ALINEA CINTA

ALINEA CINTA
78


__ADS_3

"Mama bisa tinggalkan Sora," pinta Sora setelah mobil yang mengantarnya berhenti tepat di depan rumah Almeer.


"Kamu tidak akan pulang, Sayang?" tanya Senja.


Sora mengalihkan pandangannya keluar jendela, "Sora ingin minta maaf pada suamiku, Ma ...," ujar Sora. Ia kembali menatap mamanya dan mencium tangannya, "terimakasih sudah mengantar Sora."


Senja mengangguk, "sampaikan salam mama pada suamimu ya, Sayang."


Sora mengulas senyum tipis diantara keresahannya, "assalamu'alaikum, Ma." ujarnya kemudian keluar.


"Wa'alaikumsalam ...,"


Sora menutup pintu mobil setelah mamanya menjawab salamnya, ia pun lekas masuk ke halaman rumah. Motor suaminya ada terparkir di carport, itu artinya suaminya ada di dalam.


"Assalamu'alaikum ...," ucapnya ketika membuka pintu ruang tamu yang tak terkunci.


Sepi, tak ada jawaban dari penghuni rumah atau mungkin karena suara Sora yang terlalu pelan.


Sora mendengar suara seseorang sedang mengaduk sesuatu dari arah dapur. Pelan ia mulai melangkahkan kaki sembari menyiapkan diri untuk bertemu suaminya.


"Assalamu'alaikum, Bie ...,"


Almeer menghentikan aktivitasnya dan lekas mendongakkan kepalanya. Ia terperangah melihat kehadiran Sora, "wa'alaikumsalam ...,"


Keduanya saling menghampiri kemudian saling memeluk melepas rindu. Air mata Sora kembali tumpah, ia senang bisa memeluk tubuh suaminya.


"Aku senang kamu pulang, Sayang ...," ujar Almeer.


Sora mengangguk, ia melepas pelukannya. "Aku membaca artikel di salah satu media, Bie—"


"Maafkan aku sudah membuat nama baik keluargamu dan perusahaan papa menjadi jelek, Sayang."


"Kamu pasti sangat sedih, Bie ...." Sora mencakup pipi suaminya, banyak memar kebiruan di pipi dan sudut bibir pria itu.


"Jangan khawatirkan aku, Sayang." Almeer mengusap pipi istrinya, "Kamu dan anak kita baik-baik saja, kan?" tanya Almeer, tangannya ganti mengusap perut istrinya.


Sora mengangguk, "insyaAllah, Bie ...,"


Almeer merengkuh bahu Sora dan menatapnya dengan senyum lebar, "kamu mau makan apa, Sayang? Mau ku buatkan sesuatu? Atau mau aku pesankan sesuatu?" tanya Almeer antusias, binar kebahagiaan menyelimuti wajahnya. "Atau mau ku belikan bolu kukus srikaya?"


Sora menggeleng, "aku kemari hanya sebentar, Bie."


Seketika senyum diwajah Almeer menghilang, "kenapa?"


Sora menyebikkan bibirnya, tangisnya kembali tumpah ketika ia ingin menyampaikan tujuannya.


"kenapa, Sayang?" Almeer mulai berpikir macam-macam.


Sora segera memeluk suaminya, "maafkan aku, Bie ... maafkan aku ...,"


"Kenapa kamu minta maaf?"


"Maafkan aku belum bisa menjadi istri yang baik untukmu, Bie."


Almeer yang sudah tidak sabar mendengar penjelasan Sora segera melepaskan paksa pelukan istrinya tersebut, "apa yang sedang kamu pikirkan, Sayang?" tanya Almeer, sorot matanya berubah tegas dan dingin.


Sora menunduk, ia melihat kertas yang sedari tadi ia genggam. "Aku belum bisa menerima ini, Bie ...,"


Almeer merebut kertas itu dan mulai membacanya. Matanya cepat menelisik kata demi kata disana. Kepalanya menggeleng beberapa kali hingga ia berada dibagian inti dari surat tersebut.


"Cloe tidak mungkin putriku," elaknya, "Bu Clara pasti salah memberikan rambut Cloe, Sayang!" Almeer merengkuh bahu Sora.


"Maafkan aku, Bie ...," ucap Sora diantara tangisnya.


"Nggak!" Almeer sedikit menaikkan suaranya, "Jangan minta maaf, Sayang! Aku tidak membutuhkan permintamaafanmu. Aku hanya butuh kepercayaanmu." Almeer kembali memeluk Sora. kali ini lebih erat.


"Aku ingin mempercayaimu, Bie ... tapi, aku tidak bisa membohongi diriku sendiri,"


Deg!


Almeer terdiam mendengar jawaban istrinya, ia melepaskan pelukannya dan menatap istrinya dalam-dalam.


"Aku tahu aku bukan orang suci. Aku juga punya masa lalu. Aku pun tak berhak menghakimi kamu atas masalalumu. Tapi ... aku terlalu berat menerima kenyataan ini, Bie ...,"


"Apa kamu benar-benar menganggapku serendah itu?" tanya Almeer.


"Berikan aku waktu untuk menenangkan diri, Bie. Berikan aku waktu untuk menerima keadaan ini ...," pinta Sora.


"Kamu mau meninggalkanku?" tanya Almeer putus asa.


"Aku hanya meminta waktu untuk sendiri, Bie ...,"


"Khadijah tidak pernah meninggalkan Rasulullah dalam keadaan apapun,"

__ADS_1


Sora menatap suaminya, "aku bukan Khadijah, Bie. Aku Kianga Sora! Kamu yang mengatakannya sendiri!" Teriak Sora melepaskan kemarahannya yang sudah dipendamnya.


"Aku Kianga Sora, Bie. Aku wanita akhir zaman, aku tidak sesuci Khadijah, aku tak setangguh beliau ...," ucapnya lirih, "dan kamu bukan Muhammad, Bie. Rasulallah tidak pernah mengecewakan istrinya! Kamu bukan orang semulia itu, Bie ...,"


Ia memejamkan matanya sejenak, kemudian kembali menatap Almeer. Matanya yang sudah berair itu sedang mempertontonkan sebuah kekecewaan yang mendalam.


"Kamu tidak semulia itu, tapi aku sangat memuliakanmu. Aku bahkan terlalu berlebihan menyanjungmu, menganggapmu adalah duniaku dan aku terlalu besar menumpukan harapan-harapanku padamu!"


Sora mencoba mengatur napas sejenak. Ia mengusap air matanya yang sedari tadi mengalir mengiringi luapan perasaannya.


"Tapi kini Allah menyadarkanku, Bie. Berharap pada manusia sama seperti patah hati yang disengaja. Kini aku merasakannya, Bie. Aku tenggelam dalam harapan-harapanku ...,"


Almeer menarik tangan istrinya dan memeluknya, namun kali ini Sora mengelak.


"Aku pergi bukan karena ingin meninggalkanmu, Bie. Tidak semuanya ini kesalahanmu, aku yang lebih banyak bersalah ... Jadi, tolong ijinkan aku menenangkan diri sejenak."


"Kenapa kamu tidak bisa mempercayaiku?" tanya Almeer, sama seperti Sora, sorot matanya juga menunjukkan kekecewaan.


"Aku ingin, Bie—"


"Jika kamu ingin, maka lalukanlah! Berada disampingku, mendampingiku, memberiku keyakinan ketika semua orang menudingku!" Sentak Almeer, ia merengkuh kedua bahu istrinya dan menatapnya tajam. "Aku tidak butuh kepercayaan orang-orang diluar sana, Sayang. Aku hanya butuh kepercayaanmu agar aku bisa kuat melalui semua ini."


Sora menggeleng, ia menepuk beberapa kali dadanya, "hatiku terlalu sakit melihatmu, Bie ...," ucapnya tertahan, tangisnya kembali pecah ketika membayangkan suaminya menyentuh wanita lain.


"Aku memang terlahir hina, Sayang! Tapi aku tidak mungkin melakukan hal hina seperti itu!"


"Lalu apa itu, Bie?!" Teriak Sora, menunjuk selembar kertas yang masih ada ditangan suaminya.


"Aku akan buktikan ini palsu! Aku yakin ada seseorang yang ingin menfitnahku!"


Sora mengangguk, "aku akan menunggunya di rumah orangtuaku, Bie."


Sora pergi meninggalkan Almeer dan pergi ke kamarnya. Tak terlalu lama ia dikamar, ia kembali menuruni anak tangga dengan membawa tas kecilnya.


"Aku mengambil hape dan dompetku, Bie."


"Kamu benar-benar akan meninggalkanku?" tanya Almeer.


"Aku hanya pergi ke rumah orangtuaku sebentar, Bie. Aku hanya berkunjung," Sora mengambil kunci mobil yang tergantung di dinding ruang tengah. "aku akan bawa mobilku, Bie."


Sora menghampiri Almeer dan ingin mencium tangan suaminya itu, tapi Almeer menghindarinya.


"Kamu tahu kan hukum seorang istri yang meninggalkan rumah tanpa ijin suaminya?" tanya Almeer.


Sora mengangguk dan menatap suaminya, "maafkan aku belum menjadi istri yang baik untukmu, Bie," ujarnya kemudian pergi meninggalkan Almeer.


Panggilan Almeer tak menghentikan langkah Sora. Wanita itu terus melangkah keluar rumah membawa setumpuk luka dan rasa kecewanya.


***


Sementara itu dibagian lain, Langit sedang membuat perhitungan dengan wanita yang sudah sengaja mengusik rumah tangga putrinya dan keluarganya.


"Pantas saja pergerakanmu cukup halus, ternyata kau menggoda anjing peliharaanku!"


"Maafkan saya, Tuan!" Tommy lekas berlutut memohon ampun dari tuannya.


Langit hanya mendengus kesal dan melirik malas, "harusnya aku membunuhmu waktu itu ...," ucap Langit pada Clara.


"Aku setuju denganmu, seharusnya kamu memang membunuhku!" sahut Clara.


Langit berjalan pelan mendekati Clara, matanya memicing dan mengintimidasi wanita didepannya itu. Ia mencengkram keras dagu Clara dan mendongakkannya kasar.


"Aku tidak akan berlama-lama masuk dalam rencanamu!"


"Harusnya kamu berterimakasih padaku karena sudah menunjukkan siapa menantumu sesungguhnya." Clara menarik sudut bibirnya. "Kamu bisa tahu kan keaslian tes itu? Bukankah putramu sendiri yang mengkonfirmasinya?"


"Belum ... aku belum bisa meyakini itu!" Langit mengernyit, "aku memang kalah selangkah darimu, tapi aku tetap akan mematahkan semua rencanamu!"


"Aku tahu ... memang sangat sulit bisa mengecohmu, tapi aku cukup puas sudah berhasil mengecoh putri kesayanganmu ...," ujar Clara ditutup sebuah senyum kemenangan.


Langit yang geram lekas mencekik leher Clara dan mendorongnya kasar membentur pilar rumah.


"Aargh!" Pekik Clara kesakitan, sebuah derah segar terlihat mengalir di dinding pilar.


"Jika kalian beruntung, kalian akan tersiksa seumur hidup di penjara."


"Kamu tidak akan bisa melakukannya, bukti—"


"Kau pikir aku tidak tahu siapa anak kecil yang menabrak Sora di jalan tol itu?!" Langit semakin murka mengingat apa yang menimpa putrinya. "Kau menyembunyikannya cukup baik hingga aku kesulitan menemukannya. Bersabarlah sedikit lagi, aku akan membeberkan kebusukan kalian!"


Clara masih bisa menyeringai meskipun wajahnya sudah merah padam hampir kehabisan napas, "kamu tetap akan kalah, Kak! Kamu pikir aku akan membiarkan keluargamu hidup bahagia setelah apa yang kau lakukan padaku?"


"Tutup mulutmu atau ku bunuh kau sekarang juga!"

__ADS_1


Trrt trrrt trrrt ....


Langit merasakan ponsel di saku celananya bergetar, ia menarik Clara dan mendorongnya jatuh ke lantai sebelum kemudian menerima panggilan teleponnya.


"Assalamu'alaikum, Pak Hiko? Bagaimana?" tanya Langit ketika sambungan teleponnya sudah terhubung.


"Wa'alaikumsalam, Pak Langit. Saya dan polisi sedang perjalanan menuju ke tempat anda, Pak." Jawab Hiko


Langit menatap Tommy, ia mendorong tubuh pria yang masih berlutut itu dengan kakinya hingga terbaring kemudian Langit menginjak bagian leher Tommy hingga pria itu gelagapan, kesakitan serta sulit bernapas.


"Baik, Pak Hiko. Saya akan menunggu kedatangan anda dan polisi untuk membawa sampah-sampah ini." Langit menyeringai.


Ia teringat kejadian beberapa jam yang lalu ketika Hiko mendatangi Langit di rumah dengan keadaan marah.


"Saya tidak menyangka jika anda bisa melakukan hal ini pada putra saya!" Hiko melempar ponselnya diatas meja, sebuah artikel dari media online tampil dilayar ponsel itu.


Langit melirik sekilas dan membaca judul artikel itu.


"Anda sengaja ingin membuat citra keluarga besar saya buruk, Pak Langit?" Hiko mencoba menahan ucapannya.


"Anda mengira saya yang menyebarkan artikel itu?" tanya Langit dengan keangkuhannya.


Hiko mendengus kesal, "awalnya saya ingin membicarakan permasalahan putra putri kita dengan cara baik-baik. Tapi, setelah saya mendapati kenyataan seperti ini. Saya tidak bisa terima anda menginjak harga diri putra saya dan keluarga besar istri saya."


"Tunggu tunggu tunggu! Kenapa anda bisa mengira saya melakukan ini?"


Hiko mengambil kembali ponselnya dan berdiri, "sebaiknya anda menggunakan harta anda di jalan yang benar, Pak. Bukan malah memberikan suap pada wartawan untuk menjatuhkan nama baik orang lain."


"Anda menuduh saya menyuap wartawan?" tanya Langit, "bukankah anda bisa baca sendiri artikel-artikel itu. Saya pun merasa dirugikan dengan pemberitaan itu."


"Lebih besar kerugian yang didapat keluarga besar kami!" sergah Hiko, "anda membuat citra yayasan kami menjadi buruk!"


"Kenapa anda menyalahkan saya atas masa lalu anda? Lagipula, artikel itu juga tidak semuanya salah, kan?" Langit ikut meradang dan memancing emosi Hiko.


Hiko yang terpancing emosinya hendak mencengkram kerah baju Langit, namun ia urungkan ketika melihat Senja mendekatinya.


"Pak Hiko, tolong jangan emosi." Senja mencoba menenangkan Hiko, kemudian ia menatap suaminya, "jangan memperkeruh masalah, Mas!"


"Dia sudah berbuat salah tapi menuduh kita melakukan suap atas pemberitaan itu!" Langit membela diri.


Senja menatap Hiko, "apa anda mempunyai bukti atas tuduhan anda pada keluarga kami, Pak?" tanya Senja.


"Mantan asisten saya mempunyai banyak kenalan wartawan, sebagian besar dari mereka mendapat imbalan yang tak sedikit dari rekening pribadi suami anda."


Langit dan Senja terelalak, mereka saling menatap heran.


"Ada orang yang ingin menjebakku, Sayang!" ujar Langit pada istrinya.


Senja menggeleng, "orang ini berusaha mengadu domba keluarga kita dan keluarga pak Hiko, Mas."


Hiko mengernyit, mencoba memahami percakapan Langit dan Senja.


Langit diam dan berpikir, ia sudah mengantongi dua nama orang yang kemungkinan besar bisa melakukan jebakan murahan itu.


"Saya akan memembuat laporan pada polisi, bisakah anda ikut bersama pengacara saya. Karena ada sesuatu yang harus saya urus."


Hiko masih ragu dengan permintaan Langit.


"Ada orang yang ingin berbuat buruk pada keluarga kita, Pak Hiko." Langit meyakinkan besannya itu.


"Pak Langit!"


Suara seseorang membuat Langit meninggalkan ingatannya. Ia melihat Hiko datang bersama beberapa polisi dan pengawalnya.


Langit menarik kakinya dari leher Tommy, "Kau beruntung aku tidak membunuhmu disini!" ujar Langit.


"Saudara Tommy dan Saudari Clara, saya harap anda berdua bisa ikut kami ke kantor polisi untuk menjadi saksi atas tindak kriminal atas perbuatan anda," ujar seorang polisi.


Langi menatap Clara, "ikutlah mereka. Tidak lebih dari dua puluh empat jam akan kupastikan status kalian berubah menjadi tahanan. Permainan recehmu sudah berakhir disini! Kau tidak terlalu pandai membuat strategi untuk mengadu domba keluargaku."


"Aku tidak tertarik dengan kalian, tujuanku utamaku sudah berhasil ... Tuan Langit," ujar Clara, ia tersenyum bahagia sambil berdiri, "aku tidak peduli seberapa hancur diriku, yang jelas aku bahagia tujuanku selama ini terwujud."


-Bersambung-


.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa, Jangan lupa, Jangan lupa BAYAR AKU dengan tekan LIKE, ketik KOMENTAR, kembali ke halaman sampul buat KASIH BINTANG LIMA dan kalo ada yang punya lebihan poin kasih VOTE novel ini ya. SHARE novel ini di sosmed kalian juga sangat diperbolehkan.


Terimakasih laflafkuh!


__ADS_2