ALINEA CINTA

ALINEA CINTA
12


__ADS_3

Waktu terus bergulir, hari-hari yang selalu Sora harapkan untuk bisa sering bertemu dengan Almeer ternyata hanya sebuah ekspektasi saja. Realitanya, mereka hanya kerap saling menyapa dalam aplikasi whatsapp.


Sebulan sudah Sora bekerja di kantor cabang Actmedia. Laura juga sudah beberapa minggu yang lalu resmi naik jabatan menjadi sekretaris Aga dan kini Sora bekerja untuk Prany seorang diri.


Ketidak seriusan dan kelambatan Sora dalam bekerja menjadi sebuah ujian untuk Prany, namun berkat wajah cantik dan sexy Sora membuat Prany tidak terlalu mempermasalahkan hal itu, namun beda dengan karyawan disekitar Sora yang menjadikan hal itu buah bibir dan bahan gibah-an mereka sehari-hari.


"Beneran gak sih dia itu lulusan Harvard?"


"Jangan-jangan standart pendidikan Harvard udah beda ya?"


"Kalian lihat waktu rapat tadi pagi, kan? Sampai pak Prany dibuat malu karena hasil presentasinya berantakan. Hahahaha."


"Gitu sih kalau cuma milih sekretaris yang cuma modal cantik ama sexy aja, malu berkali-kali kan dia?"


Percakapan beberapa orang wanita didepan kaca toilet itu membuat Sora yang masih berada didalam bilik toilet menjadi geram. Ini bukan untuk pertama kalinya Sora mendengar hal ini. Bahkan sejak dulu kala ia mendapatkan gunjingan seperti ini.


Cantik, sexy, kaya tapi bodoh. Itulah Kianga Sora! Umpatnya.


Dimanapun, di tempat baru pun Sora tetaplah Sora. Usahanya yang selalu ingin tampil sempurna tetap saja hancur karena kelemotannya, kecuekannya bahkan kecerobohannya.


Melihat keadaan yang sudah sepi, Sora langsung keluar dari bilik toilet. Ia mencuci tangan kemudian keluar. Ia mencoba mengacuhkan beberapa orang yang menatapnya dengan tatapan meremehkan. Ia hanya terus berjalan dan ingin cepat sampai di meja kerjanya.


"Sora!"


Suara seorang wanita menggema di sekitar koridor yang menuju ke meja kerja Sora. Ia menoleh ke belakang dan melihat Nadia menghampirinya dengan beberapa lembar kertas ditangannya. Wajahnya terlihat kesal dan siap mengamuk Sora.


"Kenapa, Kak?" tanya Sora.


"Mending kamu berhenti kerja aja deh!" Nadia melemparkan kertas-kertas ditangannya tepat di dada Sora. "Kami capek setiap hari harus kerja double memperbaiki kerjaan kamu!"


Sora diam tertunduk menatapi kertas-kertas yang berserakan disekitarnya.


"Aku gak tahu kamu punya kenalan orang dalam atau gimana? Tapi please lah, kalo kerja yang serius! Jangan jadi beban buat orang lain!" Sentak Nadia, "Jangan makan gaji buta! Kami makin sibuk tapi gaji kami tetap, dan kamu yang cuma enak-enakan malah dapat gaji tetap! Lebih gedhe dari kami pula!"


Sora masih terdiam, ia bisa saja membalasnya tapi Sora sudah terlalu capek untuk membela diri sendiri dan berpura-pura bahwa dirinya benar sedangkan orang-orang lain yang menghinanya salah.


"Kalau kamu gak bisa tanggungjawab dengan pekerjaan kamu, berhenti saja. Aku yakin kamu gak semiskin kami yang sangat butuh dengan pekerjaan ini." Ujar Nadia kemudian meninggalkan Sora.


"Loh loh, ada apa ini?" Prany yang baru keluar dari ruangannya terkejut ketika melihat lembaran kertas berantakan dilantai.


Sora tak memberikan jawaban, ia tak mau bendungan air matanya runtuh ketika pita suaranya bekerja. Ia memilih memunguti kertas itu dan tersadar seseorang membantunya memungut juga. Dari tangan yang membantunya itu ia tahu jika itu bukan tangan Prany. Sora mendongakkan kepalanya, menatap seorang pria yang ternyata sangat ia kenali.


"Almeer?" Batinnya.


Tak ada senyum diwajah Almeer, pria itu menatap Sora penuh kekhawatiran. Satu bulir air mata Sora menetes, menjadi jawaban untuk Almeer bahwa dirinya sedang tidak baik-baik saja.


Sora tak mau bosnya mengetahui keadaannya, pria itu pasti akan membuat keadaan semakin heboh dan semua orang akan lebih menyudutkan Sora. Ia segera menyeka air matanya dan mengambil tumpukan kertasnya dan berdiri.


"Tidak apa-apa, Pak. Maaf sudah membuat keributan." Ujar Sora.


"Beneran?" Prany masih tak percaya.


Sora hanya mengangguk, Ia menatap Almeer sejenak. "Saya pamit kembali bekerja, Pak." Kata Sora kemudian pergi kembali ke mejanya.


Almeer ingin sekali menyusul Sora, tapi ia tahu ini bukan waktu yanh tepat. Prany pun mengajak Almeer meninggalkan tempat mereka


***


Jam pulang kantor sudah berakhir hampir satu jam yang lalu tapi Sora masih belum beranjak dari tempat duduknya. Jarinya sibuk memutar bulpoin, tatapannya kosong menatap ujung koridor.


Suara bising dari karyawan-karyawan sudah hampir tak terdengar, menjadi bukti bahwa sudah banyak orang yang meninggalkan ruang kerja mereka. Sora menghela nafas panjang dan mulai merapikan meja kerjanya. Hingga kesibukannya terhenti ketika ia mendengar suara ketukan langkah sepatu yang menggema menuju ke arahnya.


Pria dengan setelan jas dan kemeja hitam menuju ke arahnya, tatapan mata yang dingin dan tajam itu bertemu dengan Sora. Sora kembali menghela nafas panjang kemudian mengacuhkannya.


"Apa yang membuat anda terlamat pulang? Pak Khusno sudah menunggu anda sejak tadi." tanya Aga sesampainya didepan meja Sora.


"Lembur." Jawab Sora singkat.


"Seperti bukan anda." Sahut Aga.


Sora menatap kesal pada Aga, "Memangnya aku gak bisa lembur?!" Sentak Sora, ia lebih sensitif sekarang.


Aga terlihat bingung mendapati respon Sora yang menurutnya berbeda dari biasanya. "Apa terjadi sesuatu, Nona?"


Sora tak menjawabnya dan memilih meninggalkan Aga. Ia segera turun ke lantai satu dan ingin segera meninggalkan kantornya.


"Sora!"


Sora menghentikan langkahnya ketika sebuah suara yang sangat ia kenal memanggilnya dari ruang tunggu yang ada di loby kantornya.


"Almeer?"


Almeer berlari kecil menghampiri Sora.


"Kamu nunggu disini dari tadi?" tanya Sora.


Almeer mengangguk, "Ada sesuatu yang menahanku disini." Jawab Almeer.


"Aku?"


"Bukan, pak Pranyoto."


Bibir Sora berubah manyun dan membuat Almeer tertawa.


"Mau jalan-jalan sebentar?" tanya Almeer.


Sora tersenyum dan mengangguk cepat.

__ADS_1


"Pastikan dulu tidak ada orang yang akan menarikmu pulang ditengah perjalanan kita." Kata Almeer, matanya tertuju pada sesorang yang sedang berjalan di belakang Sora.


Sora menoleh ke belakang. Ada Aga, Laura dan beberapa orang asisten Aga yang sedang berjalan di belakangnya. Sora dan Laura saling menyapa. Sedangkan Aga dan Almeer hanya saling menatap tanpa sapaan.


Sora membiarkan orang-orang penting itu lewat begitu saja, kemudian ia mengambil ponsel dari dalam tasnya dan melakukan panggilan telepon.


"Ga, aku mau keluar sebentar. Please jangan ganggu aku, jangan kirim orang buat ngikutin aku! Aku gak akan pulang larut malam. Oke?"


Sora menutup panggilan teleponnya dan menatap punggung pria yang sudah keluar dari loby kantornya.


"Udah, beres. Yuk?" Ajak Sora.


Almeer mengangguk, mereka berdua pun melangkah keluar loby. melewati Aga tanpa sapaan menuju ke halaman parkir.


"Loh, gak bawa motor Al?" tanya Sora ketika langkah mereka menuju halaman parkir mobil.


Almeer menggeleng, "Untung juga sih motorku masuk bengkel hari ini, jadi aku bisa pinjem mobil kantor dan ngajak kamu naik mobil." Kata Almeer.


"Aku juga suka kali Al diboncengin pake motor." Kata Sora.


"Hmm, enggak enggak enggak." Almeer mengatupkan bibirnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kenapa?"


"Pertama, aku gak bisa boncengin cewek dan yang kedua...," Almeer menunjuk rok span Sora, "Banyak mata yang bakal dapat rejeki gratis nanti." lanjutnya.


"Oooh..., " Sora tersenyum malu.


Almeer mengeluarkan kunci mobil dan menekan sebuah tombol disana, bunyi alarm singkat keluar dari sebuah mobil MVP berwarna hitam. Dan mereka pun segera masuk ke dalam mobil.


"Gak apa kan naik ini?" tanya Almeer sebelum ia menyalakan mesin mobilnya.


"Ya Allah, Al. Pertanyaan kamu aneh-aneh aja, sih?" protes Sora gemas.


"Ya kali aja gak senyaman mobil kamu, Ra. Tapi kalau masalah mengemudi, aku jago kok. Sopir presiden aja kalah."


"Percaya deeh."


Almeer menyalakan mesin mobilnya dan segera melajukan kendaraannya. Tujuannya kali ini adalah salah satu masjid besar di kota Jogja. Kebetulan waktu mereka untuk jalan-jalan hampir memasuki waktu maghrib.


Almeer dan Sora langsung memisahkan diri dengan masuk ke tempat wudhu masing-masing dan segera menjalankan sholat berjamaah bersama yang lainnya. Usai Sholat, Sora langsung kembali ke teras masjid. Ia mendapati Almeer yang duduk di anak tangga sedang menunggu kedatangannya.


"Al...," Panggil Sora.


"Udah?" Al berdiri dari duduknya.


Sora mengangguk, ia tersenyum dan membantin penuh rasa syukur bisa menikmati pria tampan didepannya yang sedang menyibakkan ujung rambutnya yang masih basah bekas air wudhu itu. Percikan Surga, Batin Sora.


"Gak usah senyum-senyum gitu, Ra. Semua orang bisa tahu apa yang kamu pikirkan." Ucap Almeer sambil menuruni anak tangga.


Sora terkekeh malu memegang kedua pipinya yang terasa panas.


"Aku punya tempat yang asyik dan nyaman buat ngobrol. Mau ikut?"


"Boleh." Jawab Sora tanpa banyak berfikir.


Keduanya masuk ke dalam mobil dan mereka pun meningalkan halaman masjid.


Jalanan kota Jogja sudah lenggang. Almeer mengajak Sora ke suatu tempat yang menurut Sora jalan menuju tempat itu terlihat sangat familiar. Bagaimana tidak, selama perjalanan ia merasa Almeer sedang mengantarnya pulang. Hingga akhirnya mobil Almeer berhenti di lahan parkir cafe yang letaknya persis di depan rumah Sora.


"Al, kamu tahu tempat ini dari mana?" tanya Sora ketika turun dari mobil.


"Ini cafe milik papaku," Almeer ternyum sambil mengusap kepalanya yang tidak gatal itu.


"Oya?" Sora terkejut.


Almeer mengangguk, "Itu, tempat tinggalku juga." Almeer menunjuk. bagian ujung taman cafe.


"Hah!!" Sora terbelalak.


"Kenapa, Ra?"


"Al, jadi selama ini kamu tinggal di rumah itu?" tanya Sora lagi.


Almeer mengangguk.


"Ya Allah, Al. Kok bisa ya kita gak saling ketemu padahal jarak kita cuma dari sini ke situ." Sora menunjuk tempatnya berdiri dan pagar rumahnya.


"Kesitu?" Almeer menatap gerbang yang ada diseberang jalan kemudian menatap Sora.


Sora mengangguk, "Aku tinggal disitu, Al." Ucap Sora gemas


"Jadi selama ini kita sedekat ini, ya."


"Aku seneng banget tahu!" Ujar Sora.


Almeer hanya tersenyum kecil dan mengangguk, memaklumi perasaan Sora.


"Kamu gak suka Al?" tanya Sora yang merasa Almeer tidak sebahagia dirinya.


"Kamu ini mikir apa? Udah, ayok masuk." Ajak Almeer.


Walau merasa ada sesuatu yang mengganjal, Sora tak mengambil pusing danengikuti langkah Almeer masuk ke dalam cafe. Ia harus ikut antri untuk pesan beberapa menu di kasir.


"Mas, Al?" Seorang gadis berjilbab menghampiri Almeer dan Sora yang tengah antri.


"Assalamu'alaikum, Meera." Sapa Almeer pada adiknya.

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam, Mas. Kok tumbenan mampir kesini?"


"Hai, Meera." Sora melambaikan tangannya pada Ameera, mencoba memberitahu keberadaannya.


"Mbak, Sora! Ya Allah, kita ketemu lagi, Mbak." Pekik Ameera histeris dan langsung memeluk Sora.


Keduanya berpelukan cukup lama dan cukup menyita perhatian pengunjung cafe.


"Udah ya, udah..., gak enak dilihat orang." Bisik Almeer.


Sora dan Ameera melepaskan pelukan mereka dan tertawa kecil.


"Jangan bikin keributan. Kalau Oom Genta tahu, Mas gak kuat mendengar omelannya." Lanjut Almeer.


"Iya iya, Mas." Kata Meera.


"Pesan apa, Ra?" tanya Almeer ketika ia sudah ada didepan kasir.


"Terserah deh, aku suka semua menu yang ada di cafe ini." Jawab Sora.


Almeer menghela nafas kemudian memesankan minuman dan makanan ringan untuk dia dan Sora.


"Meera enggak?" tanya Sora.


"Enggaklah, Mbak. Meera udah blenek lihat kopi tiap hari." Jawab Meera dengan bahasa medok jawanya.


"Mau duduk dimana, Ra?" tanya Almeer sambil memasukkan uang kembalian dari kasir ke dalam dompetnya.


"Di taman aja, Al." Jawab Sora.


"Mbak. di depan ya." Pesan Almeer pada kasir.


Mereka pun kembali keluar dan duduk di salah satu meja kursi yang ada di taman.


"Aku gak nyangka banget loh bisa ketemu Mbak lagi disini." Ujar Amerra.


"Aku malah gak nyangka banget kalau ternyata ini cafe kalian dan rumah kalian disitu." Sora masih gemas dengan takdir mereka.


"Aduuh aduuuh aduuuuh, ponakan Oom gak biasanya pulang bawa cewek, nih?"


Seorang pria paruh baya bertubuh kurus tinggi dengan kacamata menggantung di ujung hidungnya menghampiri Almeer, Ameera dan Sora.


"Siapa nih gadis cantik ini?"


Sora berdiri dan bersalaman dengan pria itu, "Sora, Oom. Teman Almeer."


"Saya Genta, Oomnya Almeer." Sahut pria bernama Genta itu. "Ini pertama kalinya loh Almeer bawa cewek kesini." Genta menepuk bahu Almeer.


"Oom, mending masuk deh. Angin malam gak baik buat tulang-tulang tua, Oom." Kata Almeer.


"Gak ada sopan-sopannya dia sama Oomnya." Genta menepuk punggung Almeer.


Sora dan Ameera hanya tertawa.


"Sora masih kuliah?" tanya Genta.


"Sudah kerja, Oom."


"Oya? Wajahnya masih imut-imut. Ku kira tadi teman kampusnya Meera."


"Alhamdullillah masih kelihatan imut-imut." Sahut Sora.


"Tinggal dimana?"


"Itu, didepan situ, Oom."


"Rumahnya, Mina?" tanya Genta.


"Loh, kenal sama Mina, Oom?"


"Ya kenal, dong. Sejak dia tinggal disini udah bikin heboh tetangga karena banyak pengawalnya." Jawab Genta.


Sora hanya meringis tak memberi tanggapan.


"Mina adikmu?" tanya Genta.


"Iya, Oom."


"Looh!!" Genta dan Ameera sedikit terkejut.


"Kenapa?" tanya Sora.


"Mina—"


-Bersambung-


.


.


.


.


.


Jangan lupa sebelum beralik tekan LIKE, ketik KOMENTAR, kembali ke halaman sampul buat KASIH BINTANG LIMA dan VOTE novel ini ya.

__ADS_1


Terimakasih.


__ADS_2