
Tok tok tok!
Seseorang mengetuk pintu kamar Sora.
"Mbak Sora ...," Suara Siti terdengar dari balik pintu.
Sora yang masih mengenakan mukenah usai melaksanakan sholat ashar segera membuka pintu kamarnya.
"Ya, Bu Siti?" tanya Sora.
"Mbak, saya mau ke minimarket dulu ya ..., bahan buat bersih-bersih sudah mau habis." jawab Siti.
"Biar aku yang beli aja, Bu Siti. Jauh kan jalan ke minimarketnya. Mana masih panas begini,"
"Gak apa, Mbak ... biar saya saja,"
"Udah, Bu Siti di rumah aja. Biar aku yang pergi."
"Tapi—"
"Bu Siti catetin aja yang habis, aku ganti baju dulu," pangkas Sora.
Siti pun mengangguk pasrah, ia meninggalkan kamar Sora dan Sora segera berganti pakaian.
Karena hanya ke minimarket, Sora hanya memakai gamis polos dan jilbab instan kemudian ia turun untuk menemui Siti di dapur.
"Sudah, Bu Siti?" tanya Sora.
"Sudah, Mbak." Siti memberikan catatan kecil pada Sora.
Sora memperhatikan sebentar catatan itu, "Oke, Bu Siti."
Sora dan Siti pergi ke carport , Siti segera membukakan pagar dan Sora masuk ke dalam mobilnya.
"Saya berangkat dulu ya, Bu."
"Hati-hati ya, Mbak."
"Iya, Bu Siti ... Assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikumsalam ...,"
Sora pun mengeluarkan mobilnya dan mengendarainya menuju ke sebuah minimarket terdekat, yang sebenarnya jarak dari pintu gerbang perumahannya tak sampai satu kilometer.
Sampai di minimarket, ia pun segera mencari barang-barang apa saja yang sudah Siti pesan. Tak lupa ia membeli camilan-camilan untuknya.
Dua keranjang berisi makanan ringan dan satu keranjang berisi pesanan Siti sudah memenuhi meja kasir. Satu per satu barang didata melewati mesin scanner kasir kemudian masuk ke kantong belanja.
Petugas kasir menyebutkan sejumlah nominal dari total belanjaan Sora. Sora pun mengambil dompetnya dan mengeluarkan kartu debitnya. Tapi ia teringat sesuatu dan akhirnya memasukkannya kembali dan mengambil satu kartu milik Almeer yang diberikan padanya.
"Ini, Mbak." Sora memberikan kartu itu pada petugas kasir.
Tiba-tiba saja ia seseorang menarik bagian pinggang gamisnya ketika ia menunggu petugas memproses kartunya.
"Cloe?" Pekiknya pelan, ia melihat ke sekitar dan hanya ada Risna disana. "Ngapain disini?" tanya Sora.
Ia baru teringat jika minimarket ini dekat dengan rumah gadis kecil itu.
"Tante—"
"Silahkan PIN-nya, Mbak." Suara petugas kasir memangkas kalimat Cloe.
"Bentar, ya ...." Sora meminta ijin pada Cloe dan mengalihkan pandangan ke mesin EDC diatas meja kasir. Ia menekan enam digit angka disana.
"Kamu mau kue? Es krim?" Sora menawarkan sesuatu untuk Cloe sambil menunggu kasir memproses pembayarannya.
"Enggak ...,"
"Trus kenapa?" Sora mengusap pipi gadis kecil yang kali ini lebih terlihat sedih dan mengiba padanya.
"Silahkan. Mbak."
Lagi-lagi keinginan Cloe berbicara terpangkas petugas kasir. Sora menerima dan memasukkan kartu debitnya kedalam dompet.
"Makasih ya, Mbak." Ia mengambil beberapa kantong plastik yang berisi belanjannya. "Kita bicara diluar saja yuk!" ajak Sora.
Cloe mengangguk, ia pergi keluar minimarket bersama Sora dan Risna.
Sora memasukkan belanjaannya terlebih dahulu ke dalam mobil kemudian mengajak Cloe duduk di teras ruko kosong yang ada disamping minimarket.
"Kenapa? Kok sedih gitu? Tumben gak sama Oma kamu?" tanya Sora.
"Oma masih beres-beres, aku mau beli kue," jawab Cloe.
"Trus kenapa kok sedih gini? Tumben?"
Cloe menyebikkan bibirnya dan terus menatap ke Risna yang menunggunya agak jauh darinya.
"Kenapa sih? Nih bocah bikin penasaran aja ...," gumam Sora, "kamu sedih karena Oom Almeer gak bisa nemenin kamu?"
"Tante ...,"
"Hah? Apa apa apa?!" jawab Sora sudah tak sabar.
__ADS_1
"Aku mau Oom Almeer ...," ucap Cloe, bibirnya menyebik dan matanya sudah berkaca-kaca.
Sora diam seketika dan menatap iba gadis kecil didepannya itu.
"Aku gak mau pergi ke Paris tanpa Oom Almeer ..., aku mau papa ...,"
Sora lekas memeluk Cloe, ia tak tega melihat Cloe yang mengiba padanya menginginkan kehadiran seorang papa. Kali ini tak ada pikiran macam-macam dalam benak Sora. Ia hanya melihat sosok anak kecil yang menginginkan kehadiran seorang ayah. Dia pun dulu pernah merasa ada di posisi gadis kecil yang sedang ada dalam pelukannya itu.
"Cloe mau tinggal bersama oom Almeer dan tante Sora?" tanya Sora. "Kalau Cloe mau, kamu bisa tinggal bersama kami."
Cloe menggelengkan kepalanya, ia melepaskan pelukannya. "Oom Almeer papaku, harusnya dia tinggal denganku dan mama. Aku mau papaku ...,"
Sora menghela napas panjang. Jujur, ia tidak pandai bicara dengan anak kecil.
"Cloe, Oom Almeer itu suaminya tante Sora ... papanya adek bayi yang ada di perut Tante ini." Sora menyentuh perutnya.
"Aku juga anak oom Almeer, oma bilang kalau mama—"
"Mbak Cloe!" Risna tiba-tiba saja menghampiri Cloe, "Mbak Cloe gak boleh bicara hal ini ke siapapun," Risna mengajak Cloe berdiri.
"Mama sembunyiin Cloe dari oom Almeer karena takut oom Almeer sedih. Tapi kalau—"
"Mbak Cloe!" Risna lekas membungkam mulut Cloe.
"Maksud dia apa, Mbak?" tanya Sora curiga.
"Mbak, kami pamit dulu ... Assalamu'alaikum," Risna terlihat panik dan lekas menggendong Cloe kemudian pergi.
Sora masih mematung, ia mencerna baik-baik kalimat yang diucapkan gadis kecil tadi.
"Enggak mungkin ... dia hanya salah dengar dari orang-orang disekitarnya saja." Sora menepuk dadanya yang tiba-tiba terasa sesak.
Ia segera masuk ke dalam mobilnya dan segera mengendarainya kembali ke rumah. Belum masuk ke dalam pintu gerbang perumahannya, ia menghentikan mobilnya.
"Aku harus memastikan sesuatu," ucapnya, ia pun berputar balik menuju ke perumahan tempat Cloe tinggal.
Karena tidak mengetahui rumah Cloe, Sora bertanya terlebih dahulu pada satpam penjaga perumahan.
"Blok ke empat, rumah ketiga di sebelah kiri, Mbak." Tangan satpam menujukkan arah rumah Cloe. "Barusan lewat kok cucunya pak Bara, Mbak."
"Iya, Pak. Terimakasih ya, Pak."
Sora pun kembali melajukan kendaraanya sesuai dengan petunjuk yang diberikan satpam. Ia mendapati gadis kecil dan pengasuhnya yang baru saja membuka pintu pagar salah satu rumah.
"Mbak!" Sora yang baru turun dari mobil lekas memanggil Risna.
Risna terlihat terkejut dengan kehadiran Sora. Ia menarik tangan Cloe untuk segera masuk ke dalam dan akan menutup pintu pagar, namun Sora lebih cepat menahan pintu pagar itu.
"Aku mau kamu ceritakan apa alasan kamu tidak membiarkan Cloe melanjutkan kalimatnya," pinta Sora.
"Kamu tahu, Mbak!"
"Saya tidak bisa bicara. Maafkan saya, Mbak."
"Mbak, aku butuh—"
"Sora?"
Terlihat Clara berdiri didepan pintu rumah. Ia terlihat kaget melihat kehadiran Sora di rumahnya.
Risna segera mengajak Cloe masuk ke dalam untuk menghindari Sora. Sedangkan Sora pergi menghampiri Clara.
"Ayo masuk dulu, Sora. Tante senang kamu datang kemari,"
"Aku ingin menanyakan sesuatu tentang Cloe!" ujar Sora dengan wajah sinisnya.
Wajah Clara berubah kaget seketika, "tentang apa?" tanya Clara.
"Tante pasti tahu maksud pertanyaanku,"
Clara menghindari sorot mata Sora, "aku tidak tahu, Sora."
"Siapa papanya, Cloe?"
"Kenapa kamu mau tahu itu? Bukankah tidak ada hubungannya denganmu?"
"Tapi ada hubungannya dengan suamiku?"
Clara diam, ia kembali mengalihkan perhatiannya hal lain selain mata Sora.
"Jawab, Tante!" Sentak Sora.
Clara kembali menatap Sora, "Pulanglah, Sora. Jangan mencari tahu apapun."
"Tante!" Teriak Sora kesal, air matanya mulai meleleh. Secara tidak langsung jawaban Clara membenarkan berbagai dugaannya.
"Sora ... ada baiknya kamu tidak mengetahui apapun."
Sora menggeleng, "ceritakan apa yang Tante ketahui," pintanya.
Clara menggeleng, "tidak, Sora."
"Ku mohon, ceritakan!" pekiknya pelan.
__ADS_1
"Aku bukan orang yang bisa kamu percayai,"
"Aku yang akan putuskan nanti,"
Clara diam menatap Sora, wajahnya tegas meminta kebenaran namun sorot matanya terlihat ragu untuk menerima kebenarannya.
"Pulanglah, Sora ... kamu tidak baik bertemu denganku, terlebih lagi ada keluargamu di Malang."
"Jangan terus mengulur waktu! Cepat katakan padaku!" Teriak Sora frustasi.
***
Sementara itu, di bagian lain kota Malang, Sky sedang mengendarai mobilnya menuju ke salah satu perumahan milik orang yang sangat ia percayai.
Mobil Sky terhenti di depan sebuah rumah yang cukup unik dibandingkan rumah-rumah disekitarnya. Ia keluar dan masuk ke dalam rumah Aga.
Pintu rumah sedang terbuka, Aga terlihat sudah duduk di ruang tamu menunggu kedatangannya.
"Sorry, aku mengganggu perjalananmu, Ga." Sky duduk di sofa meskipun pemilik rumah belum mempersilahkannya duduk.
Aga mengangguk cuek.
"Kamu benar mencurigai tante Clara?" tanya Sky
"Siapa lagi yang lebih mencurigakan?"
Sky diam membenarkan, "kamu tidak melakukan ini tanpa alasan kan? Apa yang membuatmu bersikap seperti ini?"
"Saat Sora tersesat di Batu, dua ban mobilnya kempes depan belakang. Itu bukan hal yang wajar kan?" ujar Aga, "Aku memutuskan untuk mengambil mobil Sora sendiri dan dugaanku benar, ada orang yang sengaja merusak kait angin ban mobilnya."
"Aku tahu kamu pasti punya alasan kuat, tapi kamu juga tidak bisa melakukannya sembarangan, Ga. Kamu bisa memberitahu Almeer."
"Dia terlalu naif, dia tidak akan bisa melakukannya," jawab Aga.
"Lalu, apa kamu mendapatkan sesuatu yang mencurigakan?"
"Belum, tidak ada sesuatu yang mencurigakan dari tante Clara."
"Apa dia benar-benar sudah berubah?"
Aga hanya mengangkat bahu saja.
"Papa sudah menghubungimu?"
Aga mengangguk, "beliau menanyakan hal yang sama denganmu ...,"
Sky terbelalak hingga menegakkan badannya.
"Aku tidak bilang apapun tentang tante Clara,"
Jawaban Aga membuat Sky bernapas lega seketika.
Sky ingin mengajukan pertanyaan kembali namun terhenti ketika melihat mobil milik papanya terhenti dibelakang mobilnya.
"Kenapa papa kesini, Ga? Kalian janji ketemu disini?" tanya Sky.
"Enggak, kami tidak memiliki janji ...,"
Sky dan Aga berdiri menyambut langit. Ada yang berbeda dari wajah Langit. Ekspresinya geram, matanya dingin menyimpan kemarahan.
"Kenapa Papa ke—"
PLAAK!!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Sky hingga pria itu hampir jatuh jika saja Aga tidak menahannya.
Sky ingin melayangkan protes akan tindakan papanya, tapi melihat tatapan papanya membuatnya tak memiliki nyali.
Langit melempar sebuah kertas yang ia pegang sedari tadi pada putranya, "BISA-BISANYA KAMU MEMBOHONGI PAPAMU, SKY!!"
Teriakan Langit membuat mata Sky melebar, ia melirik Tommy yang berdiri dibelakang Langit.
"KAMU TAHU SEFATAL APA TINDAKANMU!"
-Bersambung-
.
.
.
.
.
INFO!
Karena aku hari ini jadi pengangguran, sambil nunggu kedatangan daging sapi aku bales komentar kalian satu satu.
(500 komentar pertama aja ya, takut jempolku lepas)
Makasih ya yang sudah selalu tinggalin komentar dengan segala analisanya.
__ADS_1
Jangan lupa, Jangan lupa, Jangan lupa BAYAR AKU dengan tekan LIKE, ketik KOMENTAR, kembali ke halaman sampul buat KASIH BINTANG LIMA dan kalo ada yang punya lebihan poin kasih VOTE novel ini ya. SHARE novel ini di sosmed kalian juga sangat diperbolehkan.
Terimakasih laflafkuh!