
๐บ๐บ๐บ
Hari ini, genap seminggu sudah, Fatin masih belum berbicara dengan keluarganya. Cindy sebagai seorang ibu, merasakan kesedihan yang mendalam. Putri satu satunya, menaruh rasa kekecawaan yang teramat besar padanya. Tak ada lagi yang mampu Ia lakukan, hidupnya serasa di ambang hidup dan mati.
"Bunda, ayo dong makan. Nanti Bunda bisa sakit loh" ucap Reza
Cindy tak menggubris ucapan putranya. Pandangannya kosong kedepan. Kesedihannya teramat sulit untuk di obati. Dia hanya menginginkan putrinya, putrinya seorang.
Rio menatap nanar ke arah istrinya. Rio merutuki kebodohannya sendiri.
Andai, andai dulu aku tak menitipkan putriku padanya. Semua ini tak akan pernah terjadi pada keluargaku. Andai dulu hidupku tak sengsara. Pasti keluargaku akan bahagia selamanya. Andai, andai . Batin Rio
" sayang, kamu makan dulu ya. Nanti kita akan coba bujuk Fatin sama sama." bujuk Rio
Cindy menatapnya sebentar, lalu kembali mengacuhkannya.
Hati teriris melihat kondisi istrinya. Apa yang harus ia lakukan. Pikirannya serasa buntu.
๐บ๐บ๐บ
Disisi lain, Fatin masih terus menatap kearah luar. Entah apa yang ada dipikirannya kini, hanya Ia yang tahu. Fatin juga merasakan hal sama dengan ibunya. Dia sangat merindukan kasih sayang ibunya. Dia sangat merindukan pelukan kasih ibunya.
Memori memori kebahagiaan bersama keluarganya yang singkat, terus berputar di ingatannya. Tanpa disadari, air matanya perlahan mengalir melalui pelupuk matanya.
"Ning, gimana. Udah berhasil lo bujuk belum" tanya Wira
Hening menggeleng lesu. Dia berkali kali sudah mencoba membujuk sahabatnya itu. Namun, setiap perkataannya tak diharaukan oleh Fatin.
Hening merasakan kesedihan yang teramat sangat pada Fatin. Entah harus dengan cara apa lagi, agar Fatin mau memaafkan keluarganya.
๐บ๐บ๐บ
Wira dan Hening masuk ke kamar yang ditinggali Fatin.
Ya, semenjak kejadian itu. Fatin menginap dirumah Hening.
Wira dan Hening menatap nanar kearah sahabat mereka. Mereka bisa melihat, Fatin yang sedang sesegukan. Hening menghampiri Fatin dan memeluknya.
Fatin tak membalas pelukan Hening. Air matanya terus mengalir semakin deras, hingga membasahi baju Hening.
"Fa, aku tahu kamu marah, kamu kecewa, kamu sedih. Tapi ini udah terlalu lama kamu jauhin keluarga kamu Fa. Bukannya dulu, kamu sangat ingin ketemu mereka. Dan sekarang, kamu udah ketemu mereka kan. Cobalah memaafkan mereka Fa. Pasti ada alasan yang kuat, yang membuat mereka harus menitipkan kamu Fa. Mereka itu tulus sayang sama kamu. " ucap Hening yang tak mampu menahan tangis haru nya
Fatin semakin terisak di pelukan Hening. Ucapan Hening membuatnya merasa bersalah pada keluarganya.
Saat keduanya tengah larut dalam kesedihan. Tiba tiba dering telfon ponsel Wira berbunyi.
__ADS_1
"Halo Bang, ada apa" tanya Wira
"........" ucap seseorang itu
"Apa, iya Bang. Gue bakal coba bujuk Fatin." ucap Wira
"........." ucap seseorang itu
Panggilan itu berakhir. Wira menghampiri kedua sahabatnya yang sedang larut dalam kesedihan.
"Fa, ada sesuatu yang mau gue omongin sama lo" ucap Wira
Hening yang mendengar ucapan Wira langsung melepaskan pelukannya. Fatin menatap Wira sendu.
"Apa" tanya Hening
"Nyokap lo masuk rumah sakit Fa. Udah seminggu, semenjak lo pergi dari rumah. Nyokap lo gak nafsu makan. Nyokap lo selalu nangis mikirin lo Fa." ucap Wira
Fatin merasakan dunianya kembali runtuh seketika. Ibunya sakit. Dan penyebabnya adalah dirinya. Fatin jatuh terduduk dilantai. Tangis penyesalannya pecah seketika.
Wira dan Hening menghampirinya dan memeluk erat tubuh sahabatnya itu. Mereka memberikan pelukan kasih sayang, mencoba menenangkan Fatin.
๐บ๐บ๐บ
Fatin berhambur memeluk orang yang sedang terduduk di kursi tunggu. Fatin memeluknya dengan erat. Tangisnya semakin pecah saat memeluk orang itu.
"Abanggg.. Maafin Fatin Bang. Ini semua salah Fatin. Gara gara Fatin Bunda jadi sakit. Fatin jahat Bang. Fatin Jahat" ucap Fatin sambil histeris dalam tangisnya
Air mata Reza tak mampu terbendung mendengar ucapan Adiknya. Reza membalas pelukan Fatin dengan erat.
"Ini bukan salah kamu, ini salah kita. Kita yang udah bikin kamu jadi menderita selama ini. Maafin Abang ya Fa. Abang, Bunda, sama Papa. Kita semua sayang sama kamu. Kamu itu sangat berharga buat kita." ucap Reza terharu
Wira dan Hening yang melihat pemandangan itu, tak mampu membendung air mata haru mereka. Mereka berada tak jauh dari dua insan itu.
Tiba tiba, seorang pria paruh baya datang menghampiri kedua anak manusia yang sedang larut dalam kesedihan.
"Fatin" ucap nya
Fatin dan Reza terkejut melihat Rio sudah berada di samping mereka. Rio membentangkan tangannya seraya menatap haru kearah putrinya. Fatin melepaskan pelukan Reza dan berhambur ke pelukan Rio.
Rio dan Fatin saling memeluk erat. Tangis mereka kembali pecah.
"Papa, maafin Fatin Pa. Fatin udah jahat sama kalian semua" ucap Fatin dalam tangis pilunya
Rio memeluk erat putrinya.
__ADS_1
"Ini bukan salah kamu. Ini salah papa, papa orang patut disalahkam disini. Papa yang udah bikin kamu hidup menderita selama ini. Maafin papa sayang. Maaf. Maafin Papa" ucap Rio merasa bersalah
Fatin mengangguk pelan di dalam pelukan Rio. Rio melepaskan pelukannya dan mencium pucuk kepala putrinya.
Cup
"Maafin papa. Papa akan menggantikan semua penderitaan kamu dengan kebahagiaan. Papa akan menebus semua kesalahan papa sama kamu. Papa sayang sama kamu" ucap Rio menatap lekat putrinya
Fatin mengangguk dan tersenyum haru. Fatin kembali memeluk Rio.
Reza menghampiri mereka berdua, Rio membawa Reza kedalam pelukannya. Mereka berpelukan melepaskan kerinduan yang paling dalam.
๐บ๐บ๐บ
Fatin menggenggam erat tangan Cindy. Fatin mencium nya sesekali. Rasa bersalah menyelimuti hatinya, melihat kondisi Ibunya yang terbaring lemas di tempat tidur.
Fatin terus menemani Cindy, tangannya tak pernah berhenti menggenggam tangan Cindy.
Hingga pagi menjelang, Fatin masih tertidur dengan tangannya yang masih tetap menggenggam tangan Cindy.
Perlahan lahan kesadaran Cindy mulai kembali. Cindy mengerjapkan matanya perlahan. Cindy merasakan seseorang menggenggam tangannya dengan erat. Pandangnnya tertuju pada seseorang yang sedang tertidur dengan memeluk erat tangannya.
Cindy sangat mengenali gadis itu. Dia adalah Fatin, putri tercintanya. Tangan cindy beralih mengusap pelan rambut Fatin. Fatin mulai terusik dari tidurnya. Fatin mengerjapkan matanya perlahan.
"Bunda, Bunda udah bangun. Fatin panggilin dokter ya Bunda" ucap Fatin seraya mencoba berdiri. Namun Cindy mencekal tangannya dan menggeleng pelan , seraya tersenyum.
"Fatin. Bunda tahu kamu kecewa sama bunda. Kamu marah sama Bunda. Tapi tolong nak, tolong jangan tinggalin Bunda. Sudah terlalu lama Bunda menjalani hari hari tanpa kamu. Bunda sangat sangat sayang sama kamu Fatin. Tolong maafin Bunda. Jangan tinggalin Bunda lagi" ucap Cindy dengan mata berkaca kaca.
Fatin menatap haru kearah Cindy. Fatin mengangguk dan tersenyum ke arah Cindy. Fatin memeluk Cindy dengan erat.
"Bunda. Fatin juga sayanggggg banget sama Bunda. Maafin Fatin ya Bunda. Gara gara Fatin, Bunda jadi sakit. Fatin janji, Fatin gak akan pernah ninggalin Bunda lagi. Fatin gak mau kehilangan Bunda" ucap Fatin seraya mengeratkan pelukannya.
Cindy tersenyum bahagia. Air mata bahagianya perlahan mengaliri pipinya. Cindy mengusap kepala putrinya dengan sayang.
๐บ๐บ๐บ
Bersambung...
**Sorry ya readers. Baru Up lagi..
Masih semangat gak nih bacanya
..Harus tetep semangat ya readers.
Happy weekend. Love you all๐โค**
__ADS_1