
"Jangan masuk dulu. Gue mau ngomong sesuatu sama lo" ucap orang itu sambil menarik tangan Fatin.
Fatin hanya terdiam, dan mengikuti langakah kaki orang yang menggandeng tangannya.
Disinilah mereka saat ini, taman yang indah di malam hari di tambah dengan terangnya malam dengan hiasan bulan bintang di langit malam.
Fatin masih terdiam memandang wajah Arkhan dengan tatapan anehnya. Dalam hatinya penuh dengan berbagai pertanyaan. Seakan tahu tentang apa yang sedang di pikirkan oleh Fatin.
"Gue mau ngomong sesuatu" ucap Arkhan "Jangan motong pembicaraan gue" lanjutnya
Fatin menormalkan wajahnya dan mengangguk paham.
Arkhan mengalihkan pandangannya ke depan.
"Gue tahu, selama ini gue udah banyak nyakitin lo. Mungkin, jika ada kategori orang terbodoh di dunia. Nama gue yang bakal jadi trending topiknya. Kenapa?karena gue udah nyia-nyiain cewek kaya lo. Gue tahu, mumgkin kesalahan gue udah gak bisa di perbaikin lagi. Tapi apa salahnya sebelum semuanya terlalu dalam. Gue ungkapin dulu ke lo" ucap Arkhan. Kemudian di tatapnya wajah Fatin, Arkhan meraih tangan Fatin dan di genggamnya. Fatin hanya terdiam, tak menolak perlakuan Arkhan.
"Sedari awal aku balikan sama dia, gak pernah sekalipun aku punya rasa. Rasa cinta, rasa sayang aku, semuanya udah buat kamu. Mungkin kamu akan berkata, kalo semua itu buat kamu. Kenapa aku ninggalin kamu, jawabannya cuma satu, aku terpaksa. Orang tua aku sama orang tuanya Tia udah sahabatan sejak kecil, dan itu menurun ke anaknya, gue sama Tia. Entah kapan aku gak tau pastinya, sewaktu aku pulang dari rumah Arsen di rumah udah ada orang tua Tia. Aku pikir mereka cuma silaturahmi, tapi ternyata. Mereka lagi ngerancanain perjodohan aku sama Tia. Aku gak bisa apa-apa, karena keputusan bokap udah bulet. Sejak saat itu, aku mutusin untuk ambil jarak dari kamu. Karena Tia pernah ngadu ke orang tuaku tentang kamu yang mencoba meresak hubungan kita. Dan mereka ngancem kalo aku masih deket-deket sama kamu, mereka bakal celakain kamu. Dan aku gak mau itu terjadi. (Menghembuskan nafas kasar) jujur, aku masih milikin rasa itu buat kamu. Tapi mungkin itu berbeda sama kamu" ucap Arkhan panjang lebar. Terlihat dari nada bicaranya, ada ketulusan dan kesedihan di dalamnya.
Fatin melepaskan genggaman Arkhan"Gue harus ngomong apa Ar, gue gak bisa berkata-kata. Entah gue harus seneng, atau sedih. Gue gak ngerti tentang perasaan gue sekarang" balas Fatin
"Aku tahu, kesalahan aku terlalu mustahil untuk di maafkan. Tapi, apa gak ada satu kesempatan lagi buat aku." tanyanya "Aku udah gak ada hubungan apa-apa lagi sama Tia. Kita udah selesai, saat aku mergokin dia selingkuh di belakangku. Awalnya kedua belah pihak keluarga gak percaya. Mereka berpikir kalo aku cuma ngada-ngada. Sampek akhirnya aku berhasil nunjukin bukti-bukti, dan sejak saat itu gak ada lagi hubungan antara kita berdua. Jadi aku mohon, apa gak ada lagi satu kesempatan buat aku" tutur Arkhan
"Maaf, aku gak bisa. Ini terlalu sulit buat aku, tapi begitu mudah buat kamu. Dengan gampangnya kamu buang aku, dan dengan mudahnya juga kamu ingin meraihku kembali. Bukan mustahil, tapi aku masih gak bisa. Luka yang lama belum kering, aku gak siap jika kamu akan menumpahkan air garam di atasnya. Kamu cuma pake logika, tapi aku pake perasaan. Ibarat gelas yang pecah , mungkin bisa di kumpulkan serpihannya dan mencoba untuk merekatkan kembali. Tapi apa kamu tahu, gelas itu tak akan kembali sempurna seperti sedia kala" ucap Fatin dengan tatapannya kosong ke depan.
Arkhan terkesiap mendengar ucapan Fatin. Sakit, itulah yang di rasakannya saat mendengar penolakan dari Fatin. Tapi, rasa sakit ini tentu tak sebanding dengan apa yang di rasakan oleh Fatin.
Aku tahu, sulit bagimu untuk memaafkanku. Tapi pantang bagiku, untuk menyerah mendapatkanmu kembali. Tunggulah saat itu, saat dimana kita akan bersama kembali. Melalui hari-hari penuh dengan warna. Batin Arkhan
"Udah malem, aku masuk duluan." ucap Fatin kemudian beranjak meninggalkan Arkhan.
Arkhan kembali termenung menatap kepergian Fatin. Saat ini Fatin ada di hadapannya. Namun terasa bagaikan mereka berada di benua yang berbeda.
__ADS_1
Setelah puas merenungi kembali hidupnya. Arkhan mulai merasakan kantuk menghampiri. Dengan langkah gontainya, Arkhan menuju ke dalam Villa untuk beristirahat.
●●●●●●
Pagi menjelang, cahaya indah menyinari bumi. Cahaya yang mampu mengalahkan terangnya apapun. Cuaca yang cerah, langit biru dengan di hiasi beberapa awan putih yang menambah kesan keindahannya di pagi hari.
Penghuni villa itu tengah menyantap lezatnya sarapan pagi mereka. Tidak ada sedikitpun yang bersuara. Kecanggunan diantara dua insan tentu saja sangat tampak. Beberapa dari mereka yang menyadari kondisi itu sontak bertanya.
"Kalian berdua kenapa sih. Aneh banget" tanya Rico sambil menatap Arkhan dan Fatin yang duduk berdampingan
Gugup, tentu saja mereka rasakan saat ini.
Fatin mencoba menenangkan dirinya. "Gak kok, perasaan lo aja kali" elak Fatin. Rico hanya menanggapinya dengan mengangkat bahunya.
Selesai sarapan, mereka langsung menuju ke taman untuk mendiskusikan rencana mereka hari ini.
"Kita mau kemana lagi sekarang" tanya Fatin
"Wih, sultan mah bebas" sambung Rico
"Gimana kalo kita kulineran" usul Hening
"Baru juga selesai makan. Udah mau makan lagi lo, itu perut apa karet ban sih. Banyak banget tampungannya" cibir Hans
"Iri bilang bro" balas Hening
"Gimana, setuju gak kalo kita kulineran" tanya Wira
"Gue ngikut" ucap Fatin
"Me to" ucap Rico
__ADS_1
"Aku sih yes" lanjut Arsen
"Oke fix, hari ini kita bakal kulineran di Bali" ucap Wira
"Gimana kalo habis kulineran, malamnya kita Bbq an. Setuju gak" usul Fatin
"Nah mantep nih, sekalian kita bikin tenda. Biar kaya orang camping gitu" sambung Arkhan
Mereka mengangguk setuju dengan usulan Arkhan dan Fatin.
"Oke, kayanya hari ini kita bakal happy-happy lagu" ujar Hans
"Emang kemaren-kemaren lo tersiksa" tanya Hening dan di jawab gelengan oleh Hans
"Maksudnya, liburan kita bakal jadi yang paling berkesan. Karena kita punya banyak kegiatan" tutur Hans
Hening hanya ber oh ria mendengar jawaban Hans.
"Yaudah, mending kita balik dulu ke kamar masing-masing. Kulinerannya kita mulai waktu jam makan siang. Gimana?" tanya Wira
Mereka kembali mengangguk setuju. Tanpa sepatah katapun lagi, mereka langsung membubarkan diri masing-masing.
Bersambung...
|
|
|
Satu dulu ya readers, kalo masih ada waktu author bakal up lagi.
__ADS_1
See you