguk cepat


Almeer kembali memeluk istrinya, lebih erat dari sebelumnya. Ia sangat merasa bersalah sudah meninggikan suaranya pada Sora. Ia tahu seharusnya tak melakukan itu, karena istrinya tak bersalah. Dialah yang salah dan dia membenarkan apa yang dikatakan Aga. Dia terlalu lambat untuk diandalkan istrinya.


-Bersambung-


.


.


.


.


.


INFO!


Terimakasih ya, periode kemarin ALINEA CINTA naik kelas ke rangking 2. Terimakasih yang sudah merelakan poinnya untuk Sagara Almeer dan Kianga Sora.

__ADS_1


Jangan lupa BAYAR AKU dengan tekan LIKE, ketik KOMENTAR, kembali ke halaman sampul buat KASIH BINTANG LIMA dan kalo ada yang punya lebihan poin kasih VOTE novel ini ya.


__ADS_2