Antara Cinta Dan Persahabatan

Antara Cinta Dan Persahabatan
94


__ADS_3

Alfi menarik nafasnya dalam ketika baru saja turun dari mobilnya. Menatap sebentar rumah yang dulu sering dia kunjungi untuk menjemput sang pujaan hati. Kini hanya tinggal kenangan. Dengan menggunakan kruk, Alfi berjalan memasuki rumah itu untuk bertemu dengan putranya yang kini sudah berusia hampir dua tahun. Sebentar lagi bocah kecil itu akan berulang tahun.


" Bu.." Alfi mencium punggung tangan Siska.


" Kamu sendirian?" Tanya Siska dengan ekor mata melirik ke belakang Alfi.


" Iya, Bu." Jawab Alfi.


" Silahkan duduk. Ibu panggilkan Zara dan Arkan dulu." Ujar Siska dengan nada sedikit sinis. Hubungan Alfi dengan kekuarga Zara memang tidak terlalu baik semenjak perceraian mereka.


Alfi hanya tersenyum.


Zara menemui Alfi dengan menggendong Arkan. Kedatangan Alfi ke sini hanya ingin melihat keadaan Arkan semata. Dengan wajah datar. Zara duduk di kursi yang ada di depan Alfi.


" Apa kamu akan membawa Arkan?" Tanya Zara sedikit ketus.


" Aku cuma mau lihat keadaannya. Jika aku sudah pulih sepenuhnya. Aku akan mengajak Arkan berlibur." Ucap Alfi.


" Aku tidak mengizinkan." Sanggah Zara cepat.


" Arkan juga anakku, Zar." Alfi mencoba membujuknya.


" Aku yang merawat dia selama ini!"


Alfi menarik nafasnya dalam. " Kenapa sikap dan sifat kamu melenceng jauh dari saat kita kenal dulu."


" Keadaan!" Sahut Zara asal.


" Aku salah apa selama jadi suami kamu, Zar?"


" Lupakan!" Ucap Zara ketus. " Aku yang salah! Aku yang salah udah mau menikah denganmu. Padahal aki sadar. Aku gak bisa lagi mencintaimu." Ucap Zara menahan sesak di hatinya.


Alfi berdecak sebal. " Kamu masih berharap bisa bersatu dengan Ken?" Alfi tak percaya. " Udah hampir setahun Ken menikah, Zar. Kalian juga gak pernah bertemu. Sedalam itu dia di hati kamu?"


" Lupakan!" Ucap Zara semakin ketus.


Alfi menarik nafasnya kembali. Kedatangannya ke sini semata hanya ingin lihat keadaan Arkan. Bukan berdebat dengan Zara.


Alfi memberikan sebuah amplop kecil berisi sejumlah uang pada Zara. " Itu untuk biaya Arkan bulan ini." Ucap Alfi.

__ADS_1


" Terima kasih." Sahut Zara masih dengan nada ketus.


" Aku berharap hubungan kita sebagai orang tua Arkan bisa lebih baik. Semua semata untuk Arkan. Untuk masalah kamu dan hati kamu. Aku tidak ikut campur." Ucap Alfi dengan penuh kelembutan. Sikap keras kepala Zara semakin menjadi. Tak akan pernah merasa kalah jika sudah berdebat.


" Kenapa kita gak rujuk?" Ujar Zara.


" Kamu bilang tidak seharusnya menikah denganku, bukan?!" Alfi mengulang ucapan Zara. " Sekarang kamu ingin kita rujuk?!" Alfi menggelengkan kepalanya. Merasa aneh dengan ucapan Zara.


" Setidaknya untuk Arkan."


" Aku gak mau menyiksa perasaan kamu lagi." Ujar Alfi. " Aku permisi." ujar Alfi dan meninggalkan Zara.


Pikiran Zara semakin terlihat kacau semenjak perpisahan mereka. Terkadang Zara bisa marah semarah- marahnya pada Alfi. Tetapi detik kemudian dia bisa mengajak Alfi rujuk. Bagi Alfi. Kisah mereka berdua hanyalah kenangan. Alfi hanya takut jika sebenarnya mental Zara sedikit terganggu.


*******


Naila menatap kembali testpack yang lagi- lagi hanya menunjukkan garis satu. Naila sudah sangat berharap jika dia hamil setelah telat datang bulan selama dua minggu. Naila keluar dari kamar mandi dengan wajah murung, Ken yang sedang mengecek laporan pada layar laptopnya menghentikan kegiatannya.


Ken menghampiri Naila yang terduduk lesu di pinggir kasur.


" Istri aku kenapa? Pagi- Pagi udah suntuk aja."


Ken mengambilnya dan melihat alat itu. Ken merangkul Naila dengan mesra. Menenangkan hati istrinya yang sedang gelisah dan kecewa.


" Sabar sayang."


" Aku bukan istri yang sempurna." Naila menundukkan wajahnya. Air matanya sudah berlinang.


Ken menarik Naila dalam pelukannya. " Dokter kan udah bilang. Kita subur . Cuma masalag waktu sayang."


" Mama kamu udah sering banget tanyain aku udah hamil atau belum." Ujar Naila di sela tangisnya.


" Jangan di pikirkan. Aku yakin sebentar lagi kamu akan hamil." Hibur Ken.


" Nanti aku ke rumah mama kamu ya." Ucap Naila.


" Untuk apa?" Ken merasa keberatan. Ken tahu betul keluarga ayah tirinya tidak suka dengan Naila.


" Kemarin mama kamu yang minta. Siang nanti kamu jadi berangkat ke Jepang kan?" Tanya Naila.

__ADS_1


" Jadi sayang. Apa kamu ikut saja?"


Naila menggeleng. Dia tidak ingin merepotkan Ken selama di Jepang. Di sana Ken juga bukan sedang berlibur. Dia harus mengurus perusahaan induk keluarganya. Ayahnya sedang sakit.


" Aku gak yakin kamu berada di sana sendiri, sayang."


" Mama kan orang yang baik. Dia pasti akan melindungi aku," Ucap Naila penuh percaya diri.


Ken semakin mengeratkan pelukannya. Tak mungkin dia membiarkan Naila ke sana seorang diri. Sedangkan dia tahu jika mamanya beberapa kali memintanya untuk meninggalkan Naila. Ken takuk jika mereka akan menekan Naila.


" Kamu kenapa?" Naila merasa aneh karena Ken tak ingin melepaskan pelukannya.


" Kamu ke kampung saja ya." Usul Ken.


Naila menggeleng. " Aku mau ketemu mama kamu dulu." Ujar Naila.


Setelah keberangkatan Ken ke bandara. Naila pergi ke rumah Sandra. Walaupun sebenarnya hati Naila menolak untuk ke sana. Tetapi demi menjaga hubungan baiknya dengan sang mertua. Naila tetap pergi menemui Sandra.


Naila mencium punggung tangan Sandra dan Anton yang memang sudah menunggu Naila. Di sofa sebelahnya Naila melihat seorang wanita cantik dan modis menatap sinis pada Naila.


" Duduklah." Ucap Sandra.


Naila duduk di sofa kecil depan Sandra. Duduk bagaikan seorang pesakitan tengah di sidang.


" Ada apa mama minta aku ke sini?" Tanya Naila.


" Tinggalkan Ken!" Ucap Sandra tajam. " Aku ingin segera menimang cucu. Aku tau kamu tidak akan pernah bisa memberikan Ken keturunan!" Ucap Sandra menohol tajam di hati Naila.


Mata Naila seketika berkaca- kaca mendengar ucapan Sandra. Sakit sekali rasanya. Pernikahannya yang hampir genap setahun tak juga membuahkan restu dari ibunya.


" Ma..."


" Seharusnya kamu sadar. Ken tidak sepadan dengan kamu." Anton menambahkan.


" Dia Lusy. Dia yang akan menggantikan posisi kamu nanti setelah Ken kembali dari Jepang." Ucap Sandra tak mempedulikan raut wajah Naila yang sedih.


Anton melemparkan sebuah amplop coklat di atas meja di hadapan Naila. " Itu ada sejumlah uang dan beberapa cek kosong. Kamu bisa gunakan itu untuk pergi jauh dari Ken. Terserah kamu mau kemana!" Anton menatap Naila tajam.


Naila terdiam sejenak. " Salah aku apa? Apa sebuah kutukan untuk kalian para orang kaya menikah dengan kami yang hanya seorang rakyat jelata?!" Air mata Naila meluncur begitu saja. Sesak sekali rasanya dirinya selalu di hina. Harapannya ingin menjaga hubungan baik dengan mereka. Tetapi mereka menginginkan perpisahan Naila dan Ken.

__ADS_1


" Bukan kutukan!" Lusy menanggapi. " Tetapi lebih tepatnya. Kalian bagaikan hama. Benalu yang harus di musnahkan!"


__ADS_2