
Sora dan Mina melanjutkan percakapan ringan mengenai kegiatan Mina di kampus maupun di Majelis Taklim yang diikutinya.
Percakapan keduanya terhenti ketika mobil yang membawa mereka mulai memasuki area tempat tinggal mereka. Mobil-mobil tamu undangan terparkir sepanjang jalan, mungkin sampai ke area taman dan masjid. Musik-musik khas pernikahan mengalun indah dari sebuah sound system. Beberapa orang security sedang berjaga disana untuk mengamankan situasi.
"Rame ya, Dek." Ujar Sora ketika melihat halaman rumah Almeer full tertutup tenda bernuansa biru muda, putih dan pink soft.
"Iya, Kak. Tamunya banyak. Memang Orangtua kak Meera bukan sembarangan. Pasti nanti kalau Kak Sora dan Kak Almeer nikah bakal lebih rame dari ini." Mina tersenyum lembut pada kakaknya.
Sora membalas senyum Mina dan ia memegang tangan Mina, "Makasih ya, Dek. Makasih banyak...." Ucapnya.
Mina mengangguk, "Iya, Kak."
"Ayok turun." Ajak Aga.
Mereka pun segera turun dan masuk ke dalam rumah. Aga dan Mina mengantar Sora lebih dulu ke kamarnya. Dan ternyata disana ada Sky yang sedang berdiri menatap ke luar jendela.
"Ciyeeeee, yang mendalami kesedihan....," Goda Sora.
Sky diam tak menanggapi, Sora menghampiri saudara kembarnya itu. Wajah pria itu cukup tegas dengan sorot mata tajam terus memandang halaman rumah Almeer yang terutup tenda pernikahan.
"Tak sengaja, lewat depan rumahmu....., ku melihat ada tenda biru..." Sora menyanyikan salah satu lagu jadul untuk menggoda Sky, "Udah..., ikhlasin aja...." Sora menyenggol lengan Sky dengan bahunya yang tidak sakit.
"Hiiih!!"
"Sky!!"
Aga mencegah Sky yang hendak menyentuh badan Sora. Sky juga sudah menahan diri ketika melihat ada plester putih di kening Sora.
"Kau kenapa!?"
Sora mundur selangkah ketika tangan Sky akan memegang kedua bahunya. "Jangan sentuh aku sembarangan!" Sora mengingatkan.
Sora duduk di sofa panjang favoritnya, Sky dan Mina ikut duduk bersama Sora. Sedangkan Aga mengambil kursi dari meja rias untuk dibuatnya duduk di depan tiga bersaudara itu.
"Kenapa dia bisa kaya gini sih, Ga?" tanya Sky khawatir.
Aga tak menjawab, ia ingin membiarkan Sora menceritakan semuanya sendiri.
"Aki cerita, tapi janji jangan ada yang bilang papa dan mama." Sora meminta persetujuan dulu. Ia menatap Sky dan Mina bergantian.
"Iya, buruan!"
"Iya, Kak."
"Aku kecelakaan waktu pergi ke Surabaya sendiri." Ujar Sora.
"Hah!! Gila kau, Ra! Ngapain pergi jauh sendirian? Mita sama Aura gak ikut?" Cerca Sky, kemudian menatap Aga, "Kau bersama dia, Ga?"
Aga menggelengkan kepalanya, "Enggak, dia berangkat sendiri." Jawabnya.
"Kau mau apa di Surabaya?" tanya Sky mencoba menahan geramnya.
Sora menatap Mina sejenak kemudian menatap Sky, "Aku mau bantu Almeer penuhin persyaratan dari papa."
"Ya Allah, Ra...,"
"Ya Allah, Kak.... Kenapa sampai senekat ini sih?" Mina meraih tangan kakaknya dan menggenggamnya.
"Kalau papa sampai tahu, makin panjang urusannya, Ra!" Sentak Sky.
"Makanya jangan sampai papa tahu!" Balas Sora.
"Kau lupa siapa papa mu?" tanya Sky.
Sora menghela nafas panjang. Benar juga, sulit untuk menyembunyikan sesuatu dari papanya.
"Diem aja kenapa sih? kau mau usaha almeer selama ini sia-sia?" tanya Sky.
"Ya gimana aku bisa tinggal diam. Udah sebulan aja dia belum mendapatkan setengahnya! Kau di suruh bantu juga gak mau!" Sora balas menyalahkan Sky.
"Udah berapa perusahaan yang udah ku suruh kerjasama dengan dia! Jangan kau pikir aku tidak membantunya. Gini gini aku juga pengen lihat kalian bersatu!"
Sora melebarkan matanya, terperangah dengan jawaban Sky. "Kamu sweet banget, Sky....," Sora tersenyum gemas pada saudara kembarnya itu, jari telunjuknya menekan-nekan pinggang dan perut pria yang masih mengernyitkan keningnya itu.
"Gak usah aneh-aneh! Mau ku patahkan tanganmu?" Ancam Sky sambil melihat tangan Sora.
Sora hanya meringis, menunjukkan giginya kemudian memeluk Sky dengan tangan kirinya. "Makasih ya kakakku..." Ia menarik badannya dan membuat simpul kecil dari ibu jari dn jari telunjuk hingga membuat semacam bentuk Seorang dokter dan dua orang perawat sedang memberikan instruksi sebelum Sora meninggalkan rumah sakit love. "Laf laf sama kamuh!" Ujarnya dengan kerlingan mata.
"Kalau aja gak sakit udah ku banting kau, Ra!" Ucap Sky ketus. Ia menarik nafas panjang, "Semoga aja papa mau menerima alasan dibalik kecelakaanmu ini. Setidaknya karena ini, papa tahu kalau kamu bisa juga kerja keras untuk mendapatkan sesuatu tanpa bantuan dari papa."
"Aamiin, aamiin..." Sora langsung mengaminkan do'a Sky.
"Trus sekarang kondisi keuangan dari usaha kak Almeer gimana, kak?" tanya Mina.
"Kakak belum tahu, Dek. Kakak belum bertemu Almeer setelah kecelakaan ini. Aku gak mau dia tahu kondisiku seperti ini karena udah bantu dia."
"Pasti kak Almeer akan khawatir sekali melihat kakak seperti ini. Tapi bukankah sebaiknya kak Almeer mengetahui hal ini, Kak?" tanya Mina lagi.
__ADS_1
Sora menggeleng, "Dia harus tetap fokus dengan urusan pekerjaannya, Dek."
"Udah-udah, Kau istirahat sana. Ntar malam kita ke resepsi Meera! Ayo Ga, menghibur diri." Sky mengajak Aga berdiri dari duduknya.
"Dek, bantu kakak bungkus kado buat Meera, ya?" pinta Sky pada Mina.
"Iya, Kak." Mina ikut berdiri.
"Jadi kado Meera apa, Sky?" tanya Sora.
"Teko air!" Jawab Sky sambil berjalan keluar kamar.
"Hah! Serius? gak niat banget sih!?" Teriak Sora.
Sky menghentikan langkahnya, "Itu bukan teko murah yang bisa dibeli sembarang orang."
"Ah, iya... Belinya pake air mata kesedihan putra mahkota Actmedia Corporation, ya? Hahahahaha!" Ejek Sora.
Sky tak terima dengan ejekan Sora dan ingin menghampirinya, tapi Aga segera mengalungkan lengannya di leher Sky. "Jangan berani-berani menyakitinya. Sekarang aku ada di pihaknya." Ancam Aga.
"Woah woah woah!" Sky melepas tangan Aga dari lehernya, "Kau menghianati persahabatan yang sudah kita jalin berpuluh-puluh tahun hanya untuk si biji sawi?"
"Kita masih bersahabat sembilan belas tahun, Sky." Aga memperjelas.
Sky menatap malas pria yang sedang menatapnya datar itu, kemudian meninggalkannya. Aga hanya tersenyum kemudian mengikuti Sky.
"Kak, Mina bantu kak Sky dulu, ya?" pamit Mina.
"Iya, Dek." Sora mengangguk sambil menahan tawa usai melihat suadara kembaranya yang terkhianati sahabatnya sendiri.
Mina pun keluar kamar Sora. Dan Sora membalikkan badannya, menatap rumah Almeer mencoba mencari-cari jika mungkin saja ia mendapati pria yang sudah dirindukannya. Namun sepertinya ia harus lebih bersabar dulu untuk bisa melihatnya.
***
Langit kota Jogja sudah gelap, Usai sholat isya'. Sora, Sky, Mina dan Aga pergi menghadiri resepsi pernikahan Ameera. Masih ramai, namun tak sampai membuat halaman itu sesak.
Sora sengaja melepas plester yang menutupi bekas jahitan di keningnya agar tak mencuri perhatian Almeer. Ia memberi make up pada wajahnya untuk menghilangkan wajahnya yang masih pucat.
Bergantian empat orang itu mengisi buku tamu dan meletakkan kadonya disana. Kemudian mereka semua berjalan masuk dan langsung menuju ke barisan antrian panjang para undangan yang akan menyalami mempelai.
"Kuat, Ra?" tanya Aga pada Sora setelah lebih dari sepuluh menit mereka berdiri.
Sora mengangguk. "Kuat lah..., Depan ku nih sepertinya yang gak kuat." Ia menunjuk Sky yang ada didepannya.
Aga terkekeh kecil melihat wajah tegang Sky yang seolah sedang menegarkan diri.
"Meera, Selamat ya. Semoga pernikahan kalian sakinah, mawadah, warahmah." Ujar Sora.
"Aamiin, terimakasih Mbak. Semoga mbak Sora dan mas Al juga segera nyusul." Kata Ameera.
"Ammiin ya Allah...,"
"Itu, Mas Al lagi sama teman-temannya, Mbak. Pasti lama gak ketemu, kan? dari tadi mas Al juga udah cari-cari tuh."
Sora terkekeh kecil, "Tau aja deh, Meera."
"Udah, Ayo... kasian yang belakang tuh." Ajak Sky.
"iya Sky, Iya..." Sora menatap usil, kemudian kembali menatap Ameera. "Aku kesana dulu ya, Meera."
"Iya, Mbak. Maaf itu Abi sama Umminya mas Haqy masih istirahat." Ameera menunjuk dua kursi kosong yang ada disampingnya.
"Iya, Meera."
Sora, Sky, Mina dan Aga melanjutkan langkah mereka menuruni pelaminan.
Sora segera mengedarkan pandangannya, mencari-cari keberadaan Almeer diantara banyaknya tamu undangan.
Deg!
Sora menemukan pria yang mengenakan baju batik dan celana hitam sedang berbincang dengan beberapa temannya. Namun ada yang membuatnya harus menghentikan langkah. Seorang wanita dengan mengenakan atasan satin berwarna gold dan bawahan batik yang serupa dengan baju batik yang dikenakan Almeer.
Kanaya? kenapa kamu harus sampai disini juga? batinnya.
Aga sudah melihat jika Sora tak ingin melanjutkan langkahnya. Raut wajah wanita itu berubah sedih.
"Mbak, kenapa?" tanya Mina.
"Mbak langsung pulang aja, Dek. Kepala mbak agak pusing." Jawab Sora.
"Ya udah kita pulang semua aja." Kata Sky.
"Sky!! Oe, miliader muda!"
Seseorang memanggil nama Sky, membuat langkah Sky, Sora, Mina dan Aga terhenti dan menoleh ke arah sumber suara itu.
"Oe, Bay!" Sahut Sky.
__ADS_1
Itu salah satu temam kuliah Sky yang sedang berbincang dengan Almeer. Semua teman-teman Sky ikut menatap ke arah Sky dan saudaranya, termasuk Almeer.
"Sini dulu, lah." Kata teman-teman Sky.
Sky menatap kedua adiknya dan Aga, "Ke temen-temenku dulu, yuk." Ajak Sky.
Sky dan Mina melangkah lebih dulu, namun Sora masih berdiam diri. Pandangan matanya masih bertemu pada Almeer, senyum Almeer mengembang dan ingin menghampiri Sora. Namun seseorang mengajaknya bicara hingga menunda langkahnya menuju Sora.
"Aku mau pulang saja, Ga." Kata Sora, ia bersama Aga melangkah menjauh dari Almeer.
Disepanjang jalan menuju ke pintu Gerbang, Sora hanya diam tertunduk. Aga sudah mengerti bagaimana perasaan Sora, tapi ia memilih diam tak mau mengorek luka wanita itu.
"Hati-hati, Ra." Ujar Aga ketika melewati pintu gerbang rumah Almeer yang jalannya sedikit menurun. "Pegang lenganku." Aga memberikan lengangannya.
"Gak, usah... Aku bisa sendiri." Kata Sora.
"Permisi permisi!! Maaf buru-buru!!"
BUUG!!
"Arghhh!!"
Seseorang yang sedang berlari dari arah belakang menabrak bahu Sora yang terluka hingga membuat wanita itu menjerit kesakitan. Aga segera menangkap tubuh sora agar tidak sampai terjatuh.
"Hei! Tungg—"
Aga ingin mengejar pria yang sudah menabrak Sora, namun ditahan oleh Sora.
"Ga! Sakit Ga!" Rintihnya, ia mencengkram kuat kemeja Aga, kepalanya tertunduk di dada Aga menahan rasa skit di bahunya.
Aga memeluk Sora berniat untuk memapah Sora masuk ke dalam rumah. Tiba-tiba saja seseorang menarik tangan Aga dari tubuh Sora dengan kasar, dan...
"BUG!!" Sebuah pukulan mendarat di pipi Aga hingga pria itu tersungkur.
"Aga!!" Diantara sakitnya, Sora dibuat terkejut. Ia mencari tahu siapa orang yang sudah membuat Aga jatuh tersungkur.
"Almeer?" pekiknya terperangah, wajah pria itu mengeras dan menatap keji pada Aga.
"Jangan menyentuh Sora seenakmu!" Teriak Almeer, menarik eberapa orang disekitar.
"Al...,"
Nafas Aga memburu, ia mengeratkan giginya kemudian berdiri dan langsung melayangkan tinjunya pada Almeer. Kini giliran Almeer jatuh tersungkur.
"Kalau kau gak mau aku menyentuhnya, seharusnya kau selalu ada untuk melindunginya!! Bukan malah terus menyakitinya dengan terus bersama wanita itu!!" Sentak Aga.
Almeer berdecak kesal, Ia berdiri dan kembali melayangkan tinjunya pada Aga. Namun kali ini Aga lebih sigap. Ia menangkis pukulan Almeer dengan tangan kirinya dan melayangkan tinju di pipi Almeer dan disusul dengan tendangan di perut hingga membuat Almeer kembali jatuh tersungkur.
"Ga! Cukup! Aku tidak akan memaafkanmu jika kah memeperlakukan Almeer lebih dari ini." Teriak Sora.
Dua orang security langsung memegangi Aga, "Sabar, Mas. Sabar! lagi ada hajatan, jangan bikin gaduh."
"Dia harus tau kalau karena dia kamu sampai seperti ini, Ra!" Sentak Aga.
"Ga!" Sekuat tenaga Sora mencegah Aga tidam berkata lebih jauh.
Almeer berusaha berdiri, ia meringis kesakitan dan memegangi perutnya. "Apa maksudmu? kamu kenapa, Ra?" Almeer mendekati Sora, menelisik wanita yang sedang kesakitan itu.
"Kau pikir kenapa dia tak segera pulang ke Malang?"
"Ga! Cukup!" Teriak Sora.
"Itu karena kau, B*ngs*t!" Aga melepas paksa tangan security yang memegangnya dan kembali menendang Almeer dan membuat pria itu kembali terjatuh lagi. "Karena kau dia mengalami kecelakaan!!"
"Ga!!"
Mata Almeer melebar, terperangah mendengar kalimat Aga. Ia berdiri, mengabaikan rasa sakitnya dan mendekatai Sora.
"Ra... Apa yang terjadi padamu?" Wajahnya panik, kedua tangannya mencakup kedua pipi Sora, mengabaikan hal yang seharusnya tak boleh ia lakukan.
Sora meneteskan air matanya, bukan karena rasa sakit dk bahunya, melainkan melihat Almeer yang sedang panik mengkhawatirkan dirinya.
Ia menggelengkan kepalanya, "Jangan khawatirkan aku, Al. Aga hanya membohongimu...," Suara Sora terdengar parau, ia mencoba tersenyum untuk menghilangkan kecemasan Almeer.
-Bersambung-
.
.
.
.
.
Jangan lupa BAYAR AKU dengan tekan LIKE, ketik KOMENTAR, kembali ke halaman sampul buat KASIH BINTANG LIMA dan kalo ada yang punya lebihan poin kasih VOTE novel ini ya.
__ADS_1
Terimakasih sangat laf laf k