ALINEA CINTA

ALINEA CINTA
68


__ADS_3

Niat Almeer dan Sora untuk kencan semalam tertunda, mereka hanya pergi untuk beli bolu kukus srikaya dan segera kembali pulang. Tiba-tiba saja Sora merasa mual-mual terkena angin malam.


"Kamu beneran mau ikut jalan-jalan sama papa dan mama, Sayang?" tanya Almeer ketika mereka sedang sarapan di meja makan.


Sora mengangguk, "Mumpung mereka lagi di Malang, Bie. Lagian aku udah gak mual-mual lagi kok. Udah kuat nih sekarang." Sora meyakinkan suaminya.


"Kamu beberapa hari ini jalan-jalan terus, loh."


"Tapi lebih sering duduk-duduknya, Bie."


"Aku gak bisa jaga kamu loh, Sayang. Jadi kamu benar-benar harus jaga diri loh ya? Jangan sampai kecapekan,"


"Siap Abie ...,"


Usai sarapan, Almeer berangkat lebih dulu ke kantor. Ia tidak bisa terus-terusan datang terlambat ke kantor karena menunggu mertuanya menjemput istrinya.


Sampai di kantor, Almeer sudah dihadapkan dengan perwakilan-perwakilan perusahaan yang bekerjasama dengan kantornya untuk melakukan presentasi.


Pertemuan itu berlangsung cukup lama dan mereka berhenti di jam makan siang untuk istirahat, sholat dan makan siang. Usai Sholat, Almeer beristirahat sebentar di ruangan sambil memeriksa ponselnya.


Ia mendapat kiriman foto-foto Sora yang sedang berlibur bersama keluarganya. Senyum Almeer terus mengembang memperhatikan slide by slide foto-foto sora, hingga jarinya terhenti di satu foto Sora yang sedang selfie. Ia melihat sosok pria yang tak terlalu ia sukai tak sengaja ikut masuk dalam frame foto Sora. Pria itu sedang memandang Sora dari kejauhan.


Tak pikir panjang, Almeer lekas menghubungi Sora.


"Assalamu'alaikum, Sayang ...,"


"Wa'alaikumsalam, Bie ..., kamu udah lihat foto-fotoku? Cantik, gak?"


"Iya, cantik banget. Aku yakin kalau kamu jalan sendirian pasti banyak yang ngelirik, dikira masih gadis."


"Makanya, kita tuh harus sering jalan-jalan berdua ..., kamu juga kalau jalan sendirian pasti dikira masih bujang," gerutu Sora.


"Biarin lah dilihatin orang lain, yang penting kan aku gak lihatin mereka. Mending lihatin istriku, bisa di sentuh juga ...,"


"Iiih, pikirannya kemana tuh?"


"Pikiranku ya ke kamu, Sayang. Emang mau kemana lagi?"


"Ya awas aja kalau sampai ke orang lain," ancaman Sora membuat Almeer tertawa geli.


"Sudah Sholat?"


"Ini barusan selesai, lagi otewe jalan ke foodcourt. Kamu gimana, Bie?"


"Barusan selesai Sholat. Masih istirahat bentar, lihat hape ada chat dari kamu. Ku lihat dulu, deh. Eeeh, malah dapat sesuatu yang ...."


"Yang apa?" Sora tak sabar menunggu kelanjutkan kalimat suaminya.


"Yang bikin gerah," lanjut Almeer.


"Aga, ya?" tanya Sora.


"Kenapa dia bisa bersama kalian?"


"Kata Sky dia lagi survei tanah di sekitar sini, trus sama papa disuruh kemari juga. Tapi dia udah pulang sekarang, tadi papa ada perlu sebentar dengannya," jelas Sora.


"Kalau aku gak tau keberadaan Aga, apa kamu tidak berniat untuk bilang?"


"Bilang lah,"


Almeer tertawa pelan, "iya, benar. Kamu Kianga Sora,"


"Emang kenapa kalau aku Kianga Sora?"


"Kan kamu gak—"


Tok tok tok


Percakapan Almeer dan Sora di telepon terhenti ketika pintu ruangan Almeer terbuka, Siska muncul dari balik pintu.


"Kenapa, Sis?" tanya Almeer.


"Pak, di depan ada orang yang kirim PC ...," jawab Almeer.


"PC?" Almeer balik bertanya.


"Iya, Pak. Ada sepuluh unit,"


Almeer mengenyitkan keningnya, "Sayang, aku tutup teleponnya ya ..., nanti kita sambung lagi di rumah, Assalamu'alaikum."


Almeer menutup sambungan teleponnya bersama Sora kemudian pergi ke depan untuk memastikan informasi yang diberikan sekretarisnya.


Seorang pria memakai seragam dari salah satu brand elektronik segera berdiri dari duduknya ketika Almeer datang.


"Pak Almeer?" Petugas itu memastikan.


"Iya,"


Petugas itu mengulurkan tangan, "Saya Indra, dari DELL, Inc. Cabang Surabaya, Pak. Mau mengirimkan paket Dell All-In-One Precision pesanan anda,"


Almeer manyambut tangan petugas di depannya itu dengan masih keheranan, "tapi saya tidak merasa memesannya, Mas."


Petugas bernama Indra itu memperlihatkan nota pembelian pada Almeer, "Bapak Sagara Almeer, StudiOne ...," ia menyebutkan alamat, nomor ponsel Almeer sesuai keterangan di nota.


"Lima Ratus Delapan puluh juta, Mas!?" Almeer memekik ketika melihat total harga dari sepuluh personal computer yang sama sekali tidak pernah ia pesan. Ia menatap Siska, "kamu tahu, Sis?"

__ADS_1


"Enggak, Pak. Kita kan masih dalam perencanaan untuk pembelian unit baru," jawab Siska.


"Jadi, mau diletakkan dimana, Pak? karyawan kami siap membantu merakit," tanya petugas itu.


"Maaf, Mas. Ini sepertinya ada kesalahan dalam pemesanan. Saya tidak merasa membeli ini, apalagi merk dari perusahaan anda. Jujur, saya tak sanggup membayar ini, Mas." Almeer bergidik ngeri melihat nominal yang tercetak pada nota ditangannya.


"Ini sudah dilunasi, Pak. Anda tinggal menerimanya saja,"


"Hah?! Lunas?!" Almeer kembali terkejut, "bisa saya tahu siapa yang melunasinya, Mas?"


Petugas itu mengambil dengan sopan nota yang ada ditangan Almeer, ia membuka lembar paling belakang nota tersebut. "Pembayaran dari rekening bank atas nama Langit Haidar Subagio, Pak."


Almeer menghela napas kasar, wajahnya terlihat kesal. Ia memejamkan matanya sejenak dan beristighfar dalam hati untuk menenangkan diri.


"Bisa saya batalkan pembelian ini? Atau saya kembalikan?" tanya Almeer. "Saya tidak bisa menerima barang yang anda kirimkan,"


"Tapi jika barang dikembalikan ada potongan dana dua puluh persen, Pak."


"Anda bisa transfer kembali ke rekening pak Langit, sisanya saya yang akan urus," ujar Almeer.


Petugas itu seperti kebingungan, "baiklah, Pak. Tapi ada beberapa formulir yang harus anda isi,"


"Siska, kamu isi formulirnya. Kalau butuh tanda tanganku, temui aku di dalam."


"Baik, Pak."


Almeer beranjak kembali ke ruangannya untuk menelepon papa mertuanya. Tapi langkahnya terhenti ketika seseorang memanggilnya untuk melanjutkan rapat. Ya. dia tak bisa berbuat apa-apa, ia akan menyelesaikannya nanti pulang dari kantornya.


***


Setelah mendapat pesan whatsapp dari Sora yang memintanya untuk. pulang lebih awal, Almeer segera meninggalkan kantornya usai menyelesaikan rapat pentingnya. Ia takut terjadi apa-apa dengan istrinya calon anaknya.


Sampai di rumah, mobil milik mertuanya masih terparkir di depan halaman rumahnya. Ia cukup lega karena bisa menjelaskan mengenai niat baik Langit membelikan beberapa unit PC untuk keperluan kantornya.


"Assalamu'alaikum," sapa Almeer ketika memasuki pintu ruang tamu.


"Wa'alaikumsalam ...," terdengar jawaban dari ruang tengah.


Almeer melihat hanya ada Langit yang duduk di sofa ruang tengah, sedanhkan mama mertua dan istrinya sedang didapur bersama Siti menyiapkan sesuatu.


Almeer lekas menghampiri Langit dan mencium tangannya, "Sudah dari tadi, Pa?" tanya Almeer.


"Apa kamu sedang meremehkanku?" tanya Langit, nadanya datar tetapi cukup terdengar dingin dan mencekam. Bahkan Senja dan Sora sampai menghentikan aktivitasanya dan menatap suami mereka.


"Saya tidak bermaksud kurang ajar pada Papa." Almeer sudah mengerti apa yang sedang dimaksud oleh mertuanya, "tapi saya kurang setuju dengan niat baik, Papa," lanjutnya.


Langit mendengus kesal.


Senja yang melihat hal itu menyuruh Siti untuk masuk ke kamarnya dan ia mendekati putrinya.


"Uangmu belum terkumpul?" pangkas Langit, ia berdiri menjajari menantunya. "Berapa lama? Menunggu anakmu sudah dewasa?"


"Tidak akan selama itu, Pa."


"Jangan terlalu merasa hebat! Awalnya aku berbuat seperti itu bukan karena aku meremehkanmu, tapi sikapmu padaku membuatku berpikir lain," cetus Langit, matanya menatap remeh menantunya.


Almeer hanya diam menunduk.


"Aku membelikan itu untuk membantumu, agar kamu bisa memiliki waktu lebih banyak dengan putriku."


"Saya sudah berusaha membagi waktu dengan baik antara pekerjaan dan istri saya, Pa!" jawab Almeer.


"Itu menurutmu! Menurutku, menurut putriku, kamu hanya sibuk menghabiskan waktu di kantormu."


"Karena saya punya tanggung jawab, Pa! Saya punya tanggung jawab atas pekerjaan saya dan saya punya tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan Sora," jawab Almeer tegas dan lantang, bahkan ia berani menatap mata Langit.


"Dan apa yang kamu lakukan hanya membuang-buang waktu. Putriku tak terlalu banyak mendapat waktumu, dia tak bisa mendapatkan apa yang dia inginkan hanya karena menghawatirkan keuanganmu. Sedangkan ia ingin beli menggunakan uangnya sendiri, ia tak bisa melakukannya karena ingin menjaga perasaanmu,"


Almeer diam, ia membenarkan apa yang dikatakan Langit padanya.


"Sekarang kamu mengerti maksudku, kan?" tanya Langit, "terima PC itu, dan cari karyawan baru. Kalau kamu ingin cepat, biar Tommy yang mencarikan karyawan untukmu."


"Apa bisa Papa tidak ikut campur dalam urusan kantor saya dan rumah tangga saya?"


Pertanyaan Almeer membuat Langit terbelalak, termasuk Senja dan Sora.


"Saya tahu papa menginginkan yang terbaik untuk kami, tapi saya merasa keberatan jika papa terlalu jauh ikut campur dalam rumah tangga kami."


"Bie ...," pekik Sora, ia merasa suaminya terlalu kasar pada papanya.


"Kamu sadar apa yang sedang kamu bicarakan?" tanya Langit geram.


"Mungkin Papa memang berkuasa dalam berbagai hal. Papa bisa melakukan apapun yang Papa mau dengan sekali jentikan tangan. Papa memang ayah kandung dari istriku. Tapi bukan berarti Papa bisa mengatur kehidupanku dan rumah tanggaku. Disini, Sagara Almeer adalah imam dan kepala keluarga untuk Kianga Sora, putri Papa." Almeer menekankan diakhir kalimatnya.


Langit hanya terperangah, tak menyangka pria muda didepannya itu berani menentangnya.


"Uang pengembalian PC yang akan di transfer ke rekening Papa akan terpotong dua puluh persen. Saya akan segera transfer sisanya agar Papa bisa mendapatkan uangnya secara utuh."


"Aku tidak tau kalau kamu ternyata sekurang ajar ini," cetus Langit.


"Saya minta maaf jika Papa tersinggung dengan kalimat saya, Tidak ada sedikitpun niat saya untuk bersikap kurang ajar kepada orangtua. Saya hanya mempertahankan apa yang sedang saya perjuangkan, termasuk harga diri saya. Saya yakin, Papa lebih memahami bagaimana seorang pria menjaga harga dirinya."


Langit mendengus kesal dan menatap menantunya itu penuh dengan kemarahan. "Aku menyesal sudah memikirkan kebaikan untukmu!"


"Terimakasih Papa sudah meluangkan waktu memikirkan kebaikan untuk keluarga kami," sahut Almeer.

__ADS_1


"Kita pulang, Sayang!" ajak Langit pada istrinya.


"Iya, Mas." sahut Senja.


Almeer ingin meraih tangan Langit untuk menciumnya, tapi pria itu mengabaikannya dan pergi keluar rumah.


Senja menghampiri menantunya, menepuk bahu Almeer agar pria itu memaklumi sikap Langit.


"Sabar ya, Al ...," ujar Senja.


Almeer mencium tangan Senja kemudian mengangguk, "iya, Ma. Saya minta maaf jika ucapan saya keterlaluan,"


Senja mengangguk, "bukan semua salah kamu, Al," ucap Senja, "Mama pulang dulu, ya. Assalamu'alaikum ...."


"Wa'alaikumsalam, Ma."


Seperginya Senja, Sora menghampiri suaminya. Wajahnya terlihat jelas jika ia sedang marah.


"Kenapa kamu bicara seperti itu ke papa sih, Bie? Niat papa baik loh?" protes Sora.


"Apa yang ku bilang sebelumnya terjadi, kan? Papa berpikir aku tidak bisa memenuhi kebutuhan kamu," sahut Almeer.


"Papa cuma kasihan ke aku. Selama kita nikah, kamu terlalu banyak menghabiskan waktumu di kantor."


Almeer merengkuh bahu istrinya, "Kamu tahu aku punya tanggung jawab besar dengan proyek-proyek yang sudah masuk sebelum kita nikah, Sayang. Kamu lupa?"


Sora menepis tangan Almeer, "aku ingat! Sangat ingat! Papa pun juga merasa bersalah, karena itu papa belikan kamu tambahan peralatan kantor dan karyawan baru. Biar kamu punya waktu lebih buat aku,"


"Kamu tahu aku tidak akan mau menerimanya,"


"Iya! Karena kamu egois!" Sentak Sora. Ia melangkah pergi menuju ke kamarnya.


Almeer menyusul istrinya, ia membuntuti langkah istrinya.


"Kamu terlalu memikirkan orang lain, Bie! Aku yang ada didekatmu sendiri tidak kamu pedulikan! Kamu baik sama semua orang, kamu relakan waktu untuk mereka, tapi aku menjadi yang entah nomor berapa!" kritik Sora ketika mereka sudah tiba di kamar.


"Bahkan untuk meluangkan waktu bersama keluargaku kamu tidak bisa. Aku tahu kamu merasa asing di keluargaku. Aku pun juga merasa asing dikeluargamu. Tapi aku selalu berusaha sebisa mungkin membaur dengan keluargamu yang bahkan aku lebih banyak diam ketika mereka membahas ilmu agama yang bahkan aku tidak terlalu memahaminya. Tapi, kamu? Kamu gimana, Bie?"


"Bukankah aku berulang kali memintamu untuk bersabar?"


"Sampai kapan?" Pekik Sora, wajahnya memerah menahan amarah. "Apa harga dirimu setinggi itu, Bie? Kamu memaki Papaku—"


"Aku tidak memaki Papamu, " ralat Almeer, "aku hanya mengingatkan beliau untuk tak terlalu dalam mengatur keluarga kita."


"Papa hanya ingin kita bahagia, Bie ...,"


"Jadi selama ini kamu tidak merasa bahagia bersamaku?" tanya Almeer.


"Aku bahagia, aku sangat bahagia. Tapi kamu terlalu sibuk, Bie ...,"


"Apa aku harus menjelaskan semua dari awal lagi?"


"Kamu tak punya terlalu banyak waktu, Bie. Termasuk disaat aku benar-benar membutuhkanmu ...," suara Sora semakin lirih diakhir kalimat, ia tertunduk.


"Kamu membandingkanku dengan pria lain?"


Sora menggeleng cepat meskipun ia membenarkan pertanyaan Almeer, tapi ia segera menyadari jika ia salah berkata seperti itu. Sora segera meraih tangan suaminya, "bukan! Bukan itu maksudku ...,"


Almeer menggeleng pelan, sorot matanya menunjukkan kekecewaan. "Enggak, aku tahu itu maksudmu. Aku tahu ...,"


"Bie ...,"


Almeer mengusap wajah istrinya, "Maafkan suamimu yang terlalu banyak kekurangan ini, Sayang," ucapnya lembut tapi terdengar sangat dingin.


"Bie ...." Sora mencoba memegang tangan suaminya, tapi dengan lembut Almeer melepaskan genggaman tangan Sora di tangannya hingga membuat wanita itu diam tak bergeming.


"Aku ke masjid dulu, kamu istirahatlah ...," ucap Almeer.


Sora kembali meraih tangan Almeer, "Bie, aku—"


Almeer kembali melepaskan tangan Sora, ia tersenyum sambil mengusap kepala istrinya. "Aku pergi dulu, Assalamu'alaikum ...," tanpa menunggu jawaban Sora, ia beranjak pergi keluar kamar.


"Wa'alaikumsalam ...," jawab Sora lirih bersambut tetesan air matanya.


Tubuhnya lemas, pelan ia menjatuhkan diri dan duduk dilantai. Ia menatap tangannya yang beberapa detik yang lalu di tepis oleh suaminya. Rasa penyesalan memenuhi benaknya hingga membuatnya sakit dan sesak. Terlebih lagi, melihat perlakuan suaminya yang masih bersikap lembut padanya setelah ia melukai perasaan suaminya.


Mata Sora terpejam rapat, namun tak membuat air matanya berhenti membasahi pipi. Ia setengah membungkuk dan berulang kali memukul-mukul dadanya. Mulutnya menganga ingin melepaskan segala rasa di benaknya. Namun tak ada sedikitpun suara yang keluar disana, mungkin sesakit itu penyesalan yang ia rasakan hingga ia hanya bisa menangis tanpa suara.


-Bersambung-


.


.


.


.


.


INFO!


Gak usah kepo tanya gugel merk komputer yang dibeliin Langit buat mantunya. Bikin warna empedu kalian bening kalau lihat harganya.


Jangan lupa BAYAR AKU dengan tekan LIKE, ketik KOMENTAR, kembali ke halaman sampul buat KASIH BINTANG LIMA dan kalo ada yang punya lebihan poin kasih VOTE novel ini ya. SHARE novel ini di sosmed kalian juga sangat diperbolehkan.

__ADS_1


Terimakasih laflafkuh!


__ADS_2