
***
Karena Fatin dan Arkhan berhasil meraih juara satu Olimpiade Nasional. Pihak sekolah memberikan tawaran kepada mereka waktu satu minggu untuk berlibur dan mengunjungi tempat tempat wisata yang mereka inginkan.
Fatin dengan senang hati menerima tawaran itu.
Saat ini mereka sedang berada di sebuah pantai yang sangat indah di kota ini. Fatin dan Arkhan bebas bersenang senang, sedangkan guru pendamping mereka. Memilih berkunjung ke rumah sanak saudaranya yang ada di kota itu. Namun tetap memantau kegiatan dari dua siswa kebanggaannya itu.
Fatin dan Arkhan menikmati jalan jalan di pantai yang indah itu. Arkhan dengan setia menemani kemana pun langkah kaki Fatin menuju. Fatin bermain dengan ceria, tawa bahagia tak pernah pudar dari wajahnya.
Saat sedang bermain air, sebuah ombak besar menghantam tubuh Fatin. Keseimbangan tubuh Fatin pun goyah, Fatin jatuh tercebur di air. Arkhan yang melihat Fatin terhantam ombak, langsung berlari kearah Fatin. Arkhan menggendongnya ala Bridal style dan membawanya ke tepian. Fatin yang digendong hanya tersenyum dan tertawa kecil.
Arkhan menatapnya dengan tatapan tajam dan membunuh.
"Arkhan, ayo balik lagi. Seru banget tadii" Ucap Fatin seraya menarik lengan Arkhan
"Fatin. Itu bahaya, kamu gak liat tadi. Kamu hampir aja terseret ombak" ucap Arkhan dingin.
Fatin mengerucutkan bibirnya, dan menatap kesal Arkhan. Arkhan menggeleng pelan melihat tingkah Fatin.
"Fa, kamu marah" ucap Arkhan mencoba menggenggam tangan Fatin. Namun dengan cepat Fatin menepisnya.
"Fa, aku gak mau kamu kenapa napa. Jadi tolong dengerin aku ya. Itu bahaya buat kamu" ucap Arkhan mencoba memberikan pengertian untuk Fatin.
"Kalo kamu takut aku kenapa napa, kamu kan bisa nemenin aku disana." ucap Fatin tanpa menatap Arkhan.
Arkhan menghembuskan nafas kasar.
Tiba tiba , Fatin merasakan tubuhnya melayang. Arkhan kembali menggendongnya dan membawanya ke pantai.
Fatin terkejut, namun sesaat kemudian Fatin tertawa bahagia. Karna Arkhan menceburkan diri mereka bersama di tengah tengah ombak. Fatin beralih naik kepundak Arkhan. Arkhan membawanya sedikit ketengah, dan menurunkan Fatin perlahan. Fatin mulai menapakkan kakinya, namun tak ada dasar pantai yang dicapai kakinya. Sontak Fatin berteriak histeris dan memeluk Arkhan dengan erat. Arkhan tertawa keras melihat ekspresi Fatin yang ketakutan.
Setelah puas bermain air, mereka kembali ke tepian pantai. Mereka membeli kelapa muda, minuman yang cocok untuk menemani pemandangan pantai.
Mereka duduk ditepi pantai sambil menunggu indahnya matahari terbenam.
Karena hari yang mulai gelap, Arkhan dan Fatin memutuskan untuk kembali ke hotel.
Setelah membersihkan diri. Arkhan dan Fatin sama sama merebahkan diri di kasur masing masing.
***
Hari berikutnya, mereka kembali mengunjungi sebuah tempat wisata yang indah lagi. Mereka terus menikmati waktu bersama ke tempat tempat yang indah. Hingga tanpa terasa, ini adalah hari terakhir mereka di kota ini.
Fatin sedang membereskan barang barangnya, karena hari ini mereka akan kembali ke rumah masing masing.
Sebuah mobil mewah sudah menanti mereka di depan loby hotel . Sang Supir membantu memasukkan barang barang milik mereka ke bagasi. Perlahan mobil itu melaju membelah jalan, menuju ke Bandara.
***
Pagi hari yang cerah, sinar matahari perlahan menembus celah celah sebuah kamar. Seseorang masih tetap bergelud dengan selimutnya. Entah mimpi indah apa yang sedang dialaminya. Karena saat ini, Dia terus tertidur, padahal sang mentari telah menunjukkan wujudnya.
*tok
tok
tok*
"Fatinnnnn, bangun. udah siang dek. Fatiinnnn" Teriak Reza dari balik pintu.
Namun tak ada jawaban.
Reza terus menerus menggedor pintu kamar Fatin. Hingga Fatin yang sedang tidur nyenyak merasa terusik. Perlahan Fatin membuka matanya dan mengumpulkan kesadaran. Suara gedoran pintu masih terus terdengar. Ingin sekali rasanya Fatin mencincang cincang orang yang sudah mengganggu tidur nyenyaknya.
*Ceklek
pintu terbuka*
__ADS_1
Fatin menatap tajam orang yang berada dibalik pintu kamarnya.
"Abang apaan sih. Pagi pagi berisik banget, Fatin masih ngantuk bang" ucap Fatin Kesal
Reza tersenyum sinis seraya menunjukkan waktu melalui ponsel miliknya. Fatin sontak terkejut dan langsung menutup pintunya dengan keras.
Braakkk
Reza terkekeh pelan, lalu berbalik menuju ke meja makan.
Reza kembali bergabung dengan orang tuanya di meja makan.
"Gimana Bang." tanya Cindy
"Biasah Bun. Telat lagi" ucap Reza santai
Cindy menghembuskan nafas kasar seraya menggelengkan kepala.
***
Fatin ke sekolah diantarkan oleh Reza. Di dalam mobil, Fatin masih sibuk merapikan rambutnya dan memoles bibirnya dengan lipstik warna pink.
Beberapa saat kemudian, mobil yang dikendarainya sampai di depan gerbang sekolah SMA NUSA BANGSA.
Fatin turun dari mobil Reza dengan tergesa gesa. Dia berlari tanpa memikirkan orang orang disekitar yang menatapnya heran.
Tiba tiba, sebuah suara bariton membuat Fatin menghentikan langkahnya.
"Fatin, tunggu" panggil suara itu
Fatin menoleh ke arah suara.
Deg, Arkhan. Ya Tuhan Arkhan, Ganteng bangetttt. Jerit Fatin dalam hati.
Arkhan perlahan mendekat kearah Fatin yang sedang tersenyum. Arkhan melambai lambaikan tangannya di depan wajah Fatin. Tapi Fatin sepertinya sedang memikirkan sesuatu.
Karena Fatin tak merespon gerakannya. Arkhan mencubit pipi Fatin.
"Mikirin apasih sampek senyum senyum gaje gitu." ucap Arkhan sinis
"A..apaan sih. Kepo banget" ucap Fatin gugup
Arkhan menggeleng pelan.
Mereka berjalan bersama menuju ke kelas. Di depan kelas, Wira dan Hening sudah menunggu kedatangan Fatin. Mereka memegang sebuah hadiah masing masing.
Fatin tsrsenyum ke arah sahabat sahabat yang sangat dirindukannya itu. Fatin mempercepat langkahnya menghampiri mereka dan berhambur memeluk mereka berdua.
Pelukan hangat para sahabat yang sangat dia rindukan. Fatin memeluk erat mereka berdua.
"Faatiinn. Kangen banget" ucap Hening
"Aku juga kangen banget" jawabnya
"Fa, gak lupa oleh oleh kan" ucap Wira
Fatin tersenyum dan mengangguk.
"Nanti main kerumah ya. Aku bawa banyak oleh oleh buat kalian." ucap Fatin
Wira dan Hening tersenyum lebar dan mengangguk.
***
Fatin sedang menunggu Reza di depan gerbang sekolahnya. Sudah 15 menit lamanya Fatin menunggu. Namun, Reza tak kunjung datang menjemputnya.
Tin tin
__ADS_1
Sebuah klakson motor berbunyi di samping Fatin. Fatin tersenyum melihat pengendara motor itu. Meskipun wajahnya ditutupi helm full face. Tapi Fatin bisa menebak siapa orang di balik helm itu.
"Bang Reza belum dateng juga" ucap Arkhan
Fatin mengangguk pelan.
Tiba tiba, Arkhan turun dari motornya dan memakaikan sebuah helm untuk Fatin.
"Ayo naik, aku anter" ucap Arkhan
Fatin tersenyum dan mengangguk.
***
Motor Arkhan perlahan memasuki gerbang rumah Fatin. Perlahan Fatin turun dari motor Arkhan dan melepaskan helm nya.
"Yuk masuk dulu" ajak Fatin
Arkhan mengangguk pelan dan mengekori Fatin dari belakang.
Saat Fatin akan mengetuk pintu. Suara bising terdengar dari dalam rumah. Fatin menghentikan tindakannya dan memilih untuk mendengarkan ucapan orang di dalam rumah.
"*Pa, ini udah terlalu lama. Kita harus secepatnya ngasih tau kebenarannya sama Fatin Pa"
"Kita harus sabar Ma. Kamu tahu kan, Fatin itu baru saja meraskan kebahagiaan. Kamu mau, dia tersakiti lagi"
"Tapi Pa, bener kata Mama. Sebaiknya , lebih cepat lebih baik untuk kita ngasih tau semuanya sama Fatin*"
Fatin mengernyit heran. Sebenarnya apa yang sedang mereka bicarakan.
"Pa, Mama gak mau kalo Fatin itu terus menerus nganggep kita orang tua angkatnya Pa. Mama sakit hati Pa, Mama ini mama kandungnya. Mama mau, Fatin secepatnya harus tahu kebenaran ini. Bahwa, Mama , Papa, Reza. Kita semua ini adalah keluarganya. Dia anak Kita Pa."
Deg.
Fatin merasakan sesak didadanya. Nafasnya seakan tercekat, detak jantungnya berdetak tak menentu. Fatin tak mampu lagi membendung air matanya.
Brakk
Semua orang yang berada di dalam rumah terkejut mendengar suara gebrakan pintu.
"Apa maksud kalian. Apa bener, aku ini anak yang tak di inginkan. Sampai sampai kalian tega teganya membuangku" teriak Fatin histeris
Mereka semua terkejut mendengar ucapan Fatin, tak terkecuali Arkhan. Arkhan tak mengerti situasi apa yang ada di hadapannya kini.
Cindy tak mampu membendung air matanya. Hatinya sakit menengar ucapan putrinya. Cindy berdiri dan mencoba untuk menghampiri Fatin namun tertahan.
"Stop. Berhenti disitu. Jangan ada yang mendekat sebelum kalian jawab pertanyaan Fatin." ucap Fatin
"Enggak Fati. Kita semua sayang sama kamu. Ini bukan sperti yang kamu pikirin" ucap Reza
"Abang, Fatin kecewa sama abang. Abang tau kan kalo Fatin itu tersiksa selama tinggal sama keluarga Papa Edo. Tapi kenapa Bang, Kenapa!!! kenapa Abang tega liat Fatin menderita. Abang gak sayang kan sama Fati. Kalian gak sayang kan sama Fatin. Jawab bang!! Jawabb!!" ucap Fatin histeris
Arkhan mencoba memeluknya dan menenangkan Fatin.
Cindy semakin menangis tersedu. Hati Reza bagaikan ditusuk ribuan belati mendengar ucapan adiknya. Adik yang sangat dirindukannya, kini membencinya.
"Fatin. Kami melakukan itu semua ada alasannya nak. Bukan kami tidak menginginkan kamu dalam keluarga ini. Justru kami sangat mengharapkan kehadiran kamu dalam keluarga ini Nak. Papa tau, Papa salah sudah menitipkan kamu sama mereka. Papa gak tau kalau mereka memperlakukanmu dengan buruk. Papa minta maaf sayang, papa minta maaf" ucap Rio seraya berlutut dihadapan putrinya.
Cindy terus menangis di pelukan Reza.
"Papa jahat. Kalian jahat!!! Kalian semua jahaatttt" teriak Fatin histeris
Fatin melepaskan pelukan Arkhan dan berlari keluar rumah. Fatin terus berlari dengan derai air mata yang tiada henti.
Sakit! hatinya sungguh sakit mendengarkan kebenaran itu. Dia tak habis fikir, apa yang sebenarnya keluarganya fikirkan. Hingga dengan teganya mereka menitipkannya pada orang yang sama kejamnya seperti mereka.
Bersambung...
__ADS_1
*Naahhhh,,, lanjut gak nih readers...
Jangan lupa like and vote yaa*