
"Mampir dulu, Sky ...," ucap Moza setelah mobil Sky berhenti di depan rumahnya.
Sky menggeleng, "aku harus segera ke rumah Almeer, Za."
Moza mengangguk, "aku juga ingin menemuinya untuk meminta maaf. Tapi, tidak sekarang. Tolong sampaikan salamku untuknya," pinta Moza.
"Aku akan sampaikan nanti," jawab Sky.
"Terimakasih. Sky ... aku pergi dulu,"
"Za!" Sky menarik tangan Moza, menahan wanita itu agar tinggal sejenak.
"Ya?"
Sky melepaskan tangannya dari tangan Moza, ia menatap ragu ke mata Moza.
"Apa yang mau kamu sampaikan, Sky?" tanya Moza.
"Tidak bisakah kamu memberiku kesempatan?"
Moza tersenyum, "kamu akan mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dariku, Sky."
Sky tertunduk dan tersenyum simpul, "kamu menolakku dua kali, Za. Dan aku masih bisa tersenyum,"
"Terimakasih atas banyak hal yang kamu berikan padaku, Sky ...," ujar Moza.
Sky mengangguk dengan senyum lebarnya.
"Setelah melihat kejadian ini, sepertinya aku akan mengajak Cloe untuk tinggal di Paris, Sky."
"Semoga kalian bisa bahagia tinggal disana. Jika ke Paris, aku akan mampir ke tempatmu, Za."
Moza mengangguk, "aku keluar, Sky. Terimakasih sudah mengantarku,"
"Iya, Za."
"Hati-hati, Sky. Sampaikan salamku pada Almeer." Moza keluar dari mobil.
Sky mengangguk dan melambaikan tangan sebelum Moza menutup pintu mobilnya.
"Aku pria baik, ganteng dan kaya ... tapi takdir selalu mengajakku bercanda jika urusan cinta," gumam Sky meratapi nasibnya.
Ia melajukan kendaraannya dan meninggalkan rumah Moza. Tujuan keduanya adalah rumah Almeer, ia berharap pria itu berada di rumahnya. Perjalanan jauh yang sudah ia tempuh sejak semalam membuatnya lelah dan malas jika harus mengulur waktu.
Tak butuh waktu lama untuk Sky tiba di rumah Almeer. Memang jarak antara rumah Moza dan Almeer tak sampai satu kilometer.
Ia beruntung ketika mendapati motor milik Almeer terparkir di carport, itu artinya pria yang ia cari ada di dalam rumah itu. Ia lekas turun dan menuju ke ruang tamu rumah Almeer.
"Assalamu'alaikum ... Al!"
Ia menggeser langkahnya melihat ke samping rumah, benar saja jika pria yang dicarinya ada samping rumah.
"Wa'alaikumsalam, Sky ...," jawab Almeer, ia hendak berdiri dan menghampiri Sky namun pria itu sudah melarangnya dan memintanya untuk tetap duduk.
Tanpa dipersilahkan pemilik rumah, Sky langsung duduk di kursi kayu samping Almeer.
"Kamu menemukan Moza, Sky?" tanya Almeer.
"Tentu! apa coba yang tidak bisa ku lakukan?" Sky menyombongkan dirinya.
"Kamu tidak bisa melakukan apa yang orang biasa lakukan, " jawab Almeer.
Sky hanya mendengus kesal.
"Aku dan Aga sudah menemukan siapa pria yang sudah melecehkan Moza,"
Sky mengangguk, "Moza sudah menceritakannya padaku dan Sora,"
Almeer sedikit terkejut ketika Sky menyebut nama Sora, "jadi ... Sora sudah mengetahui kebenarannya?"
Sky mengangguk, "aku adalah tujuan awal dari tante Clara untuk balas dendam, Al. Dia memanfaatkan Moza untuk mengusik hidupku."
"Ya, aku sudah tahu itu."
Sky menatap Almeer, "aku sudah mendengar keadaanmu dan Sora ...."
"Aku sedang menunggunya," jawab Almeer yang sudah tahu arah pembicaraan Sky.
"Dia terlalu malu untuk menemuimu, Al. Tidak bisakah kamu mendatanginya? Dia sangat terpuruk saat ini," bujuk Sky.
Almeer menatap Sky dengan tajam, "sudah ku katakan padamu, Sky. Aku sedang menunggunya, aku akan memaafkannya jika dia meminta maaf padaku,"
"Kamu tahu dia si Biji Sawi, Al. Dia bodoh untuk membedakan kebenaran dan kebohongan. Apalagi tante Clara melakukannya dengan sangat rapi,"
Almeer hanya diam.
__ADS_1
"Dia sudah putus asa dan tak pantas untukmu, Al. Apa kamu mau membuatnya menyerah?"
Almeer mengernyit, "Apa maksudmu, Sky?"
"Kamu bukan orang bodoh yang tidak bisa mengartikan kalimatku, Al," jawab Sky.
***
Sora masih nyaman terdiam dalam lamunannya. Ia masih menyandarkan kepalanya di sandaran sofa, menatap bulan yang bulat sempurna memancarkan cahaya terangnya. Lampu kamarnya sudah padam beberapa jam yang lalu. Namun ia tak segera mengistirahatkan badannya.
Lelah, ia sangat lelah. Badannya juga sakit. Tapi mata dan otaknya tak mau diajak untuk beristirahat. Memorinya selalu memutar kalimat demi kalimat yang ia ucapkan pada suaminya hingga penjelasan Moza sore tadi.
"Sampai detik ini pun aku masih mencintai Almeer, rasaku tak pernah berubah padanya. Dengan rasa yang ku miliki itu, bukan berarti aku ingin memilikinya," ujar Moza, "karena aku tahu dia hanya menatap ke satu tempat. Kalaupun aku bisa memilikinya, aku hanya memiliki tubuhnya, bukan hatinya."
"Apa karena itu kamu menyematkan nama suamiku di dalam nama putrimu?" tanya Sora.
Moza menggeleng, "karena Cloe sama seperti Almeer ... dan aku ingin Cloe kuat seperti Almeer. Hanya itu, aku tidak mempunyai alasan lainnya.
Sora ingin menyerah dan menyudahi pikiran-pikirannya itu. Semakin ia mengingat, beban penyesalannya semakin menumpuk dan membuatnya frustasi. Bahkan obat penenang yang ia minum beberapa saat yang lalu tidak memberikan efek sama sekali.
Dug dug dug dug ....
Suara langkah kaki menaiki anak tangga terdengar cukup jelas. Sora menyudahi lamunannya, ia beranjak ke tempat tidur. Ia berpura-pura untuk tidur meskipun matanya belum mau terpejam. Hal ini adalah cara terbaik untuk menghindari percakapannya dengan siapapun itu. Sebab mereka hanya akan memberi nasehat ataupun mendesaknya untuk meminta maaf pada Almeer.
***
Tiga hari sudah Sora menjadi sosok yang berbeda. Mulutnya yang selalu cerewet dan sikapnya yang ceria tiba-tiba saja menghilang dari wanita yang saat ini sedang duduk termenung menatap langit cerah kota Malang dari balik jendela kamarnya.
Sofa yang tak terlalu panjang ini menjadi tempat favoritnya di dalam kamarnya. Ia selalu menghabiskan waktu disana setiap usai menyelesaikan kewajibannya. Melamun, meratapi kesalahan dan mendalami penyeselannya adalah kegiatan barunya beberapa hari terakhir ini.
Ia membatasi berkomunikasi dengan keluarganya, ia hanya ingin benar-benar sendiri. Baginya, sepi adalah teman terbaiknya saat ini.
Tok tok tok.
Suara ketukan pintu terdengar, namun tak membuat Sora mengalihkan pandangannya untuk melihat siapa yang datang.
Senja dan Langit memasuki kamar putrinya. Senja duduk di sofa yang sama dengan Sora, ia mengusap rambut putrinya yang tergerai. Disana masih terlihat sebuah kain kasa menempel di balik rambut Sora untuk melindungi bekas luka jahitannya beberapa hari yang lalu.
"Sayang ... Papa dan Mama harus pulang ke Jakarta besok—"
"Aku akan ikut ke Jakarta," cetus Sora tanpa mengalihkan pandangannya.
"Sora ... sampai kapan kamu akan seperti ini?" tanya Langit, "sudah waktunya—"
"Cukup, Pa! Cukup!" Teriak Sora dengan menutup telinganya menggunakan kedua telapak tangannya. "Berhenti memaksaku, Pa! Biarkan aku hidup seperti ini ...,"
"Kamu dengarkan baik-baik ucapan Papa, Sora!" tegas Langit, "kami antar kamu untuk minta maaf dan memperbaiki hubunganmu dengan suamimu atau kamu ikut kami pulang ke Jakarta dan membiarkan Almeer menceraikanmu?"
"Mas!" Senja tak terima dengan perkataan suaminya.
Sora mengangkat wajahnya dan menatap papanya, "Sora rasa Almeer pantas mendapatkan istri yang jauh lebih baik dari Sora, Pa."
"Astaghfirullah, Sora! Jaga ucapan kamu!" Sentak Langit.
"Sora ingin menyerah, Pa! Sora tidak pantas menjadi istri Almeer dan menantu di Papa Hiko! Sora tidak pantas, Pa!"
"Sayang ... jangan bersikap seperti ini. Mama tahu kalian sedang sama-sama hancurnya, tapi jika kalian terus seperti ini, kalian akan membawa pernikahan kalian kemana?" tanya Senja. "Tidak bisakah kamu menurunkan egomu, Sayang?"
Sora menatap mamanya, "tolong tinggalkan Sora sendiri, Ma ...," pintanya.
"Sora!"
Sora menatap papanya, "Sora mohon, Pa ..., Sora sudah lelah mendengarkan kalian yang terus memaksa melakukan hal yang berbeda dengan hati ini," ucapnya lirih dan putus asa.
"Sayang ... kami hanya ingin membantu kamu keluar dari masalah ini," bujuk Senja.
Sora menggelang, "tidak ada satupun dari kalian yang memahami apa yang Sora rasakan. Tidak ada, Ma ... tidak ada."
Senja sangat terpukul melihan putrinya seperti ini. Kesedihan terlukis jelas di wajah Sora, penyesalan dan keputusasaan terpancar dikedua bola mata indah itu. Ia memeluk putrinya sejenak dan memberinya kecupan di kening.
"Mama selalu mendo'akan kebahagiaan kalian, Sayang ...," ujarnya kemudian berdiri, menarik suaminya untuk keluar kamar putrinya.
***
Jarum jam masih belum sepenuhnya menunjuk ke angka delapan malam, namun lampu di kamar Sora sudah padam. Suasana kamar tak terlalu gelap, sinar bulan yang masuk dari jendela memberikam cahaya temaram dikamar itu.
Pemilik kamar itu sedang duduk meringkuk di sudut sofa, badan dan kepalanya tersandar di sandaran sofa. Angin malam yang masuk mengayunkan gorden tipis, memberikan rasa sejuk di dalam kamar. Mungkin karena itulah Sora bisa terlelap disana.
Bola mata dibalik pelupuk matanya mulai bergerak. Kesadarannya dipaksa kembali ketika ia merasakan sebuah sentuhan lembut di pipinya. Dengan berat ia membuka matanya, sinar rembulan yang terang membuatnya memicingkan mata.
Namun, sorot matanya berubah sendu ketika mengetahui tangan siapa yang sedang menyentuh pipinya. Ia tak bisa bergerak, tubuhnya mematung. Bibirnya terkatup rapat dan matanya mulai memupuk air mata ketika melihat sesosok pria yang sedang duduk didepannya dengan kepala bersandar di sandaran sofa, sejajar dengan kepalanya.
"Apa kamu tidak merindukanku?" tanya pria itu dalam sebuah bisikan yang terdengar cukup jelas di telinga Sora.
Air mata Sora jatuh tak terbendung, ia menghamburkan tubuhnya dan memeluk pria itu. "Maafkan aku, Bie ...," ucapnya.
__ADS_1
Almeer menegakkan tubuhnya dan memeluk istrinya, ia mengecup beberapa kali ujung kepala istrinya. Setetes air mata jatuh membasahi pipinya, "maafkan aku juga, Sayang ...,"
Sora menarik dirinya, ia menatap suaminya dan menggeleng cepat. "Aku yang salah, Bie ...." Sora menepuk beberapa kali dadanya, "aku istri durhaka, Bie. Aku gak pantas mendapatkan maafmu, Bie. Aku—"
Almeer mencakup pipi istrinya dan mengusap air mata itu, "aku sudah memaafkanmu, Sayang ...," ucapnya.
Sora menggeleng, "enggak, Bie ... enggak! Kamu gak bisa memaafkanku semudah itu! Aku sudah melakukan dosa besar padamu, Bie!" ucapnya parau.
"Aku sudah memaafkanmu, Sayang. Aku sudah memaafkanmu," Almeer meyakinkan istrinya kemudian memeluknya, "sungguh aku sudah memaafkanmu,"
Tangis Sora semakin pecah dalam pelukan suaminya, ia memeluk tubuh Almeer erat-erat dan tak mempedulikan bahunya yang sedang cidera.
"Kenapa kamu datang kemari dan memaafkanku, Bie?" tanya Sora diantara isak tangisnya, "harusnya kamu mengabaikanku saja, kamu bisa membuangku, aku tidak layak mendapatkan kebaikanmu,"
Almeer mendorong pelan tubuh Sora, ia mencakup pipi istrinya itu. "Aku tidak akan membiarkan kamu berlama-lama dalam penyesalanmu, Sayang. Aku tidak mau kita sama-sama menyesal dikemudian hari. Maafkan aku sudah meninggalkanmu dalam kesedihanmu," ujar Almeer. Ia mengecup lembut bibir istrinya.
"Jangan meminta maaf padaku, Bie. Aku yang harus meminta maaf padamu." Sora lekas berlutut dan ingin bersimpuh di kaki Almeer, namun Almeer dengan cepat menahannya.
"Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Almeer seraya menarik istrinya untuk kembali duduk di sofa.
"Mencium kakimu pun belum tentu bisa menebus dosaku padamu, Bie. Kamu adalah surgaku, tapi aku melukai surgaku ...,"
"Sudah ku katakan, Sayang ... aku sudah memaafkanmu." Almeer memeluk kembali istrinya, "berhentilah merasa bersalah. Karena aku juga bersalah padamu ...,"
Sora mengangguk, "terimakasih, Bie ...,"
Almeer mengecup kening ujung kepala Sora, kemudian melepaskan pelukan Sora. "Besok pagi kita pulang ke rumah ya, Sayang?"
"Pantaskah aku melakukannya, Bie?"
"Tentu, kamu istriku, kamu pemilik istana kecil kita."
Sora mengulas senyum kecil dibibirnya, "aku sungguh minta maaf karena sudah meragukanmu, Bie. Aku juga minta maaf karena sudah menyalahkanmu atas meninggalnya anak kita, dan ...." Sora menarik napas sejenak, "maafkan aku sudah mengungkit masalalu kamu dan papa Hiko, Bie," lanjutnya.
"Terimakasih sudah mau mengakui kesalahanmu." Almeer mengusap air mata dipipi Sora, "aku juga minta maaf karena keras padamu, membiarkanmu bersedih sendiri setelah kita kehilangan anak kita,"
Sora menganggukkan kepalanya.
"Semoga ini semua bisa menjadi pelajaran untuk kita, Sayang. Bagaimanapun kondisinya, aku menginginkan kejujuran, kepercayaan dan kebersamaan menjadi penopang dalam rumah tangga kita,"
Sora kembali menganggukkan kepalanya, "aku akan lebih dewasa lagi dalam menyikapi masalah, Bie."
Almeer tersenyum dan mengecup kening istrinya, "terimakasih, Sayang."
"Terimakasih sudah mau datang kemari, Bie," ucap Sora, "bukan aku tidak mau mendatangimu untuk minta maaf padamu, Bie. Aku tidak punya keberanian, aku merasa hina dan tidak pantas untuk mendapatkan maafmu,"
"Karena itulah aku datang kemari, Sayang."
Sora tersenyum senang dan memeluk suaminya, "terimakasih, Bie. Terimakasih."
"Ada satu hal yang ku inginkan, Sayang ...."
Sora menarik diri dari tubuh suaminya, "apa itu, Bie?"
"Minta maaflah pada kedua orangtuaku, terutama pada Papa. Aku tidak ingin kamu berhutang maaf pada orang lain, terlebih lagi itu mertua kamu," pinta Almeer, "maukah kamu melakukannya?"
Sora mengangguk, "ya, Bie ... aku akan melakukannya. Aku sadar sudah menyakiti orangtuamu. Aku ingin meminta maaf, tapi kami belum bisa bertemu diwaktu yang tepat."
Almeer tersenyum, "besok kita mampir ke ndalem untuk bertemu papa dan mama."
"Ya, Bie ...."
"Aku membelikanmu bolu kukus srikaya di bawah, kamu mau?"
Sora mengangguk cepat dan mengembangkan senyum lebar dibibirnya. Almeer mengusap sisa air mata di pipi Sora kemudian mengajaknya keluar kamar.
-Bersambung-
.
.
.
.
.
INFO GAIS!
Nih nopel tinggal beberapa episode lagi ya gais. Tadinya mau 88 episode. Aku gak mau nanti dikira nih nopel di endorse ama produk salep kutu aer, kurap, kadas, panu, de el el. Jadi ku tambahin dua lah jadi 90 episode.
Udah, gak usah minta dipanjangin lagi. Lama-lama bia ganti judul Pria Bersarung Naik Haji ntar. (ngasah arit, siap-siap mo cari rumput. Kali aja ada yg protes lagi, ku timbun rumput nih biar jadi kompos.)
Untuk novel selanjutnya udah ku share di igeh ya. Yang belom pollow, cus pollow Linaiko17 yes.
__ADS_1
Jangan lupa BAYAR AKU dengan tekan LIKE, ketik KOMENTAR, kembali ke halaman sampul buat KASIH BINTANG LIMA dan kalo ada yang punya lebihan poin kasih VOTE novel ini ya. SHARE novel ini di sosmed kalian juga sangat diperbolehkan.
Terimakasih laflafkuh!