
🌺🌺🌺
Fatin sedang duduk termenung di kursi taman seorang diri. Tatapannya kosong, entah apa yang kini melintas di pikirannya. Sejak kejadian dikantin tadi, Fatin merasakan sakit yang teramat sangat di hatinya. Meskipun dia tahu, memang tak seharusnya dia merasakan rasa itu.
Fatin terus duduk melamun, hingga sebuah tepukan di bahu kanannya membuyarkan lamunannya.
"Fa, kamu disini. " ucap Wira
Wira dan Hening mengambil posisi di sebelah kanan dan kiri Fatin.
"Ehh. I..iya, kalian udahan makannya" tanya Fatin
Wira mengangguk singkat.
"Aku tahu kok Fa, kamu pasti cemburu kan sama Tia" ucap Hening
Fatin mwngernyitkan dahinya tak paham.
"Tia. Siapa" tanyanya
"Aristia. Cewek yang sama Arkhan itu loh Fa. Baru juga tadi ketemu, udah pikun aja" Cibir Wira
Fatin membulatkan mulutnya.
Jadi namanya Aristia. Nama yang cantik. Secantik orangnya. Batin Fatin
"Fa, kok ngelamun lagi sih. Kesambet loh ntar" ucap Wira
"Menurut kalian, aku pantes gak sih buat Arkhan" tanya Fatin
"Ya iyalah Fa. Lo berdua itu udah jadi best couple tau gak sih" seru Wira
"Fatin. Dengerin gue, semisal lo gak sama Arkhan. Bukan berarti lo gak pantes buat dia. Tapi emang takdir lo bukan sama dia. Okey" ucap Hening seraya menangkupkan wajah Fatin dengan kedua tangannya.
Fatin mengangguk kecil sebagai jawaban.
"Udah, lo tenang aja. Gue bakal ngasih pelajaran buat Arkhan. Berani beraninya dia mainin perasaan Lo" seru Hening
"Bener tuh. Mentang mentang ganteng. Seenaknya nyakitin sahabat gue. Kalo dia berani beraninya lagi nyakitin lo, bilang sama gue. Ntar gue laporin sama Hening" ucap Wira seraya memasang wajah tegas
"Lah. Kok jadi gue sih Wir" tanya Hening
"Ya kan lo yang mau ngasih pelajaran Ning. Gue mah bisa apa, nyimak doang" ucap Wira seraya terkekeh
Fatin menggelengkan kepala melihat tingkah dua sahabatnya ini.
"Oiya, kita jadi kan ke toko bukunya" tanya Fatin
Wira memandang Hening sesaat, Hening mengedipkan mata nya.
"Yah, sorry banget Fa. Gue udah aja janji sama nyokap mau nganterin ke salon" ucap Wira sedih
"Gue juga Fa, ntar sore keluarga besar gue mau main kerumah. Gimana dong" Ucap Hening sedih
Fatin memandangi dua sahabatnya sesaat.
"Yaudah deh gapapa. Aku sendiri aja" ucap Fatin lirih
Wira dan Hening sudah tak mampu memendam tawa mereka.
"Hahahaha,,, ututu tu. Cayang Fatin cedih. Maapin Wila ya Patin" goda Wira
Fatin mengerucutkan bibirnya sebal.
"Uuhhh. Fatin marah yaa, maapin hening yang cantik ini yaa" ucap Hening seraya mencubit kedua pipi Fatin
"Aaww. Sakit tauk. Apaan sih, gak lucu tahu gak" kesal Fatin
Wira dan Hening terkekeh Geli.
🌺🌺🌺
Saat ini mereka sedang berkeliling mencari novel horror terbaru kesukaan Fatin. Sudah lebih dari 1 jam, mereka berkeliling mencari buku buku novel horror itu. Di tangan mereka, masing masing memegang 5 novel horror milik Fatin.
Wira dan Hening merasakan kram di tangan mereka. Meskipun tidak banyak, tapi buku buku lumayan tebal ini jika dibawa kesana kemari tentu akan membuat nyeri di tangan.
"Fa, nyari apa lagi sih. Udah banyak loh ini" ucap Wira
"Bentar lagi, aku mau nyari sesuatu dulu" ucap Fatin sambil tetap memilah milah buku buku disana.
Wira menghembuskan nafasnya kasar. Rasa lelah ditubuhnya sudah tak bisa di toleran lagi.
"Ning, duduk dulu lah. Pegel nih" seru Wira
"Gue juga, tapi kalo Fatin nyariin kita gimana" tanya Hening
__ADS_1
"Yaelah ribet banget idup lu. Tinggal di telpon lah dongo" kesal Wira
"Iya iya. Bawel banget sih, ke situ aja tuh. " ucap Hening menunjuk kearah kursi panjang di dekat pintu keluar.
Wira mengangguk setuju. Mereka berjalan menuju kearah kursi itu.
"Aahh, capek banget sumpah. Untung Fatin, kalo orang lain, udah gue tinggalin dia." keluh Wira
"Banget, tapi mau gimana lagi. Gini gini temen kita juga, gak mungkin kan kita buang ke kali" Goda Hening seraya terkekeh kecil
Fatin masih terus mencari buku yang ditujunya. Pandangannya terhenti pada rak buku paling atas. Fatin menatap buku itu berbinar.
"Nah. Itu dia" ucap Fatin semangat.
Fatin berusaha menggapai buku itu, namun apa daya tangan tak sampai. Fatin terus berusaha sambil melompat lompat kecil.
Tukk
"Aduhh. awhh" ringis Fatin, saat sebuah buku jatuh mengenai dahinya
Tiba tiba sebuah tangan kekar melintas di di atasnya.. Fatin memandangi tangan itu tanpa berkedip.
"Kamu mau ini" tanya orang itu
Fatin terkejut memandang sosok oppa tampan di hadapannya. Tanpa sadar , sebuah kata kata keluar dari mulutnya.
"Ganteng banget" gumam Fatin
Pria itu tertawa kecil melihat tingkah lucu Fatin.
"Adek, ini bukunya" ucap Pria itu yang membuyarkan lamunan Fatin
"E eh iya. iya kak .makasih ya" ucap Fatin Malu malu
Pria itu tersenyum dan mengnagguk singkat.
visual Farel
Fatin berlari meninggalkan pria itu, jantungnya berdebar debar saat melihat sosok tampan itu tersenyum
"Ya tuhan. Mimpi apa aku semalem, sampek sampek bisa ketemu oppa ganteng." Fatin terus berguman kecil dan tertawa sendiri.
Matanya serasa kembali segar, mood nya kembali baik. Mungkin, jika ini tempat sepi, Fatin sudah berjingkrak jingkrak heboh saat bertemu dengan pria tampan itu.
"Ning, temen lu kenapa tuh. Dah gila ya" ucap Wira
"Bukan temen gue" ucap Hening
Fatin melihat keberadaan dua sahabatnya yang tak jauh dari tempatnya. Dengan semangat, Fatin berlari kecil menghampiri mereka berdua.
"Hallo guys. Sorry ya udah nunggu lama" ucap Fatin seraya tersenyum lebar
Wira bergidik ngeri melihat tingkah aneh Fatin.
"udah buruan bayar. Terus pulang" perintah Hening
Fatin dengan tersenyum lebar mengambil semua buku dari tangan Wira dan Hening. Lalu membawanya ke kasir.
🌺🌺🌺
Di mobil, Fatin terus tersenyum membayangkan pertemuan singkatnya dengan pria tampan yang menolongnya tadi.
Mulut Hening sanhat gatal untuk menanyakan apa yang membuat Sahabatnya ini menjadi gila.
" Fa, lo kesambet apa sih. Dari tadi senyum senyum terus, setres ya" ucap Hening
Fatin menggeleng seraya tersenyum
"Tadi aku ketemu sama oppa ganteng. Ganteng bangeettt" ucap Fatin berbinar
"Ha,,maksud lo" tanya Wira tak paham
"Jadi, tadi waktu di toko buku. Aku lagi keliling keliling nih nyari buku ini. Eh pas udah ketemu, tempatnya tinggi banget. Aku udah lompat lompat tetep gak dapet. Malah ketiban buku lain. Terus tiba tiba, ada tangan yang ngambil buku aku, pas aku nengok. Ya ampuunnn, ganteng banget orangnyaaaaaa" ucap Fatin bahagiaa
Wira dan Hening menghembuskan nafas lega. Ternyata hal baik yang membuat sahabat merek jadi sedikit gila.
"Ganteng doang. Lo ajak kenalan gak" tanya Hening
Fatin langsung menepuk keras jidatnya.
"Ya ampun aku lupa. Aduhh, gimana dong. Kok bisa lupa sihm Duhh,, bego bego bego" ucap Fatin seraya memukul pelan kepalanya.
Wira dan Hening terkekeh geli melihat tingkah Fatin.
__ADS_1
"Duh, sia sia dong ketemu oppa gantengnya. Gak bisa di ajak kenalan" ledek Wira
Fatin menghebuskan nafasnya kasar. Rasa kecewanya kembali muncul, dia telah melewatkan satu kesempatan baik.
"Huuhh. Tenang, pasti lain kali. Kita bakal ketemu lagi" ucap Fatin percaya diri
"Yayayya, kalo ketemu lagi. Jangan lupa kenalan loh" goda Hening
Fatin mengangguk pasti.
🌺🌺🌺
Di ruang keluarga, Fatin beserta ayah, ibu dan kakaknya sedang berkumpul.
"Abang, ikut Fatin yuk. Fatin mau curhat" ucap Fatin
"Disini aja. Abang mager nih mau jalan" ucap Reza
"Abang ih. Ayo donggg" rengek Fatin
"Mau curhat apa sih dek. Disini aja, kan Bunda sama Papa juga mau denger" ucap Cindy
Fatin menggeleng pelan.
"Gaboleh Bun. Ini urusan Anak Muda" Tegas Fatin
"Papa juga masih muda" ucap Rio
"Muda pada masanya" sinis Fatin
Rio memberikan Fatin tatapan tajamnya. Fatin membalasnya dengan tatapan sinis.
"Abang. Ayo ih, buruan. Fatin gendong deh" bujuk Fatin
"Serius ya. Ayo buruan gendong" ucap Reza seraya bersiap siap mengambil posisi
Dengan sigap, Fatin beralih ke pundak Reza dan melompat.
"Ayo Bang. Gooo" teriak Fatin
"Adek apaan sih. Turun, katanya mau gendong abang. Kok jadi kamu yang di gendong Abang" ucap Reza tak terima
"Hahhahah, Fatin mana kuat gendong Abang" kekeh Fatin
Rio dan Cindy terkekeh geli melihat tingkah putra putrinya kini.
Akhirnya, dengan terpaksa . Reza menggendong Fatin sampai ke kamarnya. Reza menjatuhkan Fatin di ranjang miliknya dengan keras.
"Aww. Abang ih, untuk empuk" kesal Fatin.
Reza terkekeh geli melihat adiknya yang jatuh tersungkur itu.
Reza mengambil posisi duduk di sebelah Fatin.
"Buruan cerita" ucap Reza
"Ciee abang udah gasabar yaaa. Ciee" goda Fatin
Reza memutar bola matanya malas.
"Yaudah kalo gamau. Abang nau keluar aja" ucap Reza
"Ehh abang ko ngambek sih. Iya iya Fatij cerita nih" ucap Fatin
"Hemm" ucap Reza singkat.
Fatin mulai menceritakan awal pertemuannya dengan pria tampan di toko buku. Reza yang mendengar ucapan Fatin sedikit tercengang. Ia tak menyangka, Fatin justru menceritakan padanya pertemuannya dengan pria tampan di toko buku.
"Udah udah stop. Abang kira mau curhatin apaan" cicir Reza
Fatin mengerucutkan bibirnya kesal.
"Abang diem dulu ih. Fatin belum selesai ceritanya" kesal Fatin
"Segitu aja abang udah eneg" Sinis Reza
Fatin semakin kesal melihat tingkah Reza yang menjengkelkan. Fatin mengambil bantal tidur miliknya dan di lemparkan ke wajah Reza.
"Aww, apaan sih dek" ucap Reza
"Biarin. Wleeee,, siapa suruh abang gamau dengerin curhatan Fatin. Makan tuh bantal" ucap Fatin seraya melemparkan bantal ke wajah Reza lagi.
Akhirnya mereka terlibat perang bantal di malam hari. Suara teriakan dan tawa renyah mereka menggema di seluruh ruangan. Mungkin, sampai keluar rumah juga.
Bersambung....
__ADS_1
Up segini dulu ya readers... Pantengin terus pokoknya yaaa