ALINEA CINTA

ALINEA CINTA
52


__ADS_3

Kedatangan Sky di waktu yang tidak tepat di kamarnya tadi masih sangat mengganggu suasana hati Sora. Saudara kembar itu hanya saling menyalahkan saja di sepanjang jalan menuju ke kampus.


Mobil yang membawa keluarga Mina tiba di pelataran parkir salah satu gedung di area kampus yang selalu dipakai untuk acara-acara besar kampus. Halaman di sekitar gedung sangat ramai dengan para mahasiswa yang memakai kebaya maupun setelan jas resmi.


"Sepertinya aku barus lulus dari sini kemarin, sekarang udah kesini lagi nganter adekku wisuda," ujar Sky, matanya menatap ke sekitar area gedung.


"Sok banget kata-katamu, Sky!" gerutu Sora, ia membelakangi Sky sambil merapikan make up dan kerudung Mina.


"Udaaah ..., gak usah diterusin debatnya." Senja mulai gemas dengan kedua anaknya yang masih saling memancing amarah.


"Mina!!" sapa Iren, salah satu teman Mina.


"Eh, Iren. Udah dari tadi?" tanya Mina.


"Barusan, Mina," jawab Irene, ia menatap keluarga Sora. "Assalamu'alaikum Oom, Tante, Kak Sky, Kak Sora, Kak ...." Irenemenatap Mina untuk mencari tahu siapa pria yang sedang berdiri disamping kakak perempuannya.


"Kak Almeer," bisik Mina.


"Kak Almeer ...." Irene melanjutkan sapaannya.


"Wa'alaikumsalam ...," sahut keluarga Mina.


"Kakak kamu mana?" tanya Senja, matanya melihat ke beberpaa arah.


"Masih di mobil, Tante. Ada yang ketinggalan," jawab Irene.


"Lama ya kita gak ketemu, kami juga jarang ke Jogja." Senja mengusap lengan atas Irene.


"Ah, itu Mbak Moza." Irene melihat wanita berambut panjang dengam kemeja longgar dan celana jeans ketat berlari kecil menghampirinya.


"Kak, Mama dan Papanya Mina," ujar Irene.


Moza menyalami Langit dan Senja bergantian, "Hallo, Oom, Tante."


"Hallo, Moza. Gimana kabaranya?" tanya Senja.


"Baik, Tante." Pandangan Moza beralih pada Sky yang berdiri disamping Mamanya, "Hai, Sky." Sapa Moza.


Sky hanya tersenyum masam dan mengalihkan perhatiannya pada Sora dan Mina.


"Hai, Al. Hai, Mina," sapa Moza bergantian.


Sora menghentikan kegiatannya merapikan kerudung Mina ketika wanita itu menyapa suaminya, ia membalikkan badannya dan melihat siapa wanita yang berani menyapa suaminya.


"Kakaknya Irene, Kak."


"Kamu Sora? kembarannya, Sky?" tanya Moza.


Sora mengangguk, "iya."


Moza mengulurkan tangannya, "aku Moza, aku satu angkatan dengan Sky dan juga ...." Ia menoleh pria yang berdiri dibelakang Sky. "Almeer," lanjutnya.


Sora membalas uluran tangan Moza, "hai...," sapanya singkat, kemudian melepaskan uluran tangan.


"Kalian akan masuk semua?" tanya Moza.


"Tentu, memangnya kenapa?" Langit balik bertanya.


"Tapi undangan hanya untuk dua orang, Oom," jawab Moza.


Sky dan Sora langsung mengernyitkan kening kemudian menatap Mina, "Deeekk ...."


"Aku gak tahu, emm ... lebih tepatnya lupa." Mina terkekeh kecil, "kalian bisa jalan-jalan dulu, nanti usai acara kita foto-foto bareng."


"Mulai nih ngeselinnya ...." Sky mencubit pipi adiknya.


"Kalau mau, bisa salah satu dari kalian ikut masuk pakai undanganku." Moza menawarkan diri.


"Sky, saja." sahut Almeer tiba-tiba.


Sky menatap Almeer kesal dengan sorot mata yang mengancam.


"Ayo, Sky," ajak Moza.


"Iya, Kak Sky. Ikutan masuk, ya. Please ...," pinta Mina.


"Iya, Sky. Ikut masuk saja." Senja menatap Sora dan Almeer, "biar mereka jalan-jalan sambil nunggu acara selesai."


Sky hanya menggaruk belakang kepalanya yang sebenarnya tak gatal, "aduh!" keluhnya ketika Almeer mendorong badannya, ia menatap protes pria dibelakangnya itu.


"Udah, ayo masuk!" ajak Langit.


"Jalan-jalan di sekitar kampus saja ya, sayang. Jangan jauh-jauh." Senja mengingatkan Sora dan Almeer sebelum masuk ke dalam gedung.


"Iya, Ma," jawab Sora dan Almeer.


"Kak, selamat kencan, yah!" Mina melambaikan tangan pada Sora.


Sora dan tersenyum dan mengangguk, ia membalas lambaian tangan adiknya.


"Kita kemana, Al?" tanya Sora setelah melihat keluarganya sudah melangkah jauh dari mereka.


"Jalan-jalan di sekitar sini aja. Aku lama gak kesini, jadi kangen." Almeer mengedarkan pandangannya ke sekitar.


"Kangen kampusnya apa kangen seseorang dari masa lalu?" goda Sora.


Almeer langsung merangkul bahu Sora dan mengajaknya berjalan, "gak usah mikir macem-macem," ujarnya.


"Nebaaaak...."


"Gak boleh nebak-nebak, aku takut hati kamu gak kuat kalau tau seterkenal apa suamimu ini di luaran sana."

__ADS_1


Sora menghentikan langkahnya dan menatap Almeer, "aku tuh mau ngatain kamu sok kegantengan banget, tapi kenyataannya kamu emang ganteng. Jadi makin kesal nih, aku." Sora menatap Almeer kesal.


"Sudah, gak usah kesal ...," Almeer meraih tangan Sora, menatap istrinya itu dengan sangat usil.


"Untung aja ganteng," gumam Sora, di tutup dengan senyum kecil.


Mereka melanjutkan melangkah menyusuri tepian trotoar jalan utama kampus. Semakin masuk ke dalam area kampus, keadaan sedikit tenang. Tak terlalu banyak aktivitas mahasiswa di waktu weekend seperti ini.


"Kamu kenal cewek tadi?" tanya Sora setelah sepanjang jalan tadi Almeer hanya terus menjahilinya.


"Moza?" Almeer balik bertanya.


Sora mengangguk.


"Pernah satu kelompok denganya, " jawab Almeer.


"Sepertinya dia menyukaimu, Al,"


Almeer menatap wanita yang sedang berjalan di sampingnya itu dan tersenyum, "tapi yang aku sukai cuma kamu, Sora. Gimana?" ucapnya, memecah suasana pembicaraan yang hampir mengarah ke sesuatu yang serius.


"Awas aja kalau berani suka sama yang lain." Ancam Sora.


"Suka atau kagum pasti ada, Ra. Tapi seluar biasa apapun dan sehebat apapun wanita disana, cuma kamu hati dan mataku kembali."


"Astaghfirullah, Al. Aku merinding, loh." Sora menarik lengan bajunya dan menunjukkan bulu kuduknya yang berdir, "lihat, tuh."


"Hush!" Almeer menutup kembali lengan baju Sora, "dibukanya kalau di rumah aja, Sora. Jangan disini ...," protesnya.


Sora memutar bola matanya menanggapi suaminya, kemudian memberikan cubitan kecil di pinggang Almeer. Membuat pria itu merangkul bahu istrinya lagi.


"Mau tahu satu rahasia?" tanya Almeer.


Sora mendongakkan kepalanya menatap Almeer, "apa?" tanyanya penasaran.


"Sky pernah ditolak sama Moza," bisik Almeer, "ssttt ...." Ia menempelkan satu jari tulunjuknya di bibir ketika melihat Sora melebarkan matanya.


"Serius, Al?" tanya Sora.


Almeer mengangguk, "sempat heboh tuh di kampus karena Moza nolak Sky."


"Baguslah, dia mungkin udah sadar dari awal kalo Sky itu menyebalkan."


"Tapi Sky baik ...," ralat Almeer.


Sora diam dan berpikir sejenak, "iya, sih. Kalau di pikir-pikir kasihan juga dia, setua itu belum pernah pacaran."


"Do'ain aja, biar ketemu jodoh yang langsung halal." Sahut Almeer.


Sora mengangguk.


"Nanti Sore papa dan mama mau balik ke Malang, kamu mau ikut nganter mereka ke bandara?" tanya Almeer.


Almeer tersenyum, "takutnya kamu capek, habis dari sini. Trus ke bandara."


"Enggak, lah. Aku kuat tahu!" jawab Sora penuh keyakinan, "Papa sama Mama gak. balik ke Jogja lagi?" tanya Sora.


"Ya mungkin untuk beberapa kali aja. Kemarin lama disini kan karena ngurusin nikahannya Ameera, gak taunya sampai ngurusin pernikahan kita juga."


"Jadi yanh tinggal di rumah situ nanti Ameera sama Haqy aja?" tanya Sora.


"Iya ..., tapi mereka ikut ke Malang bentar nanti," ujar Almeer, Ia melihat sebuah bangku panjang dan mengajak Sora duduk disana.


"Ra ...," panggil Almeer ketika mereka sudah duduk.


"Ya, Al?"


"Kamu gak keberatan ikut bersamaku ke Malang?" tanya Almeer.


"Kemanapun kamu pergi, aku akan ada disampingmu, Al." jawab Sora.


"Seharusnya hari ini aku kembali ke Malang, Tapi pekan depan papamu mau mengadakan resepsi di Jakarta." Wajah Almeer tiba-tiba berubah muram.


"Kamu gak nyaman dengan resepsi?" tanya Sora.


"Aku mengkhawatirkan nama baik keluargamu, Ra."


Sora menggeser posisi duduknya dan menghadap pada suaminya, "kami tidak mempermasalahkan itu, Al ..., jangan khawatirkan kami." ujar Sora.


Almeer tersenyum dan mengusap pipi Sora, "iya, Ra."


"Atau, kamu gak nyaman dengan pesta pernikahan?" selidik Sora.


Almeer tertawa kecil dan mengangguk, "aku kurang percaya diri berdiri didepan banyak orang."


"Aku akan bilang ke papa untuk tidak mengadakan resepsi."


Almeer segera meraih tangan Sora, "gak perlu, Sora. Gak perlu ...,"


"Tapi—"


Almeer menepuk punggung tangan Sora, "aku akan turuti kemauan papa, Sora."


"Itu akan jadi beban untukmu, Al,"


Almeer menggeleng, "aku tidak merasa terbebani, Ra."


Sora diam, ia masih menatap curiga suaminya.


"Ra ...,"


"Ya, Al?"

__ADS_1


"Aku sudah terlalu lama meninggalkan kantorku," Almeer memberi jeda ucapannya. "Apa kamu keberatan jika aku besok kembali ke Malang?"


Sora diam tak langsung memberikan jawaban dan hanya menatap Almeer,


"Aku akan kembali sebelum resepsi pernikahan kita," jelas Almeer.


"Aku akan ikut denganmu ke Malang, Al," kata Sora.


"Aku belum mempersiapkan rumah kita, Ra."


"Apa aku tidak bisa tinggal di pesantren? atau aku bisa tinggal di rumah tanteku." Sora memberi saran.


"Apa tidak masalah untukmu sementara tinggal di pesantren?" tanya Almeer.


Sora mengangguk, "aku akan menjaga sikapku, aku akan berhati-hati dalam tindakanku, aku akan—"


"Sora ....," Almeer memangkas kalimat Sora, "bukan itu yang aku khawatirkan. Kamu tidak perlu menjadi orang lain, jadilah dirimu sendiri."


"Trus, kenapa kamu khawatir?"


"Di pesantren semuanya serba sederhana, Ra. Aku takut kamu gak akan nyaman tinggal disana."


"Al, kamu meragukanku?" tanya Sora.


"Sangat!"


"Jahat banget, ih!" Sora menepuk dada Almeer.


Almeer tersenyum kecil.


"Udah, pokoknya aku besok mau ikut ke Malang. Gak mau pisah ama kamu pokoknya." Wanita itu merajuk, membuat suaminya gemas dan malah menjahilinya dengan menggelitiki pinggang sang istri.


"Aaah, ampuun, Al. Ampuuun ..., geli ih." Sora menahan tangan Almeer agar tidak terus menggelitikinya.


"Iya, besok kita ke Malang, ya." Almeer menyetujui kemauan Sora.


"Yes! Makasih ya, Al ...." Sora hendak memeluk Almeer, namun kedua bahunya di tahan Almeer.


"Kenapa?" tanya Sora.


"Ini di ruang terbuka, jangan membuat jiwa para pejuang jodoh meronta-ronta karena iri." jawab Almeer.


Sora melirik ke sekitar, Ia terkekeh kecil dan mengangguk.


Obrolan mereka berlanjut cukup lama di kursi itu hinggs panggilan telepon dari Senja membuat mereka kembali ke gedung tempat dilaksanakannya wisuda Mina.


Bangunan bagian depan gedung yang unik menjadikan background foto yang banyak diminati para wisudawan dan keluarga. Termasuk keluarga Langit dan juga keluarga Marko yang baru saja datang untuk memberikan ucapan selamat pada Mina. Tak tanggung-tanggung ia membawa fotografer profesional untuk mengabadikan setiap momen disana.


Usai melaksanakan sholat dzuhur di masjid kampus, acara berlanjut di rumah makan yang sengaja sudah di sewa Marko untuk makan siang. Canda tawa terjadi disana, semua membaur dan tentunya pengantin baru yang menjadi pokok pembahasan mereka.


"Udah, Al. Terobos aja, jangan dengerin papa mertuamu ini," goda Marko.


"Uhuk uhuk!" Sora terkejut hingga tersedak.


"Minum dulu, Ra!" Dua kalimat dari orang yang berbeda, keduanya menyodorkan gelas berisikan air putih pada Sora.


Almeer yang ada disamping Sora dan Aga yang ada di depan Sora saling menatap dingin. Membuat suasanya di meja makan sejenak terasa canggung.


Sora mengambil gelas dari tangan suaminya dan langsung meneguknya. "Alhamdullillah ..., makasih ya, Al," ucapnya, kemudian ia melirik Aga yang ada didepannya.


Sky mengambil gelas di tangan Aga yang belum sempat di letakkan kembali di tempatnya semula. "Daripada gak ada yang ngambil," ujarnya, kemudian meneguk air itu.


"Move on, Ga! Move on!" Sky yang duduk disamping Aga menepuk pria yang kali ini terlihat sedang tidak baik-baik saja.


"Pantesan sih kak Sora milih kak Sky, kamu kalah ganteng sih, Kak." celetuk Nada dengan polosnya.


"Nada!" Sentak Marko pelan, ia mengedipkan beberapa kali matanya untuk tak meneruskan kalimatnya.


"Sabar, Ga. Jodohmu masih keselip di perut ibunya kali," ucap Sora.


"Nih, bocah! Mulut keseringan dikasih oli, licin banget!" Sky memperingatkan saudara kembarnya.


Aga tersenyum kecil kemudian melanjutkan makannya.


"Nah, kan. Ketawa dia ..., dia tuh kalau marah trus denger aku ngomong juga bakal ketawa." Sora bangga dengan dirinya yang mampu membuat Aga menyunggingkan senyum, ia mencondongkan badannya ke depan menatap wajah Aga dengan usil, "ya kan, Ga?"


"Ra!" Langit menatap putrinya tajam, "jaga sikapmu, kamu sudah menjadi istri orang sekarang."


Deg!


Sora lupa akan hal itu, wajahnya berubah pucat dan pelan ia menatap suaminya yang ada disampingnya.


"Al ...," panggilnya pelan.


Pria itu mengulas senyum, namun sorot matanya terlihat jika dia sedang tidak nyaman dengan tindakan Sora pada Aga.


-Bersambung-


.


.


.


.


.


Jangan lupa BAYAR AKU dengan tekan LIKE, ketik KOMENTAR, kembali ke halaman sampul buat KASIH BINTANG LIMA dan kalo ada yang punya lebihan poin kasih VOTE novel ini ya.


Terimakasih sangat laf laf ku

__ADS_1


__ADS_2