Anak Titipan

Anak Titipan
Sunset di Pantai Kuta


__ADS_3

TOK


TOK


TOK


Terdengar suara ketukan pintu dari luar. Wira, Arsen, Rico dan Hans masih sama-sama terlelap. Hingga terdengar suara ketukan yang berulang-ulang baru mereka mulai sadar perlahan.


Wira membuka mengerjapkan matanya, dan perlahan mulai bangun kemudian membuka pintu kamarnya.


"Ada apa Paman"


"Sudah pukul lima sore Nak, bukankah tadi kalian minta di bangunkan karena ingin pergi melihat sunset" ucap Paman


Wira langsung menepuk dahinya.


"Benar sekali Paman, terima kasih sudah membangunkan" ucap Wira


Paman mengangguk pelan seraya tersenyum.


"Silahkan bersiap-siap, mobilnya juga sudah Paman sediakan" ucapnya lalu berbalik dan meninggalkan Wira.


"Sebentar Paman, apakah Paman sudah membangunkan teman-temanku yang lain" ucap Wira


Paman terus berjalan sambil mengangguk pelan, tanpa menoleh ke arah Wira.


Wira langsung kembali masuk ke dalam kamarnya untuk membangunkan teman-temannya.


"Sen, Ric, Hans bangun. Mau ikut liat sunset gak" ucapnya seraya menggoyangkan tubuh mereka. Karena mereka masih belum berkutik, Wira memutuskan untuk membersihkan dirinya sebentar.


Beberapa saat kemudian Wira sudah keluar dari kamar mandi. Tapi mereka masih belum juga bangun. Wira hanya mengangkat bahunya acuh. Toh dia juga sudah membangunkan mereka. Wira melangkahkan kakinya keluar menuju ke lantai satu. Saat menuruni tangga, tampak sudah Fatin dan Hening yang sedang menatapnya dengan tatapan tajam mereka. Wirapun mempercepat langkahnya untuk menghampiri kedua sahabatnya.


"Serem banget mukanya Neng" ucap Wira mencoba meluluhkan hati mereka berdua


Tapi nyatanya mereka semakin menatapnya tajam.


"Lama banget sih, ngapain aja lo tadi. Buang-buang waktu banget tahu gak" ucap Hening ketus


"Sorry, gue tadi bangunin mereka bertiga susah banget. Makanya lama turunnya" ucap Wira


"Terus mereka mana" tanya Fatin


"Masih tidur. Mau di bangunin lagi" ucap Wira


Fatin dan Hening menggeleng kompak.


"Biarin aja, mungkin mereka kecapean. Ayo buruan, keburu hilang sunsetnya" ucap Fatin


Mereka mengangguk bersamaan. Sebelum mereka pergi, mereka menitipkan pesan kepada Paman dan Bibi penjaga Villa untuk mengatakan kepada Arsen dan yang lainnya bahwa mereka sedang berada di pantai. Setelah itu, mereka langsung menuju ke mobil yang telah di sediakan. Saat melihat tuannya sudah tiba, Sang supir langsung membukakan pintu untuk ketiga remaja itu. Mereka mengangguk dan tersenyum sebagai tanda terima kasihnya.


Perlahan mobil yang mereka tumpangi mulai melaju ke arah pantai Kuta. Tak butuh waktu lama untuk sampai disana Karena jarak dari Villa milik Wira dengan Pantai Kuta hanya sekitar sepuluh kilometer. Sesampainya disana, mereka langsung bergegas menuju ke dekat pesisir pantai untuk menikmati indahnya sunset hari ini.


Mereka memilih untuk duduk lesehan di pasir pantai. Tak jauh dari tempat mereka bertiga, ada beberapa orang pengawal dari keluarga Wira. Salah satu dari mereka menghampiri Wira dan kedua sahabatnya dengan membawa beberapa minuman dan cemilan.


Fatin dan Hening sedikit terkejut melihat kedatangan pengawal itu.


"Terima kasih" ucap Wira


Pengawal itu membungkukkan tubuhnya lalu berbalik meninggalkan mereka bertiga.


"Siapa sih Wir, kok tiba-tiba muncul. Bawa ginian lagi" tanya Fatin


"Gak penting, nikmatin aja" sahut Wira


Fatin menatap Hening, tapi justru Hening hanya menggedikkan bahunya acuh.


Mereka kembali menikmati indahnya sunset di Pantai Kuta. Hanya ada keheningan diantara mereka, mereka hanya bergelut dengan pikiran masing-masing. Sebelum akhirnya mereka di kejutkan dengan suara dering ponsel milik Wira.

__ADS_1


"Siapa Wir?" tanya Fatin


"Rico" ucap Wira kemudian menjawab panggilannya.


"Halo.."


....


"Gak usah banyak omong. Kalo mau kesini dateng aja, ada mobil di depan"


....


"Hemm"


Wira langsung mematikan ponselnya dan meminum jus miliknya.


"Kenapa" tanya Hening


"Biasalah" hanya dengan jawaban itu, Fatin dan Hening bisa menebak apa yang barusan terjadi di panggilan Rico tadi.


Beberapa saat kemudian, Arsen dan teman-temannya sudah sampai di Pantai Kuta. Mereka langsung mencari keberadaan Wira dan yang lainnya.


"Itu tuh mereka" tunjuk Rico ke arah Wira


Mereka bertiga langsung bergegas menghampiri Wira, Fatin dan Hening.


"Woy, nyantai banget. Gak ngajak-ngajak lagi, tega kalian" ucap Hans mendramatisir


"Salah lo sendiri, di bangunin susah banget. Ya gue tinggal" ucap Wira santai


"Lah, ini doang nih. Buat kita mana" ucap Rico sambil menunjuk minuman dan camilan milik Wira


"Pesen sendiri"


"Tega banget sih, pesenin napa" sahut Hans


"Udah duduk aja, bentar lagi dateng" ucap Wira, dan benar saja. Saat mereka duduk dan bergabung, langsung pengawal Wira datang lagi dengan membawa minuman dan camilan untuk mereka bertiga.


"Tapi kok penampilannya serem banget ya. Kaya bukan pelayan gitu" lanjut Hans


"Emang gue pikirin, yang penting enak dan gratis" sahut Rico lalu mulai melahap camilan miliknya.


"Murahan lu" cibir Arsen


"Bodo amat ah, penting gak jual diri" ucap Rico


Mereka kembali menikmati indahnya pemandangan sunset dari pesisir pantai.


"Oh iya gue lupa, tadi Arkhan nelpon katanya dia udah landing" ucap Arsen


Fatin yang mendengar nama Arkhan hanya terdiam.


*Landing, maksudnya Arkhan ikut kesini gitu." batinnya


"Oh ya bagus dong . Mau di jemput atau sendiri aja" tanya Wira


"Sendiri, dia lagi ada di hotel xxxx" lanjut Arsen


"Kasih alamat villa gue aja. Biarin dia gabung, besok kita bisa jalan-jalan bareng" ucap.Wira


Arsen mengangguk setuju.


Hari sudah semakin petang. Matahari sudah meninggalkan bumi dan tergantikan oleh cahaya Bulan. Mereka memutuskan untuk kembali ke Villa.


Sesampainya di villa, mereka langsung di kejutkan oleh keberadaan Arkhan yang sedang mengobrol dengan Paman dan Bibi penjaga Villa.


"Woy bro, udah nyampek sini aja lo" ucap Arsen sambil merangkul bahu Arkhan

__ADS_1


"Iyalah" sahutnya


"Hai Wir, Ning, Fa" sapa Arkhan


"Halo Arkhan..." sahut Hening dan Wira barengan, tapi tidak dengan Fatin. Dia hanya terdiam membisu sambil menatap Arkhan.


"Woy Fa, disapa Arkhan tuh, diem-diem bae lu" bisik Hening


Fatin langsung tersadar dari lamunannya.


"Eh iya, halo Ar." ucap Fatin


"Masuk yuk, udah mulai gelap nih" ajak Wira


Mereka mengangguk, lalu masuk ke dalam Villa.


Setelah membersihkan diri, mereka kembali lagi dan menuju ke meja makan. Berbagai jenis hidangan sudah tersedia di sana, mulai dari makanan khas bali sampai makanan modern sebagai penutup.


Mereka menikmati makan malam kali ini dengan tenangm Tidak ada yang bersuara sedikitpun kecuali dentingan sendok dan garpu. Entah karena mereka lebih memilih menikmati lezatnya hidangan makan malam atau karena tidak ada topik pembicaraan.


Selesai makan malam, mereka langsung menuju ke taman belakang. Disana juga terdapat kolam berenang yang lumayan luas. Mereka memilih duduk lesehan di rerumputan hijau di taman.


"Enaknya kita ngapain nih" tanya Rico


"Main game aja gimana" ucap Hans


"Game apaan malem-malem begini" ucap Fatin


"Truth or Dare" jawab Wira dan Hening bersamaan


"Setuju" jawab yang lain serempak


"Oke, gue ambil botol dulu" ucap Wira kemudian beranjak ke dalam


Tak lama Wira sudah kembali dan duduk di tempat semula. Mereka duduk dengan membentuk lingkaran kecil.


"Gue duluan" ucap Rico


Rico mulai memutar botol kosong itu. Dan mulut botol berhenti tepat di hadapan Arsen.


"Nah, gue yang ngasih pertanyaan" ucap Wira "Ada hubungan apa lo sama Hening" lanjutnya


Arsen menatap Wira sebentar.


"Lo kan udah tahu." jawabnya


"Udah jawab aja" ucap Wira


"Pacar gue, calon ibu dari anak-anak gue kelak" jawab Arsen santai


Sedangkan di hadapannya, Hening hanya tertunduk malu dengan wajahnya yang sudah merah merona.


"Ciieeee,,, Hening meraah ciiee" sorak mereka yang tentu saja membuat Hening semakin malu


"Oke lanjut. Sekarang giliran gue" ucap Arsen lalu kembali memutar botol di hadapannya. Dan botol itu berhenti tepat di dahapan Arkhan.


"Gue dong yang nanya." ucap Rico cepat


"Buruan" jawab Arkhan


"Pertama, apa lo bener-bener udah putus sama si cewek dempul itu. Dan yang kedua, lo masih punya perasaan gak sama my baby Fatin" ucap Rico


"Satu aja kali Ric kalo nanya" ucap Hans


"Udah biarin. Buruan jawab" sergah Rico


Arkha terdiam. Mereka semua sama-sama terdiam karena ini mendengar jawaban dari Arkhan. Fatin merasakan debaran jantungnya yang tidak beraturan, entah apa yang sedang di harapkannya. Apakah dia masih sedang berharap jawaban iya dari mulut Arkhan.

__ADS_1


"Gue udah putus dari dia, dimana kita lagi ngomongin buat liburan. Dan untuk pertanyaan kedua, jawaban gue..."


Bersambung....


__ADS_2