
POV Fatin
Sudah hampir 30 menit lamanya aku menunggu, tapi Bang Reza belum juga muncul. Aku merasakan terik panas matahari semakin membakar tubuhku.
Tiba tiba, sebuah motor sport berhenti dihadapanku. Aku tersenyum ke arah pengendara itu. Wajahnya yang tertutupi helm full face, tak mampu menyembunyikan siapa dirinya.
Dia menawarkanku untuk pulang bersama. Awalnya aku ragu, namun akhirnya aku mengangguk setuju. Saat dia mulai memakaikan helm untukku. Jantungku berdebar sangat kencang, dihatiku terasa bagai ribuan kupu kupu sedang beterbangan.
Dia mengantarkanku sampai ke depan rumah. Melihat cuaca yang semakin terik, aku berinisiatif mengajaknya untuk singgah sebentar. Dia pun menyetujui ajakanku.
Tanganku yang semula terangkat untuk mengetuk pintu, ku urangkan. Karena aku mendengar suara bising yang terjadi di dalam rumah. Sayup sayup aku mendengar mereka menyebut nyebut namaku.
Karena penasaran dengan topik pembicaraan mereka. Aku memutuskan untuk mendengarkannya dari balik pintu. Meskipun tidak terlalu keras, tapi jika di dengarkan baik baik. Aku bisa mengetahui kemana arah pembicaraan mereka.
Sepersekian menit, aku masih belum faham maksud dari perdebatan mereka di dalam. Namun, di menit berikutnya, Aku merasakan duniaku runtuh seketika. Nafasku tercekat, hatiku teramat sakit mendengar kenyataan ini.
Air mataku, tak mampu lagi terbendung. Dengan emosi yang meluap luap, aku membuka pintu dengan kasar. Mereka terkejut dengan kedatanganku.
"Apa maksud kalian. Apa bener, aku ini anak yang tak di nginkan. Sampai sampai kalian tega teganya membuangku" teriak ku histeris
Mungkin mereka terkejut melihat dan mendengar ucapanku. Tapi, keterkejutan mereka tak sebanding dengan apa yang aku dengar dan rasakan.
Aku terus meneror mereka dengan berbagai pertanyaan yang mengganggu pikiranku selama ini. Mereka tak mampu memberikan jawaban yang memuaskan untukku. Mereka hanya mampu membela diri.
Aku tak mampu lagi menahan gejolak di dadaku. Aku berlari sejauh mungkin meninggalkan mereka semua. Aku ingin menenangkan pikiranku. Satu persatu bayangan penderitaanku selama ini bermunculan di pikiranku. Hati ku kembali teriris mengingat kembali semua itu.
Aku menghentikan langkahku di sebuah pohon rindang, tempat yang sangat sunyi. Sangat kubutuhkan saat ini, ancaman ancaman yang bisa saja terjadi di tempat ini tak mampu membuatku meninggalkan tempat ini. Pikiranku terus berputar mengingat ucapan ucapan Ayah,.Ibu beserta kakak ku.
Aku masih tak menyangka, dengan teganya mereka membuangku. Membuatku tersiksa sekian lama, lalu kemudian mereka datang sebagai malaikat penolongku. Membawaku terbang ke atas awan, namun kemudian aku dijatuhkan tanpa perasaan ke dasar jurang.
__ADS_1
Aku terus merenungi nasibku di bawah pohon ini. Air mata ku yang terus mengalir, perlahan berhenti, sisa sianya pun telah mengering. Saat aku mulai kelelahan, perlahan mataku mulai terpejam.
Dimimpiku, aku melihat dua pria tampan datang menghampiriku. Mereka membawaku ke sebuah istana mewah.
***
"Gimana dok keadaan nya. Apa dia baik baik aja" tanya Reza khawatir
"Dia baik baik saja. Hanya saja dia kelelahan dan merasa shock. Jadi tubuhnya tertekan " jelas dokter
Reza menghembuskan nafas lega.
Cindy terus menggenggam tangan Fatin, dan mengecupnya sesekali. Rio semakin bersalah, saat melihat kondisi putrinya yang terbaring lemas di tempat tidur.
Setelah selesai memeriksa kondisi Fatin. Arkhan mengantarkan dokter itu sampai ke depan.
"Maaf sebelumnya Om, Tante, Bang Reza. Kalo Arkhan boleh tahu, sebenarnya ini ada apa." tanya Arkhan ragu ragu
Rio, Cindy dan Reza saling berpandangan. Kemudian Rio menganggukkan kepalanya kepada Reza. Reza yang paham maksud dari Rio langsung menceritakan kejadian sebenarnya.
Reza mulai menceritakan dari awal kejadian16 tahun lalu tanpa kurang sedikit pun. Arkhan semula terkejut mendengar kebenaran itu. Arkhan juga bisa merasakan, bagaimana tersiksanya Fatin dulu sebelum bertemu dengan keluarga kandungnya. Menurutnya, wajar saja jika Fatin marah. Karena, Dia pasti memikirkan hal hal diluar cerita sebenarnya.
Arkhan mencoba memberikan pengertian kepada keluarga itu. Arkhan juga berjanji, akan membantu mereka menjelaskannya perlahan lahan kepada Fatin. Arkhan juga mencoba meyakinkan mereka, jika Fatin tidak akan mungkin membenci mereka. Karena Fatin telah menganggap mereka keluarganya sendiri, meskipun itu memang benar nyatanya. Keluarga Rio tersenyum bahagia mendengar ucapan Arkhan.
***
Disekolah, Fatin menjadi lebih murung dan pendiam. Kejadian beberapa waktu lalu membuat batinnya sedikit gundah. Dia tidak sepenuhnya membenci keluarganya, Dia hanya kecewa.
"Fa, kantin yuk" ajak Arkhan
__ADS_1
Fatin hanya menggeleng pelan. Arkhan menghembuskan nafasnya kasar. Semenjak kejadian itu, Fatin berubah menjadi pribadi yang sangat irit berbicara. Segala cara sudah dikerahkannya, namun nihil, tak membuahkan hasil apa apa.
"Fa, kalo kamu gini terus. Kamu bisa sakit, kita makan dulu ya. Kamu tuh pucet banget Fa, kayak orang gak punya semangat hidup" ucap Hening kesal.
Hening dan Wira tak kalah pusing memikirkan perilaku Fatin akhir akhir ini. Mereka sudah mendengarkan cerita dari Arkhan, Wira dan Hening juga merasa terkejut mendengar kebenaran itu. Awalnya, memang mereka sudah merasa curiga dengan keluarga itu. Dan ternyata, kecurigaan itu benar adanya.
"Ayolah Fa, aku udah laper nih. Akutuh gak dibolehin makan sama Hening kalo kamu belum mau makan. Ayo dong Fa, Kamu gak kasian sama aku" ucap Wira mendramatisir.
Hening melirik Wira dengan malas. Fatin memandang wajah mereka bertiga satu per satu. Akhirnya, Fatin mengangguk menyetujui ajakan mereka. Wira bersorak bahagia, akhirnya, penantiannya beberapa menit ini tidak sia sia.
Arkhan tersenyum melihat Fatin yang mulai luluh. Arkhan meraih tangan Fatin dan menggenggamnya. Mereka berjalan beriringan menuju kantin.
Kantin
Mereka menikmati makan siang itu dengan khidmat. Tapi tidak dengan Fatin, dia hanya mengaduk aduk makanan miliknya. Tatapannya kosong kedepan, pikirannya terus melayang membayangkan Ibunya yang terus menangis saat melihatnya terus berdiam diri di kamar. Sejujurnya, dihati kecilnya terbesit keinginan untuk berlari dan memeluk erat sosok yang sangat dirindukannya itu. Namun apalah daya, hatinya belum siap menerima ini semua.
Arkhan yang melihat Fatin hanya mengaduk aduk makanannya, menghentikan aktivitasnya. Arkhan meletakkan sendok miliknya, dan mengambil alih makan Fatin. Arkhan mulai menyendokkan makanan ke hadapan Fatin. Fatin terkejut sesaat, kemudian memandang Arkhan dengan tatapan penuh tanya. Arkhan sedikit memajukan sendok ditangannya dan menganggukkan kepala. Fatin menatapnya sekilas lalu perlahan membuka mulutnya. Arkhan tersenyum tipis.
Wira dan Hening menarik setiap sudut bibir mereka, membentuk sebuah lengkungan. Mereka merasakan kebahagiaan jika Fatin bahagia , dan sebaliknya. Mereka akan merasa sedih jika Fatin bersedih.
Arkhan terus menyuapi Fatin, hingga makanannya habis. Arkhan menyodorkan minuman miliknya dan mengusap sudut bibir Fatin dengan jarinya. Fatin tersenyum manis melihat perhatian Arkhan padanya.
***
Terkadang, bahagia tak harus melulu harta dan tahta. Sebuah perhatian kecilpun, mampu memberikan kebahagiaan yang jauh lebih berlipat ganda jumlahnya
Bersambung...
segini dulu ya readers up nya
__ADS_1