ALINEA CINTA

ALINEA CINTA
44


__ADS_3

"Minggir!!" Aga mendorong tubuh Almeer menjauh dari Sora.


"Ga!!" Sentak Sora tak terima atas perlakuan Aga pada Almeer.


"Kita ke rumah sakit sekarang." Ajak Aga.


Sora menggeleng, "Enggak!"


"Ra!"


Sora menatap ke sekitar, melihat beberapa tamu undangan di luar yang masih memperhatikan ke arah mereka. Ia ganti menatap security agar membubarkan mereka.


"Monggo, Pak, Bu... Bisa langsung masuk ke dalam. Mohon maaf atas ketidaknyamanannya." Ujar Security.


"Mas, tolong jangan bikin keributan lagi, ya." Pinta security yang lainnya pada Aga dan Almeer, namun tak ada satu dari mereka yang merespon.


"Kita harus ke rumah sakit, Ra."


Tangan Aga tergerak ingin mengusap bulir-bulir keringat dingin yang ada di kening Sora, namun tangan Almeer lekas mencekramnya, mencegah agar tangan Aga tak sampai menyentuh Sora.


Kedua pria itu saling menatap tajam. Aga menepis kasar tangan Aga dari pergelangan tangannya.


"Aku sudah memperingatkanmu untuk tidak menyentuhnya...," Ujar Almeer.


"Hei! Kalian ngapain disini?" tanya Sky polos, ia tak mengerti apa yang barusan terjadi. "Loh loh! Kalian habis berantem!?" tanya Sky ketika melihat ada darah di sudut bibir Aga dan Almeer.


"Kak Sora kenapa, Kak?" Mina mendekati Sora yang sudah terlihat pucat dan merintih kesakitan.


"Ra!!" Sky lebih terkejut, Ia menatap Aga mencari penjelasan.


"Bahunya yang memar kena tabrak orang tadi." Jawab Aga.


"Udah kita ke rumah sakit aja!" Ajak Sky.


Sora menggeleng cepat, "Bantu aku ke kamar aja Sky..." Pinta Sora.


Sky langsung menggendong Sora dan membawa Sora masuk ke dalam rumah.


***


Mina memanggil dokter yang biasa menanganinya jika ia sedang sakit untuk membantu memeriksan keadaan Sora. Di dalam kamar Sora hanya ada Sky, Mina dan dokter. Sedangkan Aga dan Almeer menunggu di ruang santai yang ada di depan kamar Sora.


Aga duduk di sofa, sedangkan Almeer berdiri menyandarkan tubuhnya di dinding, tepat disamping pintu kamar Sora. Kedua pria itu sama-sama diam dalam kekhawatiran mereka masing-masing.


Ceklek!


Pintu kamar Sora terbuka, Sky keluar dari kamar Sora dan menutup kembali pintu tersebut.


"Gimana keadaan Sora, Sky?" tanya Almeer.


Sky mengajak Almeer untuk duduk di sofa yang ada di ruang santai bersama Aga.


"Aku menyesal membawa Sora kemari!" Ujar Aga, ia melirik tajam pada Almeer.


"Ga...," Sky mencoba untuk menahan emosi Aga.


"Ceritakan padaku apa yang terjadi dengan Sora." Pinta Almeer.


Sky menatap Aga, meminta pria itu untuk menjelaskan semua yang Sora lakukan untuk Almeer.


Aga menarik napas panjang, kedua tangannya saling bertautan, sikunya menopang diatas paha. Ia menatap Almeer yang duduk didepannya.


"Kau tahu jika Sora sekarang sedang kehilangan rasa percaya dirinya?" tanya Aga, Almeer hanya mengernyitkan keningnya.


"Kedekatanmu dengan wanita bernama Kanaya itu membuatnya cemburu, tapi dia merasa tak pantas untuk cemburu."


"Astaghfirullah...," Almeer seketika sangat merasa bersalah, ia mengusap wajahnya yang frustasi. Dugaannya selama ini benar, dan dia terlalu percaya dengan jawaban Sora. "Kenapa dia harus berbohong mengenai apa yang dia rasakan."


"Karena di mata Sora, Kanaya seorang wanita yang begitu sempurna. Dia merasa jika Kanaya memang lebih cocok bersanding denganmu. Dia tak punya keberanian untuk memberitahu apa yang sedang ia rasakan padamu."


Almeer menggaruk kasar rambutnya untuk melampiaskan kekesalannya pada diri sendiri. Ia membungkuk, menopang sikunya diatas paha, kedua tangannya menyingkap rambutnya kearah belakang. Bibirnya menipis, pikirannya kalut membayangkan betapa terlukanya perasaan Sora selama ini.


"Kau juga pasti sudah bertanya-tanya bagaimana bisa banyak perusahaan yang ingin bekerjasama denganmu, kan?"


Almeer mengangkat kepalanya dan menatap Aga, ia ingin mendapatkan jawaban darimana pria itu bisa tahu mengenai keadaan kantornya.

__ADS_1


"Sora yang melakukannya." Ujar Aga. "Wanita yang terlihat bodoh itu sedang berusaha membantumu dengan caranya sendiri, ia ingin terlihat berguna dimatamu. Dan...," Aga menarik napas panjang terlebih dahulu kemudian memandang Almeer,


"Dia pergi ke Surabaya, sendirian. Di tengah jalan mobilnya tertabrak. Keningnya robek, satu bahunya cidera tapi dia tetap melanjutkan perjalanannya. Bahkan dia masih terus pergi mempresentasikan perusahaanmu, berdiri dua jam menahan sakit di tubuhnya, cuma buatmu! Tapi, ternyata kau hanya bisa menyakitinya. Bahkan disaat-saat dia sangat ingin melepas rindunya, kau malah memberinya luka lagi." Tuding Aga dengan nada tinggi.


Di dalam kamar, wanita yang bahunya sedang di balut oleh dokter itu terus menangis terisak. Bukan karena sakit pada bahunya, melainkan karena kini Almeer sudah mengetahui apa yang ia rasakan dan apa yang ia lakukan untuk pria yang sangat di cintainya.


Mina yang melihat kakaknya itu tahu jelas jika kakaknya memang tidak menangisi bahunya yang terluka. Ia membantu mengusap air mata kakaknya dengan tisu dan terus menggenggam tangan kakaknya.


"Udah selesai." Ujar dokter wanita yang menangani Sora.


Mina membantu kakaknya menutup kembali baju yang di kenakan Sora.


"Kamu sebaiknya menghidari keramaian dulu ya sampai bengkaknya hilang. Setelah bengkaknya hilang coba digerakin dikit-dikit, biar lekas kembali seperti semula." Pesan dokter.


"Iya dokter...,"


Dokter merapikan peralatan dan perlengkapannya. "Saya pamit dulu ya."


"Baik, Terimakasih dokter." Ujar Sora dan Mina.


"Kak, aku nganter dokter Nuri ke bawah dulu ya." Kata Mina.


"Iya, Dek." Jawab Sora.


Mina dan dokter Nuri pun keluar ruangan, kemudian berganti seseorang memasuki kamarnya. Bukan Sky atau Aga, tetapi seorang Sagara Almeer.


Almeer mengambil kursi meja rias milik Sora dan meletakkannya disamping tempat tidur Sora. Ia duduk, dan terus menatap Sora. Mulutnya masih terlalu kaku untuk berucap.


Air mata Sora kembali menetes ketika melihat wajah Almeer yang kacau dan diselimuti penyesalan. Ia tak mau melihat Almeer seperti ini.


"Kenapa kamu haru berbohong padaku, Ra?" tanya Almeer. "Menganai Kanaya dan juga kantorku."


Sora menggeleng, "Maafkan aku, Al." Ucapnya lirih diantara tangisnya.


"Tidak, Ra. Aku yang harusnya minta maaf padamu. Aku pria bodoh yang sudah membuatmu terluka. Baik hatimu dan juga tubuhmu. Maafkan aku, Ra." Ujarnya penuh penyesalan.


Sora mengangguk beberapa kali, "Kamu jahat, Al." Keluhnya.


"Ya, katakan semua yang kamu pendam selama ini padaku. Jadilah Kianga Sora yang ku kenal, bukan Kianga Sora yang sedang berpura-pura menjadi orang lain."


Sora masih terisak dan Almeer masih sabar menunggu wanita didepannya itu mulai bicara.


"Tapi, ketika melihatmu pertama kali di Malang. Melihatmu di masjid pesantren, itu kali pertama aku merasa kecil di hadapabmu, Al. Terlebih lagi ketika aku sering mendapatimu berbincang dengan Kanaya...," Sora tertunduk, tangannya meremas kerudung didadanya, membayangkan moment kebersamaan Almeer dan Kanaya masih membuatnya hatinya perih, air matanya kembali mengalir.


"Kamu sering melihatku bersama Kanaya?" tanya Almeer.


Sora mengangguk, matanya masih tertutup seakan sedang mendalami rasa sakitnya. "Aku marah, aku gak suka lihat kamu dengan wanita lain, bahkan wanita itu lebih mengenalmu sedangkan aku tidak." Sora mengangkat wajahnya dan menatap Almeer, "Tapi aku sendiri merasa tak pantas untuk cemburu pada Kanaya, Dia lebih sempurna dibandingkan aku, Al..." Tangisnya pecah begitu saja.


"Aku semakin mebenci diriku sendiri yang tak berguna, aku merasa semakin jauh darimu, aku merasa tak pantas untukmu, Al."


Melihat Sora yang seperti itu menimbulkan perang batin di benak Almeer. Ia ingin memeluk wanita didepannya itu, atau hanya sekedar mengusap air matanya. Tapi otaknya masih waras, ia berusaha untuk menahan dan mengendalikan diri.


"Aku akan meluruskan sesuatu padamu, Ra. Aku harap bisa memberikanmu ketenangan." Ucap Almeer.


Sora diam dan menatap Almeer.


"Kamu, adalah satu-satunya wanita diluar keluargaku yang menjadi prioritasku, Ra. Meskipun aku dan Kanaya kenal sejak kecil, tapi di antara kami tidak memiliki perasaan lebih dari pertemanan. Kanaya sudah ku anggap adik sendiri sejak Haqy meng-khitbah Meera untuk menjadi istrinya."


Telinga Sora menajam dan otaknya me-replay ulang kalimat yang keluar dari mulut Almeer barusan. "Jadi, Kanaya—"


"Kanaya adalah adik ipar Meera, Ra."


Sora mengusap air matanya, "Benar seperti itu, Al?" ia memastikan ulang.


Almeer mengangguk, "Kamu bisa tanya padanya, aku akan mengajaknya kemari."


"Enggak, Al. Enggak!" Sora menggeleng cepat, kemudian ia teringat sesuatu, "Tapi, apa Kanaya benar-benar tidak memiliki perasaan apapun padamu, Al? dia sangat perhatian padamu. Bahkan memberikanmu bekal makanan."


Almeer tersenyum, entah ia harus senang atau sedih mendengar kecemburuan Sora. "Pagi itu Kanaya bersama Ustadzah Mutia, Sora. Kami tidak berdua, tapi bertiga. Mungkin ketika kamu melihat, saat itu Ustadzah Mutia sedang menghampiri tetangga yang kebetulan ada disana." Jelas Almeer.


"Aaah, begitu..." Sora tersipu malu. "Tapi, aku pernah bertanya apa dia menyukaimu. Dia menjawab, wanita mana yang tidak menyukai mas Almeer, Mbak." Sora menirukan gaya bicara Kanaya.


"Memang betul kan? Wanita mana memang yang tidak akan menyukaiku?"


"Iiih, pede banget!" Sora memukul Almeer menggunakan bantal.

__ADS_1


"Kamu bisa tanyakan pada Kanaya tentang perasaannya. Yang ku tahu, Kanaya sedang menjalani ta'aruf dengan salah seorang santri di Yaman."


"Oooooh....," Senyum di bibir Sora kembali merekah, kini ia benar-benar lega setelah mendapatkan jawaban dari Almeer.


"Aku rindu senyummu itu, Ra." Ujar Almeer.


Sora semakin mengembangkan senyumnya.


"Jangan menjadi orang lain, Ra. Aku menyukaimu sebagai Kianga Sora. Wanita unik yang selalu ceria, tak mudah menyerah dan yang paling penting Kianga Sora adalah orang yang jujur."


Sora tahu maksud Almeer, ia memang salah karena tak jujur dengan apa yang ia rasakan hingga membuatnya masuk dalam kerumitan ini.


"Maafkan aku, Al."


"Kita beruntung karena masih bisa meluruskan kesalahpahaman ini, Ra. Semoga dari ini, kita bisa lebih saling terbuka satu sama lain. Bagaimanapun juga, kejujuran itu nomor satu dalam hal apapun."


Sora mengangguk.


"Maafkan aku juga karena berlum terlalu mengenalmu, Ra."


"Kita bisa lebih saling mengenal setelah menikah." Ujarnya tanpa basa basi.


"Hahahaha, aku menemukan Kianga Sora telah kembali." Almeer tertawa melihat celetukan Sora kemudian menatap wanita itu dengan lembut, "Tetaplah seperti ini, Sora. Kamu adalah kamu, jangan pernah menjadi orang lain meskipun keadaan memaksamu."


"Kekuranganku banyak, Al." Eluh Sora.


"Memperbaiki diri bukan berarti harus menjadi orang lain kan, Ra?"


Sora tersenyum dan mengangguk, "Iya, aku mengerti sekarang."


"Aku harus kembali, Ra. Aku tak mau membuat keluargaku khawatir."


Senyum Sora menghilang ketika melihat sudut bibir Almeer yang berdarah dan hampir mengering. Ia mengangkat tangannya, ingin menyentuhnya, namun pria itu menarik badannya untuk menghindari.


"Aku ingin sekali menyentuhmu...," Gumam Sora, "Tapi aku masih harus menahannya." Lanjutnya.


Almeer mengangguk, "Maafkan aku karena tadi hilang kendali dan menyentuhmu, Ra." Sorot matanya menunjukkan penyesalan.


Aku malah ingin kamu mengulangnya, Al. Sora mulai terhinggapi pikiran-pikiran gilanya.


"Besok aku akan kemari lagi...," Imbuh Almeer setelah permintamaafannya tak mendapat respon dari Sora.


Sora mengangguk cepat, "Aku tunggu, Al."


Almeer tersenyum dan berdiri, "Istirahatlah, Assalamu'alaikum Sora...,"


"Wa'alaikumsalam, Al."


Almeer keluar dari kamar Sora, menutup pintu kamar wanita yang masih terus menatapnya itu. Kemudian menghampiri Sky dan Aga yang sedari tadi mengawasinya.


"Aku pulang dulu, Sky." Pamit Almeer.


Sky mengangguk datar, "Thanks, udah jelasin semuanya ke dia."


Almeer tersenyum tipis, ia berpindah menatap Aga yang sudah tak menunjukkan amarah di wajahnya. "Maaf....," Almeer menunjuk luka yang ada di sudut bibir Aga.


Aga mengangguk, "Aku juga minta maaf. Kau mendapat banyak pukulan dariku."


"Ya, aku tak terlalu pandai berkelahi." Sahut Almeer dengan senyum tipisnya, "Aku pergi dulu. Assalamu'alaikum...,"


"Wa'alaikumsalam...,"


Almeer pun beranjak pergi meninggalkan Aga dan Almeer.


-Bersambung-


.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa BAYAR AKU dengan tekan LIKE, ketik KOMENTAR, kembali ke halaman sampul buat KASIH BINTANG LIMA dan kalo ada yang punya lebihan poin kasih VOTE novel ini ya.


Terimakasih sangat laf laf ku


__ADS_2