Anak Titipan

Anak Titipan
Pembawa Sial


__ADS_3

*Za, lo harus sembuh. Lo gak liat, princess kecil lo terbaring lemas gini. Apa lo gak sedih, besok itu hari special buat Adek lo, tapi lo malah alesan gini. Lo gak pengen ngerayain ulang tahun pertamanya dengan bahagia. Awas aja kalo lo gak bangun besok, gue hajar lo. Gue janji, Gue gak bakal biarin orang yang udah bikin ki celaka bisa menikmati hidupnya dengan tenang. Lo harus sembuh Bro. Gue tahu lo kuat* batin Farel sambil terus menatap sendu ke arah Fatin yang masih setia memejamkan matanya.


Dengan setia Farel menemani Fatin disampingnya.


 


"Gimana keadaan Bang Reza Kak" tanya Fatin


"Reza baik-baik aja kok. Kamu tenang aja, jangan terlalu dipikirin. Kita harus tetep berdoa buat kesembuhan Reza ya" ucap Farel lembut


"Kita jenguk Abang ya Kak" ucap Fatin memohon


"Iya, aku ambilin kamu kursi roda dulu ya"


Fatin mengangguk pelan.


Setelah Fatin sadar, Dia langsung menghujani Farel dengan ribuan pertanyaan. Farel memahami kesedihan dan kekhawatiran adik sahabatnya itu.


Wira dan Hening juga sudah kembali. Saat ini, mereka sedang menuju ke ruangan dimana Reza dirawat. Kedua orangtuanya belum mengetahui keadaan putri mereka. Mungkin, mereka akan merasa shock untuk kedua kalinya.


Di depan ruangan dimana Reza dirawat. Cindy dan Rio tampak sangat gelisah. Beberapa perawatpun berlarian menuju ke ruangan Reza. Fatin yang melihat itu sontak merasakan detak jantungnya seolah berhenti. Tanpa permisi, air matanya mengalir dengan deras mengaliri pipi mulusnya.


Dari kejauhan, Rio yang melihat putri kecilnya berada diatas kursi roda langsung bergegas menghampirinya bersama istrinya.


Tanpa aba-aba, langsung dipeluknya dengan erat tubuh Fatin. Tangis keluarga itu tak mampu terelakkan lagi. Suasana haru kembali tercipta diantara mereka.


"Sayang, kamu kenapa Nak. Apa yang terjadi" ucap Cindy


"Fatin gak papa Bunda"


"Tapi kenapa kamu bisa duduk di kursi roda" tanya Rio


Fatin hanya mencoba tersenyum kepada mereka berdua.


"Kalian gak usah khawatirin Fatin. Tapi kita harus khawatir sama Abang" ucap Fatin sendu


"Maaf, maafin Bunda. Bunda gak bisa jagain Abang kamu" ucap Cindy seraya berlutut dihadapan Fatin tersedu-sedu


Sebelum Cindy melakukannya. Dengan cepat Fatin mencegahnya.


"Bunda, Bunda gak salah apa-apa. Ini bukan salah siapapun Bunda" ujar Fatin sesegukan


"Om, Bunda, mending kita duduk dulu yuk disana" ucap Wira


"Iya Pa, Fatin juga pengen liat keadaan Abang"


Rio hanya mengangguk pelan. Kemudian mengambil alih kursi pegangan kursi roda dari Farel.


Mereka kembali harap-harap cemas di depan ruang rawat Reza. Hanya ada keheningan diantara mereka. Rio, mencoba menenangkan anak dan istrinya yang masih shock.


"Om, sebenernya gimana kronologisnya sih Om?" ucap Wira membuka suara


"Iya Pa, apa yang sebenernya terjadi, kenapa Bang Reza bisa kecelakaan" tanya Fatin sedikit mendesak


Rio menghembuskan nafasnya kasar. Berat rasanya ingin menceritakan yang sebenarnya. Tapi, berat juga jika dia harus berbohong kepada putrinya.


Flashback


Hari ini adalah hari kepulangan Fatin dan teman-temannya dari liburan mereka. Rio beserta anak dan istrinya sedang menyiapkan kejutan untuk kepulangan mereka, sekaligus untuk merayakan ulang tahun Fatin.


"Bun, udah semua kan" tanya Reza


Cindy mengangguk pelan.


"Tinggal kuenya aja Za" jawabnya


"Dianterin atau ngambil Bun" tanya Reza


"Ngambil Za, tapi Bunda udah minta tolong supir kita kok. Jadi kita tinggal siap-siap aja" ucap Cindy


"Biar Reza aja Bun yang ngambil. Sekalian Reza mau ketemu sama temen" ucapnya

__ADS_1


"Emang gakpapa. Temen siapa sih, diundang aja sekalian" ucap Cindy


"Gapapa Bundaku. Iya kalo dia mau ya Bun" sahut Reza sambil cengengesan


Cindy hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan tersenyum.


Singkat cerita, setelah pertemuan pertama antara Reza dan Alya. Diam-diam mereka telah menjalin kedekatan. Sesekali Reza mengunjungi rumahnya dengan dalih kangen dengan Ara. Meskipun mereka sudah cukup lama kenal, tapi Reza masih belum mengetahui kebenaran tentang Ayla dan Ara.


Reza sudah bersiap-siap untuk menjemput Ayla dan Ara. Senyuman dibibirnya tak pernah luntur sejak tadi. Tak berapa lama, Reza sudah sampai di kediaman Ayla. Dari kejauhan, Reza bisa melihat senyuman manis dari bidadari surganya sedang bercanda dengan peri kecil. Reza bergegas turun dari mobilnya dan menghampiri mereka berdua.


Senyumannya kembali mengembang saat melihat senyuman dari gadisnya. Gadisnya? apakah mereka memiliki hubungan khusus? Ah, entahlah. Intinya, sejak pertemuan pertamanya, Reza telah menetapkan hatinya pada gadis itu.


Ara yang sedang bermain melihat kedatangan Reza langsung bersorak gembira.


"Papaaaa,,,, Ara kangen" teriaknya sembari berlari dan berhambur ke pelukan Reza


Dengan senang hati Reza membalas pelukan peri kecilnya.


"Papa kok udah lama sih gak kesini. Papa gak kangen sama Ara" ucapnya sedih sambil mengerucutkan bibirnya


"Mana ada gak kangen. Papa tuh malahan kangen Ara setiap detik. Kangeeennnn banget" ucap Reza dengan sedikit menghujani kecupan ringan di pipi gembul Ara.


Sementara Ayla, dia hanya terkekeh pelan melihat tingkah Putri kecilnya.


"Mas Reza" sapa Ayla


Reza tersenyum manis kepada gadisnya.


"Kamu apa kabar Ay"


"Alhamdulillah baik mas. Mas sendiri gimana"


"Alhamdulillah Ra. O iya, mas kesini mau ngundang kamu untuk dateng ke acara birthday partinya adik mas"


"Wahh, kapan mas"


"Besok malem. Kamu dateng kan"


"Insa allah mas" ucapnya seraya tersenyum


Spontan Reza langsung memegang dadanya yang berdebar begitu kencang.


"Loh mas, mas kenapa mas. Apa yang sakit" ucap Ayla panik saat melihat Reza memegang dadanya


"Jantung Mas lemah Ay, Mas gak kuat"


"Mas, mas jangan ngomong gitu. Kita keruma sakit ya mas" ucapnya semakin panik


"Mas gak perlu itu Ay"


"Tapi Ayla gamau Mas kenapa-napa" ucap Ayla sambil menatap intens Reza


"Mas cuma butuh kamu Ay, senyuman kamu itu gak boleh sampek ada orang lain yang lihat. Mas gak ridho sayang" ucap Reza mengakhiri dramanya


Blush


Rona merah timbul di wajah Ayla, pipinya terasa pamas mendengar ucapan manis Reza.


"Mas Reza ih, gombal mulu. Ayla pikir mas Reza sakit jantung tahu gak" ucapnya malu-malu


Reza hanya terkekeh pelan.


"Tapi Mas serius Ay, mas gak mau berbagi semua yang ada di diri kamu sama orang lain" ucap Reza tegas


"Ara juga dong" ucap Gadis itu sambil manyun


Siapapun yang melihatnya pasti akan merasa gemas. Gadis kecil dengan pipi gembul yang sedang memonyongkan bibirnya.


"Kalo Ara gapapa dong"


Sekilas, senyuman langsung terbit dibibir Ara.

__ADS_1


"Ya udah yuk kita jalan"


"Loh, mau kemana mas" tanya Ayla bingung


"Kita ambil kue pesenan mama" ucap Reza kemudian meraih Ara kedalam gendongannya.


"Tunggu dulu mas, aku nutup pintu dulu"


Reza mengangguk patuh.


Diperjalanan, suasana mobil Reza terasa sangat ramai. Karena peri kecil mereka yang terus-terusan mengoceh tiada henti. Sesekali Reza ikut nimbrung dalam percakapan dua gadis itu.


Tapi Naasnya, tanpa mereka sadari. Dari arah berlawanan ada mini bus yang melaju dengan kencang dijalur yang salah.


"Mas Reza awas mas" teriak Ayla saat mekihat mini bus itu mulai oleng dengan kecepatan yang tinggi


Reza yang terkejut spontan membanting stirnya dan menabrak pembatas jalan dan sempat terguling beberapa kali. Di tengah sisa kesadarannya, Reza mencari-cari keberadaan Ayla dan Ara. Samar-samar dia mendengar suara ricuh mulai mendekat.


Flashback Off


Fatin begitu tertegun saat mengetahui ternyata ada orang lain yang menjadi korban dari kecelakaan itu.


"Terus gimana keadaan mereka berdua Pa"


"Mereka masih perlu perawatan intensif, memang tidak begitu parah. Tapi masih perlu perawatan dengan baik."


"Fatin mau liat keadaan mereka Pa"


"Nanti ya, mereka masih diperiksa sama dokter didalam"


"Maksud Papa, mereka ada di ruangan ini"


Rio mengangguk sebagai jawaban


"Disisa kesadarannya, Reza sempat meminta untuk berada diruangan yang sama dengan Ayla dan Ara" ucap Rio,


"Pasti dia gadis yang baik. Semoga mereka baik-baik aja"


Tak berapa lama, Dokterpun keluar dari ruang rawat Reza.


Spontan mereka langsung berdiri.


"Gimana keadaan mereka kok"


"Gimana keadaannya dok, apa mereka baik-baik saja"


"Tenang Pak, Bu, Adik-adik. Kami sudah melakukan yang terbaik. Kita hanya perlu berdoa, semoga ada keajaiban untuk mereka bertiga."


"Mak maksud dokter" tanya Cindy


"Maaf Bu, sepertinya akibat benturan yang begitu keras di bagian kepala. Mereka harus mengalami Koma, dan untuk Anak mereka, masih dalam keadaan kritis." ucap Dokter itu kemudian beranjak pergi


Hancur sudah tembok pertahanan yang mereka bangun. Kesedihan kembali terasa saat mendengar kenyataan ini. Ya allah, sembuhkanlah mereka semua.


Fatin memeluk Cindy dengan tangisan pilunya. Ini semua salahnya, jika saja Reza tidak pergi untuk mengambil kue itu. Ini tidak akan pernah terjadi.


"Maafin Fatin Bunda. Papa. Fatin emang pembawa sial, Fatin anak sial Bunda, Pa" ucap Fatin dalam isak tangisnya


Cindy menggeleng keras.


"Ini bukan salah kamu sayang. Ini takdir, kamu bukan pembawa sial. Kamu itu anugerah buat kita" ucap Cindy yang juga tak mampu membendung derai air matanya.


"Fatin anak sial Bunda. Fatin pembawa sial" ucapnya kembali


Rio semakin teriris mendengar ucapan putrinya.


Dipeluknya Fatin dengan erat. Air matanya ikut mengalir melihat kesedihan putrinya.


"Fatin, dengerin papa Nak. Kamu bukan pembawa sial, ini bukan salah kamu Nak. Ini sudah takdir Allah. Gak ada yang bersalah disini" ucap Rio


Wira dan Hening ikut meneteskan air matanya melihat kesedihan mereka. Doa-doa mereka panjatkan untuk kesembuhan Reza, Ayla dan Ara.

__ADS_1


__ADS_2