Anak Titipan

Anak Titipan
Sedih dan Bahagia


__ADS_3

****


Saat ini Mawar dan Fatin sedang menuju kesekolah mereka bersama dengan supir pribadi Papa. Mereka duduk berdampingan namun saling mengalihkan pandangan keluar jendela. Suasana sunyi didalam mobil membuat supir pribadi Edo mengernyit heran. Namun beliau memilih diam dan tetap fokus menyetir.


Mawar dan Fatin terdiam dengan pikiran mereka masing masing.


*Mengapa waktu saat ini terasa berjalan sangat lambat. Sungguh mencekam aura dimobil ini. Apa karena ini pertama kalinya aku berada satu mobil dengan hanya berdua dengannya. Batin Fatin


Sangat sangat membosankan. Bagaimana jadinya kalo tiap hari harus bareng dia terus. Huhhh. Batin Mawar sebal*


Mobil itu berhenti tepat didepan gerbang sekolah Mawar. Dengan segera Mawar turun dan menutup pintu dengan kasar. Fatin yang sedang melamun langsung terkejut mendengar suara gebrakan pintu mobil.


Mobil Yang dikendarai Fatin kembali melaju membelah jalanan yang cukup ramai. Fatin tiba disekolahnya bersamaan dengan Wira dan Hening. Wira dan Hening yang melihat Fatin turun dari mobil berwarna hitam mengkilat mengernyitkan dahi karena Fatin turun setelah dibukakan punti oleh seorang pria berumur


"Mobil siapa tuh"Tanya Wira .Hening menggedikkan bahunya tak tahu.


Fatin yang melihat dua sahabatnya sedang berdiri didekat gerbang masuk. Segera menghampiri mereka berdua. Wajah Fatin sangat tidak bersemangat.


"Kusut banget Fa. Belum disetrika ya wajahnya" ledek Wira. Fatin mencebikkan mulutnya mendengar ucapan Wira


"Udah ayo masuk. Bentar lagi Bel"Ajak Hening


Mereka berjalan beriringan menuju kelas. Saat diperjalanan tiba tiba seseorang menabrak lengan kanan Fatin. Fatin menatap datar.


"Woy , lo buta ya. Main nabrak nabrak orang aja. Kalo jalan tuh pake mata dong" Teriak Hening , padahal orang itu telah jauh dari pandangan mereka


"Fa. Kamu kenapa sih. Diem mulu dari tadi" Tanya Hening


"Nanti aja aku ceritanya"Ujar Fatin pelan hampur menyerupai sebuah gumaman


"Yaelah, ngomong aja pelah banget. Belum sarapan Lo Fa" Cibir Wira dan langsung diberi tatapan tajam dari Hening


"Brisik banget sih Wir"Kesal Hening


Wira memutar bola matanya malas.


Setibanya mereka dikelas, beberapa saat kemudian seorang guru matematika datang memberi ulangan dadakan. Seluruh siswa menunjukkan berbagai ekspresi dan umpatan kecil mereka. Tanpa terkecuali Wira dan Hening.


"Gila ya ni orang. Dateng tak diundang pulang tak diusir tiba tiba ngasih ulangan dadakan." Tutur Hening merasa kesal


"Emang gila. Mana gue gak sempet belajar dari" Ujar Wira memasang ekspresi sedih. Sontak Hening dan Fatin menoleh kearah Wira.


"Apaan "Tanya Wira


"Emang lo pernah ya belajar serius soal matematika" ledek Fatin


"Yaa. ya enggak lah. Maksud gue tuh setidaknya gue lirik lirik buku dikit"Ucap Wira dengan ekspresi WaTaDosnya


Hening memutar bola matanya malas. Dikelas Ketiga anak manusia ini memang menyukai mapel yang berbeda beda. Fatin menyukai Fisika, Wira menyukai Biologi dan Hening menyukai mapel yang berhubungan dengan zat zat berbahaya, apalagi kalau bukan Kimia.


Ulang dadakan sudah dimulai. Seluruh siswa merasa dongkol. Bagaimana tidak, selain pelajarannya yang memusingkan, gurunya juga membosankan dan menyebalkan.


Wira dan Hening sesekali melirik jawaban milik Fatin. Karena menurut mereka apapun yang Fatin tulis adalah sebuah panutan dalam ulangan dadakan. Fatin hanya membiarkan mereka. Toh mereka memang sering berbagi kalau ulangan dadakan.


Arkhan yang berada diseberang meja Fatin, sesekali mencuri pandang kearahnya. Fatin terlihat serius mengerjakan soal ulangan itu. Ekspresi Fatin yang sesekali tersenyum dan mengerucutkan bibirnya tak lepas dari pandangan Arkhan.


Setelah puas memandang wajah bidadari disampingnya itu Arkhan kemudian melanjutkan mengisi jawaban dari soal soal itu dengan cepat. Yaa, Arkhan memang sangat menguasai bidang Matematika. Sebenarnya semua bidang dikuasainya, namun Arkhan lebih mengkhususkan untuk mapel matematika.


Dibelakang Arkhan, Prety dan Fadilla sama sama pusing melihat rentetan angka yang ada dikertas soal mereka. Sesekali mereka melirik kedepan dan belakang untuk mendapatkan jawaban. Namun hasilnya nihil, Prety memutuskan untuk bertanya pada Arkhan. Namun Arkhan hanya diam seolah tak mendengarkan ucapan Prety. Prety semakin kesal melihat Arkhan yang tak menghiraukannya.


Waktu telah selesai. Ketua kelas langsung mengambil lembar jawaban dari teman temannya. Mereka yang belum selesai mengerjakan dengan cepat menulis angka angka yang entah benar atau tidak.


****


Kantin


"Gila, yang tadi itu soal atau semut berkeliaran yang disuruh ngitung. Susah banget" Ucap Wira dengan nada yang dibuat buat

__ADS_1


"Gaya lo sok iye aja. Bukannya lo nyontek jawaban si Fatin ya"Cibir Hening


Wira terkekeh kecil"Heheh iya sih, Lo juga kan" ucap Wira


Fatin terkekeh mendengar perdebatan sahabatnya itu.


"Oiya, katanya tadi mau cerita. Buruan" Ucap Wira dan diberi anggukan oleh hening


"Oke aku cerita. Kemaren Papa nyampek in peraturan kalo mulai hari ini aku sama Mawar harus berangkat dianter supir pribadi Papa. Terus aku juga dihukum sama Papa gaboleh keluar rumah selama seminggu. Pulang sekolah harus langsung pulang. "Tutur Fatin


"Ooh, yabagus dong. Kan jadinya Lo gak perlu jalan kaki lagi. Hemat energi kan."Ucap Wira


Hening menganggukkan kepala. "Tapi kok sampek dihukum. emang kamu bikin kesalahan apa Fa" Tanya Hening


"Jadi gini, kalian taukan kemarin aku dianter jemput sama kak Reza dan diajak main kerumahnya" Ucap Fatin dan diberi anggukan oleh Wira dan Hening


"Terus pas sampek rumah aku ditanyain sama Papa, dari mana aja kok pulang telat. Pas aku mau ngomong sejujurnya, malah dipotong sama Mawar. Mawar ngomong ke papa kalo aku Habis main sama om om. Dan dianter jemput. Papa langsung nampar aku tanpa denger penjelasan dari aku. Mama juga tiba tiba ikutan nampar aku. Mama ngomong ke Papa kalo aku itu emang suka berbuat seenaknya, Aku juga udah bikin malu keluarga kata mama." Lanjut Fatin bercerita dengan air mata yang perlahan mengalir dari pelupuk matanya.


Hening yang mendengar cerita sahabatnya dan melihat kesedihan sahabatnya itu langsung menariknya kedalam pelukannya. Wira bergabung dengan mereka berdua. Mereka ikut nerasakan kesedihan yang dialami oleh sahabat nya itu.


"Kamu yang sabar ya Fa. Udah jangan nangis lagi, kita selalu ada kok buat kamu. Kamu jangan sedih ya"Ucap Hening tanpa melepaskan pelukan mereka.


Fatin semakin terharu, sahabat sahabatnya memang selalu menemaninya setiap saat. Setelah tangisan Fatin mulai mereda mereka melepaskan pelukan itu.


"Kita udah kaya teletubis aja"Ucap Wira terkekeh pelan


"Hahaha, berpelukaannn" Ucap Hening sambil tertawa


"Makasih yaa , kalian emang sahabat terbaik "Tutur Fatin.


"Lo tenang aja. Kita akan selalu ada disaat Lo susah, seneng, sedih ,galau, atau apapun itu."Ucap Wira, Hening menganggukkan kepalanya.


"Ada satu rahasia lagi yang kalian belum tahu. Semoga kalian gak serangan jantung dengernya"Ucap Fatin terkekeh


"Apaan Fa, Buruan cerita" Ucap Wira bersemangat.


Hening langsung merobek tisu yang ada didepannya meluapkan kekesalannya.


"Aahh loo Fa. Bikin penasaran aja. ,Serius gak sih" Ucap Wira kesal


Fatin tertawa kecil kemudian melanjutkan ucapannya dengan santai sambil menyedot minumannya "(Sluurrrpptt) jadi gini, akutuh bukan anak Mama dan Papa" Ucap Fatin


Wira dan Hening terkejut dan reflek menggebrak meja


Braaakk. "Aappaaaa ,,,Lo serius Fa"Teriak Wira dan Hening bersamaan.


Para pengunjung kantin memandang aneh kearah mereka. Fatin tersenyum kikuk melihat tatapan pengunjung kantin.


"Duduk aja kali. bikin malu aja" Ucap Fatin. Wira dan Hening duduk kembali dan menyesap minuman mereka hingga tandas.


"Gue gak habis pikir Fa. Sekarang gue ngerti kenala nyokap dan sirubah kecil itu selalu jahat sama lo."Ucap Hening


"Iya. Pasti mereka gak suka sama Lo Fa, mungkin mereka gitu karena pengen lo minggat kali di rumah itu" Sambung Wira


"Iya bener tuh"Ucap Hening


Fatin yang mendengar ucapan sahabatnya berfikir sejenak.


"Terus, lo tau siapa orang tua kandung lo. Dan kenapa kok Lo bisa dirawat sama mereka dari orok" Tanya Wira


Fatin menggelengkan kepala" Aku gak tau. Yang aku tau kalo dulu orang tua aku sempet ngalamin krisis ekonomi, jadi mereka nitipin aku sama Papa. Dan kebetulan papa juga belum dikaruniai anak" ucap Fatin


"hemm,,Lo tenang aja. Kita bakal bantuin Kok buat nyari keluarga kandung Lo. Iya kan Wir, Eh wir makan aja pikiran lo"Ucap Hening


"Iya bwener" Jawab Wira dengan makanan yang masih mengumpul dimulutnya


Sontak langsung mendapatkan bogeman mentah dari Fatin. "Ditelen dulu baru ngomong" ucapnya

__ADS_1


Wira menatap Fatin tajam .


Mereka melanjutkan makan siangnya diiringi dengan canda tawa seperti biasa. Sampai akhirnya bel masuk berbunyi dan mereka kembali ke kelas.


****


"Fa, lo yakin nungguin sendirian. Gak mau bareng kita aja. Kita anter kok" Tawar Wira


Fatin menganggukkan kepalanya Pasti " Kalian duluan aja, bentar lagi dateng ko mobilnya" Ucap Fatin


"Yaudah kamu hati hati ya. Kalo ada apa apa langsung hubungin kita. OK" Ucap Hening .


Fatin menganggukkan kepalanya.


"Hati hati dijalan" Teriak Fatin saat mobil Wira perlahan menjauh dari gerbang sekolah


Fatin mencari sebuah tempat untuk berteduh menghindari terik matahari. Fatin duduk berteduh bawah pohon rindang


Tiba tiba sebuah suara bariton mengejutkan Fatin


"Kamu lagi nungguin siapa" tanya suara itu. Sontak Fatin terkejut dan menoleh kesamping.


"Arkhan,"gumam Fatin


"Hei kok diem aja. Lagi nungguin doi ya" ucap Arkhan yang langsung duduk disamping Fatin


Fatin merasakan detak jantungnya berdetak tak karuan setiap berada didekat Arkhan


"E eem enggak kok. Aku lagi nungguin supir" Ucap Fatin gugup


"Ohh. Aku temenin yaa" Tawar Arkhan


Fatin menganggukkan kepala. "Kamu kok belum balik" Tanyanya


"Lagi nemenin kamu"Ucap Arkhan tersenyum manis


Wajah Fatin bersemu ,jantungnya semakin tak terkontrol


Ya tuhan ganteng banget sih kamu. Bisa pingsan aku kalo disenyumin terus. Adem banget liatnya. Jerit Fatin dalam Hati


Fatin menepum nepuk pelan dadanya merasakan getaran itu. Arkhan sontak kaget dan menggenggam tangan Fatin yang digunakan untuk menepuk dadanya


"Kamu kenapa. Sesak nafas, Jangan dipukul nanti sakit" Ucap Arkhan khawatir. Wajah Fatin semakin bersemu. Tiba tiba Arkhan merasakan jantungnya juga berdetak lebih kencang saat menggenggam tangan Fatin


Deg deg deg


"Aku gapapa kok." lirih fatin sambil menunduk menyembunyikan wajanya yang memerah


Tiba tiba sebuah mobil berhenti dihadapan Fatin dan Arkhan. Seseorang keluar dari mobil itu dan langsung membungkukkan badannya. Arkhan lalu melepaskan genggaman tangannya


"Maaf non, bapak terlambat. Tadi nungguin Non Mawar ke mall dulu" Ucap Supir itu merasa bersalah


"Iya pak gapapa kok.Ayo jalan" ucap Fatin sopan


"Arkhan aku duluan ya. Makasih udah nemenin" Lanjut Fatin dan tersenyum manis


Jantung Arkhan berdetak semakin kencang setiap melihat wajah cantik itu tersenyum.


"Iya, kamu hati hati ya dijalan" Ucap Arkhan lembut.


Fatin mengangguk dan tersenyum. "Kamu juga hati hati. Aku pulanh dulu. See you" Ucapnya sambil meninggalkan Arkhan


Perlahan mobil yang ditumpangi Fatin menjauh dari pandangan Arkhan. Arkhan lalu bergegas mengambil motornya dan pulang kerumah.


Bersambung...


Tutituitt ,,,sampek sini dulu ya reders episod kali ini. ๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜ŠIkutin terus kisahnya yaa

__ADS_1


__ADS_2