Anak Titipan

Anak Titipan
Tak mampu jauh darimu


__ADS_3

***


Beberapa hari belakangan ini, Fatin dan Arkhan yang semula menjaga jarak, menjadi semakin dekat. Pasalnya mereka selalu berada di tempat yang sama berdua. Mereka menjalani bimbingan belajar selama satu minggu disekolah. Kedekatan mereka semakin terjalin kembali.


Hari ini adalah hari terakhir mereka menjalani bimbel privat. Besok adalah hari yang sangat ditunggu tunggu oleh mereka berdua.


"Arkhan, jantung akuu.." ucap Fatin sembari memegangi dadanya


Arkhan yang sedang mengerjakan soal soal latihan, sontak menoleh kearah Fatin.


"Kamu kenapa Fa. Kamu sakit, kita kerumah sakit" ucap Arkhan khawatir


Fatin menggeleng pelan.


"Bukan sakit jantung Arkhan. Aku deg degan buat besok" ucap Fatin yang membuat Arkhan membelalakkan matanya.


"Kenapa gak bilang sih. Aku jadi khawatir tau gak, aku gak mau kamu kenapa napa Fa" ucap Arkhan sedikit kesal


Fatin tersenyum kecil melihat wajah masam Arkhan.


Mereka kembali fokus mengerjakan soal soal latihan terakhir.


Setelah usai, mereka memberikannya kepada guru bimbingan itu.


"Wahh,, kalian semakin cerdas ternyata. Semoga usaha kalian selama ini tidak sia sia. Jadi saya akan semakin bangga terhadap kalian berdua" seru Guru Bimbel


Fatin dan Arkhan tersenyum penuh arti mendengar ucapan Guru Bimbel itu.


Karena ini hari terakhir, jadi mereka berdua dipulangkan lebih awal dari biasanya.


Fatin dan Arkhan berjalan jalan sebentar di taman sekolah. Mereka duduk disebuah kursi panjang yang tersedia di taman itu.


"Arkhan, aku takut besok kita gak menang. Pasti lawan kita jago jago semua." ucap Fatin lesu


"Jangan pesimis Fa. Kita harus yakin bisa ngalahin mereka semua" Seru Arkhan


"Tapi kan Ar..." ucapan Fatin terpotong


Arkhan meletakkan telunjuknya dibibir Fatin.


"Syuutt. Kamu inget, kita gak boleh pesimis oke. Kita harus kerja keras biar menang. Kalo seandainya kalah pun, itu bisa dijadikan semangat untuk belajar lebih lagi kan. Gak akan ada yang bunuh kamu kalo kita kalah. Jadi kamu tenang aja, jangan dijadiin beban." ucap Arkhan


Fatin mendengarkan ucapan Arkhan dengan seksama. Fatin mengangguk memyetujui saran Arkhan.


"Makasih ya Arkhan. Kamu emang terbaaeekkk" ucap Fatin seraya tersenyum dan mengacungkan dua jempolnya.


Arkhan tertawa manis melihat tingkah memggemaskan Fatin. Arkhan mengacak acak rambut Fatin gemas.


"Ihh Arkhan, jangan gitu. Berantakan nihh" ucap Fatin cemberut, lalu merapapikan rambutnya


Arkhan terkekeh pelan, lalu merapikan rambut Fatin kembali.


Wajah Fatin memerah saat jaraknya dan Arkhan semakin dekat. Jantungnya berdebar semakin kencang


Duhh Arkhan, jangan deket deket dong. Bisa meninggal akutuh. Jerit Fatin dalam hati.


Arkhan yang sempat melihat rona merah diwajah Fatin, terbesit sebuah ide untuk menggodanya.


"Kok nunduk sih. Gak mau liat wajah aku ya. Aku ganteng loh" goda Arkhan


Fatin semakin merasakan pipinya memanas. Dia tak berani menatap wajah Arkhan. Arkhan terkekeh geli melihat tingkah menggemaskan Fatin.


Tiba tiba Arkhan Arkhan menggenggan tangan Fatin dan mengajaknya pergi.


Fatin hanya mengikuti langkah Arkhan. Fatin merasakan dadanya semakin bergemuruh, debaran yang selalu sama dia rasakan setiap berdekatan dengan Arkhan.


Arkhan mengajaknya menaiki motornya.


"Pake ini dulu ya, biar selamat" ucap Arkhan sembari memasangkan helm untuk Fatin


Fatin tersenyum manis menatap Arkhan


"Makasih Arkhan" ucap Fatin


Arkhan tersenyum lalu mengangguk.


"Ayo naik" pinta Arkhan


Fatin mengangguk lalu perlahan naik kemotor Arkhan.


Arkhan melajukan motornya perlahan menjauhi sekolahnya.


Arkhan awalnya melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Karena merasa takut, Fatin memeluk erat pinggang Arkhan. Arkhan tersenyum manis melihat tangan Fatin memeluknya erat.


Perlahan Arkhan mulai menormalkan laju motornya. Saat Fatin akan melepaskan pelukannya, Arkhan menahan tangan Fatin agar tidak melepaskan pelukannya.


Sepanjang perjalanan Fatin terus memeluk pinggang Arkhan. Sesekali Arkhan memegang tangan Fatin yang berada diperutnya.


Mereka menempuh waktu 30 menit untuk sampai ditempat tujuan. Ternyata Arkhan mengajak Fatin ke sebuah danau yang sangat indah.

__ADS_1


Saat motor Arkhan berhenti, Fatin turun dari atasnya dibantu oleh Arkhan. Arkhan membukakan helm dari kepala Fatin.


Kemudian Arkhan menggenggam tangan Fatin dan mengajaknya menyusuri tepi danau yang sangat indah.


Fatin semakin menggengam erat tangan Arkhan. Fatin mengajaknya berlari lari kecil tanpa melepaskan ganggaman tangan mereka.


"Ayoo Arkhan, kita kesana" ucap Fatin sambil berlari kecil


"Kita jalan aja deh, capek nih lari lari" ucap Arkhan


Fatin menghentikan langkahnya lalu menoleh kearah Arkhan. Terlihat beberapa butir keringan bercucuran di dahi Arkhan. Fatin mengambil tisu di tasnya, lalu mengusapkan diwajah Arkhan.


Arkhan tersenyum manis melihat perhatian Arkhan.


"Yaudah kita jalan aja. Yuk lanjut" ajak Fatin setelah selesai membersihkan keringat Arkhan


Fatin berjalan sendirian kedepan. Saat disadari Arkhan tak mengikutinya, Fatin menoleh ke belakang. Nampak Arkhan yang hanya berdiri dengan memasang ekspresi datar. Fatin menggumam kesal.


"Arkhan, ayo" teriak Fatin


Arkhan tetap berdiri ditempatnya , tak bergeming.


Fatin semakin kesal melihat Arkhan yang hanya berdiam diri ditempat. Fatin memutuskan untuk kembali kepadanya.


"Arkhan kenapasih kok diem aja. Aku udah jalan jauh, tapi kamu masih disini. Nyebelin banget sih" gerutu Fatin sambil memanyunkan bibirnya


"Kamu ninggalin aku" ucap Arkhan singkat


"Aku gak ninggalin. Kan udah aku ajak tadi, kamu budek ya" ucap Fatin kesal


"Tapi kamu gak gandeng aku tuh" ucap Arkhan


Fatin terkejut mendengar jawaban Arkhan. Perlahan Fatin menampilkan lengkungan dibibirnya.


Fatin meraih tangan Arkhan lalu menggenggamnya. Arkhan tersenyum manis melihat tangan Fatin menggenggam erat tangannya.


Mereka terus berjalan bergandengan tangan menyusuri tepian danau. Terkadang mereka berlari lari kecil sambil tertawa ceria.


"Arkhan, capek nih. Duduk yuk" pinta Fatin


Arkhan yang juga merasa sedikit letih menganggukkan kepala.


Mereka duduk dibawah pohon rindang yang sangat sejuk.


"Minta tisu kamu dong" ucap Arkhan


Arkhan menerima tisu itu lalu tersenyum. Perlahan Arkhan memegang dagu Fatin lalu mengelap keringat yang membasahi wajah Fatin. Jarak antar wajah Arkhan dan Fatin hanya berkisar 5 centi. Jantung Fatin berdebar kencang saat menatap wajah Arkhan yang sedang membersihkan keringatnya sangat dekat.


"Udah " ucap Arkhan


Fatin tersenyum kecil lalu mengangguk.


"Aku bersihin wajah kamu juga ya. Sini" ucap Fatin lalu membersihkan keringat di wajah Arkhan dengan tisu.


Arkhan yang menyadari jarak mereka sangat dekat. Tiba tiba mendaratkan sebuah kecupan ringan di kening Fatin


*Cup.


Deg*.


Fatin terkejut saat merasakan sebuah benda kenyal mendarat di keningnya. Jantungnya berdebar debar. Wajahnya semetika memerah, saat menyadari ternyata Arkhan menciumnya.


"Kok merah sih. Mau lagi" ucap Arkhan sambil terkekeh geli


Wajah Fatin semakin memerah dibuatnya.


Arkhan tertawa keras melihat wajah Fatin yang memerah bagaikan tomat.


"kamu laper gak" tanya Arkhan


Fatin hanya mengangguk sambil menunduk


Arkhan meraih tangan Fatin lalu menggenggamnya. Fatin mengikuti langkah Arkhan


Arkhan mengajaknya kesebuah Cafe terdekat. Mereka terus berjalan bergandengan tangan. Tanpa berniat melepaskannya. Saat memasuki cafe , banyak pasang mata yang memperhatikan mereka.


"Kita duduk disana" ajak Arkhan


Fatin hanya mengangguk dan mengikuti Arkhan.


Arkhan menarik sebuah kursi lalu mempersilahkan Fatin duduk. Kemudian disusul oleh Arkhan.


Setelah memesan makanan, beberapa saat kemudian, pesanan mereka datang.


Mereka menikmati hidangan itu dengan tenang. Ditengah tengah suasana menikmati makanan, tiba tiba Arkhan melihat secercah noda makanan dipinggir bibir Fatin. Arkhan mengambil tisu dihadapannya lalu mengusap lembut bibir Fatin.


"Kalo makan pelan pelan. Biar gak belepotan" Ucap Arkhan


Fatin tersenyum malu. Orang orang disekitar mereka berbisik bisik melihat keromantisan dua insan yang sedang dimabuk cinta itu.

__ADS_1


Setelah selesai makan. Mereka memutuskan untuk pulang kerumah. Arkhan mengantarkan Fatin sampai kedepan rumahnya.


"Mau mampir gak" tawar Fatin


"Emang boleh" tanya Arkhan


Fatin mengangguk sambil tersenyum. Arkhan membalas dengan senyuman. Mereka masuk bersama kerumah Fatin.


"Assalamualaikum. Bunda, Fatin pulang" teriak Fatin saat memasuki rumahnya


"Waalaikumsalam. Bunda di dapur sayang" jawab Cindy


Fatin mempersilahkan Arkhan duduk lalu menghampiri Cindy ke dapur.


Saat Fatin meninggalkannya sendiri. Tiba tiba seorang pria turun menghampiri Arkhan.


"Kamu siapa" tanya Rio


Arkhan langsung berdiri dan menyalimi tangan Rio


" Kenalin om, saya Arkhan. Temen Fatin. Tadi kita disuruh pulang duluan, jadinya saya ngajak Fatin main sebentar ke danau terus ke Cafe." jelas Arkhan


Rio tersenyum melihat tingakah Arkhan.


"Silahkan duduk" ucap Rio


Arkahan mengangguk lalu duduk dihadapan Rio


"Kalian bener cuma temenan" tanya Rio


Arkahan mengangguk pasti.


"Serius om. Temenan aja kok" ucap arkhan. Rio mengangguk pelan


Tiba tiba dari arah dapur Fatin datang bersama cindy membawa sebuah nampan berisi minuman segar.


"Loh Papa, kok disini" tanya Fatin terkejut


"Emang gak boleh" ucap Rio santai


Fatin tersenyum kecil.


"Boleh kok. Tapi minum buat papa gak ada. Fatin cuma buatin buat Arkhan, Bunda sama Fatin." ucap Fatin polos


"iya gapapa. Ayo duduk" ucap Rio, Fatin mengangguk lalu duduk disamping cindy


"Papa udah kenalan" tanya Fatin


Rio menggeleng pelan. Arkhan menatap heran kearah Rio. Rio mengedipkan matanya memberi kode pada Arkhan. Arkhan yang paham maksud Rio mengangguk samar


"Oke. Kenalin Pa, Bunda..Ini Arkhan, temen Fatin. Arkhan baik banget loh bunda sama Fatin. Dia juga yang bakal jadi partner Fatin buat OSN besok."ucap Fatin


Arkhan mengangguk seraya tersenyum.


"Arkhan tante," ucap Arkhan sembari menyalimi Cindy. Cindy mengangguk lalu tersenyum


Rio tersenyum mendengar ucapan Fatin. Rio menangkap sebuah sinyal dari kata kata putrinya itu. Dia merasa bahwa, Fatin menaruh Hati pada Pemuda tampan ini.


Rio juga tak mempermasalahkannya. Karena, kesan pertamanya saat beremu Arkhan juga sangat baik.


"Wah, jadi kalian berdua yang bakal jadi Wakil sekolah. Semangat ya, tante doain semoga kalian menang" ucap Cindy


"Iya tante. aamiin, makasih buat doanya" ucap Arkhan


Akhirnya mereka terlibat obrolan ringan yang cukup lama. Hingga tanpa terasa, waktu sudah sore. Arkhan memutuskan untuk pulang dan berpamitan kepada Rio dan Cindy


"Arkhan pulang dulu Om, Tante" ucap Arkhan seraya menyalimi tangan mereka berdua


Rio dan cindy tersenyum dan mengangguk


"Hati hati ya Arkhan" ucap Fatin


Arkhan tersenyum manis kearahnya. Perlahan Arkhan mulai melajukan motornya menjauhi kediaman Rio.


Mereka juga ikut masuk kedalam rumah.


"Adek suka ya sama Arkhan" tanya Cindy


" Bunda apaan sih. Aku mau masuk ah, capek" ucap Fatin salah tingkah


Cindy terkekeh geli melihatnya.


"Pa, Arkhan cocok gak sama Fatin" tanya Cindy


Rio hanya tersenyum lalu meninggalakan cindy.


Cindy merasa kesal melihat suaminya yang tak memberikan jawaban memuaskan. Cindy menggerutu kesal dalam hati.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2