Anak Titipan

Anak Titipan
Lamaran Dadakan


__ADS_3

Sudah tiga hari sejak Reza siuman, tapi Ayla belum juga memberikan tanda-tanda bahwa Dia akan siuman. Setiap hari,setiap saat, setiap waktu, Reza dengan setia mendampingi Ayla disisinya. Tak pernah sekalipun Reza meninggalkan Ayla. Genggaman tangannya tak pernah leas dari tangan Ayla.


"Sayang, kok kamu belum bangun sih. Kamu gak kangen sama Mas, kamu gak kangen sama Ara. Setiap hari Ara selalu nanyain kenapa kamu gak bangun-bangun. Mas capek bohong terus sama Ara. Apa kamu gak kasian sama kita semua. Bangun yaa, Mas kangen sama kamu Ayla" ucap Reza dengan suara seraknya. Reza meletakkan kepalanya disisi ranjang Ayla. Hatinya rindu, sangat-sangat rindu kepada kekasih hatinya. Perlahan Reza mulai terbuai dalam dunia bawah sadarnya dan tertidur disisi Ayla.


Tanpa Reza sadari, Ayla mulai menggerakkan jarinya perlahan. Bola mata indahnya mulai terbuka dengan perlahan. Tatapannya sedikit buram sebentar dan kemudian terfokus disatu titik.


"Mas, Ara, Mas Reza, Araaa. Kalian dimana, Araa" ucap Ayla dengan suara paraunya.


Didalam mimpinya, Reza mendengar Ayla memanggil-manggil namanya. Reza mulai membuka matanya saat menyadari bahwa suara itu nyata adanya.


"Ayla, sayang kamu udah sadar" ucap Reza terkejut. Reza menangkupkan tangannya diwajah Ayla. Ayla menampilkan senyum manisnya.


"Mas Reza" lirih Ayla


Reza tak mampu berkata-kata lagi. Rasa bahagianya kali ini melebihi apapun.


"Ay, Ayla kamu tunggu sebentar ya. Biar Mas panggilkan Dokter. Sebentar ya, kamu jangan kemana-mana tunggu mas" ucap Reza kemudian berlari memanggil Dokter.


Ayla kembali menatap seluruh isi ruangan. Dan baru disadarinya jika saat ini dia sedang terbaring di rumah sakit. Beberapa saat kemudian Reza datang dengan seorang Dokter dan beberapa perawat.


"Bapak silahkan keluar dulu, biar kami periksa dulu keadaan Ibu Ayla" titah Dokter


Dengan patuh Reza langsung keluar dari rungan Ayla dan duduk dikursi panjang didepan ruang rawat Ayla. Reza mengambil ponselnya untuk mengabari orang rumah.


Beberapa detik sambungan berdering.


"Hallo Assalau'alaikum Bunda"


"......"


"Bunda kesini sekarang ya, bawa Ara juga. Ayla udah sadar Bun"


"....."


"Iya Bunda hati-hati. Assalamu'alaikum"


Sambungan terputus, bersamaan dengan itu Dokter keluar dari ruang rawat Ayla.


"Gimana dok keadaanya." tanya Reza


"Selamat Pak, keadaan istri Anda sudah membaik. Mungkin hanya membutuhkan waktu 2-3 hari baru kemudian istri Anda bisa pulang"


"Alhamdulillah, terima kasih Dokter" ucap Reza, Dokter itu mengangguk dan terssnyum kemudian meninggalkan Reza. Reza langsung masuk keruangan Ayla


"Mas Ara mana" tanyanya

__ADS_1


"Sebentar lagi mereka akan sampai" ucap Reza dengan senyum cerahnya


"Mereka? memangnya Ara dibawa sama siapa Mas?" tanya Ayla panik.


"Kamu tenang aja, Ara sama Bunda dan Papa kok. Selama ini Ara tinggal sama mereka. Mereka sudah menganggapnya seperti cucu sendiri"


"Apakah mereka sudah tahu tentang siapa Ayla Mas. Bagaimana jika mereka tidak setuju dengan hubungan kita" ucapnya risau


Reza meraih tangannya dan digenggam erat.


"Kamu tenang aja, mereka menerima kalian berdua dengan senang hati. Mereka tidak memandang dari mana kamu berasal dan bagaimana latar belakangmu. Jadi kamu gak usah khawatir ya" ucap Reza meyakinkan Ayla. Ayla menganggukkan kepalanya.


"Kamu laper gak, biar mas pesenkan makanan" Ayla mengangguk kecil.


"Mau makan apa"


"Terserah mas aja" Reza mengangguk dan tersenyum.


Reza meraih ponselnya disaku dan mengetikkan pesan kepada Cindy.


□□□□□□


Reza dan Ayla sudah selesai menikmati makan siang mereka. Sedikit banyak Reza menceritakan tentang bagaimana keluarganya sangat menyayangi Ara. Ayla nampak terharu mendengar cerita Reza. Tak disangka-sangka, keluarga Reza sangat menyambut baik kehadiran mereka berdua. Mereka sedang asik mengobrol dan terkadang tertawa bersama. Tanpa mereka sadari ada beberapa pasang mata yang sedari tadi sudah mengawasi mereka.


"Oma, ayo kita kesana. Ara pengen peluk Bunda Oma" rengek Ara yang masih berada di gendongan Cindy.


Ara langsung mengerucutkan bibirnya kesal. Karena tak ingin menunggu lagi, Ara langsung meloloskan diri dari gendongan Cindy dan berlari ke ranjang Ayla.


"Bundaaaaaaaa" teriaknya


Ayla dan Reza terjingkat karena kaget mendengar suara nyaring Ara. Ayla tersenyum lebar melihat kondisi Putrinya baik-baik saja. Bahkan pipinya semakin mengembang.


Ara langsung memeluk Ayla dari samping.


"Bunda, Bunda kok lama sih bangunnya. Ara kangen tahu" ucapnya sambil memanyunkan bibir


"Bunda juga kangen kok sama Ara. Ara nakal gak waktu gak ada Bunda" tanya Ayla, Ara menggeleng.


"Ara baik kok, buktinya Oma sama Oppa sayang sama Ara. Aunty sama Uncle Handsome juga. Setiap hari mereka selalu nemenin Ara main. Ngajakin Ara mandi bola, beli es krim, beliin mainan yang banyak. Pokoknya mereka baaiikk banget Bunda" tutur Ara


Ayla merasa terharu mendengar cerita Ara, rasa takutnya akan penolakan dari keluarga Reza langsung pudar seketika. Cindy dan Rio yang masih berada di depan pintu langsung menghampiri mereka bertiga.


Cindy tersenyum manis kepada Ayla, Ara langsung melepaskan pelukannya dan beralih ke pangkuan Rio.


Cindy mengulurkan tangannya dan dibalas oleh Ayla"Halo Ayla, kenalin Bundanya Reza" ucap Cindy ramah

__ADS_1


"Ayla Tante" jawabnya sedikit canggung, taitan tangan mereka terlepas.


"Kok Tante sih. Bunda dong" ucap Cindy menginterupsi


Ayla membulatkan matanya lebar. Hatinya bergemuruh.


"Emm, maaf Tante. Belum terbiasa" jawabnya ragu-ragu, Cindy tersenyum simpul. Perlahan diraihnya jemari Ayla, Cindy mengambil sebuah cincin yang sudah disiapkannya dan diselipkan dijari manis Ayla.


Kini Reza ikut membelalakkan matanya, terperangah melihat tindakan Ibunya itu. Sedangkan Ayla, dirinya sudah tidak mampu untuk berkata-kata lagi.


"Mulai sekarang kamu harus panggil Bunda. Karena kamu adalah calon istri Reza" ucap Cindy dengan senyum manisnya


Reza menatap Rio serius, seolah meminta penjelasan. Tali Rio hanya menggedikkan bahunya saja.


"Bunda, Bunda serius lamarin Ayla buat Reza" tanyanya, Cindy mengangguk pelan


"Kenapa? kamu nolak. Meskipun kamu nolak Bunda akan tetap maksa. Karna Bunda udah sayang sama Ara, Bunda gak mau kalo Ara jauh-jauh sama Bunda" ucap Cindy


"Eh bukan gitu Bunda, maksud Reza kenapa Bunda gak ngasih tahu dulu. Masak Bunda sih yang beli cincin, kan malu Bun" balas Reza


"Kata siapa ini pake uang Bunda. Ini tuh uang kamu, Bunda tinggal gesek aja" jawab Cindy enteng. Reza mendesah pelan, bukan kecewa tapi karena tak menyangka Bunda senekat itu.


"Setelah Ayla keluar dari sini. Kita akan langsung ke pesta pertunangan kalian berdua" ucap Cindy


"Tapi Bun.."


"Gak ada tapi-tapian. Setelah kalian tunangan, dua minggu kemudian kalian akan menikah" ucap Cindy


Rio yang awalnya hanya diam dan mendengarkan sekarang ikut angkat bicara.


"Ma, kok cepet banget. Kita kan belum apa-apa" kata Rio


"Kata siapa, semuanya udah Bunda siapin. Dari mulai yang paling kecil sampek yang paling besar. Jadi mereka berdua tinggal jalanin aja" jawab Cindy enteng, Rio akhirnya patuh dengan perkataan istrinya.


"Tan.. eh Bunda maksudnya. Apakah ini beneran, Bunda gak bercanda kan?" tanya Ayla ragu-ragu, Cindy menatapnya dengan tersenyum.


"Serius sayang, ini fakta, real nyata. Gak ada bercanda-bercandaan. Jadi, setelah kamu keluar dari sini kalian langsung pesta pertunangan kemudian menikah" ucap Cindy


Ayla tersenyum simpul, matanya sedikit berkaca-kacs. Ayla memeluk Cindy tiba-tiba.


"Makasih Bunda, Ayla gak nyangka ternyataBunda menerima Ayla sama Ara. Ayla gak tahu lagi harus ngomong apa Bunda" ucapnya


Cindy mengusap rambut Ayla dengan sayang.


"Gaka ada alasan untuk Bunda menolak hubungan kalian. Kamu adalah pilihan Reza, siapapun yang Reza pilih Bunda akan mendukung. Karena kunci kebahagiaan ada ditangan kalian masing-masing" balas Cindy

__ADS_1


...Bersambung.......


__ADS_2