
Ken menyunggingkan senyum lebarnya ketika kata ' SAH' terucap dari para saksi. Desta menghadap Arsyi dan Arsyi mencium punggung tangan Desta. Desta dan Arsyi memakai gaun tradisional berwarna sky blue. Ken dan Alfi memakai kemeja berwarna senada dengan Desta.
" Akhirnya penjaha kel*min nikah juga..!" Gurau Alfi ketika menyalami Desta di pelaminan.
" Macem- macem lagi. Gue hajar lo!" Ancam Ken di sambut gelak tawa Alfi dan Desta juga Arsyi.
" Zara sama Kinan mana?" Tanya Arsyi.
" Nanti siang dia baru ke sini. Kasian udah gendut." Jawab Alfi.
" Kinan mungkin nanti siang juga. Papanya lagi sakit." Jawab Ken.
Ken dan Alfi turun dari pelaminan dan duduk di belakang pelaminan. Tempat acara sangat penuh orang. Pusing juga lihatnya.
" Elo kapan?" Tanya Alfi pada Ken yang sibuk dengan ponselnya.
Ken menoleh ke arah Alfi dan memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku. " Papanya Kinan belum izinin kalo dalam waktu dekat. Yaa seengganya kita nunggu sampai Caca sembuh." Jawab Ken sedikit kecewa.
" Elo nikahnya sama Kinan kenapa nunggu Caca sembuh.Aneh."
" Yaa mau gimana lagi, Al."
Alfi menarik nafas dalam. " Kadang Zara masih keliatan mikirin lo Ken." Ucap Alfi. Pandangan matanya seakan menerawang jauh. " Sekarang kandungannya udah menginjak usia tujuh bulan. Gue khawatir sama keadaan dia nanti saat melahirkan."
" Elo harus selalu support Zara." Ujar Ken menepuk pelan bahu Alfi.
Entah kenapa Kinan dan Zara bisa sampai bersamaan di gedung tempat Desta menggelar resepsi pernikahannya. Zara yang kebetulan melihat Kinan hanya melemparkan senyum tipis ke arah Kinan.
" Widiihh kompak banget nii." Ledek Desta ketika melihat Zara dan Kinan bersamaan naik pelaminan untuk memberinya selamat.
" Ken mana?" Tanya Kinan setelah memberikan selamat dan tak mau menanggapi ucapan Desta.
" Alfi dimana?" Zara juga menanyakan hal yang sama.
" Kayanya di belakang." Jawab Arsyi.
" Yaudah. Gue ke sana dulu ya." Ucap Kinan dan Zara.
" Sayang!" Panggil Kinan ketika melihat Ken tengah duduk sambil ngobrol dengan Alfi.
Kinan dan Zara menghampiri tempat Ken dan Alfi duduk.
" Kalian janjian?" Tanya Alfi memandang tak percaya. Jarang- jarang lihat Kinan dan Zara bisa akur.
" Engga." Sanggah Kinan dan Zara bersamaan.
__ADS_1
" Tadi kebetulan aja." Ucap Kinan.
Ken hanya ber- O panjang.
" Apa kabar, Zar?" Ken berbasa basi.
Zara menoleh ke arah Ken dan tersenyum. " Baik."
" Jangan lebar- lebar tuh senyum!" Sindir Kinan tak suka melihat Zara seakan sedang tebar pesona pada Ken.
Dengan cepat Ken menarik tangan Kinan untuk segera menjauh dari Zara dan Alfi. Kalau engga Waahh bisa terjadi perang mulut antara mereka.
*******
Caca melemparkan senyumnya ketika melihat Kinan dan Ken datang menjenguknya. Keadaan Caca sudah jauh lebih baik. Bahkan sekarang Caca sudah mahir menggunakan kruk.
" Gimana keadaan lo?" Tanya Kinan yang saat Caca menghampirinya dan Ken.
" Jauh lebih baik." Jawab Caca riang.
Ken membantu Caca duduk di sofa.
" Balik ngantor laginlah, Nan." Bujuk Caca.
" Bokap lo?"
" Elo sendirian?"
" Iya."
" Kamu nginap aja. Kasian Caca gak ada yang nemenin." Ucap Ken. Di sambut senyum Caca yang langsung merekah.
" Yaudah gue nginep."
" Yeeaayyy." Caca bersorak. " Emmm Ken." Caca beralih pada Ken.
" Gue minta maaf ya mewakili bokap gue."
" Lupain aja." Ujar Ken. " Tugas lo sekarang adalah cepat sembuh. Biar gue sama Kinan cepat nikah." ucap Ken dengan nada canda.
" Siap."
" Sebentar ya. Alfi nelpon." Ken sedikit menjauh dari Kinan dan Caca.
Ken berjalan menujur teras rumah Caca. " Ada apa ,Al?"
__ADS_1
" Tolong ke rumah gue sekarang Ken. Zara jatoh!" Ucap Alfi dengan nada panik.
" Apa?!" Seru Ken ikutan panik. " Elo dimana?"
" Gue masih di Palembang. Ini gue langsung pesan tiket. Tapi dapet penerbangan paling cepat jam tiga sore."
Ken segera masuk dan mengambil kunci motornya. " Aku ke rumah Alfi dulu, Sayang. Zara jatuh." Ucap Ken cepat dan belum juga Kinan menyahut. Ken sudah berlari menuju motornya.
Ken segera melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Yaa pada siapa lagi Alfi meminta bantuan selain pada Ken. Desta masih menikmati bulan madunya di Bali. Orang tua Alfi juga sedang berada di luar kota mengurus bisnis mereka.
Ken memarkirkan motornya begitu saja dan berhambur masuk mencari sosok Zara. Di ruang tengah tidak ada. Ken berlari menuju ruang keluarga. Tidak ada juga. Hingga Ken terpaku melihat Zara tengah duduk sambil meringis kesakitan. Darah sudah membanjiri lantai.
" Ken..." Tangis Zara pecah ketika melihat Ken baru tiba.
" Kunci mobil dimana?" Tanya Ken tanpa berbasa basi.
" Di laci meja itu." Zara menunjuk meja kecil yang berada dekat kamarnya.
Ken langsung mengambil Kunci mobil dan membuka pintu mobil. Dengan bergegas. Ken menggendong Zara menuju mobil.
" Awww.." Zara meringis menahan sakit.
" Sakit Ken." Zara mencengkram kuat baju Ken.
" Tahan, Zar." Ucap Ken berusaha tetap tenang. Dengan kecepatan tinggi Ken menuju rumah sakit. Sesekali Zara meremas lengan Ken sambil meringis kesakitan.
' CIIITT'
Roda mobil berdecit ketika Ken menghentikan mobilnya tepat di depan UGD. Tanpa memanggil petugas rumah sakit lagi. Ken menggendong Zara dan menerobos masuk.
" DOKTER TOLONG TEMAN SAYA!" Teriak Ken panik. Keadaan Zara kian melemah.
Dengan sigap. Para petugas rumah sakit langsung memberi tindakan pada Zara. Ken menunggu di luar. Ken segera memberikan kabar pada Alfi tentang keadaan Zara.
" Gimana keadaan Zara?" Tanya Ken pada Dokter yang baru saja keluar dari ruangan UGD.
" Zara sudah stabil sekarang. Tapi kita harus segera mengeluarkan janin Zara. Itu bisa membahayakan keduanya jika kita tidak cepat bertindak."
" Apa janinnya selamat?" Tanya Ken. Ada perasaan takut berdesit di hatinya.
" Detaknya masih ada. Tapi sangat lemah." Ujar Dokter itu.
Kaki Ken terasa lemas. Pikirannya seolah langsung melayang. " Lakukan yang terbaik." Ucap Ken dan langsung menandatangani surat yang diajukan seorang perawat pada Ken.
Ken terduduk lemas. Dia bingung harus bicara apa dengan Alfi. Bagaimana dia harus memberitahukan pada Alfi tentang keadaan Zara dan calon anaknya.
__ADS_1
Ponsel Ken berkali- kali berdering. Namun, tak kunjung di angkat Ken. Lidah Ken masih terasa kelu untuk bisa bicara apa pun.