
*Teeeeettt..
Bel istirahat telah berbunyi. semua siswa perlahan meninggalkan kelas menuju ke kantin untuk mengisi perut mereka. Tidak terkecuali Fatin dan sahabat sahabatnya.
Saat sedang mencari tempat untuk mereka duduk, pandangan Fatin tertuju pada seorang Pria tampan yang sedang menikmati makan siang bersama tiga orang sahabatnya. Fatin memandang lama kearah mereka, Hatinya bergetar melihat tawa lepas dan senyum manis pria itu*.
"Yatuhan Jantungku" ucap Fatin memegangi dadanya yang berdebar dengan cepat.
"Ada apa dengan jantungmu Fatin. Kamu sakit?" Panik Wira saat melihat Fatin memegangi dadanya
Hening yang melihat Fatin tak menjawab pertanyaan Wira langsung mengikuti arah pandang Fatin. Dan dia menemuka alasan mengapa sahabatmya memegangi dadanya. Hening tertawa kecil menggelengkan kepalanya.
Wira semakin bingung dengan tingkah para sahabatnya ini. Wira mendekat ke arah Hening dan membisikan sesuatu.
"Apa yang kau lihat dan kau tertawakan." Tanya wira berbisik penasaran. Hening hanya menjawab dengan memomyongkan bibirnya kearah pandang Fatin.
Wira mengikuti arah yang diberikan Hening. Wira kemudian menggelengkan kepalanya setelah mengerti mengapa Fatin memegangi dadanya. Rupanya dia sedang terpesona dengan sosok Arkhan.
"Ayo kita duduk disana." ucap Wira memecah lamunan Fatin. Fatin dan Hening mengangguk dan mengikuti Wira berjalan.
"Biar aku yang pesen." Ucap Wira
Fatin dan Hening memberikan anggukan samar
"Jangan lama lama mas pelayan" Canda Hening sambil terkekeh kecil. Namun tak didengar oleh Wira karena dia telah meninggalkan meja itu.
"Fatin. Bagaimana perkembanganmu dirumah" Hening membuka suara
"Ya masih gitu gitu aja. Kamu taulah pasti" Jawab Fatin tersenyum kecil
"Sebenernya kenapa sih ko mereka benci banget sama kamu. Heran deh aku" Ucap Hening jengah
"Jangan jangan kamu bukan anak mereka lagi" lanjutnya
*Deg
fatin terdiam mendengar penuturan Hening. "Andai kamu tahu , aku memang bukan anak mereka ning"batin Fatin
Fatin sengaja tidak mengatakan bahwa dia memang bukan anak dari Papa dan Mamanya. Fatin tidak ingin mereka mengasihaninya. Cukup sahabat sahabatnya itu tau bagaimana penderitaannya selama ini. Tidak perlu sampai kearah yang lebih dalam*.
Hening yang melihat wajah sahabatnya berubah saat mendengar ucapannya langsung merasa bersalah.
"Eeh bukan gitu maksud aku Fatin." ujar Hening sambil memegang tangan sahabatnya. Fatin hanya tersenyum simpul dan menganggukkan kepalanya.
"Iya gapapa kok ning. Santai aja" Balas Fatin
Tiba tiba 3 mangkok siomay sudah tersedia dihadapan mereka. Mereka melihat siapa yang membawanya langsung terkekeh kecil. Wajah Wira berubah masam, saat menhetahui sahabatnyz itu tengah membicarakan sesuatu tanpa dirinya.
__ADS_1
"Uhh ayang Wira kok marah sih,. sini sini duduk" ucap Hening terkekeh
"Udah dong Wir. Kita gak lagi ngomongin hal penting kok" Lanjut Fatin
Wira diam seribu bahasa. Fatin terkekeh melihat tingkah sahabat laki lakinya itu.
"Udah udah yok makan" Tutur Hening. Wira dan Fatin menganggukkan kepala mereka.
Mereka menikmati makan siang itu diiringi dengan Canda Tawa. Mereka tertawa dengan keras tanpa menghiraukan keadaan sekitar.
Disisi bagian pojok ada beberapa pasang mata yang terus memandang kagum kearah Fatin dan Hening.
"Sen lo liat deh, tuh pujaan hati lo senyumnya manis banget" Ucap Rico. Arsen lalu mengikuti arah pandang Rico. Arsen diam diam tersenyum kecil.
"Cieee,,Arsen senyum ciieee" Ledek Rico. Arsen menatao tajam kearah Rico ,membuat Rico langsung menutup mulutnya menahan tawa.
Yaa,,diam diam Arsen memang menyukai Hening. Entah apa yang membuatnya menyukai Sahabat Fatin itu. Yang dia tau setiap melihat Hening tertawa jantungnya selalu berdetak kencang. Namun, karena sifatnya yang dingin dan pendiam ,Arsen tidak pernah mengungkapkan perasaannya pada Hening. Baginya mencintai Hening dalam diam sudah cukup membuatnya bahagia.
Tiba tiba Rico langsung menarik tangan Arsen dan membawanya menuju Meja dimana Hening berada. Arsen yang terkejut langsung mengikuti Rico tanpa berkata namun memasang wajah datar dan tatapan tajamnya.
"Ar, kita ikut mereka yuk" Ucap Hans kepada Arkhan
Arkhan hanya diam ,karena dia dari tadi tidak menghiraukan pembicaraan teman temannya.
"Woy Ar, Gue gibeng lo ntar. Budek bener dah" Ucap Hans sambil menepuk pundak Arkhan keras.
Arkhan yang sedang mengunyah baksonya tiba tiba tersedak. Dengan sigap Hans lalu menyodorkan minumannya kepada Arkhan.
"Hehehe,, sorry man sorry" kekeh Hans melihat tatapan tajam Arkhan
"Ar, liat deh Si Rico duduk disamping Fatin tuh. Mana senyum senyum lagi" Ucap Hans mengompori Arkhan.
Arkhan mengalihkan pandangannya kearah Rico dan Fatin.Mereka sedang tertawa bersama. Arkhan merasakan Suasana hatinya berubah 180°. Tanpa aba aba Arkhan langsung berdiri meninggalkan Hans yang sedang menghabiskan makanannya.
Hans yang melihat Arkhan meninggalkannya tanpa aba aba langsung melahap baksonya dengan cepat lalu berlari mengikuti Arkhan.
"Woy lu pelan pelan aja kali kalo jalan." ucap Hans kesal melihat Arkhan meninggalkannya padahal dia sedang menikmati makan baksonya.
Arkhan terus berjalan dengan memasukkan satu tangannya ke saku celana tanpa menghiraukan ucapan Hans.
Rico yang melihat Arkhan mulai memdekat ke arahnya langsung bersiap siap berdiri dari samping Fatin. Karena tatapan membunuh Arkhan sangat menakutkan baginya.
Fatin yang melihat Rico pindah tempat duduk dan memilih duduk disamping Wira hanya menggedikkan bahunya. Tiba tiba Seseorang duduk disampingnya tanpa jarak sedikitpun. Fatin sempat merasa terkejut.
Saat menoleh kearah orang itu Wajah Fatin langsung memerah, jantungnya berdegup kencang karepan tatapan matanya bertemu dengan mata Arkhan.
Fatin menundukkan Wajahnya yang bersemu merah. Sedangkan Arkhan tersenyum kecil melihat wajah Fatin yang bersemu. Mungkin dia malu.kekeh Arkhan dalam hati
__ADS_1
Dihadapan mereka berdua Hening dan Arsen sama terdiam. Namun dengan pikiran mereka masing masing.
*Duh ni anak ngapain sih disini. Dia gak tau apa kalo jantung gue itu suka meronta ronta kalo deketan sama dia. Batin Hening sambil meneruskan makannya dengan sedikit rasa gugup
Gue harus tenang. Gak boleh gelisa, hancur martabat gue kalo keliatan salting dihadapan anak anak. Batin Arsen*
Wira yang merasa dongkol. Karena dihadapannya ada dua pasangan dengan aura yang berbeda. Yang satu Diam diam romantis yang satunya lagi Dingin dingin salting. Wira terkekeh pelan
"ehh Wir ,ngapain lo senyum senyum. Homo ya lo sama gue" ucap Rico mengintimidasi
Semua teman teman yang ada dimeja itu menatap Wira dan Rico. Rico yang melihat semua tatapan yang diberikan oleh teman dan sahabatnya itu memutar bola matanya malas.
"Enak aja kalo ngomong. Selera gue tuh yang bodynya aduhai cem gitar spanyol. Bukan model pisang kek lo gini. ckckck" Sinis Wira
"Gue kan nebak aja. Abisnya lo juga punya 2 cewek dinanggurin semua. Ya gue pikir lo homo" Ucap Rico
"Gue anggurin gimana. Gue apelin terus gini." ucap Wira sambil terkekeh
Fatin dan Hening hanya tersenyum mendengar percakapan Wira dan Rico.
"Ning, santay aja dong makannya gak usah gugup gitu. Lo juga Fa, lelet banget kalo makan. Lagi jaga image yaa" Ledek Wira
Hening menatap tajam kearah Wira tanpa berniat membalasnya. Sedangkan Fatin, dia semakin menundukkan wajahnya merasa malu dan gugup.
Arkhan yang melihat gelagat salting Fatin tersenyum tipis. Tiba tiba Arkhan menurunkan tangan kebawah meja dan mengenggam lembut tangan Fatin.
Deg,deg,deg,deg,deg
Tangan, tangan Arkhan. Arkhan pegang tangan Gue, Aaaa jantungku meronta rontaaaa. Teriak fatin dalam hati
Wajahnya semakin memerah. Saat Arkhan mengusap lembut punggung tangannya.
Duhh hati author meleleh 😆
"Fa, lo abis makan banyak tomat yaa. kok merah gitu muka nya" Ledek Hans
"Diem lu saipudin. Ganggu suasana romantis aja" Ketus Rico
"Bodo amad,amat aja kaga bodo" sinis Hans
Mereka pun melanjutkan makan siangnya sambil bercanda. Tawa renyah selalu terdengar dari meja mereka. Arkhan tidak melepaskan genggaman tangannya untuk Fatin.Justru dia semakin mengeratkan gengamanya. Fatin bahagia dan menampilkan senyum manisnyauntuk Arkhan.
Disisi lain Seseorang sedang mengepalkan tangannya mencoba menahan emosi yang membara dihatinya. Gejolak emosi semakin menjadi jadi saat dia melihat Lelaki pujaannya duduk bersama dan tertawa bahagia bersama gadis yang dibencinya.
" Sabar beb, Kita emang harus ngasih pelajaran yang berkesan buat si J*l*ng kecil itu. Biar dia gak deket deket lagi sama Arkhan" Ucap Fadilla
Prety menganggukkan kepalanya. *Gue bakal hancurin hidup lo. Tunggu aja pembalasan gue. Batin Prety.
__ADS_1
Bersambung....
Masih* semangat gak nih readers bacanya. masih kan..ya harus masih dong.