Anak Titipan

Anak Titipan
Sahabat


__ADS_3

***


Pagi yang cerah, secerah senyuman manis yang terukir di bibir Fatin. Fatin sudah siap dengan setelan baju seragam putih abu abu miliknya. Fatin memoleskan sedikit bedak tabur diwajahnya, lalu liptint berwarna peach yang menambah kesan cantik pada bibirnya. Setelah dirasa cukup, Fatin mengambil peralatan sekolahnya lalu bergegas turun kebawa.


Fatin keluar dari kamarnya bersamaan dengan Reza. Reza tersenyum melihat penampilan Fatin. Dia akui, keturunan Ayahnya memang selalu nemiliki paras yang tampan dan Cantik.


Fatin melihat penampilan Reza yang tidak terlalu formal. Tapi tetap menampilkan kesan berwibawa. Setelan kemeja panjang, celana panjang dan sepatu hitam. Membuatnya semakin tampan.


"Pagi kak Reza " ucap Fatin seraya menampilkan senyum manisnya


"pagi peri kecil" balas Reza


Mereka berjalan beriringan menuju ke ruang makan. Disana sudah ada Rio dan Cindy yang sedang menunggu anak anak mereka turun.


Cindy tersenyum bahagia melihat putri kecilnya sudah tumbuh dewasa. Memiliki paras cantik dan sikap yang baik.


Fatin dan Reza tersenyum kearah Mereka berdua.


"Pagi Ma, pa" ucap mereka bersamaan


"Pagi sayang" balas cindy


"Ayo duduk, dan nikmati sarapan kalian" ucap Rio


Fatin dan Reza mengangguk lalu mulai menyendokkan sarapan ke mulut mereka.


"Fatin, susunya jangan lupa diminum ya" ucap Cindy


"Iya Mama" ucap Fatin


***


Selepas sarapan. Cindy mengantarkan suami beserta putra putrinya ke teras. Cindy mencium punggung tangan suaminya, lalu beralih mencium pipi putra putrinya.


"Hati hati dijalan ya sayang., belajar yang rajin" ucap cindy pada Fatin


"Iya ma, pasti kok" balas Fatin seraya mencium tangan Cindy


"Ma, Reza juga berangkat" ucap Reza dan melakukan hal yang sama dengan Fatin


"Baik baik disana ya sayang" ucap cindy


"Fa, kamu berangkat sama papa ya. Soalnya kak Reza mau keluar kota untuk beberapa hari" ucap Rio


"Iya Pa" ucap Fatin


Saat Fatin dan Rio telah memasuki mobil. Tiba tiba Fatin kembali turun dan berlari kearah Reza. Fatin memeluknya dengan erat. Entah mengapa, Fatin sangat sedih saat mendengar Reza akan pergi jauh darinya.


"Kakak jangan lama lama yaa. Fatin nanti kesepian." ucap Fatin


Reza tersenyum lalu membalas pelukan adiknya.


"Kakak gk lama kok. Gak boleh sedih sedih lagi ya. Nanti kalo kak Reza udah pulang, kita jalan jalan oke." ucap Reza


Fatin mengangguk kecil didalam dekapan Reza.


"Kakak hati hati ya dijalan. Jangan lupa oleh olehnya'" Ucapnya


Reza tersenyum kecil.


"Udah, cepetan berangkat. Nanti telat loh" ucap Reza saat melepas pelukannya


"Iya, Fatin berangkat ya kak." ucap Fatin


Reza mengecup singkat kepala Fatin.


***


Di dalam mobil Hanya ada keheningan antara Rio dan Fatin.


"Fatin. Nanti pulang sekolah dijemput supir ya" ucap Rio memecah kebeningan

__ADS_1


"Iya papa. " ucap Fatin


"Papa kerja dimana" lanjutnya


"Papa ngurus restoran utama dikota ini. Nanti kapan kapan kita kesana bareng" ucap Rio


"Wahh, restoran utama. Berarti ada anak restonya juga dong Pa" Ucap Fatin polos


Rio tersenyum, lalu mengusap Rambut Fatin.


"Iya, ada beberapa cabang yang tersebar di beberapa wilyah di Indonesia. Kak Reza kamu, tadi sedang menuju ke kota C untuk memantau perkembangan restoran kita disana" Ucap Rio


"Wahh, banyak juga ya Pa" ucap Fatin


Obrolan obrolan kecil antara mereka berdua terus berlanjut. Hingga mobil berhenti tepat didepan gerbang Sekolah Nusa Bangsa.


"Kamu baik baik ya sayang. Belajar yang semangat" ucap Rio


"Iya Pa. Fatin masuk dulu ya" ucap Fatin lalu mencium tangan Rio


***


Fatin berjalan melewati koridor yang nampak sedikit ramai. Dia berjalan santai menuju ke kelasnya dilantai atas.


Sesampainya disana. Fatin tidak melihat keberadaan dua sahabatnya. Fatin juga tidak melihat Arkhan.


*Deg.


Arkhan, apakah aku harus benar benar menjauhinya. Mengapa rasanyaberat sekali. Tapi ,aku tidak ingin prety mengumbar rahasiaku pada semua orang. Batin Fatin berkecamuk*


Fatin duduk dimejanya sendirian. Dia mengambil ponselnya lalu membuka aplikasi Whatsappnya.


Puluhan notifikasi muncul diberanda chatnya. Dua sahabatnya tak terkecuali Arkhan ternyata sangat mengkhawatirkannya. Mereka berulang kali menanyakan alasannya tidak masuk sekolah dan tidak dapat dihubungi.


Fatin melihat Arkhan memberinya spam chat. Namun Fatin memilih mengabaikannya. Dia beralih pada sahabat sahabatnya


Fatin terkekeh kecil membaca pesan dari mereka semua.


Fatin***


Hai sayangku, kok belum pada dateng sih.


Hening


Fatiiinnnnnnn..Kamu kemana aja😲 udah bosen idup ya. Tungguin, aku habisin kamu pokoknya


Wira


😒😒😒tunggu pembalasanku mak lampir


Fatin terkekeh pelan membaca pesan itu. Sepertinya dia harus mempersiapkan mental baja menghadapi dua sahabatnya itu.


Beberapa saat kemudian, Wira dan Hening sampai bersamaan. Mereka memasuki ruang kelas dengan raut wajah yang sulit diartikan. Fatin merasakan ruangan yang damai, seketika berubah mencekam saat kedatangan Wira dan Hening.


Wira dan Hening duduk ditempat masing masing . Tatapan tajam mereka, tak lepas untuk Fatin. sampai sampai Fatin bergidik ngeri membayangkan apa yang akan terjadi padanya nanti.


***


Kelas sudah bubar. Fatin beserta kawan kawannya masih duduk dengan kesunyian. Fatin sangat ingin membuka suara, namun rasanya tenggorokannya tercekat saat melihat tatapan membunuh dari sahabatnya itu.


" Cepat ceritakan!!" ucap Hening singkat namun tajam


Fatin mengangguk cepat. Rasanya saat ini, Fatin sedang disidang dimeja hijau atas kesalahan yang Fatal.


"Aku akan menceritakannya dari awal. Semoga kalian tidak terkejut. Sebelum itu, aku ingin minta maaf dulu. Soalnya gak ngasih tahu sama kalian gimana keadaan aku. Dan udah bikin kalian khawatir. Kalian gak marah kan" ucap Fatin


"Kita gak marah kalo cerita kamu bagus. Buruan" Ketus Wira


Fatin bergidik ngeri melihat keseriusan sahabat sahabatnya ini.


Tanpa membuang waktu, Fatin mulai menceritakan kisahnya dari awal dia diFitnah lalu diusir dari rumah. Sampai akhirnya dia tinggal bersama sahabat dari Papa Edo.

__ADS_1


Wira dan Hening mendengarkan cerita Fatin dengan saksama. Mereka merasa bersalah, karena saat itu Fatin menjalaninya sendirian. Tidak ada mereka disampingnya.


Hening meneteskan air mata haru serta bahagia mendengar cerita Fatin. Rasa bersalah menyelimuti hatinya, namun dia merasa senang. Karena akhirnya sahabatnya itu bisa keluar dari neraka dunia itu.


Hening membawa Fatin kedalam pelukannya. Dia bisa merasakan kesedihan dan kebahagiaan Fatin saat menceritakan kisahnya.


Wira ikut terharu mendengar cerita Fatin, kemudian bergabung memeluk Fatin.


"Kenapa kamu gak ngabarin kita sih Fa. Kita itu khawatir banget" Ucap Hening Sesegukan.


"Maafin aku yaa, aku gak mau bikin kalian khawatir" tutur Fatin


"Lain kali kamu gak boleh bikin kita gini lagi Fa." Ucap Wira


Kemudian mereka melepaskan pelukan teletubis itu.


"Aku seneng banget, akhirnya kamu bisa bebas dari keluarga itu" ucap Hening


"Iya fa, jadinya kamu bisa menikmati hidupmu seperti orang lain. Kita cuma pengen kamu bahagia Fa" ucap Wira


Fatin tersenyum melihat keduanya.


"Aku bahagia kok. Meskipun Keluarga Papa Rio asing buat aku. Tapi aku merasakan kebahagiaan dan kasih sayang yang besar dari mereka. Aku merasa, ada sebuah ikatan antara kami" ucap Fatin


"Apapun itu, kami pasti seneng saat kamu seneng Fa. Aku juga ngerasa, keluarga itu yang tepat buat jadi keluarga kamu. " Ucap Wira


"Iya Fa, kasih sayang mereka juga gak bisa dianggap main main. Buktinya, mereka baru mengenal kamu. Tapi kamu sudah diperlakukan seperti anak sendiri." ucap Hening


"Aku juga heran sama perlakuan mereka ke aku. Layaknya seperti putri dirumah itu" ucap Fatin


"Mungkin itu keluarga kamu Fa" ucap Wira


*Deg.


Apa benar yang diucapkan Wira. Ah tidak tidak*.


"Ah. mana mungkin, aku aja gak mirip kok sama mereka" ucap Fatin


"Keluarga gak harus mirip Fa" ujar Hening


"Udah udah, intinya kalian sekarang gak boleh marah ya. Kan cerita aku bagus" ucap Fatin Sambil terkekeh


Wira dan hening memutar bola matanya malas .


Plakk


Hening memukul kepala Wira.


"Apaan sih ning .Sakit tauk" ucap Wira memegang kepalanya


" sorry. soalnya gak mungkin kan aku mukul Fatin" ucap Hening cuek


"Rese lo Ning" ketus Wira


Fatin terkekeh pelan. Dia sangat merindukan suasana seperti ini. Tidak bertemu sehari, rasanya seperti setahun.


Obrolan mereka terus berlanjut, diiringi dengan perdebatan tanpa ujung dan tawa renyah mereka.


.


.


.


Kebahagiaan itu akan datang dengan sendirinya. Jika kita berada dilingkup orang orang yang menyayangi kita. Seperti keluarga dan sahabat. Sahabat yang baik adalah mereka yang selalu setia untuk kita. Menemani suka dan duka. Senang dan sedih.


Bersambung...


Up lagi ya readers


.Masih semangat kan bacanya

__ADS_1


__ADS_2