
<<\=>> <<\=>> <<\=>>
Hari ini adalah awal hari yang sangat menegangkan bagi seluruh siswa SMA NUSA BANGSA. Pasalnya hari ini adalah hari pertama mereka menjalani Ujian semester untuk naik ke kelas selanjutnya. Guratan-guratan raut cemas dan tegang tampak jelas di wajah mereka semua.
Kecemasan di wajah mereka semakin terlihat jelas saat Ketua kelas membagikan lembaran soal di meja masing masing. Mata pelajaran yang sangat sulit di mengerti dan membuang pusing kepala, saat ini sedang terpampang nyata di hadapan mereka. Matematika! Ya, mata pelajaran inilah yang menjadi pembukaan ujian semester genap mereka.
Suasana kelas nampak sunyi dan penuh dengan ketegangan. Mungkin kalian berpikir bahwa pasti ada beberapa dari mereka yang telah menyiapkan jalan pintas. Tapi itu tak ada gunanya, karena di setiap sudiut ruangan ini sudah terpasang cctv. Jadi, demi mendapatkan nilai yang memuaskan dan tentu saja agar bisa mempertahankan posisi mereka di kelas A. Maka mereka harus berjuang sekuat tenaga.
Waktu terus berputar, mereka hanya diberi waktu untuk menyelesaikan soal-soal itu selama sembilanpuluh menit. Hanya tersisa tigapuluh menit lagi, tapi sepertinya ujian hidup yang ada di hadapan mereka kini memang menolak untuk di jawab. Soalnya cukup singkat, hanya ada lima pilihan ganda dan lima soal essay. Tapi soal essay itu tentu sudah beranak-pinak. Siapa yang tidak tahu trik dari setiap guru matematika.
"Waktu kalian tinggal 5 menit. Periksa kembali jawaban kalian, jangan ada satupun soal yang tertinggal" ucap Guru pengawas
Tak ada satupun yang menyahut, otak mereka masih terus berperang untuk menjawab soal-soal itu. Jangankan diperiksa kembali, bahkan tujuh dari sepuluh soal itu belum mereka kerjakan sama sekali. Tapi apa boleh buat, di detik-detik penghabisan inilah jurus jitu mereka keluarkan. Menjawab soal dengan jawaban yang mungkin hanya mereka dan Tuhan yang tahu.
"Waktu habis! silahkan kumpulkan lembaran kalian masing-masing" titah Guru pengawas
Dengan tertib mereka perlahan maju satu-persatu untuk mengumpulkan lembaran mereka.
<<\=>> <<\=>> <<\=>>
Seperti biasanya saat jam istirahat setiap siswa akan berbondong-bondong menuju ke Kantin untuk mengisi kembali energi yang telah hilang.
"Giliran siapa nih yang mau pesen" tanya Wira
"Gue..." saut Hening
"Yaudah buruan. Udah laper tingkat dewa nih" ucap Wira
"Siap..." jawab Hening sambil memberikan hormat lalu beranjak untuk memesan makanan.
"Bu, seperti biasa siomay tiga mangkok sama es jeruk tiga" ucap Hening
"Ok.." jawab Ibu Kantin sembari mengacungkan jarinya membentuk huruf o.
Beberapa saat kemudian, Hening sudah tiba dengan sebuah nampan di tangannya.
"Silahkan di makan tuan-tuan dan puan-puan" ucap Hening sambil tersenyum kecil
"Terima kasih pelayan" ucap Wira dengan sedikit ledekannya
Hening hanya menjawab dengan deheman singkatnya. Mereka mulai melahap makanan masing-masing sampai bersih tak tersisa. Mereka menyeruput minuman itu sampai habis kemudian bersendawa bersama.
"Hahahaha, gede banget sendawa lo Wir" ucap Fatin sambil tertawa kecil
"Sodaranya sapi sih" saut Hening
Wira hanya memutar bola matanya malas mendengar ledekan sahabat-sahabatnya itu.
"Oh iya, gimana tadi ujiannya. Lancar gak kalian" tanya Wira
"Alhamdulillah lima dari sepuluh soal gue yakin bener" jawab Hening sambil mengangkat satu alisnya dan tersenyum smirk.
"Kalo gue sih yakin gak yakin harus yakin" jawab Fatin sambil mengangkat kedua bahunya."Lo sendiri gimana" tanya Fatin balik
"Alhamdulillah banyak yang gue udah pelajari semalem. Gak sia-sia juga ternyata usaha gue" jawab Wira
"Bagus deh, semoga aja nilai kita bagus-bagus semua. Jadi kita bisa nentuin mau masuk kelas mana" ucap Hening
Fatin dan Wira mengangguk setuju.
"Kalau misalnya cuma gue yang beda sendiri, apa kalian ninggalin gue" tanya Wira
Hening menepuk-nepuk pelan pundak Wira.
"Tenang aja, kita akan tetep bersama kok" ucap Hening
"Iya, yang penting kita sama-sama berusaha dan berdo'a" imbuh Fatin
Wira tersenyum penuh arti kepada kedua sahabatnya itu.
"Kalian memang sahabatku monyet" canda Wira sambil terkekeh pelan.
Fatin dan Hening ikut tertular oleh tertawaan Wira. Merekapun tertawa bersama-sama yang sontak mengundang banyak tatapan mata memandang aneh kepada mereka bertiga.
"Stop-stop, sakit perut gue kelamaan ketawa" ucap Fatin
"Iyanih gue baru selesai makan udah cekakaan aja" sambung Hening
"Ya udah ya udah, kita ganti topik aja" ucap Wira
"Topik apaan lagi, lo gak liat ini udah jam berapa?. Limabelas menit lagi udah lanjut kan. Yuk masuk kelas aja, ntar disambung lagi" ucap Fatin
"Iya juga, okelah yuk ke kelas aja" sahut Wira kemudian bergegas menuju ke tempat Ibu Kantin
"Lo mau kemana?" tanya Fatin
__ADS_1
"Mau bayar lah, biar gue yang traktir" ucap Wira kemudian meninggalkan mereka berdua
"Syukur deh, gue bisa hemat" ucap Hening sambil cekikian
Fatin menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Hening
"Eh Fa, gue boleh minta tolong gak sama Lo" tanya Hening
"Boleh banget, apa sih yang enggak buat Heningku tersayang" ucap Fatin sambil mengacak-acak rambut Hening
"Gue boleh gak kerja paruh waktu di Restoran lo" tanya Hening ragu-ragu
Fatin sedikit terkejut mendengar permintaan Hening.
"Ning, lo kalo butuh apa-apa bilang aja sama gue,pasti gue bantu kok, jadi lo gak perlu kerja-kerja lagi. Fokus aja sama sekolah" ucap Fatin sambil menggenggam tangan Hening
Tiba-tiba Wira datang dari arah belakang dan mengejutkan mereka berdua.
"Lo gak usah sungkan-sama kita Ning. Kitakan udah kayak saudara" ucap Wira sambil menggeser duduknya di samping Hening dan Fatin
Hening merasa terharu melihat kepedulian dua sahabatnya itu.
"Gue tahu kalian peduli sama gue. Tapi gue gak mau jadi beban orang lain" ucap Hening lirih
"Gue gak merasa di bebani kok. Justru gue seneng kalo bisa bantuin lo" ucap Fatin
"Makasih Fa, tapi gue lebih milih buat kerja. Kalian tenang aja, gue bakal tetep fokus buat belajar kok." ucap Hening mencoba meyakinkan kedua sahabatnya
"Gue gak bisa maksa lo Ning. Tapi kalo lo butuh apa-apa, kita berdua selalu siap sedia kok buat lo"ucap Wira
"Makasih ya, kalian berdua emang sahabat terbaik gue" ucap Hening kemudian merangkul kedua sahabatnya itu
"Kita akan tetap bersama di setiap suka dan duka" ucap Wira
Fatin dan Henin mengangguk seraya tersenyum manis.
<<\=>> <<\=>> <<\=>>
Fatin dan kedua sahabatnya berjalan menuju ke arah tempat parkir.
"Lo gak mau bareng kita aja Fa" tanya Wira
Fatin tersenyum seraya menggeleng pelan
"Abang gue udah di deket sini kok" ucap Fatin
"Iya, hati hati ya. Nggak usah ngebut-ngebutan" teriak Fatin
Terlihat Wira mengacungkan jempolnya dari luar jendela mobil.
Setelah kepergian Wira dan Hening, Fatin berjalan menuju keluar gerbang sekolahnya. Fatin mengambil ponsel di saku kirinya lalu menghubungi nomor Reza
Beberapa saat telepon itu berdering, sebelum akhirnya panggilan itu di terima dari seberang sana.
"Halo assalamualaikum. Abang udah nyampek mana"
....
"Oh ya udah kalo gitu. Fatin di tempat biasa kok Bang"
.....
"Waalaikumsalam"
Fatin memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku baju kiri nya.
"Hai Fa, belum balik" ucap seseorang dari samping Fatin
Fatin sedikit terkejut mendengar sapaan itu. Pasalnya, dari tadi hanya ada Fatin seorang disini. Tapi kenapa sekarang bisa ada orang lain.
Fatin hanya terdiam tak menjawab pertanyaan pria itu.
"Mau bareng gak" ajak Arkhan
"Nggak! makasih" jawab Fatin ketus
"Ya udah gue duluan ya.." ucap Arkhan kemudian mulai menyalakan kendaraannya dan berlalu
Fatin hanya berdehem singkat.
*Kenapa juga dia pake nyamperin aku, sok-sokan mau nganterin pulang. Cih, gue lebih milih jalan kaki ratusan kilometer daripada harus pulang bareng dia*gumam Fatin
Beberapa saat menunggu, akhirnya mobil Reza sudah tiba tepat di hadapan Fatin. Tanpa menunggu lama Fatin langsung masuk ke dalam mobil dengan raut wajah kesalnya. Reza mulai melajukan mobilnya perlahan
"Kok kusut gitu sih wajahnya. Susah banget ya ujian tadi" tanya Reza
__ADS_1
"Biasa aja kok Bang" jawab Fatin tanpa menoleh ka arah Reza
"Terus kenapa kok cemberut gitu, ada masalah apa?" tanya Reza lagi
"Tadi Fatin ketemu sama Arkhan. Dia sok-sokan ngajakin Fatin pulang bareng" ucap Fatin sambil mengerucutkan bibirnya
Reza mengulurkan tangannya kemudian mengusap rambut Fatin seraya tersenyum.
"Udah dong, jangan di bawa kesel gitu. Anggep aja cuma angin lewat" ucap Reza
Fatin hanya menjawab dengan anggukan kepalanya.
"Menurut kamu, Farel gimana orangnya" tanya Reza
"Maksud Abang?" ucap Fatin bingung
"Menurut kamu, Farel itu orangnya gimana." ucap Reza mengulang kalimatnya
"Emm, baik sih, ganteng juga, mapan. Pokoknya SMT lah" jawab Fatin
Reza mengernyit heran.
"SMT? apaan" tanya Reza bingung
"Sopan, Mapan dan Tampan" sahut Fatin sambil tersenyum malu
Reza menggelengkan kepalanya melihat tingkah Fatin.
"Abang setuju kok kalo kamu sama Farel" ucap Reza
"Maksudnya.." tanya Fatin
"Ya kalo kamu suka sama Farel, Abang dukung kamu kok. Abang udah kenal dia lama, jadi Abang udah tahu dia orangnya kayak gimana. Seluk-beluk dan asal-usulnya" ucap Reza
Fatin tersipu malu mendengar pernyataan Reza. Sejujurnya, Fatin memang sudah mengagumi Farel sejak awal pertama mereka bertemu. Tapi saat itu Fatin masih memiliki hubungan dengan Arkhan, entah itu masih bisa disebut hubungan atau tidak. Tapi saat ini, setelah mendapat lampu hijau dari kakaknya. Dunia Fatin seakan kembali berwarna.
"Tapi, apa Kak Farel suka sama Fatin ya Bang" tanya Fatin
"Menurut Abang sih iya. Emang kamu gak bisa liat perlakuan Dia sama kamu" ucap Reza
"Perlakuan gimana. Ketemu aja baru tiga kali" ucap Fatin sambil mengerucutkan bibirnya
"Lho bukannya kalian sering chatting ya." tanya Reza
"Enggak tuh" jawab Fatin sambil menggeleng pelan
"Emm, nyali kerupuk banget tuh anak. Padahal dia udah minta nomor ponsel kamu sama Abang. Katanya buat kenalan aja. Padahal kan kalian udah kenal, jadi dugaan Abang, Farel itu suka sama kamu" ucap Reza
Fatin yang mendengar pernyataan Reza akhirnya tersipu malu. Fatin menundukkan wajahnya dan terus tersenyum malu. Reza yang melihat tingkah Fatin kembali menggeleng pelan. Setelah itu tidak ada lagi percakapan antara mereka berdua.
Beberapa saat kemudian, akhirnya mobil Reza smapai di kediamannya. Fatin dan Reza bergegas turun dari mobil dan masuk kedalam rumah mereka.
"Assalamualaikum.." ucap Fatin dan Reza bersamaan
"Waalaikumsalam. Anak bunda udah pulang" Sahut Fatin
Reza dan Fatin langsung menghampiri Cindy yang sedang berada di Ruang keluarga. Setelah menyalimi Cindy, mereka berdua kemudian ikut bergabung bersama Cindy.
"Papa mana Bun" tanya Fatin
"Papa lagi ketemu sama client" ucap Cindy
"Ohh, Fatin masuk dulu ya Bunda. Mau ganti banu terys istirahat" ucap Fatin
"Iya sayang" sahut Cindy
Setelah Fatin masuk ke dalam kamarnya, Reza mendekatkan dirinya kepada Cindy.
"Bunda, gimana persiapannya" tanya Reza
"Kamu tenang aja. Semua biar jadi urusan Bunda sama Papa. Kamu fokus ke adik kamu sama Kerjaan aja." ucap Cindy
Rezapun mengangguk patuh.
"Oiya Za, kamu belum ada rencana buat ngenalin Bunda sama kekasih kamu" tanya Cindy
Reza merasa terkejut mendengar pertanyaan Cindy. Padahal selama ini Cindy tidak pernah sekalipun menyinggung soal pasangan Reza.
"Emm, Reza belum kepikiran buat kesitu Bun. Reza mau fokus bahagiain kalian dulu" ucap Reza
"Tapi Bunda juga udah pengen nimang cucu lho Za. Temen-temen arisan Bunda juga sering mamerin cucu mereka ke Bunda. Bundakan jadi iri" ucap Cindy lirih
Reza hanya terdiam membisu. Sejujurnya ada rasa bersalah dihatinya melihat sang Bunda bersedih. Tapi apa mau dikata. Memang Reza belum menemukan gadis yang cocok untuk pasangan hidupnya.
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa like , komen and vote ya readers😊❤