Anak Titipan

Anak Titipan
Amarah Reza


__ADS_3

Rio masih terpaku menatap kepergian Edo dan Istrinya. Ia masih tidak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Mira. Tiba-tiba dari arah samping Fatin dan Reza daang menghampiri Rio dengan guratan amarah di wajah mereka.


"Pa, kemana perginya wanita tidak tahu malu itu sekarang. Berani-beraninya dia mengotori hari bahagia Reza, lancang sekali mulut kotornya itu berbicara yang tidak-tidak disini" ucap Reza geram, ya setelah kepergian Mira dan Mawar. Fatin langsung menghampiri Reza dan menceritakan ulah yang kedua wanita licik itu lakukan. Reza seketika langsung naik pitam, saat mengetahui kedua Wanita itu berbicara yang buruk kepada Anak dan calon istrinya. Ditambah lagi dengan si kecil Ara yang mengadukan kepada Reza bahwa Mira mengatakannya sebagai anak haram. Dan menanyakan kebenaran itu kepada Reza dan Ayla. Kepolosan gadis kecil itu membuat hati Ayla bagaikan tersayat-sayat ribuan belati. Luka itu seakan langsung disiram oleh air garam yang membuat rasanya begitu tak karuan.


"Reza, siapa sebenarnya yang kamu maksud" tanya Rio masih bingung


"Pa, istri dan anak dari teman Papa tadi sudah lancang berbicara yang tidak-tidak tentang Ara dan Ayla, Pa. Terlebih lagi, mereka mengatakan kepada Ara bahwa dia adalah anak haram" ucap Reza geram, gurat emosi terpampang jelas diwajahnya. Urat-urat lehernya timbul, wajahnya memerah menandakan kemarahannya yang sudah diubun-ubun.


Rio seketika terperangah mendengar ucapan Putranya. Dalam hati Rio merutuki kebodohannya karena telah mengundang Keluarga Edo untuk hadir dipesta pertunangan Putranya. Tapi disisi lain Rio bersyukur karena mereka datang diwaktu yang tepat. Saat seluruh tamu undangan sudah kembali ke rumah masing-masing.


"Kamu tenang dulu Za, jangan gegabah. Kita bisa selesaikan ini secara baik-baik. Beruntung tidak ada yang mendengar perkataan kotor mereka. Kalau tidak, Papa tidak bisa membayangkan bagaimana olok-olok akan terlontar dari mulut rekan-rekan kerja kita kepada Ayla dan Ara" tutur Rio


"Gak bisa Pa, Reza gak terima. Mereka udah mencemarkan nama baik Ayla sama Ara. Lagian kenapa sih Papa harus ngundang mereka" ucap Reza terpancing emosi, Fatin memegang lengan Reza mencoba memberikan ketenangan. Meskipun dihatinya juga merasakan gemuruh amarah yang masih membara.


"Mereka sahabat Papa kalau kamu lupa Reza. Mereka juga yang sudah menolong kita sewaktu kita dalam masa-masa sulit" ucap Rio


"Reza ingat Pa, bahkan selalu ingat. Tapi apa Papa juga lupa kalau mereka juga yang sudah membuat adik Reza tertekan selama hidup bersama mereka Pa. Reza berterima kasih sebesar-besarnya kepada mereka karena telah sudi merawat Fatin dengan atau tanpa kasih sayang. Reza tahu, kita belum sempat membalas perbuatan baik mereka itu. Tapi haruskah mereka menjelek-jelekkan Ayla dan Ara. Yang mana mereka sama sekali tidak saling mengenal tapi sudah menaruh anggapan buruk terhadap calon istri dan anak Reza" balas Reza penuh dengan penekanan. Suaranya menggema memenuhi ruangan itu.


Tiba-tiba dari arah belakang Cindy beserta Ayla dan Ara menghampiri mereka. Ara memeluk erat Bundanya karena ketakutan saat mendengar kemarahan Reza.


"Bunda, Ayah kenapa. Ara takut sama Ayah Bunda" cicit gadis itu sambil bersembunyi dibalik tubuh mungil Ayla.


Ayla memutar tubuhnya dan memeluk Ara dengan penuh kasih sayang. Ayla kehabisan kata-kata untuk menjawab pertanyaan putrinya. Cindy yang melihat itu langsung menarik Ara kedalam pelukannya.


"Ara sayang, dengerin Oma. Ayah Ara itu lagi kecapean aj, makanya marah-marah. Ara gak boleh takut ya sama Ayah, Ayah Ara gak jahat kok" ucap Cindy, Ara mengngaguk menanggapi ucapan Cindy.


Cindy memberikan kode kepada Ayla untuk menghampiri Reza dan menenangkannya. Ayla mengangguk paham lalu beranjak menghampiri calon suaminya.

__ADS_1


"Mas, udah ya. Jangan diperpanjang lagi, kamu liat Ara. Dia jadi takut liat kamu marah-marah Mas. Tenang ya, lagian kan itu semua gak bener. Jadi kita gak perlu marah" suara lembut Ayla akhirnya sedikit demi sedikit mampu mengurangi amarah dalam diri Reza. Reza memperhatikan putrinya yang sedang berada dalam dekapan Cindy. Terdengar suara hembusan nafas kasar darinya.


"Maafin Reza Pa, Reza udah marah-marah sama Papa" ucapnya sambil merangkul bahu Rio. Rio hanya tersenyum dan membalas rangkulan putranya.


"Papa tahu kamu kecewa dan marah, Papa juga merasakan hal yang sama. Tapi tidak semua kejahatan harus kita balas dengan kejahatan bukan. Kita harus membalasnya dengan kebaikan dan kepala dingin. Jangan sampai kita mengungkit masa lalu dan memperbesar masalah. Sehingga dapat menimbulkan kesalahpahaman dan perpecahan diantar kita" ucap Rio, kemudian melepaskan rangkulannya. Reza mengangguk pelan, memang benar. Semua masalah yang dihadapi dengan amarah akan semakin memperburuk keadaan bukan malah menetralkannya.


Reza menghampiri putrinya yang sedang berada dipelukan Ibundanya.


Reza langsung jongkok dihadapan mereka berdua"Ara, sini sayang" ucapnya sambil merentangkan kedua tangannya, Ara menatapnya sekilas. Dengan ragu Ia melangkahkan kakinya mendekati Reza.


"Sini sama Ayah" ucap Reza, Ara membalikkan tubuhnya dan menatap Cindy sebentar. Cindy menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Perlahan Ara kembali mendekati Reza dan berhambur ke dalam pelukannya.


"Ayahh" lirih Ara sambil membalas pelukan Reza. Reza mencium pucuk kepala putrinya.


"Maafin Ayah ya, Ayah gak bakal marah-marah lagi didepan Ara. Ara jangan jangan takut sama Ayah ya, Ayah gak mau Ara jauh" ucap Reza sambil mengusap rambut panjang Ara. Dalam dekapannya, Reza bisa merasakan isakan kecil dari peri kecilnya itu. Perlahan Reza menjauhkan wajah Ara dari dekapannya.


"Ara.. Ara gak marah sama Ayah. Ara sayang sama Ayah, jadi Ara gak bisa marah sama Ayah" cicitnya sambil terisak kecil


Reza menangkupkan kedua tangannya diwajah Ara"Ara sayang kan sama Ayah" tanyanya, Gadis itu mengangguk kecil.


"Kalo gitu jangan nangis. Ayah gak suka liat Ara nangis, Ayah gak mau pokoknya kalo Ara nangis" ucap Reza sambil kembali mengusap air mata putri kecilnya.


Tampak Ara menyerot ingusnya panjang. Tangannya terulur untuk mengusap air matanya sampai kering.


"Ayah lihat, Ara gak nangis lagi. Ara gak nangis karena Ara sayang Ayah. Ayah jangan marah, ya" ucapnya sambil terus mengusap setitik demi setitik buliran bening yang turun mengaliri pipinya. Bibirnya terangkat keatas dan menciptakan sebuah senyuman tulus yang menandakan bahwa dirinya baik-baik saja. Reza tersenyum lembut, tangannya terulur untuk mengusap kepala peri kecilnya.


"Nah, gitu dong. Anak Ayah gaboleh cengeng ya, untuk siapapun itu Ayah gak mau liat Ara sampek netesin air mata. Karena air mata Ara bagaikan belati yang menusuk ke dalam hati Ayah. Rasanya sakiiittt banget, Ara gak mau kan liat Ayah kesakitan" ucap Reza, gadis itu mengangguk cepat

__ADS_1


"Makanya Ara gak boleh sedih, biar Ayah gak sakit" lanjutnya


:


:


:


Sementara itu, di tempat lain. Sepasang suami istri tengan beradu mulut dengan sengit.


"Mengapa kamu begitu bodoh Ma. Kau ini selalu saja merugikan diriku. Tidak bisakah sekaliii saja kau menguntungkanku sebagai seorang istri" ucap Edo dengan nada tinggi


"Apa salahku, aku hanya mengatakan yang sebenarnya kepada mereka" balas Mira tak kalah emosi


"Sebenarnya dimana letak otakmu ketika berbicara, Ha? Apakah kau tidak pernah berpikir sebelum mengeliarkan kata-kata dari mulutmu itu" ucap Edo semakin emosi


"Untuk apa aku berpikir jika kata-kataku memang benar adanya. Lagi pula dimana letak logisnya jika seorang gadis belia sudah memiliki seorang putri namun dia belum menikah. Tentu saja itu pasti hasil dari hubungan gelapnya" balas Mira


Edo tak habis pikir dengan jalan pikiran istrinya. Jika begini caranya, semua rencananya bisa gagal karena kecerobohan istrinya itu.


"Terserah padamu, asalkan kau tahu. Aku sedang mendekati Rio untuk mencoba memanfaatkan dirinya. Karena hanya dia satu-satunya harapan kita. Tapi kau dengan mudahnya menghancurkan semua rencanaky. Apakah kau ingin hidup susah. Semua harta kekayaan keluargaku sudah habis tak tersisa, hanya tinggal rumah ini satu-satunya" ucap Edo geram


"Apa maksudmu Pa? Katakanlah dengan jelas, jangan berbelit-belit" sarkas Mira


Edo mencoba mentralkan amarahnya. Dia mendudukkan dirinya di sofa. "Aku hampir saja ketahuan oleh atasanku karena telah melakukan pengelapan dana. Untung saja aku bisa memutar balikkan fakta kepada orang lain. Jika tidak, pasti aku sudah dipecat dan semua harta kekayaan kita akan habis untuk melunasi perbuatanku itu. Dan saat ini, mereka seperti selalu mengawasiku, mereka sudah menaruh curiga padaku" balas Edo, Mira membelalakkan matanya mendengar perkataan Edo.


"Aku tidak ingin hidup miskin Pa. Pokoknya apapun ynag terjadi aku tidak ingin hidup miskin" sahutnya, tanpa berkata lagi. Mira langsung beranjak meninggalkan suaminya. Edo menyugar rambutnya karena frustasi. Istrinya selalu saja membuatnya terperosok dalam jurang yang dalam. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana hidupnya kelak jika seluruh harta kekayaannya telah habis.

__ADS_1


__ADS_2