
Beberapa menit menunggu di Bandar Udara Internasional Ngurah Rai Bali. Akhirnya terdengar pengumuman tentang penerbangan menuju kota Y. Fatin dan teman-temannya bergegas meninggalkan tempat mereka saat ini, karena pesawat akan segera lepas landas.
Banyak kenangan mereka disini. Yang mungkin tak akan mampu untuk di lupakan. Selamat tinggal Bali, kita akan bertemu di lain waktu. Saat ini kami datang dengan status pelajar. Suatu saat nanti kami akan kembali dengan membawa kesuksesan di tangan kami.
Selama Satu Jam lebih empat puluh menit lamamya, mereka menghabiskan waktunya di udara. Akhirnya pesawat yang mereka tumpangi landing di Bandar Udara Internasional Y. Mereka mendarat dengan selamat.
Mereka berjalan bersama menuju ke ruang tunggu. Belum sampai di tempat tujuan, langkah mereka terhenti ketika seseorang menghampiri mereka.
"Maaf den saya terlambat. Tadi ada sedikit kendala di jalan" ucap Pria paruh baya itu sopan.
"Iya pak gapapa. Kita juga baru landing" ucap Arkhan
"Kalian mau bareng kita gak" lanjutnya
"Gak usah Ar, kita udah di jemput Bang Reza" jawab Fatin
Arkhan mengangguk paham.
"Ya udah kita duluan, see you" pamit Arkhan kepada Wira, Fatin dan Hening.
Setelah kepergian Arkhan dan teman-temannya. Fatin mengajak dua sahabatnya untuk duduk di kursi tunggu. Beberapa saat mereka menunggu kedatangan Reza. Dering ponsel Fatin berbunyi dan mengejutkan mereka bertiga.
Bundahara, nama yang tertera di layar ponsel Fatin. Fatin menggeser layarnya untuk menjawab panggilan.
"Halo assalamua'laikum Bunda"
.....
"Bundaa,,Bundaa kenapa Bunda. Bunda jangan bikin Fatin khawatir. Ada apa Bunda" raut wajah Fatin berubah panik. Detak jantungnya tak karuan, rasa gelisah melanda hatinya. Apa ini, ap yang terjadi.
.....
Deg
Bagai tertancap ribuan belati. Fatin merasakan rasa akit yang teramat sangat. Kabar apa ini, mengapa? mengapa ini semua harus menimpa dirinya. Seharusnya ini menjadi kabar bahagia karena dia akan segera bertemu dengan orang-orang terkasihnya. Tapi justru kabar buruk datang menyambut kedatangannya.
Spontan ponsel yang berada di tangan Fatin jatuh meluncur ke bawah. Air matanya tanpa permisi jatuh membasahi pipinya.
Wira dan Hening terpaku sesaat melihat kondisi Fatin. Mereka masih belum menyadari apa yang terjadi dengan sahabatnya itu.
Isak tangis pilu Fatin mulai terdengar di telinga mereka. Hingga akhirnya mereka menyadari apa yang terjadi.
Hening meraih Fatin ke dalam pelukannya. Hatinya sakit dan perih melihat tangis pilu sahabatnya.
"Fa, kamu kenapa Fa. Kenapa nangis, Bunda ngomong apa sama kamu" tanya Hening
Sedangkan Wira masih terpaku di tempatnya.
Isak tangis Fatin semakin pilu saat berada di dekapan sahabatnya. Lidahnya kelu, seakan tak mampu untuk berucap lagi.
"Fa, jawab aku Fa. Bunda ngomong apa, kenapa kamu nangis" ucap Hening dengan suaranya yang mulai serak. Melihat sahabatnya berderai air mata, membuatnya tak mampu mencegah aliran bening membasahi pipinya pula.
Fatin tak mampu menjawab semua pertanyaan sahabatnya. Lidahnya kelu, suaranya tercekat, hatinya bergemuruh, pikirannya kacau. Hanya terdengar isakan pilu dari Fatin, pelukannya yang semula erat perlahan mulai mengendur. Hening yang merasakannya mulai meraih wajah Fatin.
Matanya membulat sempurna saat menyadari sahabatnya sudah hilang kesadarannya. Belum tamat keterkejutannya tentang tangisan pilu Fatin yang tiba-tiba. Tapi Hening sudah di buat terkejut lagi melihat sahabatnya yang jatuh pingsan.
Wira yang menyadari itu sontak langsung menggendong Fatin ala Bridal Style. Kepanikan melanda mereka berdua, membuat mereka bingung dan melupakan segalanya. Mereka langsung berlari menuju ke luar ruangan untuk mencari pertolongan. Bahkan barang-barang pun mereka lupakan. Yang terpenting saat ini adalah sahabatnya.
"Dek ada apa ini. Kenapa dengan teman kalian" tanya seorang pria
"Pak tolong kami pak, teman kami tiba-tiba pingsan. Saya takut terjadi apa-apa dengannya" ucap Hening panik
"Baiklah, ayo bawa ke mobil saya" ucap Pria itu
Di perjalanan menuju ke rumah sakit, Hening tak henti-hentinya menangisi keadaan sahabatnya itu. Sesungguhnya Wira pun merasakan hal yang sama, tapi tak mungkin baginya untuk menangis saat ini.
Wira merasakan ada getaran di ponsel miliknya. Tertera nama Bunda Fatin disana. Wira menggeser ikon berwarna hijau untuk menjawab panggilan itu.
"Halo Bunda"
.....
__ADS_1
"Halo, halo. Ah sial, batre gue abis" ucap Wira kesal
"Pak saya minta tolong anterin kita ke RS.XXXX" ucap Wira pada pria yang membantu mereka
"Baiklah" jawabnya
Mobil itu kembali melaju dengan kecepatan di atad rata-rata.
"Wir, kenapa? Bunda bilang apa" tanya Hening
"Gak tahu, Bunda baru ngasih tahu alamat RS terus tiba-tiba ponsel aku mati" ucap Wira frustasi
"Wir, aku takut terjadi sesuatu. Pasti ini ada hubungannya sama penyebab Fatin pingsan." ucap Hening, Wira mengangguk setuju. Pikiran mereka mulai berkelana tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Sepanjang perjalanan, Hening terus menggenggam erat tangan Fatin. Rasa cemasnya pads sahabatnya saat ini melebihi apapun.
Sesampainya di RS. XXX, Wira langsung memanggil perawat untuk membawa Fatin. Dengan sigap perawat itu langsung membawa Fatin ke ruangan ICU. Wira dan Hening langsung menyusul mereka. Sedang pria yang berhati malaikat itu tak bisa ikut masuk karena ada kepentingan mendadak. Sebelumnya, Wira dan Hening telah mengucapkan banyak terima kasih kepada Pria itu.
Mereka masih menunggu kabar tentang kondisi Fatin di depan ruang rawat. Wira terus mondar-mandir di depan pintu. Mereka harap-harap cemas tentang kondisi Fatin.
"Aku takut Fatin kenapa-napa Wira"
"Hus, jangan gitu ngomongnya. Kita berdo'a semoga gak terjadi apa-apa" ucap Wira
Beberapa saat kemudian, dokter keluar dari ruangan Fatin.
Spontan Wira langsung menghampiri Dokter itu dan menghujaninya dengan bergam pertanyaan.
"Sahabat kalian baik-baik saja. Dia hanya kelelahan dan sedikit shock. Mungkin karena ada sebuah tekanan yang tiba-tiba membuat jiwanya tidak mampu mengontrol. Akibatnya sahabat kalian jatuh pingsan" jelas Dokter itu
Mereka sedikit lega saat mengetahui bahwa Fatin baik-baik saja. Setelah di izinkan, mereka langsung menjenguk Fatin di dalam.
Fatin masih terbaring lemas di atas tempat tidur. Hening meraih tangan Fatin dan menggenggamnya erat.
"Fa, sadar dong. Aku gak sanggup liat kamu kaya gini" ucap Fatin sendu
Wira mengusap-usap punggung Hening mencoba memberikan ketenangan.
"Kamu tunggu sini, biar aku urus administrasinya dulu" lanjutnya
Wira mengusap kepala Fatin dan Hening, kemudian perlahan berlalu keluar ruangan.
Wira menuju ke meja administrasi untuk mengurus biaya perawatan Fatin.
"Sus atas nama Nazafatin Khoerunnisa" ucap Wira
"Sebentar mas, saya liat dulu" ucap petugas itu
"Wira?.." tegur seseorang, Wira yang merasa namanya disebut langsung menoleh ke samping.
"Bang Farel, Abang ngapain disini" tanya Wira
"Kamu ngapain disini" tanya Farel kembali tanpa menjawab pertanyaan Wira
"Itu Bang, tadi waktu di Bandara Fatin dapet telfon dari Bundanya, kita gak tahu tentang apa tapi tiba-tiba Fatin langsung nangis histeris terus pingsan" tutur Wira yang membuat Farel langsung terkejut.
"Tadi juga Bunda telfon aku, di suruh kesini. Aku gak tahu maksudnya apa, kedengarannya Bunda juga habis nangis" lanjut Wira
"Fatin pasti shock banget denger kabar ini. Abang aja kaget banget, apalagi Fatin." ucap Farel
Wira hanya mengernyit heran karena masih belum mengerti dengan maksud pembicaraan Farel.
"Maaf mas , ini total nya" ucap Petugas itu memecah suasana tegang Farel dan Wira
"Eh iya mbak, pake ini aja" ucap Wira sambil menyodorkan sebuah kartu berwarna hitam miliknya. Setelah melakukan transaksinya, petugas itu mengembalikan kartu milik Wira.
"Ayo ikut Abang Wir" ajak Farel
Wira hanya mengangguk patuh tanpa banyak bicara. Ternyata Farel mengajaknya ke sebuah ruangan. Wira mengernyit heran, dalam hati dia bertanya-tanya tentang tujuan Farel mengajaknya kesini.
"Kamu liat ke dalem" ucap Farel
__ADS_1
Wira yang semula bingung, perlahan mendekatkan dirinya ke pintu ruangan yang bertuliskan IGD itu. Betapa terkejutnya Wira saat melihat seseorang sedang terbaring lemas dengan luka di sekujur tubuh yang cukup parah. Di tambah lagi dengan keberadaan dua orang suami istri yang sedang menangis pilu di hadapan orang itu.
"Bang, apa maksudnya ini" ucap Wira sendu
Farel hanya menepuk-nepuk pundak Wira.
"Ini jawaban dari pertanyaan kamu tadi" ucap Farel
"Bagaimana bisa Bang. Apa yang terjadi sebenarnya" ucap Wira frustasi
"Yang Abang tahu, mobil yang di kendarai Reza mengalami kerusakan di bagian mesin dan remnya juga blong. Tapi untuk lebih lanjutnya masih di tangani sama pihak berwajib" ucap Farel
"Bang, apa mungkin ini di sengaja. Tapi siapa jika benar, gak mungkin orang sebaik Bang Reza punya musuh" Ucap Wira
Farel hanya mengangguk sekilas.
"Kita sepemikiran ternyata. Biarlah itu akan menjadi pertanyaan sementara. Setelah kita tahu pasti kejadiannya, tentu ini harus di bawa ke jalur hukum" seru Farel penuh tekanan
"Apa kita harus masuk sekarang Bang, buat ngasih tahu keadaan Fatin ke Bunda sama Om" tanya Wira
Namun Farel menggeleng cepat.
"Jangan dulu, tadi Bunda aja sempet pingsan waktu liat Reza kaya gitu. Apalagi sekarang kita mau kasih tahu kondisi Fatin. Rasanya tidak memungkinkan, lebih baik sekarang kita ke ruangan Fatin dulu buat liat keadaannya" ujar Farel
"Ya udah kalo gitu, kita kesana aja langsung Bang" ucap Wira
Di ruangan lain, dengan setia Hening menemani sahabatnya ini. Fatin juga sudah sadar dari pingsannya, awalnya Fatin masih bungkam saat Hening bertanya. Namun perlahan Fatin mulai menceritakan kejadian sebenarnya. Hening turut merasakan kesedihan sahabat karibnya itu. Sebagai seorang sahabat yang baik, Hening terus memberiksn semangat kepada Fatin.
Ceklek
Pintu ruangan dimana Fatin di rawat terbuka. Masuklah dua pria tampan kemudian menghampiri Fatin dan Hening.
"Alhamdulillah kamu udah sadar, gimana perasaan kamu. Udah baikan belum" tanya Wira seraya menggenggam tangan Fatin. Fatin mengulas senyumnya, dia mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Wira. Kemudian pandangan Fatin beralih kepada sosok lain.
Entah mengapa, tiba-tiba air matanya mengalir begitu saja. Farel yang menyadari kesedihan di mata adik sahabatnya itu spontan langsung meraih tubuh Fatin ke dalam dekapannya. Farel dapat merasakan getaran dari tubuh Fatin. Gadis itu kembali menangis tersedu-sedu mengingat keadaan Kakaknya.
Farel memeluk Fatin dengan erat, di usapnya rambut Fatin dan mencoba untuk menyalurkan ketenangan.
"Bang, Bang Reza gak bakal ninggalin aku kan" tanya Fatin dengan isak tangisnya di dekapan Farel.
Farel mengangguk pasti. "Kita berdo'a aja tentang keselamatan dan kesembuhan Reza. Abang yakin, Reza itu kuat. Dia pasti mampu melewati ini semua" ucap Farel mencoba menguatkan hati Fatin
Fatin tak menjawab lagi. Dia hanya menenggelamkan kepalanya di dada bidang Farel. Mungkin karena lelah terus menangis, Fatin tertidur juga di dalam pelukan Farel.
Farel yang menyadari itu, perlahan mulai merebahkan Fatin ke tempat tidurnya dan menyelimuti tubuhnya.
"Biarin dia istirahat. Mungkin tubuhnya masih belum pulih" ucap Farel
Wira dan Hening hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Lebih baik kalian cari makan dulu. Ini udah waktunya makan siang, biar Abang yang jagain Fatin" ucap Farel
"Bener gak papa Bang" tanya Wira
Farel mengangguk pasti. "Iya gak papa"
"Makasih ya Bang, Abang gak nitip apa-apa" ucap Hening
"Enggak, Abang udah makan kok tadi. Tapi kalo boleh sih beliin Abang minuman dingin" ucap Farel sambil cengengesan
"Siap komandan. Laksanakan" sahut Mereka berdua kompak.
Wira dan Hening sedang mengisi tenaga mereka, tinggallah Farel sendiri yang masih menjaga Fatin. Farel melakukan hal yang sama dengan Hening. Terus menggenggam erat tangan Fatin. Hatinya sedikit nyeri melihat Fatin yang harus merasakan ini semua.
*Za, lo harus sembuh. Lo gak liat, princess kecil lo terbaring lemas gini. Apa lo gak sedih, besok itu hari special buat Adek lo, tapi lo malah alesan gini. Lo gak pengen ngerayain ulang tahun pertamanya dengan bahagia. Awas aja kalo lo gak bangun besok, gue hajar lo. Gue janji, Gue gak bakal biarin orang yang udah bikin ki celaka bisa menikmati hidupnya dengan tenang. Lo harus sembuh Bro. Gue tahu lo kuat* batin Farel sambil terus menatap sendu ke arah Fatin yang masih setia memejamkan matanya.
^
^
^
__ADS_1
Bersambung.....