
Pagi yang cerah, sang mentari sudah mulai menampakkan wujudnya.Kicauan burung-burung menghiasi indahnya pagi ini. Bunga-bunga bermekaran dengan indah.
Fatin tengah melaksanakan sarapan bersama keluarganya. Setelah selesai, mereka masih tetap berada di meja makan sambil berbincang kecil.
"Udah selesai belum packingnya sayang" tanya Bunda
"Udah dong Bun. Beres pokoknya, tinggal meluncurrrr" jawab Fatin
"Hati-hati ya disana. Pokoknya Papa gak mau Princes kecil Papa kenapa-napa" ucap Rio
Fatin tersenyum dan mengangguk.
"Papa tenang aja. Princes Papa bakal pulang dengan selamat kok" Jawabnya dengan senyuman manis di bibirnya
"Abang gak pengen ikut liburan" tanya Fatin
Reza menggeleng pelan.
"Lain kali deh, Abang bosen liat kamu terus" jawabnya santai
Fatin mengerucutkan bibirnya merasa kesal.
"Yaudah, Fatin mau disana sampek waktunya masuk sekolah. Fatin juga bosen kok ketemu Abang terus" jawabnya ketus
Reza sontak memandang Fatin dengan tatapan tak suka.
"Terserah.." ucapnya
Fatin mencebikkan bibirnya tak suka. Sambil bersidekap, Fatin menatap tajam Reza.
"Yaudah terserah, awas aja kalo Abang hubungin Fatin. Nggak bakal Fatin respon" jawab Fatin
"PD banget. Siapa juga yang mau hubungin kamu" cibir Reza
"Udah-udah, kalian ini. Kalo deket berantem, kalo jauh kangen" ucap Cindy
"Ihh sorry ya Bun. Rasa kangen Fatin buat ni orang udah lenyap" jawab Fatin sambil melirik sinis Reza
Reza membalasnya dengan tatapan sinisnya pula.
"Bodo amad.."😑 jawab Reza
"Udah-udah berantem terus kalian ini. Jam berapa kamu berangkatnya sayang" tanya Rio
Fatin langsung merubah ekspresinya.
"Bentar lagi Pa, nunggu jemputan" jawabnya
Rio mengangguk paham
"Mau jajan berapa" lanjut Rio
"Udah beli jajan banyak Pa, kan kemaren Papa yang anterin" ucap Fatin
"Maksud Papa, kamu mau minta uang jajan berapa" ucap Rio
Fatin mengetukkan jari telunjuknya di dagu, sambil memasang ekspresi anehnya.
"Emm,,, seikhlasnya Papa aja" jawabnya snatai
"Seikhlasnya, di kira mau nyumbang kali" sambung Reza
"Orang asing mohon diam" ucap Fatin sinis
Reza memutar bola matanya malas.
"dua ribu deh. Kan seikhlasnya" goda Rio
Fatin langsung melotot tak percaya.
"Papa ih, dua ribu beli air kelapa muda juga gak dapet" ucap Fatin cemberut
Rio terkekeh pelan.
"Katanya seikhlasnya" godanya
Fatin kembali bersidekap di dada dengan ekspresi masamnya.
"Mending gak jajan Pa. Buat beli es kelapa aja gak bisa" ucapnya
"Ya udah berapa" tanya Rio
"Terserah Papa" jawabnya
"Tuh kan, terserah Papa. Ya udah dua ribu" ucap Rio santai
"Au ah gelap"
"Papa ih, jangan gitu dong" ucap Cindy
"Marahin Bun, masa Bunda tega liat anak cantiknya cuma jajan dua ribu ke Bali" ucap Fatin
"Tapi Papa bener juga sih, kan kata kamu seikhlasnya. Mungkin Papa ikhlasnya dua ribu" ucap Cindy dengan ekspresi menahan tawanya
__ADS_1
Fatin membelalakkan matanya tak percaya.
"Bundaaaaa,,, Fatin kan anak Bunda. Kok Bunda malah belain Papa sih" ucapnya kesal
"Kan Papa suami Bunda" jawab Rio santai
"Ihh,,, udah ah. Fatin sebelll, Fatin ngambek pokoknya" ucapnya sambil memalingkan wajahnya
"Ngambek kok bilang-bilang" ucap Reza
"Abang mending diem. Mau Fatin telen bulet-bulet" ancamnya
"Uuhh tatuuttt" jawab Reza dengan ekspresi sok polosnya membuat Fatin semakin merasa geram.
Beberapa menit hanya ada keheningan di meja makan.
"Udahan belum ngambeknya" tanya Rio
"Papa ih aneh, orang ngambek kok di tanya udah belum" ucap Cindy sambil memukul lengan suaminya
"Heheheh,,, kan biar tahu sayang" jawab Rio seraya erkekeh pelan
"Udah dong ngambeknya. Masa mau liburan mukanya kusut gitu" ucap Rio
"Papa nyebelin sih" jawab Fatin
"Ya udah, Papa gak nyebelin lagi nih"
Beberapa saat kemudian, terdengar suara deru mobil. Tak berselang lama, muncullah Wira, Hening, Rico, Hans dan Arsen.
"Good morning all" sapa Wira
"Fatin sayangggggg" teriak Hening sambil berlari kemudian berhambur memeluk Fatin
"Heningkuuu.. Uhh kangen bangettt" ucap Fatin smabil membalas pelukan Hening
"Lebay banget sih, kaya gak ketemu setahun aja" cibir Wira
"Iri bilang Bang" balas Fatin, Wira mencebikkan bibirnya tak suka.
"Wah rame ya, yuk kita ke ruang tamu aja" seru Cindy
"Iya, ayo guys" jawab Fatin kemudian berjalan menggandeng Hening
"Ayo silahkan duduk" ucap Rio
"Iya om.." jawab Rico
Mereka mengangguk seraya tersenyum kecil.
"Kenalin om, saya Rico, ini Hans dan yang ini Arsen" ucapnya
"Tiga serangkai juga yaa" ucap Cindy
"Enggak Tan, kita empat serangkai. Tapi Arkhan gak ikut" ucap Hans
"Arkhan? yang tampan itu yaa. Waahh, jadi kalian temen-temennya Arkhan. Pantesan ganteng-ganteng semua" puji Cindy
Rico dan teman-temannya sedikit tersanjung atas pujian Cindy.
"Ah Tante tahu aja kalo kita ganteng" ujar Rico sambil menyugar rambutnya
Mereka terkekeh geli melihat tingkat kepedean Rico.
"Om cuma cuma pesen satu hal sama kalian semua, jaga diri baik-baik dan harus saling melindungi"
"Itu dua hal Om, bukan satu" sahut Hans yang kemudian langsung di beri tatapan tajam oleh Arsen
"Hehehe, sorry bro. Emang bener kan, kata si Om satu hal padahal kan dua" tutur Hans dengan cengirannya
●●●●●●
Rio dan Cindy mengantarkan kepergian Fatin beserta teman-temannya sampai ke Bandara.
"Makasih ya Om udah mau nganterin kita" ucap Rico
Rio menjawab dengan anggukan kepalanya.
"Ingat ya, harus hati-hati" pesan Rio
"Siap Om" jawab mereka
"Kita pamit dulu ya Ma, Pa" pamit Fatin kepada kedua orang tuanya
Cindy memeluk sesaat putrinya, kecupan-kecupan ringan di berikan di seluruh wajah Fatin.
"Hati-hati ya sayang. Jaga diri baik-baik" ucap Cindy
Fatin tersenyum dan mengangguk.
"Iya Bundaku"
"Jangan nakal ya sayang. Jangan lama-lama juga, nanti Abang kamu kangen" ucap Rio sambil terkekeh pelan
__ADS_1
Fatin mengerucutkan bibirnya
"Iya Papa, biarin aja kalo Abang kangen. Fatin lagi ngambek sama Abang" ucapnya , Rio tersenyum kecil melihat tingkah putrinya
"Kita juga pamit ya Om, Tante" pamit Hening kemudian di ikuti oleh yang lainnya.
"Hati-hati ya kalian disana" pesan Cindy
"Siap Macan" sahut Rico
Tatapan mereka langsung jatuh kepada Rico. Rico yang paham maksud dari tatapan itu langsung memberikan penjelasannya.
"Maksudnya Mama cantik. Kan kalo di singkat jadi Macan, hehehe" tutur Rico sambil menggaruk tengkuknya
"Iya deh gak papa di bilang Macan." ucap Cindy
"Ayo siap-siap, sebentar lagi pesawat kalian akan take off" perintah Rio
Merekapun mengangguk patuh, setelah mendengar pengumuman bahwa pesawat yang mereka tumpangi akan segera take off, Fatin dan yang lainnya segera menuju ke dalam pesawat. Cindy melambai-lambaikan tangannya melepas kepergian putri tercintanya.
Setelah pesawat mereka telah lepas landas, Rio mengajak istrinya untuk pulang. Di perjalanan, Cindy tampak gelisah.
"Bunda kenapa sih, kok dari tadi Papa perhatiin gelisah banget"
"Gak tahu Pa, perasaan Bunda tiba-tiba jadi gak enak gini ya. Semoga gak akan terjadi apa-apa"
"Huuss, Bund gak boleh negatif thinking gitu. Gak baik lho"
"Tapi perasaan Bunda gak enak Pa, semoga gak terjadi apa-apa sama Fatin dan temen-temennya"
"Aamiin. Kita harus selalu berdoa untuk keselamatan mereka Bunda"
"Iyaa Pa"
●●●●●●
Pesawat yang di tumpangi Fatin dan teman-temannya telah medarat dengan selamat. Fatin beserta rombongannya langsung menuju ke tempat parkir. Karena disana sudah ada mobil yang menjemput mereka. Ada dua buah mobil BMW yang menjemput kedatangan Fatin dan teman-temannya.
"Woaahh, udah kaya orang penting aja nih kita. Dateng-dateng langsung di jemput mobil mewah" ucap Hans
"Kita bukan orang penting, tapi kita bawa anaknya orang penting" sahut Fatin seraya melirik ke arah Wira
"Sebenernya lo tuh siapa sih Wir?" tanya Rico
"Manusia lha" jawabnya cuek
"Ck, maksud gue kok lo di bilang anak orang penting. Terus lo juga bisa nraktir kita ke Bali gini"
"Yaelah Ric, udah hampir tiga tahun lo masih gak kenal siapa Wira. Kudet banget sih Lo" cibir Hening
"Gue kenal kali, dia kan sahbat lo berdua. Cuma gue gak ngerti maksudnya anak dari orang penting itu apaan" ucap Rico
"Udahlah, ngapain sih ngurusin gue. Kita kesini tuh mau happy-happy. Jadi, gak usah mikir yang lain" ucap Wira kemudian berjalan memasuki salah satu mobil yang ada di hadapan mereka. Yang di ikuti oleh teman-temannya yang lain.
Kedua supir mobil itu membungkuk hormat kepada Wira dan teman-temannya.
Rico, Arsen dan Hans berada di satu mobil yang sama, sedangkan Wira, Hening dan Fatin berada di mobil lainnya.
Di dalam mobil, Rico masih berpikir keras tentang siapa sebenarnya jati diri Wira.
"Sen, lo gak penasaran sama Si Wira"
"Enggak"
"Ck, tapi gue penasaran banget. Kok bisa sih dia dengan mudahnya biayain liburan kita semua. Lengkap sama fasilitasnya lagi"
"Lu tanya aja sama Pak supir itu. Kalo gue gak tahu pasti jawabannya"
"Bener juga Lo"
"Pak, Bapak kenal gak sama Wira"
"Kenal Mas"
"Emang dia anak orang penting ya Pak"
"Kalau penting tidaknya saya tidak tahu pasti. Yang saya tahu, Mas Wira itu anaknya pengusaha pertambangan batu bara di Kota K. Sekaligus pemilik dari Perusahaan WB Company"
Rico, Hans dan Arsen sontak membelalakkan kedua bola matanya mendengar penjelasan dari supir itu. Mereka tak menyangka, jika Wira ternyata merupakan anak dari pengusaha besar. Perusahaannya adalah perusahaan yang sangat terkenal di berbagai penjuru dunia.
Mereka merasa kagum dengan Wira, meskipun dia termasuk anak dari orang yang sangat berpengaruh, tapi tidak sedikitpun dia menyombongkan dirinya atas kekuasaan keluarganya.
"Gue gak nyangka kalo Si Wira itu anak pengusaha besar. Tapi gaya hidupnya sederhana banget, mungkin yang mencolok cuma mobilnya doang" ucap Rico
Hans dan Arsen mengangguk setuju.
"Gue setuju, pantesan aja dia bisa biayain kita semua liburan ke Bali. Bahkan kita di kasih fasilitas mewah, karena dia anak sultan Bro"
●●●●●●
Bersambung....
Hai hai readers, sorry ya baru up lagi. Mohon maaf sebesar-besarnya ya readers atas keterlambatan up episodenya. Mohon jangan tinggalkan novel ini.
__ADS_1