
Suasana haru masih meliputi keluarga Rio. Ditambah lagi dengan Fatin yang masih terus meratapi kondisi Reza. Tangannya selalu menggenggam erat tangan milik Reza. Sesekali diciumnya tangan layu itu.
"Bang,,, bangun dong. Fatin udah pulang nih, Abang gak kangen sama adek? Meskipun Abang gak kangen, tapi Fatin kangen banget kok sama Abang. Plisss yaaa, bangun. Abang gak pengen gitu ngenalin Fatin sama calon kakak ipar. Dia cantik banget loh Bang, Fatin suka deh. Abang bangun yaaa, gak capek apa tiduran terus kaya gini. Bangun dong bangg" ucap Fatin sendu, air matanya terus menerus mengaliri pipinya. Orang-orang disekitarnya juga tak mampu membendung kesedihan mereka.
"Abang tahu gak, hari ini Fatin sweetseventen lho. Bang Reza gak mau ngasih kejutan gitu, atau kado buat aku. Inikan ulangtahun pertamaku setelah sekian lama pergi. Abang marah ya sama aku, sampek-sampek Abang betah tiduran lama-lama." lanjutnya sambil terus sesegukan
Kesedihannya sungguh mendarah daging saat ini. Dihari bahagianya, justru dia mendapatkan kabar yang sangat memilukan hati.
Fatin mulai mendorong kursinya ke ranjang Ayla dan Ara.
"Halo Kak Ayla, kenalin aku Fatin adiknya Bang Reza. Aku tahu pasti kakak orang yang baik kan. Makanya aku mau minta tolong sama kakak. Kak, kakak bilang dong sama Abang. Suruh dia bangun Kak, bilangin jangan lama-lama kalo ngambek. Kakak, pliss yaa bilangin Bang Reza suruh bangun. Fatin udah pulang nih, Fatin kangen sama Reza Kak." derai air mata masih terus menghiasi pipinya.
"Adeekk cantik, ini Aunty Fatin. Tolong bilangin Bang Reza yaa suruh bangun. Bilangin kalo Aunty kangen, Aunty gak mau jauh-jauh dari dia Dek. Bilangin yaa, Aunty sedih nih kalo kalian gak bangun-bangun."
"Pa, Bunda. Kok mereka gak bangun-bangun sih. Mereka marah ya sama Fatin. Apa sih salah Fatin, Fatin bandel ya? Fatin nakal? Fatin susah dibilangin. Bilangin mereka Bunda, Fatin janji gak bakal gitu lagi. Fatin bakal jadi anak baik, dan penurut. Asal mereka bisa bangun, ayo Bunda. Bilangin, bilangin ke mereka Bunda. Bundaaa,, bilangin Bunnn" ucap Fatin sambil terus menggoyang-goyangkan lengan Cindy.
Mereka yang ada diruangan itu ikut merasakan pilu yang mendalam. Wira dan Farel yang notabenenya adalah laki-laki. Justru ikut meneteskan air matanya saat melihat kondisi mereka yang terbaring lemas dan Fatin yang sangat-sangat terpukul.
"Za, lo gak kasian sama adik lo. Liat tuh, dia nangis-nangis terus woy. Katanya lu gak mau liat dia sampek netesin air mata gara-gara orang lain. Tapi sekarang malah lo yang bikin dia netesin air mata berharganya Za. Lu bangun dong, lu gak inget ya kalo sekarang dia tuh ultah. Lu gak denger barusan dia mohon-mohon sambil nangis ke elo Za. Ayolah Za, lu bangun yaa,,, gue lamarin deh si Ayla buat lo kalo lo bangun sekarang juga. Gue gak kuat Za liat lo kayak gini. Gue gak sanggup, gue gak mau kehilangan lo Za. Bangun Za,, REZA,, Bangun" Batin Farel
Cindy meraih Fatin kedalam pelukannya. Isak tangisnya kembali terdengar saat mendekap erat putrinya.
"Sayang, kamu tenang yaa. Mereka pasti bakal secepatnya sadar, kita gak boleh putus asa. Kita harus selalu berdoa buat kesembuhan mereka ya. Udah jangan nangis lagi" ucap Cindy, tak ada tanggapan dari Fatin hanya ada getaran dan isakan dari tubuhnya yang dirasakan oleh Cindy.
"Udah ya, mending kita istirahat dulu. Nanti kita kesini lagi, yuk" ajak Rio
"Iya, kita makan dulu yaa, kamu pasti belum makan kan" ucap Cindy lembut
Fatin mengagguk pelan.
Matahari mulai bergulir dan berganti dengan Bulan. Siang telah menjadi malam. Fatin masih setia menunggu Reza disamping ranjangnya. Genggaman tangannya tak pernah dilepaskan sekalipun. Matanya sembab, tatapannya layu, energinya yang baru terisi sudah terkuras lagi.
Di hari bahagianya ini, dia hanya berharap satu hal. Kesembuhan mereka bertiga. Meskipun ini awal pertama pertemuannya dengan Ayla dan Ara. Tapi rasa kasing sayang sudah timbul sejak awal pandangan pertanya. Fatin juga berharap besar tentang kesembuhan Ayla dan Ara.
*Ceklek*
Fatin masih belum menyadari keberadaan Kedua orangtuanya beserta sahabat-sahabat dan teman-temannya. Mereka membawa sebuah cake ulang tahun dengan balon di tangan masing-masing orang.
🎶🎶🎶
Happy birthday too you
Happy birthday too you
Happy birthday Happy birthday
Happy birthday too yo🎶🎶🎶
Fatin kembali meneteskan air matanya. Kejutan ini sangat membuatnya bahagia dan sedih di waktu yang bersamaan. Bahagia karena ini adalah kali pertamanya mendapatkan kejutan ulang tahun dari orang-orang terkasih. Sedih karena di hari bahagianya saat ini, seorang sosok pahlawannya justru terbaring sakit di tempat tidur.
🎶🎶🎶
__ADS_1
Tiup lilinnya tiup lilinnya
Tiup lilinnya sekarang juga sekarang juga sekarang juga🎶🎶🎶
Arkhan menyodorkan cake yang ada ditangannyakehadapan Fatin
"Make a wish dulu dong" ucap Rico
Fatin mulai memejamkan matanya dan memohon kepada yang kuasa.
"*Ya Allah, terima kasih atas limpahan rahmat dan karunia kesehatanmu padaku. Puji syukur selalu kehaturkan padamu Ya Allah. Doaku, lindungilah mereka orang-orang yang kusayangi. Jagalah mereka dan limpahkanlah karuniamu padanya. Ya Allah, sembuhkanlah kakak ku , Ayla dan Ara Ya Allah. Kembalikanlah mereka padaku Ya Allah. Tunjukanlah karuniamu. Aamiin ya robbal alamin. Robbana Aatinaa Fiddunya Khasanah Waa fil aalhirati khasanah wakina adza bannar*"
ffeeeuuuiiwwhhh
"Yeee,,, potong kuenya dong. Dah gak sabar nihh" ucap Hans yang langsung diberikan hadiah sentilan keras di dahinya dari Arsen
"Aawwhhh. Sakit Bang\*\*sat" pekiknya
"I don't care" jawabnya acuh
"Ayo dipotong kuenya" ucap Hening
"Suapin dong orang tersayangnya" ujar Rico
Fatin mengambil sepotong cake lalu menyuapkannya kepada Ayah dan Ibunya.
Cindy dan Rio menerima dengan senang hati suapan putri mereka. Kecupan ringan dihadiahkan di kening Fatin.
"Sehat-sehat ya sayangnya Bunda" ucap Cindy
"Jad anak yang baik sayang" ucap Rio
"Gantian dong orang specialnya jugaa" goda Rico
Fatin hanya menurut dan mulai menyuapi kedua sahabatnya dengan potongan cake.
"Makasih Honey, sehat-sehat yaa" ucap Hening seraya memeluk kilat sahabatnya itu
__ADS_1
"Enak kuenya, lagi dong" ucap Wira sambil terkekeh pelan. "Sehat-sehat ya Fa. Semoga apapun yang kamu semogakan segera tersemogakan. Aamiin" lanjutnya
"Yee selesai, sekarang giliran kita makan-makan. Gak usah disuapin Fa, gak puas cuma dikit" ujar Hans lalu tangannya mulai menyomot sepotong cake ultah Fatin.
Namun sebelum tangannya mendarat di potongan cake itu, langsung ditepis oleh Rico.
"Sabar woy, masih ada satu lagi yang belum dapet suapan" sergah Rico
Hahh
"Siapa" tanyanya
Dengan lirikan mata, Rico memonyonkan bibirnya ke arah Arkhan. Namun lola saat untuk diterima oleh Hans
"Apaan lo. Mau nyium gue lo, sorry ya gue normal" ucapnya Ketus
"Huueekk. Jyjyk gue nyium lo, GR banget"
"Lah terus itu tadi maksudnya apaan monyong-monyong ke gue"
"Gue nunjuk si Arkhan be\*\*go"
Hans hanya ber oh ria mendengar maksud dari Rico.
" Ayo dong Fa, disuapin Aa Arkhannya" goda Rico
Sementara Fatin, wajahnya tiba-tiba memanas karena gugup. Rona merah diwajahnya begitu terlihat dengan jelas.
"Apaan sih" elak Fatin malu-malu
"Udah gak usah sok malu, buruan suapin. Udah ngiler tuh si Arkhan" ledek Wira
Sementara itu, Rio dan Cindy hanya tersenyum simpul saat melihat tingkah malu-malu Arkhan dan Fatin.
Dengan ragu-ragu Fatin mulai menusuk sepotong kecil cake unuk diberikan kepada Arkhan. Jantungnya langsjng berpacu begitu cepat saat garpu ditangannya ikut dipegang oleh Arkhan dan langsung di arahkan ke mulutnya.
*Bluussshh*
__ADS_1
Seketika wajahnya kembali merona karena tingkah Srkhan. Senyum malu-malu terbit diwajah cantiknya.