Anak Titipan

Anak Titipan
Siuman


__ADS_3

Aku tidak pernah keberatan menunggu siapapun berapa lama pun selama aku mencintainya." (Linguae, Seno Gumira Ajidarma)


Keadaan Ara sudah benar-benar pulih. Dia juga sudah diperbolehkan untuk pulang sejak tiga hari yang lalu. Bahkan, Rio dan Cindy telah menyiapkan sebuah kamar yang didesain khusus untuk Ara. Setiap hari para Aunty dan Unclenya selalu datang mengunjungi Ara.


"Oma, Aunty sama Uncle belum pulang sekolah yaa" ucapnya


"Belum sayang, mungkin sebentar lagi. Ara mau makan gak?" tanya Cindy


"Mau Oma, tapi kita makan bareng Oppa ya" balas Ara dan dijawab anggukan oleh Cindy.


Setelah bersiap-siap, Cindy langsung menuju ke mobilnya yang sudah disiapkan oleh supir privatnya.


"Pak ke Resto utama ya"


"Baik nyonya" jawab supir itu kemudian mulai melajukan mobilnya perlahan.


Cindy mengambil ponselnya untuk menghubungi Rio bahwa mereka akan makan siang disana. Kemudian menghubungi Fatin dan mengatakan bahwa mereka sedang keluar. Dan meminta Fatin untuk mengunjungi Reza dan Ayla.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 45 menit, Cindy dan Ara sudah tiba di Restoran mereka. Sang supir bergegas turun dan membukakan pintu untuk Nyonya besar dan Putri kecil.


"Langsung pulang aja ya Pak" ucap Cindy ramah. Supir itu mengangguk paham lalu membungkukkan badan dan pamit undur diri. Cindy menggandeng tangan Ara menuju ke Restoran. Didepan pintu mereka langsung disambut oleh beberapa pelayan disana. Sedikit banyak mereka telah mengetahui siapa gadis kecil yang digandeng oleh Cindy.


"Oma, Oppa mana sih. Kok lama banget" ucapnya sambil mengerucutkan bibirnya


"Nah itu Oppa" tunjuk Cindy, Ara langsung mengikuti arah tuju Cindy. Senyum manisnya seketika terbit saat melihat Oppanya membawa sebuah kotak Coklat kesukaannya.


"Halo Cucu Oppa. Maaf ya nunggu lama, ini buat kamu" ucap Rio sambil mengecup pucuk kepala Ara kemudian menyerahkan kotak coklat itu. Ara menerimanya dengan senyum kegirangan.


"Makasih Oppa, Ara sayaannggg banget sama Oppa"


"Oppa juga sayang kok sama Ara"


"Oppa doang nih yang dipeluk. Ara gak sayang samam Oma" ucap Cindy berpura-pura marah. Sontak Ara langsung melepaskan pelukan Rio dan beralih memeluk Cindy.


"Sayang Oma" ucapnya kemudian saling melepaskan pelukan mereka


"Ara mau makan apa?" tanya Rio


"Terserah" jawabnya singkat


Rio hanya menggelengkan kepalanya melihat cucunya itu langsung fokus dengan kotak coklatnya. Seorang Waiters menghampiri mereka setelah diberi kode oleh Rio. Rio meminta mereka untuk membuatkan makanan seperti biasa.


□□□□□


Sepulang sekolah, Fatin langsung menuju ke rumah sakit bersama dengan Arkhan dan dua sahabatnya.


"Kita makan dulu yuk" ucap Fatin


"Grab aja yaa, males keluar gue" ucap Wira


"Okedeh, Lo yang pesen ya"


"Siap" jawabnya.


"Fa, keponakan Lo udah berapa tahun sih" tanya Hening


"lima deh kayaknya" balas Fatin


"Kenapa gak dimasukin di Taman Kanak-kanak aja. Udah lumayan lho usianya" sambung Arkhan

__ADS_1


"Rencananya sih gitu. Tapi kita masih nunggu Bang Reza sama Kak Nayla sadar dulu" balas Fatin


"Fa, kalo Ara udah gede buat gue ya" celetuk Wira


"Enak aja, Ara udah gede Lo udah Kakek-kakek kali Wir" seru Hening


"Ya gapapa lha, kan bisa jadi daddy sugar" balas Wira sambil terkikih geli


"No, gue gak restuin" ucap Fatin ketus


"Emang lu Bonyoknya. Kan bukan, kalo Ara mau lu bisa apa" jawab Wira dengan Pdnya.


"Mau jadi pedofil lo Wir, ckckck" sambung Arkhan


"Hehehehehe, abisnya gak ada yang mau sama gue. Lu lu pada mah enak. Udah punya gandengan semua, nah gue. Tajir doang pacar gak punya" rutuk Wira pada dirinya sendiri. Mereka langsung menertawakan nasib Wira. Padahal semuanya telah dimiliki, mulai dari bibit bobot bebet. Tapi belum ada seorangpun yang mampu menaklukan hati seorang Wira.


"Abisnya lo milih-milih sih" balas Fatin


"Ya milih lha Fa, kalo gak milih ntar gue salah pilih" jawab Wira enteng


Saat akan menjawab kata-kata Wira, tiba-tiba pintu ruangan mereka diketuk.


"Eh grab tuh kayaknya" sambung Arkhan


Wira langsung berdiri melangkahkan kakinya menuju pintu. Dan benar saja Wira kembali dengan menenteng beberapa box makanan. Sebelum melanjutkan perbincangannya mereka memilih untuk mengisi perut terlebih dahulu.


"Alhamdulillah kenyang" ucap Wira


"Enak yaa, pesen dimana sih" celetuk Hening


"Di Restonya Fatin" balas Wira


Setelah menikmati makan siang yang sudah lewat waktu. Mereka memilih untuk bermain game balok untuk menghilangkan kegabutan . Sesekali mereka tertawa keras saat balok-balok itu ambruk karena Wira. Alhasil wjah Wira yang tampan rupawan itu langsung berubah cemong-cemong karena coretan dari mereka bertiga. Saat sedang asyik-asyiknya bermain samar-samar mereka mendengar rintihan seseorang.


"Araa, Aylaa, Araa,, Ayla" Rintih orang itu


Wira yang menyadari pendengarannya menangkap sesuatu langsung menghentikan permainan.


"Weeiittss, diem-diem. Lu pada denger sesuatu gak" ucap Wira sambil kembali menjamkan pendengarannya


"Araa, Aylaa" Rintihan itu kembali terdengar


"Bang Reza, itu suara Abang" ucap Fatin. Sontak mereka langsung berlari menuju ke ranjang Reza. Dan benar saja, rintihan itu adalah rintihan Reza.


"Abanggg, Abang udah sadar. Alhamdulillah terima kasih ya Allah" ucap Fatin dan langsung berhambur memeluk Reza. Tangis bahagianya kembali muncul, akhirnya penantiannya selama ini mebuahkan hasil. Wira dan Hening ikut meneteskan air matanya karena harus dan bahagia.


"Fatin, Ara sama Ayla mana" ucap Reza parau


"Ara lagi sama Bunda Bang, Kak Ayla ada disamping Abang" jawab Fatin sambil melepaskan pelukannya


"Kamu kenapa nangis, Abang gak papa kok" balas Reza


"Bantu Abang bangun" lanjutnya


"Abang baring dulu, Abang masih sakit" ucap Fatin panik


"Abang udah baikan, bantuin Abang bangun. Abang mau dideket Ayla"


Fatin tak mampu menolak keinginan Reza, Arkhan dengan sigap langsung membantunya menegakkan tubuh Reza.

__ADS_1


"Abang jangan turun dulu, biar Wira panggil dokter sebentar buat periksa keadaan Abang" ucap Wira kemudian langsung berlari menuju keluar


Arkhan dan Fatin membantu Reza menyandarkan tubuhnya di ranjang.


Tak berapa lama Wira sudah kembali dengan Seorang Doker.


"Biar saya periksa dulu ya Mas" ucap Dokter itu


"Alhamdulillah keadaannya sudah pulih, tapi usahakan jangan terlalu banyak beraktivitas dulu. Dan selang infusnya jangan dulu dilepas"


"Dok, bisa tolong periksakan wanita itu" tunjuk Reza kepada Ayla


Dokter itu mengangguk patuh dan langsung berpindah ketempat Ayla dan memeriksakan keadaannya.


"Keadaannya baik-baik saja, mungkin nona ini sedang menikmati tidur panjangnya. Tapi tidak perlu ada yang dikhawatirkan lagi tentang keadaannya. Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu" pamitnya undur diri


"Tuhkan, Abang gak boleh banyak aktivitas dulu. Dengerin kata dokter, sebentar lagi Bunda sama Papa bakal dateng sama Ara" ucap Fatin


"Ar, cariin gue kursi roda" perintah Reza, dengan patuh Arkhan langsung keluar untuk mencari kursi roda. Padahal jaraknya dengan Ayla tidak begitu jauh. Beberapa saat kemudian Arkhan sudah kembali dengan mendorong kursi roda.


"Ayo Bang gue bantu" ucap Wira sambil membantu Reza berdiri


"Makasih Wir"


"Santai Bang" ucapnya


Fatin langsung berdiri dibelakang Reza dan mendorong kursi rodanya mendekati ranjang Ayla.


Reza meraih tangan gadis pujaannya dan digenggamnya dengan erat.


"Ay, aku udah sadar Ay. Maafin aku, ini semua salah aku Ay. Kamu jadi ikutan terbaring disini, Ay. Bangun ya sayang, aku kangen sama kamu. Ay, bangun Ayla" ucap Reza dengan suara serak seolah menahan sesuatu dihatinya. Rasa bersalah meliputi dirinya karena telah melibatkan kekasihnya dalam tragedi ini.


Fatin mengusap punggung Reza mencoba memberikan ketenangan "Abang, udah ya. Pasti gak lama lagi kak Ayla sadar kok. Abang denger kan apa kata dokter tadi" ucap Fatin


"Ini semua salah Abang Fa, kalo aja Abang gak ngajak mereka. Pasti ini gak akan terjadi, Abang penjahat Fa, Abang pembunuh" ucap Reza dengan tangisnya yang pilu


"Abang apaan sih, pembunuh dimananya. Gak ada yang jadi korban jiwa disini. Abang bukan pembunuh bang" ucap Fatin sambil memeluk Reza. Hatinya sakit saat mendengar Reza mengaku dirinya pembunuh


Mereka luput dalam kesedihan. Hingga sebuah suara nyaring mengejutkan mereka.


"Ayaahhhhhh" teriak Ara dari arah pintu


Reza memutar tubuhnya dan melihat kesumber suara. Hatinya bergetar saat melihat gadis mungilnya memanggilnya dengan sebuatan yang sangat dirindukannya.


"Ara, sini sayang Ayah kangen"


Ara langsung berlari menuju kearah Reza dan berhambur kepelukannya.


"Ayah hiks..hikss.. Ara kangen sama Ayah"


"Ayah juga kangen sama Ara. Maafin Ayah yaa"


"Ayah gak salah kok, Ayah jangan minta maaf ya"


"Ayahhh, kenapa Bunda belum bangun. Apa Bunda gak kangen sama kita"


"Bunda masih capek sayang, pasti sebentar lagi Bunda bangun. Ara jangan sedih lagi yaa , kan udah ada Ayah disini"


"Iya Ayah"

__ADS_1


Cindy yang melihat putranya baik-baik saja tak mampu lagi untuk membendung air matanya.


__ADS_2