Anak Titipan

Anak Titipan
Farel vs Arkhan


__ADS_3

Dengan ragu-ragu Fatin mulai menusuk sepotong kecil cake unuk diberikan kepada Arkhan. Jantungnya langsung berpacu begitu cepat saat garpu ditangannya ikut dipegang oleh Arkhan dan langsung di arahkan ke mulutnya.


Bluussshh


Seketika wajahnya kembali merona karena tingkah Srkhan. Senyum malu-malu terbit diwajah cantiknya.


Arkhan mengulurkan tangannya untuk mengusap pucuk kepala Fatin. Fatin semakin salah tingkah dibuatnya. Senyum berseri-seri akhirnya terbit diwajah cantiknya. Sejenak, Fatin dapat melupakan kesedihannya saat ini. Keberadaan dan kasih sayang teman-temannya sangat membawa kesan positif bagi Fatin.


"Ciee..ciee.. udah so sweet-so sweetan nih" ledek Wira


"Aduhhh, jadi malu-malu gitu sih" ledek Hening


"Cie merah ciee. Suiit suuiitt" ledek Rico


Fatin semakin malu rasanya, Dia hanya menggigit bibir bawahnya mencoba untuk menetralkan sikap dan jantungnya. Sementara kedua orang tuanya hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Mereka ikut bahagia jika melihat putrinya itu bahagia.


"Gimana nih Om, Tante. Udah dapet restu belum nih" ucap Rico sambil menaik-turunkan alisnya.


"Apaan sih Ric, gue timpuk lo pake cake ntar" gerutu Fatin kesal, sebenarnya bukan kesal tapi karena Dia sudah tak mampu lagi membendung rasa malunya. Apalagi saat ini ada kedua orang tuanya disini, tentu saja semakin membuat Fatin ingin menenggelamkan dirnyandi dasar lautan.


□□□□□


Fatin sudah tidak menggunakan kursi rodanya lagi. Tenaga nya sudah kembali pulih. Saat ini, Fatin sedang menikmati indahnya pemandangan di Taman RS ini. Fatin sesekali berlari-larian kecil sambil menikmati sejuknya udara disana. Arkhan dengan setia menemani kemanapun langkah Fatin menuju. Senyumnya ikut terbit saat melihat gadisnya itu tertawa girang.


"Arkhan, sini dehh. Ikannya lucu-lucu banget" teriak Fatin, jarak mereka tidak terlalu jauh. Arkhanpun mengangguk sambil tersenyum. Dia lari-lari kecilnya, Arkhan melangkahkan kakinya mendekat ke tempat Fatin.


Arkhan duduk ditepi kolam bersama dengan Fatin. Senyumnya selalu terbit setiap melihat Fatin tersenyum. Seolah-olah mereka telah terikat satu sama lain.


"Kamu suka?" tanya Arkhan


Fatin menjawab dengan anggukan kepalanya.


"Yuk ikut aku" lanjutnya sambil menarik tangan Fatin. Fatin hanya mengikuti langkah Arkhan tanpa bertanya-tanya. Mereka berjalan dengan bergandengan tangan, sesekali Fatin mengayunkan tangannya kedepan dan kedebelakang sambil meloncat-loncat kecil.


Arkhan hanya menggelengkan kepalanya seraya tersenyum melihat tingkah Fatin.


Arkhan membukakan pintu mobilnya untuk Fatin. Sikap manisnya membuat Fatin semakin luluh.


Mereka menuju ke sebuah tempat yanh bernama Market Fish. Tempat yang menjual berbagai jenis ikan hias. Fatin sangat antusias sangat mengetahui Arkhan mengajaknya ke tempat ikan hias. Dengan girangnya Fatin berjalan kesana-kemari untuk melihat-lihat berbagai jenis ikan hias yang sangat menarik dan cantik.


"Arkhan, aku mau ini boleh?" tanya Fatin ragu-ragu


Arkhan mengangguk dan tersenyum padanya. Dengan girangnya Fatin refleks memeluk Arkhan. Arkhan sempat terkejut, namun kemudian Dia mencoba menetralkan dirinya.


Setelah membeli beberapa jenis ikan hias, mereka memutuskan untuk kembali pulang.


"Arkhan makasih ya hadiahnya, aku suka" ucapnya sambil tersenyum malu


Arkhan mengulurkan tangannya lalu mengusap lembut rambut hitam Fatin.


"Yuk masuk dulu" ajak Fatin


Kemudian Fatin melenggang masuk dengan di ikuti oleh Arkhan di belakangnya dengan menenteng beberapa plastik ikan hias.


"Assalamualaikum Bibi" ucap Fatin saat memasuki rumahnya


"Waalaikumsalam Neng. Wahh udah pulang yaa, aduh itu buat Bibi ya Neng.


Eehh. Fatin mengernyit bingung. Diapun mengikuti arah pandang Bibi.


"Eh bukan Bi. Inituh punya Fatin, hadiah dari Arkhan. Bibi minta aja sama Papa" ucap Fatin kemudian mengambil alih plastik ikan itu dari tangan Arkhan.

__ADS_1


□□□□□


Di rumah sakit, Rio dan Cindy masih setia menemani putranya.


"Pa, kenapa ini harus menimpa kita sih Pa. Padahal kan niat kita baik buat membahagiakan anak kita. Tapi justru musibah malah datang sebagai tamu." ucap Cindy parau


Rio dengan sabar mengusap-usap punggung istrinya mencoba untuk menyalurkan kekuatan.


"Pa, mama mau bernadzar boleh gak. Siapa tahu dengan ini anak kita sama mereka berdua bisa lekas sembuh" ucap Cindy


"Mama yakin? " tanya Rio, Cindy mengangguk sebagai jawaban.


"Ya udah terserah mama" lanjutnya


Ceklek


Masuklah sosok pria tampan dengan membawa sebuket bunga dan kado ditangannya.


"Assalamualikum Om,Tante" sapanya kemudian mecium punggung tangan mereka


"Waalaikumsalam. Kamu pasti nyari Fatin, Dia udah pulang tadi dianter sama Arkhan" ucap Cindy


"Ohh, gitu ya Tan. Ya udah deh gapapa, Farel titip ini ya buat Fatin" ucapnya sambil menyerahkan barang bawaannya. Namun langsung ditolak oleh Cindy.


"Ehh ya jangan, mending kamu kadih sendiri. Gak seru dong kalo pake perantara, iyakan Pa" ucap cindy kemudian menoleh kepada suaminya. Rio hanya mengangguk sekilas


"Iya sih. Kalo gitu Farel langsung pamit ya Om, Tante. Semoga Reza cepat sembuh, assalamualikum"


"Waalaikumsalam" jawab mereka serempak


"Hati-hati Farel" ucap Cindy , Farel kemudian pamit undur diri


Setelahnya, hanya ada keheningan diruang rawat Reza.


"Pa, Papa suka sama Farel atau Arkhan?" tanya Cindy memecah keheningan


"Mkasud mama. Papa homo gitu" ucap Rio bingung


"Issh,, masa Papa gak peka sih" gerutu Cindy


"Papa lebih setuju Fatin sama Reza atau Arkhan" ucap Cindy to the point


"Ya terserah" jawab Rio cuek


"Kok terserah sih Pa. Mama itu minta pendapat, bukan terserah" ucap Cindy kesal


"Fatin bahagia sama siapapun, papa pasti setuju. Asalkan laki-laki itu mampu menjaga, merawat dan melindungi anak kesayangan Papa. Papa gak bakal maksain dia harus sama siapa, karena itu haknya. Dan suatu saat nanti mereka yang akan menjalani dan saling melengkapi. Bukan kita, dan kita sebagai orangtua cukup mendoakan yang terbaik untuk mereka. Tidak perlu sampai ikut campur lebih dalam" jelas Rio, Cindy membenarkan ucapan suaminya dalam hati.


"Bener juga, ya udah tapi mama juga selalu mendoakan yang terbaik buat anak-anak kita. Semoga mereka mendapatkan pasangan sehidup semati" harap Cindy


□□□□□


Farel sudah memarkirkan mobilnya di halama rumah Fatin.


"Assalamualaikum" ucapnya


"Waalaikumsalam" sahut seseorang dari dalam rumah


"Eh pak polisi, mari pak silahkan masuk" ucap Bibi mempersilahkan Farel dengan ramah


"Fatinnya ada Bi?" tanya Farel

__ADS_1


"Ada Mas, mari duduk dulu. Mas Polisi mau minum apa" ucap Bibi ramah


"Air putih aja Bi"


Bibi pamit undur diri lalu bergegas ke dapur dan memanggil Fatin.


Fatin dan Arkhan sedang berada di ruang keluarga. Mereka masih sibuk memisahkan ikan-ikan milik Fatin. Terdapat sekitar 10 kotak aquarium yang berisi masing-masing satu ikan hias. Fatin lebih memilih memisahkan mereka.


"Permisi Neng, di depan ada tamu" ucap Bibi


"Siapa Bi"


"Mas polisi"


"Iya Bi tunggu bentar ya" ucap Fatin ramah


Setelah selesai memisahkan ikan-ikannya. Fatin dan Arkhan menuju ke ruang tamu.


"Kakak..." teriak Fatin dari kejauhan sambil berlari kecil dan berhambur ke pelukan Farel


"Kenapa lari-lari sih. Ntar jatuh lho" ucap Farel sambil membalas pelukan Fatin


Arkhan yang melihat adegan itu, hanya berdecih tak suka. Ingin rasanya dia menghajar habis polisi itu. Tapi apalah daya tangan tak mampu.


"Ini buat kamu, sehat-sehat terus yaa. Jangan bandel-bandel jadi anak" ucap Farel sambil menyerahkan sebuket besar bungan dan sebuah kado besar kepada Fatin. Fatin menerimanya dengan sumringah.


"Makasih Kak, suka bangett" ucap Fatin


Farel menepiskan senyum dibibirnya sambil tersenyum. Tangannya terulur kemudian mengusap pucuk rambut Fatin.


Arkhan yang berada dibelakang mereka hanya berusaha menahan kobaran api cemburu yang sudah semkain membara di hatinya. Tangannya mengepal keras saat melihat tangan Farel mengusap dan memeluk gadisnya itu.


"Kakak gak bisa lama-lama, maaf ya"


Wajah Fatin yang semula ceria langsung berubah sendu.


"Lho, kenapa"


"Kakak masih ada tugas sayang. Gapapa ya, nanti lain kali Kakak bakal lama-lama sama kamu" ucap Farel sambil mengacak-acak rambut Fatin dengan gemas.


"Janji" ucap Fatin sambil mengangkat jari kelimgkingnya. Farel membalas dengan saling mengaitkan kelilngking mereka..


"I promise"


"Baik-baik ya dirumah. Kakak pamit dulu" ucap Farel


Fatin mengangguk patuh.


"Hati-hati pak polisi" teriaknya saat Farel mulai melangkah keluar.


Fatin membalikkan badannya dan melihat Arkhan yang masih mematung ditempatnya. Fatin menghampiri Arkhan


"Arkhan, kok diem aja. Kamu sakit" tanya Fatin panik


Iya sakit. Sakit hati tepatnya. Ingin rasanya Arkhan menjawab seperti itu.


"Aku juga pamit pulang ya Fa. Baik-baik di rumah" ucap Arkhan sambil tersenyum manis padanya.


"Iya, makasih ya udah nemenin aku. Hati-hati dijalan" ucap Fatin


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2