ALINEA CINTA

ALINEA CINTA
80


__ADS_3

"Disini saya meminta ijin kepada suami pasien, saya harus melakukan kuretase atau pengangkatan janinnya,"


Tangis Senja kembali pecah dalam pelukan suaminya, Langit menatap keatas untuk menahan air matanya agar tak terjatuh, sedangkan Almeer tertunduk pilu menatapi hasil USG di tangannya. Ia tak bisa menahan air matanya ketika mengetahui jika calon buah hatinya sudah tiada.


Dokter memberikan kesempatan beberapa menit untuk menerima keadaan ini.


"Apa calon anak saya benar-benar harus dikeluarkan dokter?" Almeer memastikan ulang.


Dokter Nita mengangguk, ia menunjuk kertas hasil USG ditangan Almeer, "anda bisa lihat kondisi kandungan istri anda. Ini adalah janin istri anda, kantong yang melindunginya sudah pecah dan plasenta yang menyalurkan nutrisi dari ibu menuju janin sudah terlepas," tutur dokter Nita.


"Ya Allah ... kenapa harus seperti ini?" keluh Almeer putus asa.


"Istri anda masih dalam usia produktif, Pak. InsyaAllah dengan ber-ikhtiar, anda bisa mendapatkan buah hati kembali." Dokter Nita memberikan motivasi untuk Almeer.


Almeer mangangkat kepalanya dan menarik napas panjang, "lakukan yang menurut dokter terbaik untuk istri saya," ucapnya kemudian.


"Baik, Pak. Terimakasih atas kerjasamanya," Dokter Nita berdiri, "saya permisi, Pak, Bu."


Dokter Nita pergi keluar ruangan, Sedangkan Almeer dan kedua orangtua Sora masih diam di ruangan itu.


***


Berita kurang menyenangkan itu pun terdengar di telinga Hiko, Ruby dan Mina. Semua tentu terpukul mendengar kabar duka ini. Belum juga satu masalah reda, Allah sudah menguji Almeer dengan kehilan calon buah hatinya.


Sekitar setengah jam Almeer dan keluarganya menunggu, perawat memanggil Almeer kembali. Seorang perawat memberikan sebuah kotak kecil yang berisikan janin Sora pada Almeer.


Hatinya hancur sehancur-hancurnya ketika membuka kotak itu. Air matanya jatuh tak tertahan melihat seonggok daging kecil yang hampir terbentuk sempurna layaknya bayi. Ia menyentuh lembut dengan jarinya yang bergetar itu.


"Jadilah penolong kami di surgaNya ya, Nak ...," bisiknya lirih diantara tangisnya.


Ia menatap perawat yang masih berdiri didepannya itu, "bagaimana kondisi istri saya?"


"Dokter masih menuntaskan semuanya, Pak. Kami akan memberikan informasi jika pasien sudah dipindahkan di ruang perawatan."


Almeer mengangguk, "terimakasih, saya akan membawa anak saya pulang," ujar Almeer.


"Baik, Pak."


Almeer pun membawa kotak yang berisi calon buah hatinya itu menemui keluarganya. Tentu saja mendapatkan sambutan histeris dari keluarga besarnya.


"Al tidak tahu harus menunjukkannya pada Sora atau tidak," ujar Almeer.


"Kamu akan menguburkannya sekarang?" tanya Hiko.


Almeer menggeleng, "entahlah, Pa."


"Kamu bisa menguburkannya langsung, Al. Sora akan terpuruk jika melihat anaknya sudah tiada," usul Langit.


"Saya kurang setuju, Pak Langit. Seburuk apapun keadaannya nanti, dia pasti ingin melihat buah hatinya." Ruby menentang usulan Langit.


"Betul, Al! Sora harus tetap melihat anaknya." Senja setuju dengan kalimat Ruby.


"Sayang ...," Langit mencoba membujuk istrinya.


"Enggak, Mas! Aku tidak mau melihat Sora menyesal karena tidak bisa melihat anaknya,"


"Iya, Ma. Al akan membawanya menemui Sora."


"Biar Mama dan Bu Senja nanti yang masuk lebih dulu, Al. Sora pasti akan terkejut dengan ini." Ruby memberi usul lagi.


Almeer mengangguk.


Semuanya kembali duduk, menguatkan dan menabahkan satu sama lain.


Hampir satu jam lebih keluarga Sora dan Almeer menunggu, akhirnya seorang perawat menghampiri mereka untuk memberitahu jika Sora sudah siuman dan mengantarkan mereka ke kamar rawat inap Sora.


"Jika ingin menjenguk, sebaiknya hanya dua orang saja ya, Pak ... Bu ...," pinta perawat.


"Baik, Terimakasih ...,"


Perawat pun bergegas pergi.


Senja menatap Mina terlebih dulu sebelum masuk, "Mama masuk dulu, ya ... nanti kalau kakak sudah baikan kamu bisa ikut masuk, Sayang."


Mina yang terlihat sangat cemas hanya menganggukkan kepala. Senja dan Ruby pun masuk ke dalam ruangan.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum," sapa Senja dan Ruby.


"Wa'alaikumsalam ...," jawab Sora lemah. Wajahnya yang pucat terdapat beberapa goresan bekas pecahan kaca, tak terlihat ada perban di kepalanya yang terluka, karena kepalanya terbalut jilbab instan milik rumah sakit tempatnya dirawat.


"Mama terluka?" tanya Sora ketika melihat perban di kening mamanya.


"Tidak perlu khawatirkan mama, Sayang ...," jawab Senja, "bagaimana keadaanmu, apa yang kamu rasakan?" tanya Senja.


"Kepalaku sakit, bahuku sakit dan per—" Sora menghentikan kalimatnya, matanya melebar dan tangannya memeriksa perutnya. Matanya melebar dan menatap Senja dan Ruby bergantian.


Ruby meraih tangan Sora, "ikhlaskan anak kamu ya, Nak ...," ucap Ruby.


Sora mengernyit, "apa maksud, Mama?" Sora ingin menegaskan sesuatu. Ia berusa sekuat tenaga untuk bangun dari tidurnya.


"Sayang, sebaiknya jangan banyak gerak dulu," pinta Senja, meskipun ia tetap membantu Sora untuk duduk.


"Kenapa aku harus mengikhlaskan anakku, Ma?" Setetes air mata Sora jatuh, ia memandang kedua mamanya bergantian. Meminta penjelasan yang sebenarnya tidak ingin ia dengarkan.


"Anak dalam kandungan kamu gak bisa diselamatkan, Sayang ...," ujar Senja.


Sora menggeleng, "ada, Ma. Ada ...." Sora mengusap perutnya, "dia kuat kok, Ma ...,"


Senja memeluk putrinya, "dokter sudah mengeluarkannya, Sayang,"


"Enggak, Ma!" Sora mendorong tubuh mamanya kuat-kuat, "dokter tidak bisa melakukan itu tanpa ijinku! Aku ibunya! Aku yang mengandungnya!" Teriak sora dengan derai air mata.


"Suamimu sudah memberi ijin, Sayang ...," ujar Senja.


"Sora ... ikhlas, Nak. Kamu harus kuat ...," Ruby mencoba menenangkan menantunya.


"Enggak! Aku harus menemui dokternya! Aku mau anakku!" Sora mendorong Ruby dan berusaha turun dari tempat tidurnya. "Argh!"


"Sora!"


Sora terjatuh dilantai karena belum terlalu kuat membawa diri.


"Aku mau anakku, Ma ... aku mau anakku!" Teriak Sora.


Ruby bergegas keluar, ia memanggil Almeer dan menyuruhnya untuk masuk.


"Bantu istrimu kembali ke tempat tidur, Al," pinta Senja.


Almeer meletakkan kotak yang di bawanya kemudian menggendong Sora kembali ke tempat tidur.


"Kenapa kamu mengijinkan mereka mengambil anak kita, Bie?!" Sentak Sora.


"Allah belum mengijinkan kita memilikinya, Sayang," ujar Almeer.


"Kamu harusnya ijin dulu padaku! Dia anakku, Bie! Aku yang mengandungnya! Dia selalu bersamaku!" Teriak Sora.


"Maafkan aku, Sayang. Tapi dokter harus segera melakukan tindakan." Almeer memeluk istrinya yang sedang terpukul, tapi Sora lekas mendorongnya.


"Sayang ... kamu kuat, kamu harus ikhlas ...,"


"Anakku. Bie ... Aku mau anaaakku!" Sora tak bisa berhenti berteriak dan menangis meskipun tubuhnya lemah.


Almeer mengambil kotak yang dibawanya tadi kemudian memberikannya pada Sora, "anak kita ada disini ... jika kami tidak kuat, jangan membukanya."


Tangan Sora gemetar menerima kotak itu, tangisnya terhenti hanya tersisa isakan. Tangannya mulai tergerak ingin membuka kotak di pangkuannya, namun tangan Almeer mencegahnya.


"Kamu yakin ingin melihatnya?" tanya Almeer.


Sora menepis tangan suaminya dan melanjutkan membuka kotak itu.


Matanya terbelalak, mulutnya terbuka lebar. Kedua tangannya segera menutup mulutnya yang tak bisa bersuara. Hanya air mata yang menjadi bukti kesedihannya.


"Sora ...," Senja menyentuh bahu putrinya.


"Anakku!"


Seketika itu juga Sora meraung dan berteriak. "Maafkan Bubun, Sayang ... Maafkan Bubun yang tidak bisa menjaga kamu ...."


Tangis dan teriakan kepedihan Sora menggema di sudut-sudut ruangan. Semua orang yang mendengar tangisan itu bisa mengetahui betapa terpukulnya dia saat itu.


"Kamu gak salah, Sayang ... Allah memang belum mengizinkan kita memilikinya," Almeer mencoba menenangkan istrinya.

__ADS_1


"Harusnya Bubun hati-hati, Sayang ..." Sora mengusap lembut calon buah hatinya. Tangisnya tak mau berhenti.


"Sayang ...," Almeer mencoba memeluk Sora, namun wanita itu mendorongnya.


"Pergi, Bie!" Teriak Sora.


"Sora," Senja mengingatkan putrinya.


"Harusnya aku gak menemuimu, Bie! Harusnya aku tetap di rumah!" Teriak Sora, ia memeluk kotak di mana buah hatinya telah beristirhat tanpa ada detak jantung yang menunjukkan tanda kehidupan.


"Istighfar, Sayang ... Allah sedang menguji kita, mungkin Allah sedang menunjukkan jika apa yang sedang kita rencanakan salah."


Sora melirik tajam pada suaminya, "Ya! Allah sedang mengingatkanku, seharusnya aku tidak mencintaimu! Seharusnya aku tidak menikah denganmu!"


"Sora!" sentak Senja, "Mama tahu kamu sedang berduka, tapi jaga ucapanmu pada suamimu!"


"Kamu yang membuat semua ini terjadi, Bie! Ini semua salahmu!" Teriak Sora.


Almeer hanya terdiam menatap istrinya, ia menarik napas sejenak kemudian menghampiri istrinya dan ingin memeluknya.


"Jangan sentuh aku!" ucap Sora, matanya yang masih berair itu tetap menatap tajam suaminya.


"Kamu membenciku?" tanya Almeer.


Sora tak memberikan jawaban, tapi Almeer bisa melihat dengan jelas kebencian dimata istrinya. Ia tetap mencoba memeluk istrinya, namun Sora bersikeras mendorong tubuh Almeer.


"Jika saja kamu mempercayaiku, kita tidak akan kehilangan anak kita, Sayang ...,"


Sora mendorong kuat-kuat tubuh Almeer untuk melepaskan pelukannya. "Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu, Bie!"


Almeer tersentak dengan kalimat Sora.


"Apa yang harus ku percayai darimu setelah semua bukti menunjukkan kecocokan darahmu dengan anak itu? Aku berusaha mempercayaimu, Bie! Tapi kamu tetap mengecewakan aku! Kamu sama seperti papamu! Kamu gak lebih baik dari papamu!"


"Sora!" Teriak Senja menghentikan kemurkaan Sora.


Almeer terperangah dengan semua yang dikatakan istrinya padanya.


"Jadi kamu pun sama menganggapku seperti itu?"


Sora mengihkan pandanganya, air matanya masih tetap membahasi pipinya.


Almeer duduk di tepi tempat tidur, ia meraih tangan Sora. Sorot matanya memandang istrinya penuh kekecewaan. "Maafkan aku karena mengecewakanmu, Sayang."


Sora menepis tangan Almeer.


"Aku akan pulang menguburkan anak kita."


Sora tak memberikan jawaban.


"Maafkan aku mengatakan ini," Almeer menarik napas sejenak, "aku tidak akan menjemputmu untuk pulang, Sora. Kamu tahu aku ada dimana dan kamu tahu kemana akan pulang,"


"Almeer!" Senja terbelalak dengan ucapan menantunya.


Almeer berdiri menatap Senja, "Maafkan Almeer, Ma." Ia meraih tangan Senja dan menciumnya. "Almeer pulang dulu, Ma. Nanti biar papa yang akan membawa anak kami pulang."


"Al ...." Senja mencoba menahan Almeer.


"Assalamu'alaikum ...,"


"Wa'alaikumsalam,"


-Bersambung-


.


.


.


.


.


Jangan lupa, Jangan lupa, Jangan lupa BAYAR AKU dengan tekan LIKE, ketik KOMENTAR, kembali ke halaman sampul buat KASIH BINTANG LIMA dan kalo ada yang punya lebihan poin kasih VOTE novel ini ya. SHARE novel ini di sosmed kalian juga sangat diperbolehkan.

__ADS_1


Terimakasih laflafkuh!


__ADS_2