
Terdengar beberapa siswa/siswi tengah asyik mengobrol di depan ruang MOS mereka sehingga mereka tidak sadar jika Ocha sudah lama berdiri memperhatikan mereka. “Sudah selesai diskusinya?”. Tanya Ocha yang seolah-olah tidak mendengar apa-apa. Dengan gelagapan karena terkejut dengan kedatangan Ocha yang tidak mereka sadari, mereka pun masuk ke dalam ruangan dengan perasaan yang campur aduk. Seisi ruangan tampak masih bersiap-siap untuk melanjutkan Masa Orientasi mereka yang baru berjalan hari ini. Mereka tampak antusias menunggu kedatangan kakak osis yang sangat mereka kagumi, yaitu Rendi. Tidak butuh waktu lama bagi mereka menunggu di dalam ruangan, karena para Panitia MOS di sekolah berlabel madrasah itu sangat disiplin. “Selamat siang semuaaa?!”. Sapa Rendi yang di sambut dengan antusias para siswa/siswi di ruang 2 yang merupakan peserta MOS. Ocha dengan perlahan dan santai masuk ke dalam ruangan dan duduk di kursi yang sudah di siapkan untuk panitia mos. “Oh iya, si itu mana Ren?”. Tanya Ocha tiba-tiba kepada Rendi seraya berdiri di samping Rendi. Pertanyaan tersebut sontak membuat keadaan ruangan menjadi hening untuk beberapa saat. Tentu saja keadaan ruangan menjadi hening, karena memang moment itu lah yang sangat di tunggu-tunggu para siswi. Mereka sangat menunggu penjelasan tentang siapa gadis cantik itu. “Siapa?”. Tanya Rendi polos. Ocha dengan kode-kode yang sulit di mengerti oleh Rendi berusaha untuk membuat adik-adik baru nya tersebut semakin penasaran. “Itu loh yang putih, tinggi, cakep ituu..”. Tanya Ocha dengan sesekali mengangkat alis nya. Namun tetap saja Rendi tidak mengerti.
__ADS_1
Di tengah lamunan nya memikirkan siapa yang di maksud oleh Ocha, tiba-tiba Ocha menyadarkan lamunannya. “Ya ampuuun.. itu lhoo yang tadi jalan bareng sama kamu.” Jelas Ocha dengan senyum mengembang di wajah nya. Rendi sedikit heran, tidak biasa nya Ocha menanyakan gadis cantik itu. “Ooohh.. Rezika?”. Ocha mengangguk perlahan tanda mengiyakan. “Dia ada di ruang 4, dia kebagian jadi panitia di ruang itu. Tadinya, dia jadi panitia di ruang ini, tapi karena ada perubahan dia kebagian di ruang 4”. Jelas Rendi.
__ADS_1
Terlihat suasana semakin tegang, namun suasana berubah menjadi penuh tanda tanya ketika Ocha melontarkan pertanyaan lagi. “Kalian beda berapa menit sih?”. Rendi mulai mengingat-ingat. “Kalo gak salah lima.. Lima menit!”. “Gaak terlalu lama lah yaaaa...”. Tanya Ocha sambil sesekali melirik ke arah siswi-siswi yang tampak serius mendengarkan pembicaraan mereka berdua. “Yaaa.. Begitulah”. Tukas Rendi. Perlahan mulai terdengar suara beberapa siswa/siswi yang saling bertanya, Ocha dengan cepat menyadari hal itu. Ia tahu bahwa mereka belum sepenuh nya mengerti tentang apa yang tadi ia dan Rendi bahas. “Aapanya yang beda berapa menit?”. “Maksudnya apa sih? Kok jadi bingung gini?!”. “Apa iya cewek itu kembaran nya kak Rendi?”. “Mungkin juga siih.. lagian juga mukanya lumayan mirip gitu kan??”.
__ADS_1
Berbagai ekspresi mereka perlihatkan dengan saling pandang satu sama lain, mereka benar-benar tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi sebenarnya. “Seharusnya kalian tanyakan saja tentang cewek cantik yang tadi itu. Daripada kalian mati penasaran, cemburu yang gak jelas, bingung juga iya. Haduuuhh... hari pertama aja udah kena pancing”. Ocha terus saja tertawa sampai ia menjadi pusat perhatian seisi ruangan. Rendi dan teman-teman nya yang lain menatap heran ke arah Ocha. “Dia sehat kan Ren? Dia gak kerasukan kan??”.
__ADS_1