Anak Titipan

Anak Titipan
Lempar Batu Sembunyi Tangan


__ADS_3

Di Perusahaan R&B group, Edo sedang memetik hasil dari tanamannya. Ternyata, selama ini Edo telah melakukan penggelapan dana di Perusahaan tempatnya bekerja. Bertahun-tahun kasus itu tidak tercium, tapi ibarat kata pepatah "Sepandai-pandai menyembunyikan bangkai, akan tercium juga bau busuknya".


CEO dari R&B group terkenal sangat kejam dan tidak mengenal ampun. Siapapun yang berkhianat maka akan habis ditangannya.


"Anda tahu tujuan saya memaggil Anda kemari" ucap Reno CEO R&B group.


Edo sudah gugup dan gemetaran karna takut. Apakah Reno sudah mengetahui tingkahnya selama ini. Batin Edo


"Maaf Tuan,saya tidak mengerti maksud Anda memanggil saya. Apakah saya melakukan kesalahan Tuan" tanyanya seolah tidak terjadi apapun.


Reno menyeringai licik, ujung bibirnya terangkat seolah memperlihatkan jati dirinya yang tidak dapat dibohongi.


"Berapa lama Anda bekerja disini" tanya Reno


"Sudah sangat lama Tuan. Sejak Ayah Anda yang menjadi CEO disini" jawab Edo dengan santai, tapi didalam hatinya Ia sedang merutuki kebodohannya.


Reno mengangguk pelan, Asisten Reno yang berada disampingnya hanya menggeleng pelan.


Lebih baik Anda jujur daripada sekujur tubuhmu dimutilasi didepan orang banyak. Batin Asisten Reno


"Bim, jelaskan padanya" ucap Reno kepada Bima Asistennya, Bima mengangguk patuh.


"Begini Pak Edo, tentu Anda sudah tahu bukan jika di perusahaan ada yang berkhianat. Maka Dia akan menanggungnya sampai mati bahkan sampai ke anak cucu. Untuk itu saya tegaskan kepada Anda untuk berkata jujur, karena dengan begitu hukuman yang diberikan bisa lebih ringan. Apakah Anda tahu bahwa belakangan ini sudah terjadi penggelapan dana yang sangat besar. " ucap Bima serius, raut wajah Edo yang semula santai kini berubah pucat pasi. Sekujur tubuhnya tiba-tiba gemetar, keringatnya bercucuran melewati pori-pori tubuhnya. Reno yang menyadari itu hanya menyeringai licik.


"Be..benarkah Pak Bima. Bagaimana mungkin berita sebesar ini tidak sa..saya ketahui" jawabnya dengan gugup.


"Benarkah? jadi Anda juga tidak mengetahuinya. Wahh, sepertinya pencuri ini sudah sangat-sangat berpengalaman ya" ucap Reno dengan sinis, Edo semakin gugup dibuatnya


"Bi..bisa jadi Tuan. Mungkin orang itu sudah menekuni tindakannya sejak lama" balas Edo, tapi setelahnya Edo kembali merutuki kebodohannya. Karna setiap kata-katanya sama saja telah membantunya menggali kuburannya sendiri.


"Baiklah, Anda termasuk manager terpercaya disini. Kira-kira hukuman apa yang perlu kita berikan kepada pencuri kelas kakap itu" ucap Reno


"Bagaimana jika kita tanyakan lebih dulu Tuan, apa motifnya melakukan itu semua" balas Edo seolah membela diri


"Ahh, sepertinya saya kurang setuju Pak Edo. Bagaimana jika kita langsung mutilasi saja di depan umum anggota-anggota tubuhnya yang telah membantunya untuk melakukan perbuatan itu" saran Bima, seringaian licik terbit dibibirnya. Nafas Edo seakan tercekat, tubuhnya bergetar dengan kuat. Jantungnya seolah sedang berpacu.


"A..apakah itu tidak terlalu berlebihan Pak Bima" ucap Edo gugup

__ADS_1


"Tentu saja tidak, bukankan selama ini cara itulah yang diterapkan kepada para pengkhianat. Bukan begitu Pak Edo" balas Bima, Edo mengangguk samar.


"Baiklah, bagaimana kalau kita potong saja kedua tangannya. Bukankah itu lebih baik Tuan, tapi kita harus pastikan dulu nominal yang sudah digelapkan" lanjut Bima


"Baiklah, kita sudah terlalu lama basa-basi. Apakah Anda tahu berapa dana yang sudah digelapkan oleh orang itu" tanya Reno


Sepertinya ini kesempatanku. Batin Edo


"Saya pikir tidak terlalu banyak Tuan, hanya sekitar 1M." jawab Edo yakin


"Benarkah? emm, Bim apakah nominal segitu masih berlaku potong tangan" ucap Reno


"Tidak mungkin Tuan, itu bukanlah nominal sedikit. Tentu saja hukumannya sangat berat" balas Bima


Edo merutuki kata-kata bodohnya barusan.


"Tu..Tuan, sepertinya saya salah. Mungkin dibawah 1M tuan" ucap Edo, Reno menyeringai tipis


"Bagaimana Anda bisa salah dalam memberikan informasi Pak Edo" balas Reno


"Saya sedikit kurang fokus Tuan. Mohon maaf" katanya


"Tentu Tuan, saya mencurigai Pak Herman. Dia dari divisi keuangan, pasti orang itu yang melakukannya Tuan" jawab Edo dengan sungguh-sungguh.


Cih! Cari mati rupanya, Dia yang berbuat orang lain yang kena getahnya. Batin Bima


"Apa mungkin orang sebaik dan sepatuh Pak Herman akan melakukan tindakan keji itu. Bahkan setahu saya, Beliau adalah orang yang sangat taat beragama" seru Reno


"Tuan, kita tidak bisa begitu saja menilai orang dari tampilan luarnya. Bisa saja itu hanya sebagai pencitraan semata agar tidak dipandang buruk orang lain" tutur Edo, Reno mengangguk samar


"Baiklah, terima kasih Pak Edo atas kerja samanya. Saya akan segera menindaki Pak Herman, karena seorang pencuri tidak boleh dibiarkan berkeliaran disini" ucap Reno


"Iya Tuan, Anda harus segera memecatnya jika perlu" balas Edo cepat


"Tentu saja," ucap Reno


"Apakah saya sudah boleh mengundurkan diri Tuan, masih ada beberapa berkas yang belum saya kerjakan" ucap Edo

__ADS_1


"Kenapa buru-buru sekali, apakah Anda tidak ingin duduk lebih lama disini" sahut Bima sambil menyunggingkan senyumnya


"Ah tidak-tidak Tuan, saya masih ada urusan lain. Saya mohon undur diri Tuan" ucap Edo kemudian membungkuk hormat


"Silahkan keluar" titah Reno, Edo kembali membungkuk lalu berbalik meninggalkan ruangan Reno.


Edo menghembuskan nafasnya lega. "Akhirnya aku bebas dari kandang Singa itu" gumam Edo


"Ren, kok lo biarin aja sih. Kenapa gak langsung ambil tindakan aja, gue udah pengen hajar thu mukanya yang sok banget. Pake ngelemparin perbuatannya ke orang lain lagi, cih munafik" ucap Bima sambil mendudukkan tubuhnya disofa dengan kasar


"Kita liat aja, sampai batas mana Dia mampu menghabiskan uang perusahaan." ucap Reno dengan seringaian liciknya.


Bima mendesah kasar. "Tapi lo gak beneran mau pecat Pak Herman kan Ren" tanya Bima, Reo tersenyum seraya menggelengkan kepalanya. Bima mengusap dadanya lega.


"Gue gak tega kalo liat Beliau dipecat. Soalnya sekarang beliau lagi butuh banget duit buat ngobatin istrinya yang lagi di rumah sakit. Gue denger-denger Beliau pernah minta pinjaman ke perusahaan tapi ditolak. Gara-gara pinjeman beberapa waktu lalu belum dilunasin dan sekarang udah mau minjem lagi. Mana gede banget lagi jumlahnya" tutur Bima, Reno hanya mengangguk samar. Karena berita seperti itu tentu saja dengan cepat sudah sampai ditelinganya.


.


.


.


.


Di rumah, keluarga Rio sedang bersiap-siap untuk menyambut kedatangan Ayla dari Rumah Sakit. Cindy sudah menyiapkan berbagai jenis hidangan lezat diatas meja untuk menyambut kedatangan calon menantunya.


Sementara itu, Reza dan Ayla yang baru saja tiba dikediamannya langsung melotot tak percaya. Sebuah poster besar bertuliskan ucapan selamat dengan dihiasi foto cantik dari Ayla terpampang dari lantai 2 menjulang kebawah.


"Mas, ini maksudnya apa. Ini semua buat aku" tanya Ayla penuh haru, Reza tersenyum simpul dan menganggukkan kepalanya.


Reza kembali menggandeng Ayla untuk masuk kedalam.Di ruang tamu, mereka berdua kembali dikejutkan dengan keberadaan Fatin, Ara, Cindy, Rio beserta Wira dan Hening yang menyambut kedatangan mereka.


"Welcome to home Ayah Bunda" ucap Ara, gadis itu segera menghampiri mereka berdua dan berhambur kepelukan mereka.


"Makasih Ara sayang" ucap Ayla


"Welcome Kakak Ipar" ucap Fatin, Ayla tersenyum lebar melihat kasih sayang Keluarga Reza kepadanya.

__ADS_1


Setelah menyambut kedatangan Ayla dengan makan-makan besar. Reza langsung membawa Ayla ke kamar barunya untuk beristirahat. Karena lusa mereka akan melaksanakan pesta pertunangannya.


Bersambung....


__ADS_2