
Sesampainya mereka di villa keluarga Wira, mereka langsung masuk ke dalam dan mencari kamar masing-masing. Hening dan Fatin memilih berada di kamar yang sama.
"Kalian pilih aja mau di kamar yang mana. Asal jangan di kamar pojok kanan lantai 2. Itu punya gue" ucap Wira
"Siaapp" jawab mereka kompak
Villa milik keluarga Wira terdiri dari dua lantai. Dengan luas keseluruhan mencapai 2.000 hektar. Dilengkapi dengan 15 kamar tidur lengkap dengan kamar mandinya, fasilitas olahraga, lapangan golf, lapangan futsal dan taman yang sangat luas.
Setelah memilih kamar masing-masing, mereka langsung masuk dan mengistirahatkan tubuh penatnya. Fatin dan Hening memilih menikmati indahnya pemandangan dari balkon kamar mereka.
"Fa, gue mau nanya sesuatu sama lo"
"Tanya aja kali.."
"Lo masih suka gak sama Arkhan"
Fatin sontak membisu mendengar ucapan Hening. Pikirannya kembali berkelana, sejujurnya dia masih sangat mencintai Arkhan. Tapi Fatin tak dapat membohongi perasaannya, disisi lain dia juga sangat membenci Arkhan.
"Gue gak tahu"
"Udah deh Fa, jujur aja.."
Fatin menghembuskan nafasnya kasar, perlahan Fatin menganggukkan kepalanya.
"Lo tenang aja, gue yakin kok. Suatu saat kalian pasti akan bersama lagi"
"Iyaa,,, tapi gue gak siap kalo pada akhirnya gue harus liat Arkhan sama Aristia bersama"
Hening meraih tangan Fatin dan menggenggamnya.
"Percaya sama gue, gue tahu Tia itu bukan gadis baik-baik. Dia pasti punya niat sendiri waktu balik sama Arkhan"
"Lo tahu dari mana"
"Arsen.."
Hening yang menyadari bahwa dirinya keceplosan, langsung menutup mulutnya dengan telapak tangan.
"Ehh emm itu maksud guee.."
Fatin menatap Hening dengan tatapan menyelidik.
"Udah sejauh apa hubungan kalian"
"Enggak jauh-jauh kok. Deket-deket aja" elak Hening
"Gue banting lo" ketus Fatin "Lo gak percaya sama gue, kita udah sahabatan lama. Tapi lo malah nyembunyiin tentang diri lo dari gue sama Wira. Segitu gak yakinnya lo sama kita. Padahal, setiap yang gue rasain, mau susah atau seneng lo pasti terlibat di dalamnya. Tapi enggak dengan lo. Lo lebih milih menikmatinya sendiri, gue ngerti kok. Jujyr, gue kecewa sama lo"
Hening langsung terkejut mendengar ucapan Fatin. Hatinya sakit, ini adalah pertama kalinya dia mendengar kekecewaan Fatin padanya. Hening kembali menggenggam tangan Fatin, ditatapnya Fatin dengan matanya yang sudah berkaca-kaca.
"Maafin gue Fa, maaf. Bukan maksud gue buat nyembunyiin semuanya. Gue cuma takut lo gak setuju hubungan gue sama Arsen. Makanya gue nyembunyiin ini dari lo sama Wira"
Hening langsung menundukkan wajahnya.
"Kenapa, apa hak gue ngelarang lo. Lo berhak lakuin apapun asal itu bikin lo bahagia, kita pasti akan bahagia juga Ning. Kita tuh sayang sama lo, lo gak perlu harus sembunyi-sembunyi dari kita"
__ADS_1
"Maaf, maafin gue. Gue salah, gue udah bikin lo kecewa. Maafin gue Fa" ucap Hening yang langsung memeluk Fatin dan terisak di dalam pelukannya.
Fatin membalas pelukan Hening, tak terasa air matanyapun ikut mengalir.
"Maafin gue Fatin"
"Iya gue maafin kok. Udah dong jangan nangis"
"Tapi lo kecewa sama gue, gue jahat. " ucap Hening sambil terisak
"Enggak kok, gue gak kecewa. Udah dong jangan nangis lagi" ucap Fatin
Hening melepaskan pelukannya dan di tatapnya wajah Fatin serius.
"Serius gak marah lagi kan"
Fatin tersenyum dan mengangguk.
"Makasihhhh Fatinn." ucap Hening lalu kembali mendekap Fatin sebentar.
"Aahhh,, lepasin. Gue gak bisa nafas"
"Hehehe sorry." ucap Hening lalu melepaskan pelukannya
Di lain sisi, terlihat Arsen sedang berada di depan pinty kamar Wira. Beberapa kali tangannya terangkat di awan untuk mengetuk pintu. Namun kembali di urungkannya karena ragu.
"Ahh, lo pengecut banget sih Sen. Ngetuk pintu doang lama banget" Ucap Rico
"Gue takut Ric, gugup banget gue"
"Udah minggir biar gue yang ngetuk" ucap Rico sambil mendorong Arsen ke samping.
*Tok
Tok
Tok*
Wira yang sedang memainkan ponselnya langsung beranjak ke pintu kamarnya saat mendengar ada yang mengetuk.
Ceklek
Saat pintu terbuka, tampak raut ketegangan dari mereka bertiga. Wira menautkan alisnya bingung.
"Kenapa?" tanyanya
"Bo..bo.. boleh ma..ma" ucap Arsen gugup
"Ah lama lo, boleh masuk gak" ucap Rico
Wira hanya mengangguk sebagai jawaban. Wira mengajak mereka duduk di sofa yang ada di kamarnya.
'Duduk aja" jawabnya
Mereka mengangguk kompak lalu perlahan mendudukkan bokongnya di sofa.
__ADS_1
"Ada masalah apa" tanya Wira tanpa basa basi
Arsen mencoba menenangkan dirinya.
"Gue mau ngomong sesuatu sama lo. Tapi sebelumnya gue mau nanya, sebenci apa lo sama Arkhan. Apa lo juga bakal membenci orang di sekitarnya karna udah nyakitin sahabat lo, Fatin"
"Ck, langsung aja" ucap Wira
"Jangan muter-muter Sen" sanggah Hans
"Oke, jadi gini. Gue tuh udah cukup lama berhubungan sama Hening..." ucap Arsen terpotong
"Gue tahu" sambung Wira
Mereka sontak membelalakkan matanya karena terkejut.
"Jadi lo udah tahu, kenapa gak ngomong dari tadi sih" ucap Rico
"Emang kenapa"
"Ahh gelap ah" ucap Hans
"Sejak kapan lo tahu hubungan gue sama Hening" tanya Arsen
"Gak tahu, mungkin sejak awal. Karena gue sering mergokin kalian berdua mesra-mesraan" ucap Wira cuek
"Udah gak usah di bahas. Masalah satu udah clear" ucap Hans
Wira kembali menatap bingung ke arah mereka bertiga.
"Emang ada masalah yang lain" tanyanya
Mereka menjawab dengan anggukan kepala.
"Ini soal Arkhan" ucap Arsen
Wira hanya terdiam saat mendengar ucapan Arsen. Arsen mulai menceritakan dari awal kisah cinta Arkhan dengan Aristia sampai saat ini. Tak satupun bagian di lewatkan olehnya.
"Ck ck ck. Udah gue duga, tuh cewek dempul ada maksud tersendiri waktu deketin Arkhan." ucap Wira
"Jadi gimana, lo mau bantuin dia gak buat balik sama Fatin" ucap Rico
"Gue bantu, tapi gue gak jamin kalo Fatin mau atau enggak" ucapnya
"Gue tahu, yang penting kita udah usaha. Oh iya, Arkhan bakal nyusul kita kesini. Tadi dia ngabarin gue, kalo dia udah ada di Bandara" ucap Arsen
Wira mengangguk paham.
"Udah clear kan, mending kita istirahat. Ntar sore kita bakal menikmati indahnya sunset di pantai Kuta." ucap Wira
"Oke, kita tidur sini deh Wir. Males balik ke kamar" ucap Hans
"Terserah lo"
Setelah mencari posisi yang pas, mereka langsung menuju ke alam bawah sadar. Mereka tidur dengan pulasnya, di tambah lagi dengan udara sejuk dari luar yang berhembus sampai ke dalam.
__ADS_1
Bersambung...