
Rendi dan teman-teman nya yang lain menatap heran ke arah Ocha. “Dia sehat kan Ren? Dia gak kerasukan kan??”. Tanya salah satu teman nya dengan wajah heran. Rendi hanya mengangkat bahu nya yang menandakan bahwa ia juga tidak tahu apa yang terjadi dengan Ocha. Setelah puas tertawa tanpa henti, akhirnya Ocha pun sadar bahwa ia sudah cukup lama menjadi pusat perhatian. “Ghem.. Ghem.. Santai... Biasa aja dong ngeliyatinnya”. Ocha berusaha mengendalikan suasana yang sudah cukup lama dalam keheningan. Ocha menarik nafas panjang, ia berusaha agar tidak tertawa lagi. Rendi dan panitia mos yang lain terlihat mulai menjalankan tugas nya. Mereka memberikan sedikit pengarahan tentang Masa Orientasi yang akan berlangsung hingga 3 hari ke depan. Para peserta MOS dengan antusias mendengarkan arahan yang di berikan oleh Rendi dan teman-temannya. “Assalamu’alaikum semuanyaaa...”. Tiba-tiba Rezika muncul dengan senyum mengembang di wajah cantik nya. Kedatangan Rezika yang tiba-tiba membuat seisi ruangan sedikit kaget dan dengan spntan menjawab salam dari Rezika. Ocha segera menghampiri Rezika yang berdiri di dekat pintu. “Naaahh... Ini dia yang di tunggu-tunggu. Dari mana mbak baru keliyatan lagi?”. Tanya Ocha penuh candaan. “Dari ruang guru abis ngambil ini”. Jawab Rezika sambil menunjukkan selembar kertas di tangan nya. “Apa itu teh?”. Tanya Rendi yang sedang menyiapkan absen. “Ini?? Ini selembar kertas a’.. ”. jawab Rezika dengan santai. “Yaaahh.. Nenek-nenek juga tahu kalo itu selembar kertas. Maksudnya, itu isi nya apa?? Tentang apaa teteh cantiiiiiikkk.....”. Tukas Ocha dengan sedikit menahan tawa. Ia sengaja menyebut Rezika dengan sebutan teteh cantik untuk lebih menarik perhatian adik-adik baru nya. Ocha kemudian menjelaskan bahwa gadis cantik itu adalah saudari kembar nya Rendi. “Ini namanya kak Rezika, kakak ini kembaran nya kak Rendi. Mirip kan? Nama lengkap nya yaa gak beda jauh dengan Rendi, Cuma beda sedikit. Perkenalan dulu dong kak”. Pinta Ocha dengan senyum manis di wajah nya. “Haaii.. Perkenalkan, nama kakak Mumtazzatul Arga Rezikantira, biasa di panggil Rezika atau Zika. Kakak saudari kembar nya kak Muhammad Arga Rendiantama, atau yang biasa di panggil Rendi. Salam kenal”. Sapa Rezika denagn ramah dan senyum penuh keceriaan yang sudah menjadi ciri khas nya. Sapaan Rezika di sambut hangat oleh adik-adik baru nya tersebut. Terlihat sangat jelas wajah lega dan penuh kebahagiaan di wajah siswi-siswi yang mulanya terlihat sangat bingung dan penasaran. Akhirnya terjawab sudah pertanyaan yang menggangu pikiran mereka. Ternyata gadis cantik itu adalah saudari kembar nya Rendi, bukan pacarnya. “Ooohh iya, Ini daftar nama siswa/siswi berprestasi yang masuk kesini. Ke sekolah kita ini.”. Jelas Rezika dengan senyum sumringah yang terpancar jelas di matanya. Ocha yang penasaran ingin melihat langsung nama-nama yang tertulis di kertas tersebut. “Mana? Coba aku liyat sebentar”. Pinta Ocha seraya mengulurkan tangan nya. Rendi yang juga penasaran mendekati Ocha yang tengah melihat nama anak-anak yang berprestasi itu. Namun mata mereka berdua benar-benar terhipnotis dengan satu nama yang berada di urutan paling atas dengan nilai yang sangat membanggakan. “Waaaaaaa.... Nilai nyaaaa.. Allahu Akbar bangeettt. Bukan Cuma namanya yang bagus, tapi nilai nya juga.. bagus!”. Ocha dengan ekspresi terkagum-kagum terus memandangi nama dan nilai yang tertulis di urutan paling atas itu. “Apa disini ada yang namanya Juwita Maharani Azzahra??”. Tanya Rendi kepada peserta mos di ruangan nya. “Saya kak”. Jawab Zahra dengan suara nya khas, lembut dan sopan sambil mengangkat tangan kanan nya. Sontak Rendi sangat terkejut. Mata nya seakan tidak bisa berkedip dan jantung nya seakan-akan berdetak lebih cepat dari biasanya. Rendi tidak menyangka, bahwa gadis yang telah menarik perhatian nya adalah gadis yang juga membuat nya kagum dengan prestasi nya yang luar biasa. “Kamu?”. Tanya Rendi setengah tak percaya. Sesil dan Renita membantu mengiyakan dengan menganggukkan kepala mereka secara cepat dan bersamaan. Kini pandang mata seisi ruangan hanya tertuju kepada Zahra yang duduk di barisan nomor tiga dari depan. Tanpa sadar Rendi memberikan tepuk tangan yang meriah untuk Zahra yang tertunduk di bangku nya. Kini pandang mata berubah menjadi tertuju kepada Rendi yang bertepuk tangan. “Bisa jadi saingan olimpiade niih kayanya”. Goda Ocha yang berdiri tak jauh darinya. “Hahaaa.. Jangan bersainglah, kerja sama aja kan lebih bagus. Iya gak a’? “. Rezika hanya berdiri di pintu dengan senyum yang masih mengembang di wajah nya.
Tanpa terasa bel tanda masa orientasi hari itu telah berakhir berbunyi beberapa kali, yang mengharuskan mereka semua menyudahi pertemuan di hari itu. “Baiklah, adik-adikku yang berprestasi. Bel sudah berbunyi yang tanda nya kita harus pulang ke rumah masing-masing untuk beristirahat. Jangan lupa, besok jangan terlambat dan perlengkapan mos nya jangan tertinggal. Berdo’a di pimpin oleh ketua kelas”. Jelas salah satu panitia mos di ruang tersebut. Do’a terasa begitu khidmat, mereka semua sangat khusu’ berdo’a menurut kepercayaan mereka masing-masing.