ALINEA CINTA

ALINEA CINTA
69


__ADS_3

Sora sedang melipat mukenahnya usai melaksanakan sholat isya'nya. Wajahnya masih terlihat resah menunggu kedatangan suaminya sejak sholat ashar tadi pergi ke masjid dan belum kembali.


Ia pergi ke jendela kamarnya, bersandar pada dinding dan memandangi jalanan berharap suaminya lekas pulang. Tak lama dari ia berdiri, sosok yang ditunggunya mulai terlihat berjalan masuk ke dalam halaman rumahnya.


Sora berlari kecil keluar kamar dan menuruni anak tangga untuk menemui suaminya.


"Assalamu'alaikum," terdengar suara Almeer diiringi suara pintu ruang tamu yang terbuka.


"Wa'alaikumsalam," Sora lekas menghampiri suaminya, wajahnya masih terlihat resah dengan mata sembab. Ia meraih tangan suaminya dan menciumnya.


"Bie ..., aku—"


"Udah makan malam?" tanya Almeer memangkas kalimat Sora. Tak ada senyum yang biasanya selalu terulas diwajahnya.


Sora sedikit kecewa dengan ekspresi suaminya, tapi ia tak punya hak untuk mempermasalahkannya.


Sora menggeleng, "belum, Bie ...," jawab Sora.


"Makan dulu, yuk!" ajak Almeer, ia jalan terlebih dahulu menuju ke meja makan.


Sora memandangi suaminya dari belakang. Ia merasa lebih baik Almeer memakinya dan memarahinya dibandingkan mendapat perlakuan seperti itu, sangat menyakitkan.


Mereka duduk berhadapan di kursi meja makan, seperti biasa Sora mengambilkan nasi dan lauk pauk terlebih dahulu untuk Almeer.


"Terimakasih, Sayang ...," ucap Almeer ketika Sora memberikan piring yang sudah terisi nasi dan lauk pauk didepan Almeer.


Sora mengangguk dan tersenyum, ia pun segera mengambil nasi dan lauk pauk untuknya sendiri dan keduanya pun mulai makan bersama.


Sora yang biasanya selalu bersemangat untuk menikmati makanannya, kini hanya mengaduk-aduknya tak berselera. Ia lebih memilih mencuri pandang pada suaminya yang sedari tadi tertunduk menikmati makanannya.


"Anak kita tidak akan kenyang jika kamu hanya memandangiku, Sayang," ujar Almeer, ia mendongakkan kepalanya memandang Sora.


"Aku tak berselera makan, Bie. Aku terusik dengan sikapmu yang berbeda," jawab Sora.


Almeer mengangguk, "aku sedang berusaha untuk bersikap seperti biasanya padamu."


"Maafkan aku sudah membuatmu marah, Bie." Air mata mulai menggenangi mata Sora, ia menggigit bibir bawahnya yang mulai bergetar menahan gemuruh didadanya.


"Tidak sepenuhnya salahmu, aku juga bersalah. Apa yang kamu katakan tentangku memang benar ...," ujar Almeer, "tapi maafkan aku, aku tidak bisa membohongi diriku sendiri. Aku masih kecewa karena kamu membandingkanku dengan pria lain,"


"Maafkan aku, Bie ... maafkan aku," ucap Sora, suaranya tercekat.


Almeer mengangguk dan tersenyum kecil, "kamu harus makan, Sayang. Kasihan anak kita," bujuk Almeer.


Sora meraih gelas yang berisi air putih itu kemudian meneguknya untuk menenangkan diri dan lanjut melahap nasi yang ada dipiringnya.


Tak ada percakapan lagi diantara keduanya. Almeer yang telah selesai lebih dulu tetap menunggu Sora hingga selesai makan.


"Aku bikinkan susu sekarang, ya?" tanya Almeer ketika melihat Sora sudah menyelesaikan makan malamnya, "aku mau mandi dan mau tidur lebih awal malam ini," imbuhnya.


"Kamu bisa keatas lebih dulu, Bie. Aku akan bikin sendiri nanti," jawab Sora.


"Biar aku saja, Bie ..., kamu bisa pergi ke kamar," cegah sora ketika Almeer akan membereskan piring meja makan.


Almeer hanya menumpuk piring dan gelas bekas mereka kemudian menghampiri Sora yang baru berdiri.


"Aku ke kamar dulu, ya." Almeer memberikan kecupan di kening Sora.


Sora menarik ujung kaos belakang Almeer ketika pria itu hendak pergi. Ia lekas memeluk punggung suaminya, melingkarkan lengannya di perut suaminya cukup erat.


"Aku harus bagaimana untuk membuatmu lebih baik?" tanya Sora, "lebih baik kamu memarahiku dibandingkan kamu bersikap dingin seperti ini padaku, Bie."


Almeer melepaskan tangan Sora dari perutnya kemudian ia membalikkan badan menatap istrinya.


"Rasanya sakit sekali melihat kamu seperti ini, Bie ...," keluh Sora dengan air matanya yang sudah menetes.


"Beri, aku waktu sebentar ya, Sayang. Aku juga butuh waktu untuk menyembuhkan hatiku," pinta Almeer. Ia menghapus air mata istrinya dan memeluknya.


"Maafkan aku, Bie. Maafkan aku ...." Sora memeluk erat suaminya.


Almeer hanya menganggukkan kepalanya kemudian melepaskan pelukannya. "Aku pergi keatas dulu ya, Sayang."


Meskipun berat, Sora menganggukkan kepalanya. Menatapi punggung Almeer yang menjauh pergi menapaki anak tangga dan menghilang di lantai dua.


***


Sora masih duduk di kursi meja makan ditemani segelas susu ibu hamil yang sudah mulai dingin karena dibuat beberapa waktu lalu. Suara air dari kolam ikan menjadi musik pengiring kesepiannya. Ia masih enggan untuk pergi ke kamarnya, ia merasa tak pantas untuk tidur disamping suaminya setelah melukai perasaan suaminya.


"Mbak Sora kok belum tidur?"


Sora sedikit terkejut mendapati Siti yang menghampirinya, "iya, Bu Siti. Belum ngantuk," jawab Sora.


"Susunya belum diminum, Mbak? Mau saya bikinkan yang baru?" tanya Siti.


"Gak usah, Bu Siti. Terimakasih," ucap Sora.


"Saya kembali ke kamar dulu ya, Mbak," pamit Siti.


"Emmb, Bu Siti!" panggil Sora.

__ADS_1


"Ya, Mbak?" tanya Siti.


"Boleh saya minta pendapat?" tanya Sora.


Siti mengangguk, ia kemudian duduk di kursi meja makan berhadapan dengan Sora. "Silahkan, Mbak."


"Jika suami Bu Siti marah, apa beliau akan mendiamkan Bu Siti?" tanya Sora.


"Iya, kebanyakan laki-laki memang seperti itu, Mbak. Lebih memilih diam daripada harus adu mulut dengan istrinya," jawab Siti.


"Biasanya berapa lama, Bu Siti?"


"Dalam agama kita, tidak boleh marah lebih dari tiga hari, Mbak. Ya patokan seorang yang mengerti agama seperti itu, Mbak."


Sora mengangguk, "saya merasa belum sepenuhnya mengenal suami saya, Bu. Apa yang saya kira baik untuknya ternyata bukan yang dia inginkan. Begitupun sebaliknya, apa yang dia lakukan untuk membuat saya bahagia tapi itu bukan yang saya harapkan."


"Komunikasi dalam rumah tangga itu penting, Mbak. Wajar, awal-awal pernikahan banyak kesalahpahaman. Semua orang yang menjalani rumah tangga pasti melewati fase seperti Mbak Sora dan mas Almeer. Setahun pertama pasti banyak perselisihan, karena masa-masa ini sifat asli pasangan mulai terbuka dan semuanya akan saling mengenal satu sama lain."


"Saya merasa suami saya terlalu egois hari ini, Bu Siti. Ada perasaan tidak rela ketika dia menolak pemberian papa saya,"


"Jangankan dari papa mertuanya, Mbak. Dari papanya sendiri saja di tolak," bisik Siti, "Mas Al memang terkenal tegas dengan prinsipnya, Mbak. Intinya, dia mau hidup diatas kakiknya sendiri. Sudah dari kecil Mas Al punya prinsip itu. Semua yang kenal mas Al dari kecil tahu itu,"


Sora menghela napas pelan. "Gitu ya, Bu Siti?"


Siti menganggukkan kepalanya.


"Makasih ya, Bu Siti. Sudah mau dengerin curhatan saya,"


"Inggih, Mbak. Sama-sama," ujar Siti, "kalau gitu saya kembali ke kamar dulu ya, Mbak."


"Iya, Bu Siti."


Siti pun beranjak pergi dan Sora mulai meneguk susu digelasnya. Dia sedang memikirkan bagaimana ia harus mengambil sikap. Dia tak mau hubungan antara suami dan papanya menjadi buruk karena sikap keras kepala mereka berdua.


Sora hanya menghela napas, pasrah dengan ujian yang dihadirkan Allah untuk keluarganya. Ia berdiri dan mencuci gelas bekas susu yang diminumnya kemudian lekas pergi ke kamarnya.


Lampu utama kamar sudah padam, terganti dengan remang lampu tidur diatas headboard tempat tidur. Almeer sudah terlelap dibalik selimut. Sora melepas kerudungnya dan segera naik keatas tempat tidur, mengambil posisi miring hingga berhadapan dengan suaminya.


Lampu tidur yang remang tak lantas membuat matanya menjadi sayu, matanya masih cukup terang untuk mengamati tiap detail wajah suaminya.


Jemarinya mulai tertarik untuk untuk membelai pelan rambut suaminya. Perlahan ia ganti menyentuh alis tebal yang melekat sempurna dikulit yang bersih itu. Kelopak matanya tertutup rapat, membuat bulu matanya terlihat lentik meskipun tak panjang. Kini Sora memilih menempelkan telapak tangannya di atas pipi suaminya. Kulit wajah Almeer sangat bersih dan lembut meskipun tak pernah memakai perawatan wajah sepertiya.


"Maaf jika kehadiranku menyusahkanmu, Bie ...," bisiknya sangat pelan, ia memejamkan mata dan membuat air matanya meleleh keluar dari sudut matanya.


Sora merasa sebuah pergerakan lembut dan berakhir dengan sebuah genggaman pada telapak tangannya yang berada diatas pipi suaminya. Ia lekas membuka matanya.


Mata yang sedari tadi terpejam itu sudah terbuka dan sedang menatapnya dengan lembut dan teduh. Sorot mata yang sangat ia rindukan itu telah ia temukan kembali. Air matanya kembali mengalir lebih deras ketika pria di depannya itu mengecup mesra telapak tangannya.


"Apa aku membuatmu sedih terlalu lama?"


Suara lembut Almeer membuat bibir Sora mengembangkan senyum, wanita itu mengangguk cepat beberapa kali.


Almeer menyelipkan lengannya dibawah kepala Sora dan menarik istrinya itu lebih mendekat padanya, "kamu mau memaafkanku?"


Sora kembali menganggukkan kepalanya, ia tak bisa menjawab dan hanya menangis bahagia dalam dekapan suaminya.


"Maafkan aku yang sudah mengabaikanmu ... Kianga Sora, istriku ...." Sebuah kecupan mendarat di kening Sora, "terimakasih sudah membuatku sadar jika aku memang belum menjadi suami yang baik untukmu," lanjutnya.


Sora kembali mengangguk, ia mendongakkan kepalanya menatap Almeer, "maafkan aku karena terlalu banyak yang ku mau darimu, Bie."


Almeer mengangguk, "benar kata papa, aku tidak mempunyai banyak waktu untuk kamu. Seharusnya kita meluangkan banyak waktu untuk saling mengenal satu sama lain, tapi aku membuang waktu itu begitu saja. Kita hanya berusaha menjadi pasangan sempurna tanpa tahu apa yang masing-masing dari kita harapkan," tutur Almeer.


"Apa kedepannya kamu akan meluangkan banyak waktumu untukku, Bie?" tanya Sora.


"Iya, aku tidak mau terus mengulangi kesalahan yang sama, Sayang. Pernikahan adalah ibadah terpanjang yang harus kita lakukan berdua, kita harus terus belajar dan terus memperbaiki ibadah kita. Karena itu aku tidak mau salah satu dari kita merasa terbebani dalam menjalani ibadah panjang kita."


"Apa itu artinya kamu juga akan menerima bantuan papa, Bie?" tanya Sora.


Almeer mengalihkan pandanganya ke arah lain, menatap kosong dinding kamar mereka. "Aku belum tahu, Sayang."


"Kamu marah karena papa tak memberitahumu terlebih dahulu?" tanya Sora.


Almeer menggeleng, "bukan, Sayang."


"Lalu?"


"Aku hanya tidak nyaman ketika papa terlalu ikut campur dalam rumah tangga kita."


"Papa hanya ingin membantu kita, Bie ...,"


"Papa tidak mempercayaiku, Sayang," sergah Almeer, ia memandang istrinya, "papa ragu jika aku tidak bisa mengimbangi dan membahagiakanmu,"


Sora mencakup satu sisi pipi Almeer dan mengusapnya lembut, "kalian dua pria yang sangat aku cintai ..., aku tak ingin melihat kalian berselisih paham seperti ini,"


Almeer hanya tersenyum kecil dan kembali mendekap istrinya. "Sudah terlalu larut kita membicarakan hal ini. Kamu harus istirahat, Sayang."


"Bie ...,"


"Aku akan mengurusnya, kamu tidak perlu khawatir, Sayang."

__ADS_1


Sora menyerah dan mempercayakan semuanya pada suaminya.


***


Pagi ini Almeer menyuruh Sora untuk beristirahat di rumah saja karena seharian kemarin Sora sudah dibuat lelah secara fisik dan psikis. Sedangkan Almeer berangkat ke kantor lebih pagi.


Bukan-bukan, tujuan pertama Almeer pagi ini bukanlah kantornya, melainkan rumah Bimo. Rumah dimana mertuanya menginap selama berada di Malang.


"Di minum dulu tehnya, Al," ujar Senja setelah meletakkan secangkir teh hangat di atas meja ruang tamu.


"Terimakasih, Ma," ucap Almeer.


"Aku masuk ke dapur dulu ya, Mas." Senja menyentuh bahu suaminya kemudian pergi ke dapur.


Langit tak menjawab istrinya, ia hanya menatap dingin menantunya yang tiba-tiba saja ingin bertemu dengannya sepagi ini.


"Saya datang untuk meminta maaf ke Papa karena ketidaksopanan saya kemarin," ujar Almeer membuka percakapan, "Maafkan sikap saya, Pa." lanjutnya.


"Mudah sekali kamu meminta maaf," Langit tersenyum masam.


"Saya mengakui apa yang papa katakan tak semuanya salah, saya memang terlalu fokus pada pekerjaan dan memberikan sedikit waktu pada istri saya,"


"Sekarang kamu menyesalinya?"


Almeer mengangguk, "saya sangat menyesalinya. Saya beruntung Allah menyadarkan saya dengan cepat."


"Baguslah! Jadi ..., kamu mau menerima—"


"Maaf, Pa. Untuk masalah itu, keputusan saya masih sama seperti semula."


Langit menegakkan tubuhnya, matanya melebar bersiap mencecar menantunya.


"Maaf, Pa. Ijinkan saya menyampaikan sesuatu terlebih dahulu," pinta Almeer sebelum Langit memakinya


Langit menahan lidahnya dan membiarkan Almeer bicara.


"Bukannya saya merasa lebih pandai atau hebat dari siapapun, Pa. Saya pun tidak pernah mempunyai niat menyinggung perasaan siapapun. Saya ingin kembali meminta restu Papa. Ijnkan saya membahagiakan putri Papa dengan cara saya sendiri. Tolong berikan kepercayaan Papa pada saya," pinta Almeer.


Langit masih diam menatap dingin menantunya.


"Saya tahu niat baik yang Papa berikan untuk kepentingan rumah tangga saya, tapi saya sangat berharap Papa bisa menghargai keberadaan saya sebagai imam di rumah tangga saya. Bukan maksud saya menolak semua bantuan dari orang lain, saya sadar diri kalau saya juga manusia biasa yang masih membutuhkan bantuan orang lain. Tapi untuk kali ini, bisakah Papa melihat kemampuan saya terlebih dulu untuk mengatasi apapun yang terjadi dalam rumah tangga saya?"


Almeer menarik napas sejenak.


"Saya tahu jika ada orang suruhan Papa yang selalu mengawasi kami dan saya tidak menyukai itu. Papa mungkin sudah tergantung pandanya dalam menyelesaikan apapun. Tapi, saya harap dia juga tidak ikut campur dalam urusan rumah tangga kami, Pa."


Langit kembali menyandarkan tubuhnya di sofa, ia memicingkan matanya menatap Almeer. "Aku merasa dia lebih cepat tanggap melindungi Sora dibandingkan denganmu,"


"Saya juga akan berusaha lebih baik untuk melindungi istri saya, Pa."


"Jujur, memang aku ragu denganmu. Aku tidak bisa sepenuhnya mempercayakan putriku padamu,"


"Dia lebih lama mengenal Sora dibandingkan dengan saya yang masih belum genap setahun mengenal Sora."


"Ya, memang itu benar ...." Langit mengangkat alisnya sejenak mengamati rona wajah menantunya yang sedang menatapnya tanpa ragu.


"Tolong ijinkan saya berjuang dengan kemampuan saya sendiri untuk melindungi dan membahagiakan Sora."


Langit mencondongkan badannya ke depan. "bagaiamana jika kamu tidak bisa melakukannya?" tanya Langit.


"Saya yakin bisa melakukannya," jawab Almeer.


"Aku akan mengambil dia kembali jika—"


"Saya tidak akan membiarkan itu terjadi, Pa!" pangkas Almeer, "pernikahan bukanlah janji yang saya buat antar sesama manusia saja, tapi saya melibatkan Allah di dalamnya. Sesulit apapun itu, saya akan berusaha mempertahankan rumah tangga kami. Itu adalah janji saya ..., janji tertinggi saya pada Allah, Pa."


Langit berdecak dan menahan tawa kesalnya, "sepertinya itu akan jadi hal yang sulit untukmu."


"InsyaAllah, kesulitan akan tunduk pada siapapun yang tak berhenti berjuang, Pa."


Langit cukup lama tak memberikan jawaban dan hanya terus memandang Almeer.


"Pa, saya mohon ..., berikan saya kepercayaan dan akan saya buktikan jika saya layak menjadi imam dari Kianga Sora," desak Almeer lagi.


Langit menarik napas panjang, ia menegakkan badannya dan berdecak kesal, "Baiklah, kali ini aku turuti kemauanmu!"


"Alhamdullillah ...,"


-Bersambung-


.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa BAYAR AKU dengan tekan LIKE, ketik KOMENTAR, kembali ke halaman sampul buat KASIH BINTANG LIMA dan kalo ada yang punya lebihan poin kasih VOTE novel ini ya. SHARE novel ini di sosmed kalian juga sangat diperbolehkan.


Terimakasih laflafkuh!


__ADS_2