
Sepulang dari sekolah, Fatin dan teman-temannya langsung menuju ke rumah sakit. Inilah saat-saat yang sangat dinantikannya. Bertemu dengan gadis pelunak hati gunung esnya.
"Lu bawa apa Ric" tanya Hening kepada Rico
"Bawa cemilan dong buat Bidadari gue" jawabnya
Hening hanya ber-oh ria saja. Mereka kembali melanjutkan perjalanan. Sesampainya di depan ruang VVIP dimana Ayla dirawat. Mereka langsung berdesakan untuk masuk kedalam. Satu pintu langsung terisi oleh tiga orang berpostur lumayan itu.
Hening, Arsen dan Fatin hanya melongo tak percaya saat melihat ketiga cowok itu berebut untuk masuk lebih dulu.
"Buset! gue duluan dong" ucap Rico sambil menarik kerah baju Wira.
"Enak aja, gue duluan kali yang masuk" balas Wira
"Minggir Wir, biarin Fatin dulu yang masuk" sergah Hening
"NO! pokoknya gue duluan. Lo pada minggir napa, sesak nih mana bisa gue masuk" ucap Hans
"Lo bertiga apa-apaan sih. Buruan minggir, ngapain sih ngumpul disitu" sungut Hening
Alhasil, timbullah perdebatan diantara mereka untuk siapa yang masuk lebih dulu. Padahal pengunjung juga tidak dibatasi.
Reza yang sedang berbincang dengan kedua orangtuanya mendengar ada keributan dari luar.
"Bun, siapa sih itu kok berisik banget" tanyanya
"Ayah, itu kayak suaranya Uncle Handsome deh" jawab Ara yang berada dipangkuannya.
"Uncle Handsome? Siapa?" Tanya Ayla bingung
"Sepertinya itu memang suara Fatin and the gang deh. Coba kamu liat" seru Cindy kepada Reza. Reza mengangguk patuh lalu menurunkan Ara pangkuannya lalu beranjak ke depan untuk melihat kericuhan yang terjadi.
"Wira? ngapain desak-desakan disitu sih. Kalo mau masuk tinggal masuk aja" ucap Wira kepada tiga sosok tampan yang masih berkumpul dilubang pintu.
Mereka malah cengengesan saat ketahuan berebut masuk oleh Reza.
"Tahu thu Bang. Mereka mau rebutan buat ketemu sama Kak Ayla. Mau nyaingin Abang kali" ucap Fatin, tersenyum licik
"Eh enggak Bang enggak. Wahh ngadi-ngadi lu Fa. Jangan percaya Bang, tukang kibul thu anak" ucap Wira tak terima.
"Udah-udah, ngapain sih masih ribut juga. Fatin ayo masuk, udah ditungguin sama Ara thu didalem" ucap Reza
Senyum kemenangan langsung terbit diwajah Fatin. Ia memandang dengan seringaian liciknya kepada para lelaki yang sedang berkumpul didepan pintu. Mereka bertiga langsung mundur seketika dan membuka jalan. Fatin menggandeng tangan Hening untuk masuk bersamanya.
"Gue duluan guys" ucap Fatin sambil terkikik geli melihat raut wajah Wira dan yang lainnya.
Wira mendesah kecewa setelah melihat kepergian Fatin dan Hening.
"Kita yang berjuang, orang lain yang menang. Sesimple itu definisi tak dihargai" ucapnya , Rico dan Hans mengangguk setuju.
Sedangakan Arsen, Si Es itu tidak begitu menghiraukan teman-temannya. Arsen langsung melenggang masuk meninggalkan Wira, Rico dan Hans yang masih meratapi perjuangan mereka yang sia-sia. Tak berselang lama mereka langsung menyusul Arsen dan yang lainnya kedalam.
"Halo Ara." Sapa Hening dan Fatim bersamaan, Ara yang sedang bercanda bersama Rio dan Cindy langsung membalikkan tubuhnya dan tersenyum girang. Fatin merentangkan kedua tangannya dengan senyum berbinarnya.
__ADS_1
"Auntyyyy" teriak Ara sambil berlari menghampiri Fatin dan berhambur kepelukannya. Fatin memeluknya dengan erat dan menjatuhkan sebuah kecupan dipipi gembul Ara.
"Ara kangen gak sama Aunty" tanya Fatin
"Kangen dong Aunty" jawab Ara
"Hai Tingkerbell, kok Aunty Hening gak dipeyuk sih. Kan Aunty juga mau" ucap Hening, bibirnya mengerucut seolah sedang marah
Ara tersenyum simpul lalu melepaskan dirinya dari pelukan Fatin dan berhambur kepelukan Hening. Dengan senang hati Hening membalas pelukan peri kecilnya.
"Uhhh Tingkerbell, makin gembul aja sih" ucapnya sambil mencubit pelan kedua pipi Ara.
"Hihihi, iya dong Aunty. Kan bahagia, jadinya gembul dehh" balas Ara, Ara yang melihat Arsen hanya terdiam langsung menghampirinya dan bertanya.
"Uncle Balok kok diem aja sih. Gak pengen peluk Ara? Gak kangen?" Katanya, Arsen menepiskan senyum tipisnya.
"Sini peluk" ucapnya, dengan senang hati Ara memeluk Arsen lalu bergantian memeluk Wira, Rico dan Hans. Karena itu sudah menjadi rutinitasnya setiap bertemu dengan teman-teman Fatin.
Ayla dan Reza tersenyum bahagia saat melihat kedekatan Ara dengan Fatin dan teman-temannya.
"Fa, samperin noh Kakak Ipar" bisik Hening, Fatin mengnaggguk kecil.
"Hai Kakak Ipar" sapa Fatin kepada Ayla
Dengan senyumnya, Ayla membalas sapaan Fatin.
"Hai, kamu Fatin kan. Cantik banget" puji Ayla, Fatin langsung tersipu malu.
"Kakak juga cantik kok. Pake banget malah" lanjutnya, Ayla hanya tersenyum kecil seraya menggelengkan kepalanya.
"Halo Kakak Ipar, kenalin aku Hening. Besprennya Fatin yang paling cantik membahanan sejagad raya" ucap Hening memperkenalkan diri sekaligus memuji dirinya. Arsen hanya menggelengkan kepala melihat tingkah nyeleneh kekasihnya itu.
"Hai Hening, itu pasti pacarnya ya" balas Ayla dan melihat kearah Arsen, dengan malu-malu Hening menganggukkan kepalanya.
"Datar banget kan Bunda, tapi tetep ganteng kok" ucap Ara sambil terkikik geli.
"Iyadong Ara, kalo gak ganteng mana mau thu Toa sama Dia" sahut Rico, Arsen langsung memberikan tatapan tajamnya kepada Rico. Rico hanya terkikik geli sambil mengacungkan dua jarinya (peach).
"Kakak kapan nih Married sama Bang Reza" tanya Fatin, Ayla sontak bersemu merah. Baru saja dia dilamar dadakan, tiba-tiba sudah langsung ditanya kapan nikah. Ah benar-benar mereka ini.
"Harus secepatnya Bang, keburu gue ambil" sahut Wira dengan senyum jahilnya.
"Coba aja, kalo gak kaki tangan lo yang patah ya leher lo yang patah" ledek Reza, tapi setiap kata-katanya mengandung ancaman yang mematikan. Rio dan Cindy menggeleng pelan seraya tersenyum melihat tingkat kecemburuan Reza yang mulai nampak.
"Heheheh, canda kali Bang. Suer, jangan masukin atilah. Masukin paru-paru aja, siapa tahu aku jadi separuh nafasmu" ucap Wira sambil terkekeh geli
"Apaan si Wir, garing tahu gak" balas Hening, Wira langsung menatapnya dengan sinis.
"Kalo iri bilang" ucapnya
"Kalo gue iri gue bilang kok. Tenang aja" balas Hening santai.
Ayla yang melihat kelakuan teman-teman Fatin langsung terkekeh geli. Senyumannya yang mempesona langsung memukau penglihatan para lelaki perjaka.
__ADS_1
"Subhanallah, Bidadari surgaku. Buat gue aja Bang, gue siap kok halalin sekarang juga" ucap Rico sambil mengusap dadanya.
"Sungguh indah ciptaanmu Ya Allah. Sisain satu dong buat hamba ya Allah" ucap Hans
Decak kagum dari Rico dan Hans langsung menimbulkan tawa bagi orang-orang disana. Mereka menggelengkan kepalanya melihat tingkah nyeleneh Rico dan Hans yang bagaikan kembar silang itu.
□□□□□
Wira dan yang lainnya sudah kembali kerumah masing-masing. Tinggallah Fatin dan keluarganya diruangan itu.
"Kak, Fatin nginep disini ya nemenin Kakak" ucap Fatin kepada Ayla.
"Emang kamu gak sekolah besok?" tanya Ayla
"Sekolah, boleh ya Kak, Bang, Bun, Papa" ucap Fatin memelas sambil menangkupkan kedua tangannya
Rio dan Cindy hanya msnggedikkan bahunya. Ayla melirik kepada Reza untuk meminta persetujuan.
"Bang, boleh ya, plissss. Sekaliiii aja" ucap Fatin sambil menampilkan puppy eyesnya. Reza menghembuskan nafasnya kasar. Awalnya ingin menolak, tapi setelah melihat raut wajah memelas Fatin, Reza akhirnya menganggukkan kepalanya.
"Yeiiyy, makasih. " ucap Fatin girang
"Ara, yuk main sama Aunty" ajaknya,
"Main apa Aunty?"
Fatin berpikir sebentar "Emm, main tebak-tebakan aja gimana" usulnya
Kini giliran Ara yang berpikir. "Emm, yang lain deh. Ara lagi males mikir nih" ucapnya
"Gimana kalo kita main ludo King aja" seru Ayla, spontan mereka langsung menoleh kepadanya.
"Wah bagus juga tuh. Ayah punya aplikasinya kan" ucap Ara, Reza mengangguk samar.
Jadilah mereka memainkan game Ludo secara tim. Tim 1 Ara dan Fatin lalu di tim 2 ada Reza dan Ayla. Permainan semakin sengit saat babak pertama dimenangnkan oleh Reza dan Ayla. Fatin dan Ara merasa dicurangi, wajah mereka berdua pun harus mendapatkan riasan dari Ayla dan Reza.
"Ahh Ayah curang, Ara gak suka" ucapnya berdecak kesal
"Mana ada, Ayah jujur kok. Emang kalian aja yang gak jago" balas Reza
"Gak, pokoknya kita replay. Ayah harus kalah kali ini" ucap Ara
"Kalo Ayah menang lagi?"
"Ya kita replay lagi, sampek Ara sama Aunty yang jadi pemenangnya" balas Ara.
Permainan kembali berlanjut. Babak kedua kembali dimenangkan oleh Reza dan Ayla, begitu juga dengan babak ketiga dan seterusnya. Fatin dan Ara kembali mencak-mencak karena mereka selalu kalah dan wajah mereka penuh dengan riasan dari Reza dan ayla. Lelah bermain, akhirnya Ara dan Fatin memutuskan untuk tidur. Mereka lelah karena terus-menerus kalah.
"Mas, kamu gak tidur" tanya Ayla, Reza menggeleng pelan
"Mas mau nemenin kamu aja. Kalo kamu udah tidur baru mas tidur" balas Reza. "Kamu tidur ya" lanjutnya, Reza mengulurkan tangannya lalu mengusap lembut rambut Ayla yang tergerai panjang. Tak berapa lama, Ayla mulai disambut oleh rasa kantuknya. Beberapa saat kemudian Reza mulai menyusul Ayla ke alam mimpinya.
Bersambung....
__ADS_1