
***
Fatin berjalan cepat menuju ke kompleks rumahnya. Dia hanya meminta Reza untuk mengantarnya sampai ke depan gang. Fatin takut keluarganya akan berfikiran macam macam padanya dan Reza.
Sesampainya didepan rumah Fatin langsung mengucapkan salam beberapa kali namun tidak ada yang menjawab. Dia menoleh ke arah garasi, "Masih lengkap kok"Batinnyasaat melihat mobil digarasi utuh.
Tanpa pikir panjang Fatin langsung masuk kedalam rumah. Saat akan menaiki tangga tiba tiba sebuah suara bariton menghentikan langkahnya.
"Fatinn. Kenapa jam segini baru pulang? Darimana kamu!" Tegur Papa. Fatin gugup saat mendengar ucapan Papanya.
"Maaf Pa, tadi Fatin.."Ucapan Fatin yang akan mengatakan sejujurnya justru tiba tiba dipotong oleh Adiknya
"Kak Fatin abis jalan sama Om Om pa. Tadi Mawar Liat sendiri kok dia Dianter Jemput ke sekolah" Ucap Mawar
Fatin tertegun memdengar ucapan adiknya. Papa semakin naik pitam mendengar perkataan Mawar. Tiba tiba sebuah tamparan keras mendarat di pipi Fatin untuk pertama kalinya. Semua yang ada dimeja makan tertegun melihat kemarahan Papa Edo.
Plaakkk.
Fatin menangis sejadi jadinya. Hatinya sakit. Sangat Sangat sakit. Ini pertama kalinya Papanya bermain tangan padanya. Fatin memegangi pipinya yang terasa panas.
Edo sempat tertegun melihat apa yang baru saja ia lakukan kepada putrinya. Seumur hidupnya dia tak pernah sekalipun bermain tangan kepada Wanita. Tapi detik ini justru dia melukai putrinya sendiri.
"Fatin. Maafkan papa. Sudah jangan menangis" Ucap Edo dan menarik Fatin kedalam pelukannya.
Fatin tetap menangis. Rasa sakit ini mungkin akan membekas dihatinya.
Kenapa pa. Kenapa. Kenapa Papa tampar aku tanpa mendengarkan penjelasanku. Bukan hanya pipiku yang sakit. Tapi Hatiku juga sakit Pa. Sakit. Jerit Fatin dalam hati
Tiba tiba Mama Mira dan Mawar datang menghampiri mereka berdua dan menarik Fatin dari pelukan suaminya.
PLAAKK..
Sebuah tamparan keras mendarat lagi dipipi kiri Fatin yang diberikan oleh Mamanya. Fatin yang mendapatkan tamparan itu langsung terjatuh kelantai.
Edo terkejut melihat istrinya melakukan hal yang sama pada Fatin.
"Ma. Apa yang kamu lakukan? Mengapa kamu menamparnya" Tanya Edo tak habis pikir
"Dia itu sudah keterlaluan Pa sama keluarga ini. Selalu berbuat sesuka hati. Dan sekarang!? Dia ingin mencemarkan nama baik keluarga ini juga. Kuramg baik apa Kita ini Pa" Ucap Mira dengan nada tinggi
Mawar hanya tersenyum sinis melihat Fatin yang mendapatkan 2 tamparan dari Mama dan Papanya.
Fatin kembali merasakan sakit dihatinya. Apa ini. Belum hilang rasa sakit dari Papa sekarang wanita ini justru menamparku lagi. Dan apa katanya, berbuat sesuka hati. Cih, justru dia dan putrinya yang selalu berbuat sesuka hati padaku. Batin Fatin
Edo yang melihat putrinya terduduk dilantai dan menangis tersedu sedu merasa bersalah. Dengan perlahan Edo membantu Fatin bangun dari duduknya dan membawanya ke sofa. Mira dan Mawar hanya mengikuti dari belakang
"Fatin. Papa tanya sekali lagi. Apa benar yang mawar ucapkan tadi"Tanya Edo serius
Fatin menggelengkan kepalanya. Fatin hanya tertunduk, tidak berani menatap wajah Papanya.
"Bohong dia Pa. Jelas jelas Mawar liat dengan mata kepa Mawar sendiri. Kalo kak Fatin itu dianter jemput sama om om."Ucap Mawar mencoba meyakinkan Papanya.
__ADS_1
Mawar menoleh kearah Mamanya seoalah meminta bantuan.
"Pa, kamu itu harus percaya sama Mawar. Dia anak Kita dan gak mungkin bohong sama orangtua" Ujar Mira yang mencoba meyakinkan Suaminya. Edo terdiam merdengarkan perkatan dari anak dan istrinya.
"Papa, buktinya aja ya tadi pagi tuh Dia buru buru banget berangkatnya. Sampek sampek sarapan aja gak sempet. Iyakan Ma" Ucap Mawar dan diberi anggukan oleh Mamanya
Fatin meremas kuat ujung rok abu abunya. Kenapa kalian tega lakuin ini sama aku. Salah apa aku sama kalian. Semua kehendak kalian selalu aku turuti, tapi apa balasannya. Tak habis habis kalian memfitnah diriku. Jerit Fatin dalam Hati
"Fatin. Papa tidak tau mana yang jujur dan mana yang berbohong. Tapi, jika lain kali papa liat kamu bertemu orang asing. Papa tidak akan segan segan menyeret kamu dari sana. Kamu dengar" Ancam Papa
Mawar dan Ibunya tersenyum sinis melihat Fatin.
"Sekarang kamu masuk ke kamar. Mulai saat ini kamu Papa hukum tidak boleh keluar rumah selain pergi ke sekolah. Pulang sekolah harus langsung pulang."Tegas Papa
Fatin menganggukkan kepalanya dan berjalan memasuki kamarnya.
"Mawar, kamu juga masuk ke kamar istirahat. " ucap Papa
"Iya Pa"jawabnya dan melangkah pergi meninggalkan Papa dan Mamanya di ruang keluarga.
……
"Pa, apa gak sebaiknya kita serahin aja sih Fatin ke Orang tuanya. Dia tuh udah bikin kita malu Pa" Ucap Mira memprovokasi suaminya
"Kita sudah pernah membicarakan ini sebelumnya Ma." Ucap Edo Dingin
Mira merasa geram mendengarkan jawaban suaminya. Entah apa yang membuatnya enggan menyerahlan Fatin kepada Rio. Toh Rio juga sekarang telah mapan.
"Awas aja kamu anak sialan. Bersenang senanglah dulu saat ini. Jika suamiku tidak ingin mengusirmu dari sini. Maka aku sendiri yang akan membuatmu meninggalkan rumah ini." Batin Mira
****
Apa sebenarnya yang mereka inginkan? Mengapa mereka selalu mengatakan kebohongan kepada Papanya tentang Dirinya? Mengapa mereka begitu membencinya sampai mendarah daging? Apakah kesalahannya dimasa lalu hingga saat ini dia harus menanggung beban kehidupan yang sangat berat ini?
Tak habis habis Fatin memikirkan tentang mereka berdua.
"Apakah mungkin karena aku bukan anak kandung mereka. Jadi mereka memperlakukanku seperti ini. Tapi tidak harus memfitnah diriku juga kan. Apa yang mereka inginkan sebenrnya dari diriku. Uang.?Tapi aku tidak memiliki itu. Lalu apa ?" Pikiran Dan Hati nya berkecamuk.
Fatin terus bergulat dengan pikirannya hingga dia kelelahan. Fatin memutuskan untuk tidur, Hati dan pikirannya butuh istirahat.
Fatin tertidur cukup lama. Tanpa terasa waktu telah berganti malam. Hingga terdengar suara bising dari pintu kamarnya yang membangunkan dirinya.
Toktoktoktoktok
"Fatin. Fatin.Bangun kamu. Fatinnn" Teriak Mamanya
Fatin langsung bergegas membukakan pintu untuk mamanya.
"Ada apa Ma"Tanyanya dengan suara khas orang bangun tidur
"Kamu pikir kamu tuan rumah disini. Tidur tanpa mengingat waktu. Liat jam berapa sekarang." Ketus Mama
__ADS_1
"Maaf ma. Fatin kecapean jadi ketiduran tadi"lirih Fatin
Mama tersenyum sinis" kecapean habis main sama om om."Ketus Mama
Fatin terdiam mendengarkan ucapan Mamanya yang seperti bagai belati tajam menusuk hati.
"Kenapa diem. Bener kan yang saya ucapakan."Sinis Mama
"Cepat turun suami saya sudah menunggu untuk makan malam" Lanjut Mama kemudian meninggalkan Fatin yang berdiri termenung didepan pintu
Fatin mengangguk pelan tanpa membuka suara. Kemudian Fatin kembali menutup pintu dan bersiap siap turun kebawah untuk makan malam.
Fatin segera menarik kursi disamping Mawar. Karena merasa tak nafsu makan, Fatin hanya mengambil sedikit saja.
"Kenapa makanmu sedikit sekali Fatin. Apa kamu tidak suka dengan menunya" Tanya Papa
"Suka kok Pa"Jawab Fatin Singkat
Kemudian mereka makan dengan tenang tanpa ada yang bersuara lagi. Setelah selesai Edo mengajak mereka semua ke ruang tamu.
"Ada yang ingin Papa bicarakan"Ucap Edo membuka suara
"Mulai besok Mawar dan Fatin akan berangkat sekolah ditemani oleh Supir Papa. Dan mulai besok kita akan mempekerjakan Seorang asisten rumah Tangga"Lanjutnya
Semua terkejut mendengar ucapan Edo. Terutama Mira Dan Mawar. Mereka sebenarnya tidak setuju dengan usulan Edo. Tapi tentu saja tak bisa membantah. Karena ucapan Edo bagaikan sebuah hukum Mutlak.
*Aku sangat tidak sudi harus berada satu mobil dengan gadis ini. Papa apa apaan coba pake nyuruh supir pribadinya untuk nganter aku dan dia sekolah. Batin Mawar merasa kesal
Bagaimana ini. Pasti akan lebih sulit aku meneruskan rencanaku jika ada pembantu dirumah ini. Batin Mira*
"Pa. Kalo supir mama sih setuju. Tapi kalo pembantu mending gak usah Deh pa. Itu sama aja membuat anak anak kita jadi makin manja. Kan gak baik Pa buat masa depan mereka nanti. Kalo mereka udah jadi istri , gak mungkin kan mereka cuma duduk berpangku tangan" UcapMira mencoba mematahkan usulan suaminya
Edo terdiam dan mulai menimbang nimbang ucapan istrinya. "Baiklah, sudah papa putuskan mulai besok Fatin dan Mawar akan diantar jemput oleh supir Papa. Dan untuk menyewa pembantu, Papa batalkan" Ucap Edo
Mawar merasa kesal namun disisi lain dia tertawa sinis. Karena Fatin akan terus menjadi pelayan setianya.
Mira tersenyum sinis mendengar suaminya menyetujui ucapannya.
Fatin hanya terdiam mendengarkan saja. Tanpa berniat berbicara.
Setelah selesai mereka kembali ke kamar masing masing untuk istirahat.
***
Fatin terus mengguling gulingkan badannya diatas Kasur miliknya.
"Bagaimana ini. Besok aku harus berangkat dengan Mawar. Entah apa yang akan terjadi padaku besok. "Gumam Fatin
Meskipun Fatin yakin ,Mawar tidak akan berani menurunkannya ditengah jalan. Karena supir nya adalah supir pribadi Papa.
Karena merasa cukup bertarung dengan pikirannya , Fatin akhirnya memejamkan matanya menikmati malam dan berharap sebuah mimpi indah datang menghampirinya.
__ADS_1
****
Bersambung....