
Satu Bulan sudah Reza, Ayla dan Ara koma. Kesedihan keluarganya selalu berlarut-larut setiap melihat kondisi mereka yang tak kunjung ada perubahan.
Selama seminggu ini, Fatin sangat tidak bersemangat untuk berangkat kesekolah. Dia hanya ingin menghabiskan waktunya untuk menemani sang kakak yang masih terbaring di Rumah Sakit.
"Fa, kantin kuy" ajak Wira
"Gak laper" balas Fatin datar
Wira kembali mendesah lesu. Semenjak mengetahui kabar tentang Kakaknya. Perlahan-lahan sifat ceria Fatin mulai memudar. Itu dapat dirasakan oleh orang-orang terdekatnya terutama Wira dan Hening.
"Ayolah Fa, mau sampek kapan Lo kayak gini. Harusnya Lo itu semangat, jangan malah putus harapan gini. Kalo Bang Reza tau, pasti Dia bakal marah banget tahu gak" ucap Hening
"Sayangnya Bang Reza gak tahu kan. Ya udah, biarin aja. Lagian Abang juga udah gak sayang sama aku" jawab Fatin.sambil tersenyum miris.
Bayangannya seputar memori-memori sebelum kepergianya ke Bali, tentang pertengkarannya dengan Reza. Semakin membuatnya berfikir bahwa Reza memang sudah tidak menyayanginya lagi.
"Mana ada sih Fa seorang Kakak yang gak sayang sama Adeknya Jangan ngadi-ngadi deh Lo" ucap Wira sedikit emosi
"Lo berdua kalo cuma mau ngajak gue ribut mending keluar aja" ucap Fatin penuh penekanan.
Hening yang mendengarnya langsung terpancing emosi.
"Oke gue keluar. Gue juga capek ngadepin sikap Lo yang kekanak-kanakan gini" jawab Hening ketus, kemudian memilih berlalu meninggalkan Fatin. Wira bingung harus bersikap seperti apa. Sejujurnya Dia juga kesal dengan sikap Fatin. Tanpa banyak bicara, Wira juga memutuskan untuk meninggalkan Fatin sendirian di kelas.
Fatin tak mempedulikan kedua sahabatnya itu. Yang ada dipikirannya saat ini hanyalah tentang Reza, Reza dan Reza.
□□□□□
Wira mengikuti Hening sampai ke kantin. Sepanjang jalan kupinya terasa panas karena terus-terusan menjadi sasaran amukan Hening. Meskipun Wira tahu, Hening tidak mungkin benar-benar marah terhadap Fatin. Dengan sabar Wira mencoba meredakan emosi Hening.
"Tenang dulu tenang, mending Lo minum dulu biar punya tenaga. Ntar baru lanjut lagi ngomelnya" ucap Wira seraya menyodorkan segelas minuman dingin
Hening langsung meneguk habis minumannya. Sejenak pikirannya kembali dingin karena efek minuman itu.
"Gue gak tahu lagi harus dengan cara apa supaya tu bocah bisa ngerti" ucap Hening dengan nadanya yang masih emosi
"Kita sabar-sabar aja, jangankan kita, orangtuanya bahkan Arkhan aja gak mampu ngadepin Fatin yang sekarang. Satu-satunya harapan kita ya cuma sama Bang Reza aja. Jadi, sekarang kita harus selalu do'ain kesembuhan Bang Reza" ceramah Wira
Hening menghela nafasnya dalam-dalam.
"Gue sedih Wir, gue gak tega liat Fatin terus-terusan kayak gini. Gue ngerasa kalo gue itu gak berguna jadi sahabat. Gue gak berguna Wira, gak gunaa" akhirnya Hening kembali meluapkan emosinya dengan air mata. Wira langsung mendekap sahabatnya itu.
"Huuss, Lo gak boleh ngomong gitu. Kalo Lo gak berguna, apalagi gue. Disini gak perlu ada yang disalahin Ok." ucap Wira sambil menepuk-nepuk pundak Hening
□□□□□
Dirumah sangat suasana haru bercampur tangis bahagia sedang melanda keluarga kecil Rio. Pasalnya hari ini genap sebulan sudah penantian mereka. Akhirnya Allah SWT., menunjukkan mukjizatnya. Reza beserta Ayla dan Ara telah berhasil melewati masa kritis mereka. Si kecil Ara juga sudah siuman dari tidur panjangnya. Tapi kesedihan gadis itu seketika muncul ketika menyadari bahwa Ayah dan Bundanya masih terbaring tak berdaya.
Ara masih menangis dipelukan Cindy.
"Hiks..hikss.. Oma, Bunda sama Ayah kenapa Oma. Kenapa mereka gak bangun-bangun. Apa mereka gak sayang lagi sama Ara Oma." ucap gadis kecil itu
Cindy ikut merasakan kesedihan cucu kecilnya itu. Meskipun Cindy dan Rio telah berbahagia karena Reza dan Ayla sudah berhasil melewati masa-masa kritisnya. Tapi tak bisa dipungkiri, bahwa mereka masih sedih karena Reza dan Ayla belum sadar dari komanya.
"Ara sayang, dengerin Oma yaa. Ayah sama Bunda Ara cuma kecapekan kok, jadi mereka lagi istirahat sebentar. Ara gak boleh sedih lagi yaa, nanti kalo Ara sedih Oma sama Oppa juga ikutan sedih lho" bujuk Cindy
Ara sesekali masih sesegukan dipelukan Cindy. Perlahan-lahan Ara mulai mencerna kata-kata Cindy.
"Iya Oma, Ara gak nangis lagi kok. Jadi Oma sama Oppa jangan sedih yaa" ucap Ara sambil sesekali menghapus air matanya dipipi
Cindy dan Rio tersenyum mendengar ucapan gadis kecil mereka.
"Oh iya, Ara tahu gak. Ara itu punya Aunty yang cantiiikkk banget, sama kaya Ara." ucap Rio
Ara langsung tersenyum girang.
__ADS_1
"Waahh, serius Oppa. Mana-mana, Ara mau dong ketemu sama Aunty" ucap Ara tak sabar
"Nanti ya, Auntynya Ara masih sekolah. Sebentar lagi pasti dateng kok" ucap Cindy sambil mengelus surai panjang Ara.
.......
Di sekolah Fatin sangat kegirangan, tangis bahagianya seketika pecah ketika mendengar kabar bahagia tentang Kakaknya. Sahabat dan teman-temannya ikut merasakan kebahagiaan itu. Tak henti-hentinya mereka mengucap syukur kepada Allah SWT.
"Tuhkan, gue bilang juga apa. Mereka pasti kuat-kuat kok, gue jadi gak aabar deh pengen ketemu sama peri kecil itu" ucap Rico dengan senyum berbinar
Fatin mengangguk dan tersenyum menanggapi ucapan Rico.
"Sekarang kita tinggal nunggu detik-detik Bang Reza sama Kak Ayla siuman aja. Semoga itu gak akan lama, jadi kamu gak jadi kutub utara lagi" ucap Arkhan sambil melirik Fatin
"Huhh bener banget tuh Ar. Pokoknya mulai sekarang Lo gak boleh tuh kayak kemaren-kemaren. Bikin gue naik darah tahu gak" ucap Hening
"Sabarr sayang, gak boleh marah-marah" sambung Arsen sambil mengusap punggung Hening
"Jijik gue Sen liat Lo mesra-mesraan gini" sarkas Rico
"Jijik atau iri Ric" ledek Wira
"Bwahaahahah. Ya iri lah Bro, secara Dia kan jomblo akut" ledek Hans
"Cih lagak lo Hans. Lo bilang gue jomblo akut, terus lo apaan. Jomblo karatan" sinis Rico. Sontak mereka semua ikut tertawa mendengar ucapan Rico.
"Guys, guys, ntar kita mau langsung jenguk aja nih. Gak pake bawa buah hati" ucap Rico
"Buah tangan kali Saepuloh" ucap Hening
"Yayaya, itu maksud gue. Gitu aja langsung jadi Netizen tukang nyinyir" gerutu Rico
"Iya juga ya, kita harus bawa hadiah nih buat si peri kecil." ungkap Arsen
"Gue ada ide, gimana kalo kita bagi-bagi tugas" usul Fatin
Fatin mulai memberikan tugas kepada masing-masing irang untuk membeli hadiah. Mereka mengangguk setuju dengan usulan Fatin.
Disinilah mereka saat ini, disebuah pusat perbelanjaan terbesar di Kota Y. Mereka mulai mencari barang-barang yang menjadi bagian mereka. Setelah selesai berkeliling, mereka memutuskan untuk langsung ke Rumah Sakit untuk menjenguk Peri kecil Ara.
□□□□□□
Mereka tiba di rumah sakit tepat pukul 16:30 WIT. Mereka menenteng masing-masing satu paperbag. Berbondong-bondong mereka langsung masuk ke ruang rawat Ara yang sudah dipisahkan dengan ruang Rawat Reza.
"Surpriisseeeeeee" teriak mereka bersama-sama mengejutkan tiga orang yang sedang bersenda gurau diruangan itu.
"Halo Ara cantik, gimana keadaannya. Kenalin, ini Aunty kamu, Aunty Fatin" sapanya
Ara dengan senyum kegirangan langsung berhambur kepelukan Fatin. Dengan senang hati Fatin membalas pelukannya.
"Aunty, bener ya kata Oppa. Aunty cantik banget kayak Ara" ucap Gadis itu
"Iya dong. Auntykan emang cantik" ucap Fatin narsis
"Halo peri kecil, kenalin uncle Arkhan"
"Halo sayang, ini Aunty Hening"
"Halo bidadari, kenalin dulu dong aku uncle Arsen, dan ini uncle Hans"
"Gue bisa sendiri Sen, apaan sih Lo"
"Halo peri kecil, kenalin juga aku Uncle Wira. Kamu cantik banget sih"
"Waahh, Oma, Oppa, liat deh Ara punya banyak Uncle sama Aunty. Ara seneng banget" ucap Ara sambil jingkrak-jingkrak kegirangan
__ADS_1
Cindy tersenyum lembut sambil mengelus rambut Ara.
"Tuh kan, Oma bilang juga apa. Ara punya Auntykan, malah ada bonus Uncle-Uncle tampan juga" ucap Cindy, gadis itu mengangguk setuju
"Ara liat deh, ini semua buat Ara dari Aunty sama Uncle-Uncle Ara" ucap Fatin sambil menunjukkan paperbag yang mereka bawa tadi
"Waahh, banyak banget Aunty. Makasih yaaa, Ara sayanggg banget sama Aunty" ucap Ara sambil memeluk Fatin dan mengecup singkat pipinya.
"Kok Aunty Hening gak dipeluk sih Ara" ucap Hening sambil mengerucutkan bibirnya
Tanpa aba-aba Ara langsung melepaskan pelukannya dan berhambur kepelukan Hening. Hening dengan senyum gembiranya membalas pelukan peri gembul itu.
"Uncle-uncle juga mau dong Ara" ucap Rico
Ara mengangguk dan tersenyum dan mulai memeluk satu persatu dari para Aunty dan Unclenya. Rio dan Cindy ikut berbahagia melihat kebahagiaan Ara.
.....
Matahari mulai menenggelamkan dirinya di ufuk Barat. Teman-teman Fatin serta sahabat-sahabatnya memutuskan untuk pamit pulang.
"Ara, laper gak" tanya Fatin. Ara mengangguk pelan
"Ara mau makan apa?"
"Emmm, kira-kira yang enak apa ya Aunty" ucap Badis itu sambil meletakkan telunjuknya di pelipisnya seolah sedang berpikir keras. Dengan gemas Fatin langsung mencubit pipi gembul Ara.
"Ara mau apa aja pasti Aunty beliin kok"
"Ara mau ayam goreng Aunty. Boleh gak" ucapnya dengan tatapan baby eyesnya. Fatin mengangguk dan tersenyum membuat Ara langsung berteriak kegirangan.
Tak berapa lama pesanan mereka sudah tiba. Fatin dengan telaten menyuapi Ara, meskipun terkadang gadis itu menolak dan ingin makan sendiri. Dengan lahap Ara sudah menghabiskan satu porsi Chicken MD miliknya.
"Udah malem, Ara bobo ya." ucap Fatin sambil membenarkan posisi Ara dan memasangkan selimutnya
"Aunty juga bobo sama Ara kan" . Fatin mengangguk pelan dan tersenyum.
Setelah menidurkan Ara, Fatin langsung mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Hallo"
"Sendirian, Bunda sama Papa lagi istirahat."
"Emang gak papa"
.....
"Gak usah, aku udah makan kok sama Ara"
.....
"Ya udah hati-hati yaa"
Tut. panggilan berakhir. Selang beberapa menit, pintu kamar Ara terbuka dan menampilkan sosok pria tampan. Dengan senyum manisnya, Arkhan berjalan menghampiri Fatin yang sedang duduk di Sofa.
"Kok cepet banget" tanya Fatin
"Aku gak mau kamu nunggu" ucapnya sambil tersenyum
"Kamu istirahat ya, biar aku yang jagain Ara"
"Iya, makasih yaa"
Arkhan mengangguk seraya tersenyum. Fatin menuju ke ranjang Ara yang lumayan lebar dan ikut berbaring bersamanya. Arkhan dengan lembut menepuk-nepuk lengan Fatin. Tak butuh waktu lama, akhirnya gadis itu terlelap juga. Arkhan menyingkirkan rambut Fatin yang menutupi sebagian wajahnya.
Waktu sudah semakin larut, rasa kantuk juga mulai menyerang Arkhan. Arkhan meletakkan kepalanya di samping Fatin. Tak berselang lama, Arkhan juga mulai terbuai dalam dunia mimpi.
__ADS_1
Bersambung....