
Sejak kejadian semalam, Sora disibukkan dengan segala argumentasinya. Berdebat dengan diri sendiri dan membuat berbagai macam kesimpulan. Room chat aplikasi whatsapp antara dia dan Almeer berulang kali ia buka tutup, sudah tak terhitung berapa kalinya. Pesan singkat maupun panjang berulang kali ia ketik namun tak ada satupun yang ia kirim sebab kata demi kata itu selalu ia hapus.
Meskipun tidak tidur semalaman, tak membuat Sora malas untuk pergi ke toko milik mamanya. Selama perjalanan bersama Aga juga ia tak mood untuk membalas percakapan Aga. Bujukan Aga tak membuat Sora mengutarakan apa yang sedang ia pikirkan.
Walaupun hatinya sedang dipenuhi rasa tak menentu, ia berusaha untuk mengalihkan perhatiannya pada pekerjaan disana. Apapun ia kerjakan, bahkan membantu tim produksi hanya untuk sekedar membuat buku-buku souvenir.
"Sora, udah yuk. Adzan tuh...," Mia mengingatkan Sora.
"Iya, Tante." Sora menyerahkan hasil pekerjaannya pada salah seorang pegawai yang bertanggung jawab atas pekerjaan itu.
Ia pergi ke ruangan yang memang sengaja digunakan untuk tempat sholat para karyawan disana. Ia mengambil wudhu dan sholat berjamaah bersama beberapa karyawan.
Usai Sholat, Sora meminta izin pada Mia untuk pergi keluar kantor. Ia sedang ingin mencari tahu sesuatu.
Sebuah taxi online mengantarkan Sora pada suatu tempat. Salah satu ruko berlantai dua yang berada di kawasan kampus menjadi tujuannya. Ia tak turun dan hanya diam memandang ruko itu dari dalam mobil.
"StudiOne" Sora membaca papan nama yang tertempel besar di lantai dua ruko.
"Mbak...," Panggil driver taxi online.
Sora mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu dan memberikannya pada driver. "Pak, saya sewa bapak satu jam ke depan. Ikuti cowok itu ya, Pak." Ia menunjuk Almeer yang baru naik ke atas motornya.
Setelah Almeer mengendarai motornya keluar ke jalan Raya, mobil yang ditumpangi Sora langsung membuntutinya. Beruntungnya Almeer mengendarai motor dengan santai hingga driver taxi online tak terlalu takut kehilangan jejak.
Almeer mulai melambatkan motornya ketika mendekati gedung yang memiliki cat bernuansa hijau muda. Ia masuk ke dalam halaman parkir yang tak terlalu lebar itu. Driver menghentikan mobilnya disamping pintu masuk gedung tersebut.
"Perpusatakaan umum? Ngapain dia kesini?" Gumam Sora.
Tak berfikir lama, Sora mengambil tas yang sedari tadi ia letakkan di sampingnya, "Pak, saya gak usah ditunggu. Bapak bisa lanjut kerja lagi, terimakasih." Ucap Sora kemudian turun dari mobil.
Ia mengendap-endap dan bersembunyi di balik dinding pintu masuk, memastikan Almeer sudah masuk ke dalam gedung tersebut.
Dari luar ia bisa melihat Almeer sedang naik ke lantai dua, ia ikut bergegas masuk ke dalam gedung dan pelan-pelan meniti anak tangga. Ia terkejut ketika melihat Almeer masih berdiri di loker pendaftaran anggota yang berjajarak beberapa meter dari ujung tangga lantai dua.
Sora menunggu di petengahan tangga dan sesekali mengintip apa pria itu sudah selesai. Tak sampai sepuluh menit Sora mendapati Almeer sudah masuk kedalam perpustakaan. Sora pun segera menghampiri loket pendaftaran.
"Anggota apa masih baru?" tanya petugas.
"Baru, Bu." Jawab Sora.
"Bisa pinjam KTP atau KTM asli." Pinta petugas.
Sora merogoh tasnya untuk mengambil dompetnya dan mengeluarkan tanda pengenalnya, "Ini. Bu." Ia menyerahkan pada petugas.
"Diisi daftar hadirnya ya," Petugas menunjuk sebuah buku besar didepan Sora.
"Baik."
Sora mengisi data diri di dalam buku daftar hadir tersebut. Ia tersenyum dan menyentuh nama Sagara Almeer disana. Tulisannya rapi banget, batinnya kemudian melanjutkan menulis data dirinya.
"Ini KTP-nya, nanti sebelum pulang ambil kartu anggota disini ya." Kata petugas sambil mengembalikan tanda pengenal milik Sora.
"Baik, Bu." Ia meletakkan bulpoint yang baru ia gunakan untuk menulis kemudian mengambil tanda pengenalnya, "Saya sudah boleh masuk?" tanya Sora.
"Iya, silahkan." Ujar Sora.
Sora menuju ke pintu kaca, dan membukanya perlahan. Ruangan dengan bau khas dari buku tercium disana. Sora menutup sebagian wajahnya dengan tasnya agar tak terlihat oleh Almeer, sebab saat ini ia tak tahu keberadaan Almeer dimana.
Lorong demi lorong Sora lewati, mencari-cari dimana pria itu berada. Sora teringat, mungkin lorong buku-buku kesenian karena Almeer berkecimpung di bidang itu. Lewat papan petunjuk Sora mencari tahu dimana tempat buku-buku kesenian berada dan segera mengikuti arah petunjuk itu.
Lorong demi lorong ia lewati namun tak menemukan Almeer disana. Ia berusaha sabar dan kembali memutari ruangan yang tak kecil itu, mengintip satu persatu orang yang sedang membaca buku di ruang baca namun tak bertemu.
Ketika ia berada di ujung rasa putus asanya, akhirnya ia bisa menemui Almeer disalah satu rak buku ekonomi bisnis. Sora cepat mengambil jarak, ia pergi ke lorong sebelumnya. Dengan asal ia mengambil buku sambil mengintai Almeer dari sela-sela barisan buku. Ia tak henti menyunggingkan senyumnya, matanya terus melekat pada pria berkaos putih itu.
Almeer terlihat membawa beberapa lima tumpukan buku ke salah satu meja di ruang baca, tedapat beberapa meja dengan panjang sekitar delalapan meter dan bangku bangku yang mengitari meja-meja tersebut. Almeer mengambil tempat paling kosong yang ada didekat jendela. Tentu saja Sora mengikutinya, ia mengambil tempat duduk di meja yang sama dengan Almeer. Tapi ia tak lupa menjaga jarak. Ia memilih duduk di meja paling ujung.
Satu buku yang diambilnya tadi ia buka, ia menundukkan kepalanya berpura-pura membacanya padahal ia lebih sering mencuri pandang ke arah Almeer. Pria itu terlihat sedang konsentrasi dengan bacaannya. Membuat Sora terus menerus melebarkan senyumnya.
"Ih...," Keluh Sora ketika seseorang di barisannya membaca buku dengan mengangkatnya, membuat pandangan Sora pada Almeer terbatas. "Dia baca buku apa koran sih!" Gumam Sora.
akhirnya ia melipat kedua tanganya diatas meja dan menjadikannha bantal untuk kepalanya. Begini ia lebih nyaman memandang Almeer.
Cuaca mendung diluar sana dan sejuknya angin yang berputar dari kipas angin diatasnya membuat Sora sedikit terkantuk. Sedikit, sedikit dan akhirnya ia masuk ke alam mimpinya.
***
Trrt trrrt trrt
Suara getaran ponsel dari dalam tas Sora memaksanya membuka mata. Ia mengangkat kepalanya yang sedikit pusing karena dibangunkan paksa oleh getaran ponselnya. Keadaan disekelilingnya sudah tak seramai tadi, terlebih pria yang duduk di tepi jendela itu sudah tak ada. Ia mengeluh pada diri sendiri, bagaimana bisa ia ketiduran di saat seperti ini.
Sora mengambil ponselnya yang masih bergetar, nama Aga muncul disana. Ia pun membawa tasnya dan pergi keluar ruangan.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum, kenapa Ga?" tanya Sora.
"Wa'alaikumsalam, kamu dimana? kenapa gak ada di toko?" Aga balik bertanya.
"Di perpustakaan umum." Jawab Sora.
"Tunggu disana, aku jemput."
Tut tut tut...
Sambungan telepon terputus. Sora hanya menyebikkan bibirnya menatap layar ponselnya. Ia pergi ke loket pendaftaran untuk mengambil kartu anggota. Setelahnya ia pergi menuju ke lantai satu.
Kota yang sudah dingin ini semakin terasa dingin karena sedang hujan, Sora berdiri di teras gedung bersama beberapa orang lainnya sambil menunggu kedatangan Aga. Hujan lumayan deras bercampur angin, membuat orang-orang yang berteduh diteras gedung mundur beberapa langkah agar tak terkena air hujan.
Baru Sora mengusap lengannya untuk membuang rasa dingin, tiba-tiba saja ada seseorang yang memakaikan jaket di bahunya. Tentu saja hal itu membuatnya terkejut dan menoleh siapa orang orang yang melakukannya.
"Haaa... Hmmp!!" Sora langsung menutup mulutnya yang menganga melihat pria yang sedari tadi ia buntuti ada disampingnya.
"Sstt!!" Almeer menempelkan satu jari telunjuknya di bibirnya, kemudian ia tersenyum pada Sora. "Capek ya sampai ketiduran?" tanyanya.
"Kok kamu tahu?"
Almeer tersenyum, "Awalnya gak tahu, tapi karena orang-orang disamping pada berisik ngomongin cewek cantik yang lagi ketiduran, jadi terusik deh."
Sora tersipu malu.
"Lain kali hati-hati ya, Ra. Kalau kamu sendirian, jangan sampai lengah. Gak semua orang itu baik, yang baik aja kalau ada kesempatan bisa usil."
Sora mengangguk. "Aku ngantuk banget, mungkin karena semalam aku tidak tidur."
"Kenapa?"
"Mmmm...," Sora melirik ke arah lain untuk menimang jawaban, "Gak apa, gak bisa tidur aja." lanjutnya kemudian.
Almeer menatap curiga.
"Iya, Al. Beneran..., mungkin karena lagi ada di lingkungan baru jadi adaptasi." Jawab Sora bohong.
"Kamu gak pandai berbohong, Sora. Tapi aku gak akan memaksamu."
Sora menyungginggkan senyum kecil.
"Papa yang suruh. Awalnya aku gak mau, tapi setelah sampai sini ternyata ada kamu juga disini." Sora terkekeh dan tersipu malu.
Wajah Almeer berubah keheranan, "Jadi ini bukan yang pertama kamu lihat aku?" tanya Almeer.
Sora mengangkat empat jari tangan kirinya, "Ini yang ke empat...," Ujarnya dengan tersenyum lebar dan menunjukkan gigi-giginya.
Almeer tertawa maklum, "Iya..., itu Kianga Sora sekali." Kening Almerr mengernyit ketika melihar jari telunjuk Sora yang terplester. "Kenapa itu?" tunjukknya tanpa menyentuh jemari Sora.
"Hehe...," Sora menyeringai dan menurunkan tangannya, "Kena pisau, kemarin aku belajar masak."
Almeer kembali tersenyum dan menghela nafas kecil, "Jangan terlalu sempurna, nanti bisa tambah banyak saingan aku buat dapetin kamu."
Sora menahan senyumnya agar tak terlalu lebar ketika mendengar candaan Almeer.
"Jangan terlalu memaksakan, pelan-pelan saja, Ra. Aku gak mau kamu menyakiti fisik maupun psikis mu."
Sora mengangguk, senyumnya masih tetap lebar mengembang di bibirnya. "Aku takut kamu kecewa ketika menikahiku nanti,"
"Insyaa Allah enggak, Ra. Mana mungkin aku kecewa dengan apa yang telah diberikan Allah padaku. Jika memang itu kamu, itu artinya kamu adalah yang paling baik menurut Allah untuk disandingkan denganku."
Kini Sora tak bisa lagi menahan kegirangan, "Udah, Al. Jangan gombalin aku terus. Malu...,"
"Emangnya aku Andre Taulany si raja gombal." Almeer tertawa kecil. Ia memandang hujan yang belum juga reda.
"Kamu di jemput siapa?" tanya Almeer.
"Emb...," Sora berfikir sejenak, "Aga...." Jawabnya kemudian.
Almeer terdiam, tak ada senyum ataupun menunjukkan kemarahan. Sora menjadi salah tingkah, takut jika membuat Almeer cemburu ataupun marah.
"Aku bisa meneleponnya lagi agar dia tidak perlu kemari." Sora merogoh tasnya untuk mengambil ponsel.
"Gak usah, Ra." Cegah Almeer dengan lembut.
Kini giliran Sora yang terdiam dan tercengang, "Tapi kamu—"
Almeer menggeleng memangkas kalimat Sora, "Aku belum memiliki hak untuk melarangmu pergi dengan siapapun, Ra. Yang terpenting jaga dirimu, oke?" Almeer kembali mengulas senyum.
"Tapi aku siap nurut ke kamu kalau saja kamu bilang ke aku untuk tidak pergi dengan Aga." Kata Sora.
__ADS_1
"Aku ingin melakukannya, Sora. Tapi masih belum bisa..., aku tidak bisa melebihi batasanku."
Sora menganggukkan kepalanya.
"Aku tak bisa terlalu sering bertemu denganmu, Ra. Aku tidak mau papamu akan salah paham...,"
"Iya, Al. Aku tahu, mama juga berkata seperti itu padaku."
"Do'akan semua yang akan aku lakukan ini mendapatkan hasil yang maksimal ya, Ra." pinta Almeer.
"Sora..."
Belum Sora menjawab permintaa Almeer, Aga tiba-tiba saja sudah hadir di depan mereka dengan sebuah payung yang melindunginya dari hujan.
Aga naik ke teras gedung, meletakkan payung yang dibawanya di lantai kemudian menghampiri Sora dan Almeer. "Ternyata bisa secepat ini kalian bertemu." Ujar Aga.
Sora melirik malas pada Aga.
"Sebaiknya kamu cepat pulang, Ra." Kata Almeer.
Sora mengangguk, "Iya, Al. Aku pergi dulu..., Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam, Sora."
"Kamu tidak mengembalikan jaket ini padanya?" tanya Aga pada Sora.
"Ah, iya." Sora teringat.
"Kamu bisa memakainya dulu, Sora." Cegah Almeer.
Sora tersenyum dan mengangguk, ia melambaikan tangan kemudian menghampiri Aga yang sudah membukakan payung untuknya. Mereka berdua pun berjalan dibawah payung yang sama, membelah rintik hujan yang turun cukup deras itu.
Almeer tersenyum datar melihat hal itu, Izinkan aku bisa segera menghalalkannya, ya Allah...,
***
Mobil yang dikendarai Aga terjebak kemacetan sebab ada pohon tumbang yang menutup jalan. Sora tak banyak bicara dan hanya memainkan ponselnya untuk mengusir rasa bosan.
krrruuuuuuccck krruuuuuccck krrruuuuck
Suara dari perut Sora mencuri perhatian Aga, pria itu menatap Sora yang sedang mengusap perutnya.
"Kamu belum makan?" tanya Aga.
Sora mengangguk, "Aku ketiduran di perpustakaan tadi."
"Astaga, Sora! Kenapa bisa ceroboh, sih? Kalau ada yang punya niat gak bener gimana? Mita sama Aura gak ada, Aku juga gak bisa jaga kamu dua puluh empat jam."
"Tapi ada Almeer tadi." Jawab Sora singkat, membuat Aga terdiam.
"Udahlah, jangan ngajak aku bicara. Aku ngantuk, laper, lemes jadinya...," Keluh Sora, ia sedikit menurunkan sandaran kursi mobilnya untuk membuat badannya nyaman.
Aga menatap Sora resah, "Sebaiknya kamu gak terlalu dekat dengan Almeer selama dia berusaha menyelesaikan persyaratan dari pak Langit, Ra."
Sora menatap malas pada Aga. "Bilang aja kalo kamu mau deketin aku, trus kamu sengaja jauh-jauhin aku dari dia, kan?"
Aga menghela nafas, "Aku gak tahu apa yang sedang pak Langit rencanakan sampai mengirimu kesini juga. Yang ku takutkan beliau sengaja mengirimmu kemari untuk memecah konsentrasi Almeer dalam pekerjaannya, membuatnya lengah dan berujung kegagalannya."
Sora menegakkan duduknya dan menatap Aga lekat-lekat, "Kamu mikirin keadaanku dan Almeer, Ga?" tanya Sora.
"Tentu,"
"Wooaaaah, ku kira kamu sedang bersaing dengan Almeer untuk mendapatkanku."
"Aku memang ingin mendapatkanmu. Tapi, bukan berarti aku harus menjatuhkannya untuk mendapatkanmu." Ujar Aga.
-Bersambung-
.
.
.
.
.
Jangan lupa BAYAR AKU dengan tekan LIKE, ketik KOMENTAR, kembali ke halaman sampul buat KASIH BINTANG LIMA dan kalo ada yang punya lebihan poin kasih VOTE novel ini ya.
Terimakasih sangat laf laf kuh.
__ADS_1